VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Not a member yet
    95 research outputs found

    Meninjau Ulang Fundamentalisme Kristen

    No full text
    Apa itu fundamentalisme? Istilah ini sebenarnya adalah sebuah istilah yang digunakan secara luas di semua tempat di dunia. Di samping kekristenan, kita telah mendengar atau membaca adanya kelompok fundamentalisme di lingkungan agama Islam. Apabila dilihat dari sudut pandang dunia politik, gerakan fundamentalisme Islam lebih tepat merupakan gerakan partai Islam tertentu (yang umumnya radikal) yang telah diliput oleh media cetak atau elektronik secara universal. Istilah ini juga dipergunakan untuk menggambarkan gerakan-gerakan ekstrem agama Yahudi, Hindu, Sikh dan Buddha di seluruh dunia. Akan tetapi tulisan ini akan dibatasi pada penelitian tentang fundamentalisme Kristen saja. Lalu apakah fundamentalisme itu? Bagaimana seharusnya fundamentalisme itu didefinisikan? Barangkali, karena kompleksitas fundamentalisme Kristen, sebagian orang lebih suka menghindari definisi-definisi yang sifatnya sederhana. Umumnya penulis-penulis Kristen lebih senang menunjukkan sejumlah ciri-ciri khas yang dapat diidentifikasikan dari fundamentalisme ketimbang mendefinisikannya. Karena itulah dalam artikel ini kita hanya akan melihat fundamentalisme baik dalam perspektif historis dan teologis serta melihat perkembangannya sampai saat ini. Setelah membahas sumbernya pada awal abad ini, fenomena fundamentalistik ini akan ditelusuri melalui karakteristik-karakteristiknya yang modern di antara gereja dan orangorang Kristen. Diharapkan melalui pemaparan tema ini kita akan lebih memahami fenomena tersebut secara lebih mendalam, memahami kemajemukan orang-orang percaya di Indonesia dan/atau Asia, serta mungkin menciptakan perubahan dan toleransi yang lebih besar lagi baik di kalangan fundamentalis dan nonfundamentalis

    Kembali kepada Khotbah Ekspositori

    No full text
    Disadari atau tidak disadari, abad 21 telah memberikan tantangan tersendiri bagi dunia kekristenan. Tantangan-tantangan ini telah coba ditanggapi dan diantisipasi oleh berbagai pihak, salah satunya oleh Daniel Lucas Lukito lewat tulisannya di Veritas tiga edisi lalu. Dalam tulisannya, Lukito memberikan empat kecenderungan pemikiran teologi abad 21 sebagai tantangan yang harus diwaspadai oleh setiap orang Kristen, khususnya yang sangat dekat dengan disiplin teologi.1 Tulisan tersebut telah menggelitik penulis untuk mengaitkan dan menghubungkannya dengan masa depan khotbah Kristen. Penulis melihat bahwa khotbah memegang peranan penting di dalam gereja. Dalam hal ini, penulis sangat setuju dengan D. Martyn Lloyd-Jones yang menyatakan bahwa sejarah gereja mencatat bahwa khotbah selalu mendominasi kehidupan gereja.2 Bahkan bagi Earl V. Comfort, mimbar adalah suatu faktor yang menentukan dalam sejarah gereja.3 Intinya, mereka ingin mengatakan bahwa khotbah adalah faktor yang harus ada dalam kehidupan gerejawi. Ironisnya, yang terjadi ialah khotbah mendapat perhatian yang kurang serius dari beberapa golongan Kristen. Jika Lukito melihat bahwa teologi telah dianggap sebagai urusan “sepele,” penulis mengamati hal yang sama juga telah merambat dan terjadi dalam dunia khotbah. Sebagian orang Kristen lebih mempedulikan bagaimana khotbahnya bisa dimengerti dan memuaskan pendengar, tanpa memikirkan kealkitabiahannya. Yang lebih menguatirkan lagi, ada pengkhotbah yang membaca suatu bagian Alkitab sebagai “pendahuluan” khotbah, tetapi kemudian mengkhotbahkan suatu topik yang lain, misalnya isu-isu kontemporer, atau disiplin ilmu tertentu yang menjadi keahliannya. Bagian Alkitab yang sudah dibaca tidak sedikit pun disinggung. Persoalan di atas hanyalah sekelumit masalah yang dihadapi dalam khotbah Kristen, khususnya khotbah ekspositori yang menurut beberapa pakar homiletika disebut sebagai khotbah alkitabiah.4 Lewat tulisan ini penulis mencoba untuk mengajak para pembaca dan pengkhotbah Kristen untuk melihat dan menemukan kembali esensi dan keefektivitasan khotbah ekspositori guna menghadapi tantangan abad 21. Melalui artikel ini penulis mencoba untuk melihat apakah khotbah ekspositori itu dalam pengertian yang benar, kepentingan serta keuntungannya. Dalam artikel ini penulis tidak akan memberikan pelajaran homiletika, khususnya dalam hal membuat khotbah ekspositori. Pada bagian penutup, penulis akan memberikan kesimpulan dan aplikasi dari artikel ini bagi dunia khotbah di Indonesia. Diharapkan lewat tulisan ini para pembaca dan pengkhotbah Kristen tetap memiliki semangat dalam berkhotbah dan membakar kembali semangat mereka yang mulai memudar

    Daging yang Dipersembahkan kepada Berhala-Berhala : Suatu Eksegese terhadap 1 Korintus 8:1-13

    No full text
    Tulisan ini merupakan suatu eksegese terhadap 1 Korintus 8:1-13 yang bertujuan untuk melihat bagaimana Paulus secara persuasif mendorong orang-orang percaya di Korintus untuk tidak makan “daging yang dipersembahkan kepada berhala-berhala.” Paulus menggunakan argumentasi yang berdasarkan pada pertimbanganpertimbangan motivasi, teologis dan praktis untuk mendukung pendapatnya. Kebenaran perikop ini tidak hanya dapat diterapkan pada orang-orang Korintus saat itu, tetapi juga bagi orang-orang Kristen di Indonesia pada saat ini yang hidup dalam dunia yang multikultural

    Peran Roh Kudus di dalam Doa menurut John Calvin

    No full text
    B. B. Warfield (1851-1921), seorang teolog Princeton Theological Seminary, pernah menjuluki Calvin (1509-1564) sebagai “teolog Roh Kudus.” Ia mengatakan bahwa doktrin tentang karya Roh Kudus merupakan hadiah dari Calvin kepada Gereja. Mengapa demikian? Karena Calvin adalah orang pertama yang mengaitkan seluruh pengalaman keselamatan orang-orang percaya dengan karya Roh Kudus, dan mengajarkannya secara detail. Ia juga memikirkan tahapan-tahapan karya Roh Kudus dalam menyelamatkan manusia. Namun uniknya, hingga saat ini sangat jarang cendekiawan Calvinisme menulis tentang doktrin Roh Kudus menurut Calvin. I. John Hesselink mengatakan: “Hence it is a conundrum that so little has been written concerning Calvin’s doctrine of the Holy Spirit, especially in the English-speaking world where there has been so much Calvin research over the last forty years.” Hal ini, barangkali, disebabkan oleh dua hal. Pertama, Calvin sendiri hanya menulis satu bab yang pendek mengenai Roh Kudus di dalam Institutes-nya (III.1); dan kedua, karena ia mengaitkan hampir semua doktrin yang ia bahas dengan Roh Kudus. Karena itu, untuk membahas doktrin Roh Kudus menurut Calvin, kita perlu membahas seluruh teologinya. Ini bukan sesuatu yang mudah untuk dikerjakan sehingga tidak heran hanya sedikit pakar yang mampu melakukannya. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk memenuhi kekosongan di atas, namun hanya ingin memperkenalkan sebagian kecil dari ajaran Calvin mengenai Roh Kudus, yaitu peranan Roh Kudus di dalam doa. Sistematika penulisannya adalah, pertama, penulis akan membahas definisi dan perlunya doa menurut Calvin. Kedua, peranan Roh Kudus dalam doa menurut Calvin, yaitu sebagai inisiator dan sebagai guru

    Peran Ayah dalam Mendidik Anak

    No full text
    Tampaknya ada semacam kebingungan dan perasaan frustrasi pada kebanyakan keluarga dalam hal mendidik anak pada saat ini. Keresahan ini membuat banyak keluarga mengalami keretakan atau kekurangharmonisan. Salah satu penyebab kekacauan dalam hal mendidik anak adalah karena terjadinya perubahan dalam struktur dan pola hubungan antar anggota keluarga. ... Namun saya kira ancaman yang paling serius terhadap peran ayah dalam mendidik anak adalah pandangan yang hidup subur di masyarakat, bahwa ibulah yang bertugas untuk mendidik anak. Segala tugas yang menyangkut anak--termasuk masalah akademik dan perilaku moralistik--adalah urusan dan tanggung jawab ibu. Maka bila ada masalah dengan anak yang selalu disalahkan adalah pihak ibu. Pandangan semacam ini lebih banyak dimiliki pria dibanding wanita. Repotnya, tatkala seorang ibu menuntut lebih banyak keterlibatan dari pihak ayah, para ayah bersikukuh dengan pendapatnya bahwa ibulah yang seharusnya bertanggung jawab atas pendidikan anak. Situasi semacam ini menyebabkan banyak anak telantar atau bahkan tercabik-cabik di tengah keadaan saling menyalahkan di antara kedua orangtua. Berbagai faktor di atas membuat peran ayah dalam kehidupan anaknya saat ini menjadi tidak jelas dan lebih berat dibanding dengan masa sebelum ini

    Stagnasi Pelayanan

    No full text
    Orang-orang Kristen di setiap abad mendapat julukan “homo viator,” yaitu orang yang selalu berjalan dan bergerak. “Berhenti” bagi umat Kristen berarti kemunduran. Karena itu di tengah zaman yang serba canggih dengan hi-tech dan komputerisasi kita dipacu untuk berlomba. Sambil berlomba orang akan berusaha mengukur apa saja yang dapat dipantau dengan angka. Sebab itu gereja dan persekutuan pun dipaksa untuk mengukur keberadaannya. Jika kita mengatakan “stagnasi pelayanan” berarti kita “merasakan” atau mulai “berpikir” dengan semacam ukuran bahwa apa yang kita lakukan sampai saat ini tidak bisa kita lanjutkan terus-menerus demikian saja. Apa yang telah kita lakukan sampai saat ini tidak menunjukkan dampak perubahan atau pembaharuan. Seolah-olah semuanya menunjukkan adanya kekosongan batiniah. Apa artinya segala usaha dan daya kita dalam pelayanan ini entah itu pemberitaan firman Tuhan, pembinaan, PA, konseling dan seterusnya? Pelayanan kita dirasakan tidak membawa manfaat, tidak ada gema yang memantul. Ini semua bukan tanpa akibat bagi kehidupan pribadi kita sebagai pekerja gereja atau persekutuan yang mendapat panggilan Allah untuk melayani-Nya dengan tugas dan tanggung-jawab yang dipercayakan kepada kita. Masih adakah perspektif yang positif untuk pelayanan kita? Apakah yang kita lakukan sampai saat ini memiliki masa depan? Bukankah ini semua menunjukkan adanya “sindrom” dari kejenuhan atau stagnasi? Di dalam artikel ini kita akan membahas mengenai dampak dari stagnasi pelayanan serta apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Tetapi sebelumnya kita akan melihat hambatan yang umumnya menghalangi orang mengenal adanya stagnasi. Dengan mendiskusikan hal ini penulis berharap para pembaca merindukan adanya suatu “pembaharuan” demi kemajuan dan berusaha untuk mempertahankan yang baik dan berani mengadakan terobosan yang baru

    Sejarah Suku Sunda

    No full text
    Pada tahun 1998, suku Sunda berjumlah lebih kurang 33 juta jiwa, kebanyakan dari mereka hidup di Jawa Barat. Diperkirakan 1 juta jiwa hidup di propinsi lain. Berdasarkan sensus tahun 1990 didapati bahwa Jawa Barat memiliki populasi terbesar dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia yaitu 35,3 juta orang. Demikian pula penduduk kota mencapai 34,51%, suatu jumlah yang cukup berarti yang dapat dijangkau dengan berbagai media. Kendatipun demikian, suku Sunda adalah salah satu kelompok orang yang paling kurang dikenal di dunia. Nama mereka sering dianggap sebagai orang Sudan di Afrika dan salah dieja dalam ensiklopedi. Beberapa koreksi ejaan dalam komputer juga mengubahnya menjadi Sudanese. Sejarah singkat pra-abad 20 ini dimaksudkan untuk memperkenalkan orang Sunda di Jawa Barat kepada kita yang melayani di Indonesia. Pada abad ini, sejarah mereka telah terjalin melalui bangkitnya nasionalisme yang akhirnya menjadi Indonesia modern

    Selamat Datang Psikologi!

    No full text
    Sewaktu saya sedang berkuliah, seseorang pernah bertanya kepada ibu saya mengenai bidang studi apa yang sedang saya pelajari.  Setelah mendengar jawaban bahwa saya sedang belajar psikologi, dengan serta merta ia menasehati ibu saya bahwa psikologi adalah ilmu yang melawan Tuhan dan sebaiknyalah saya menempuh bidang ilmu yang lain.  Lebih dari 20 tahun kemudian, komentar tersebut tetap mewakili sebagian pandangan orang Kristen terhadap psikologi.  Namun demikian, dengan rasa syukur saya harus mengatakan bahwa sambutan gereja-gereja terhadap sumbangsih ilmu psikologi pada umumnya adalah positif.  Seminari pun telah merangkul disiplin ilmu ini dan memasukkannya sebagai mata kuliah ke dalam kurikulum pendidikan teologi

    Membaca Kisah Orang Samaria yang Murah Hati dengan Kacamata Psikologi Sosial

    No full text
    Kisah orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-35) merupakan salah satu perumpamaan Yesus yang populer. Salah satu sebabnya adalah tema yang diangkat dalam kisah ini--yaitu menolong orang lain-–sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari para pendengarnya. Dengan demikian para pendengarnya tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk memberikan penilaian moral kepada tokoh-tokoh yang terlibat dalam kisah tersebut. Mereka juga akan lebih mudah untuk memahami arti perumpamaan ini dan mengingatnya. Karena perumpamaan ini berbicara tentang hubungan seseorang dengan orang lain (sesama), maka akan sangat relevan dan menarik apabila kisah ini juga disoroti dari sudut pandang psikologi sosial

    Doktrin Kerajaan Allah Menurut Walter Rauschenbusch

    No full text
    Walter Rauschenbusch lahir dan dibesarkan di Rochester, New York. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Rochester Theological Seminary, ia ditahbiskan sebagai pendeta di Second Baptist Church di New York. Dalam pengalaman pelayanannya di daerah yang yang disebut “Hell’s Kitchen,” ia melihat betapa kerasnya kehidupan saat itu. Ia menyaksikan eksploitasi tenaga kerja oleh industri-industri raksasa, penindasan kepada kaum miskin dan lemah, dan perlakuan diskriminatif dari pihak penguasa kepada orang-orang yang menderita. Sementara di sisi lain, ia melihat gereja tidak melakukan tindakan apapun. Sikap pasif dari gereja itu dimengerti oleh Rauschenbusch sebagai tanda dari kegagalan teologi di dalam menjawab tantangan zaman. Bagi Rauschenbusch teologi membutuhkan suatu penyesuaian untuk dapat menjawab tantangan ataupun kebutuhan zaman. Ia menyadari adanya kesulitan-kesulitan yang besar dalam usaha penyesuaian itu. Kunci untuk menjawab tantangan ini adalah penempatan kembali doktrin Kerajaan Allah sebagai pusat dari teologi. Melalui Injil Sosial, Rauschenbusch ingin kembali menempatkan doktrin Kerajaan Allah sebagai pusat dari teologi. Oleh karena itu dalam Injil Sosial, doktrin Kerajaan Allah menjadi pusat, bahkan “This doctrine [the Kingdom of God] is itself social gospel.” Seluruh doktrin yang lain haruslah diinterpretasikan (ulang) di bawah terang doktrin ini. Tulisan ini mencoba melihat apa dan bagaimana karakteristik doktrin Kerajaan Allah menurut Rauschenbusch, latar belakang filsafat di balik pemikiran Rauschenbusch, dan implikasinya terhadap doktrin Kerajaan Allah, doktrin dosa dan doktrin keselamatan. Setelah itu akan diberikan kajian terhadap pemikiran Rauschenbusch dari sudut pandang teologi Injili. Dalam bagian penutup akan diberikan kesimpulan dan sumbangsih pemikiran Rauschenbusch dalam konteks gereja di Indonesia

    13

    full texts

    95

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇