VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Not a member yet
95 research outputs found
Sort by
Evaluasi Kritis Terhadap Doktrin Gereja dari Teologi Pembebasan
Dalam dekade terakhir ini banyak orang membicarakan Teologi Pembebasan, bukan saja di Amerika Latin tempat asal teologia ini, tetapi juga di Asia dan Afrika. Walaupun Teologi Pembebasan timbul di manamana, namun yang secara “vokal” dan sistematis berbicara tentang Teologi Pembebasan adalah yang berasal dari Amerika Latin. Oleh karena itu, penulisan artikel ini secara khusus akan meninjau pandangan Gustavo Gutierrez, yang merupakan pelopor dan pencetus dasar pemikiran Teologi Pembebasan. Meskipun bermunculan juga teolog yang lain, tetapi dapat dikatakan bahwa Gutierrez-lah pelopor dan pencetus utamanya. Di dalam artikel ini akan disajikan pemahaman dasar Teologi Pembebasan (mulai dari latar belakang munculnya teologi tersebut sampai metode yang digunakan). Secara khusus akan dipaparkan juga pandangan Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez tentang gereja, mengingat cukup banyak gereja tradisional di Indonesia (khususnya di mana hamba-hamba Tuhannya terdidik dengan pola teologi tertentu) yang memegang pandangan-pandangan Teologi Pembebasan. Sebelum melihat sumbangsih Teologi Pembebasan bagi konteks pergumulan orang Kristen di Indonesia, penulis akan memberikan tinjauan terhadap pandangan Teologi Pembebasan berdasarkan Alkitab terlebih dulu
Memakai Terjemahan yang Tepat untuk Menyampaikan Berita yang Benar
Apakah saudara percaya bahwa Ayub menegur istrinya dengan sebutan “perempuan gila”? Apakah saudara yakin kalau Ayub membalas ketiga teman yang sudah menyusahkan hatinya dengan menyebut mereka (maaf untuk pemakaian kata yang “sopan” ini) “penghibur sialan kamu semua?” Saya percaya dan yakin kata-kata ini akan diucapkan oleh seorang jagoan dalam cerita komik. Tetapi saya tidak percaya dan tidak yakin kalau Ayub, seorang yang saleh, jujur dan takut akan Allah (Ayb. 1:1), akan mengucapkan kata-kata “sopan” seperti demikian. Ternyata “ungkapan sopan” tersebut ada dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia Terjemahan Baru milik saudara dan saya. Dalam artikel yang singkat ini saya mengajak saudara untuk memperhatikan beberapa bagian Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang perlu kita teliti terjemahannya sebelum kita sampaikan beritanya. Sebagai hamba Tuhan kita dipanggil untuk menyampaikan berita yang benar. Untuk menyampaikan berita yang benar, hamba Tuhan perlu memakai terjemahan Alkitab yang tepat. Orang-orang Kristen di Indonesia mempunyai Alkitab LAI Terjemahan Baru (LAI TB 1974) yang merupakan LAI Terjemahan Lama (LAI TL 1965) yang diperbaharui, dan Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS 1995). Sebelum menyampaikan firman Tuhan, hamba Tuhan perlu melakukan pekerjaan rumah dengan membandingkan lebih dahulu beberapa terjemahan LAI di atas. Alangkah baiknya jika perbandingan versi LAI ini dibandingkan juga dengan beberapa versi bahasa Inggris, umpamanya New International Version (NIV) dan New King James Version (NKJV). Di samping itu, untuk memastikan arti dari beberapa terjemahan di atas, maka hamba Tuhan perlu melihat langsung dari Teks Masoret (TM) untuk Perjanjian Lama dan Alkitab Yunani untuk Perjanjian Baru. Jadi, memilih terjemahan yang tepat bukan sebuah pekerjaan yang mudah dan untuk menyampaikan berita yang benar seorang hamba Tuhan harus berani membayar harganya. Dalam halaman berikut, saya mencoba membandingkan beberapa ayat dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang perlu kita analisa terjemahannya. Saya memakai LAI TL, LAI TB dan BIS sebagai teks utama, NIV dan NKJV sebagai teks pembanding, TM dan Alkitab Yunani sebagai teks penuntu
Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Teologi Abad 21: Sebuah Kajian Retrospektif dan Prospektif
Di dalam artikel ini pembaca akan melihat berbagai kecenderungan dalam alam pemikiran dunia teologi pada tahun-tahun mendatang. Apa yang saya paparkan sebagian besar didasarkan apa yang pernah terjadi dalam dunia teologi di tahun-tahun yang lampau dan merupakan prakiraan tentatif yang perlu diuji apakah tepat demikian. Hal ini berarti penulis tidak sedang membuat sebuah nubuat atau sebaliknya menciptakan dugaan yang mengada-ada. Istilah “Di Abad 21” pada judul artikel ini juga penulis rasakan terlalu bernada hiperbolis, karena siapa yang dapat memastikan apa yang terjadi 10, 20 atau 50 tahun mendatang berhubung perubahan sekarang selalu terjadi dengan begitu cepat. Sebab itu lebih tepat bila pembaca mengartikan “Di Abad 21” sebagai masa permulaan dunia memasuki suatu rentang yang baru sekali, yaitu abad 21, dan tidak mengartikannya sebagai masa sampai 100 tahun.
 
Membangun Konsep Diri berdasarkan Firman Tuhan
Di dalam akar dari berbagai kekurangan atau kegagalan dalam hidup dan pelayanan para hamba Tuhan, seringkali terdapat penilaian diri yang salah. Pernyataan ini tentu saja akan mencengangkan banyak pelayan Tuhan. Mengapa? Salah satu penyebabnya adalah karena penilaian terhadap diri sendiri seringkali jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan oleh orang-orang yang sudah terjun dalam pelayanan. Selain itu, banyak anggapan keliru yang kerapkali muncul ketika berbicara mengenai topik penilaian diri. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai bagaimana membangun konsep diri yang berdasarkan firman Tuhan dengan tujuan agar para pembaca mulai belajar untuk membangun konsep dirinya dengan barometer firman Tuhan dan bukan dengan tipologi kepribadian yang kini populer
Kota Allah : Sebuah Interpretasi Teologis dan Filosofis terhadap Sejarah
Salah satu keunikan kekristenan terletak pada kesadarannya tentang sejarah. Sejarah hidup manusia dilihat sebagai perjalanan di dalam ruang dan waktu dan juga dimengerti sebagai lintasan peristiwa-peristiwa yang memiliki awal dan akhir. Kesadaran semacam ini menjadikan kekristenan mampu eksis dan hidup secara dinamis, terus bergerak maju menuju tujuan akhirnya. Ironisnya, pada masa kini nampak banyak gereja yang tidak mengerti apalagi menekankan kesadaran sejarah yang demikian, sehingga sering terdengar banyak gereja yang menjadi pasif, tidak memiliki visi dan misi yang jelas, tidak bertumbuh secara maksimal, tidak berpengharapan dan tidak sedikit yang menjadi apatis terhadap masalahmasalah dunia yang ada di sekitarnya. Tulisan ini berusaha menggugah kembali kesadaran gereja Tuhan terhadap sejarah melalui interpretasi, baik secara teologis maupun filosofis, yang dilakukan oleh Agustinus, salah satu teolog klasik terbesar pada abad keempat, dalam karyanya Kota Allah (The City of God). Karyanya ini telah menjadi pengajaran standar gereja Kristen selama berabad-abad mengenai sejarah yang dilihat dari perspektif iman Kristen. Melalui usaha menggugah kesadaran sejarah ini diharapkan gereja dapat lebih memahami keberadaan, tugas dan tanggung jawabnya dalam sejarah, serta lebih serius mengisi ruang dan waktu yang melintas ini dengan kegiatan dan peristiwa pembangunan kerajaan Allah secara progresif dan konstruktif
Tekstualitas dan Intratekstualitas dalam Hermeneutika Pascaliberalisme
Perkembangan hermeneutika dalam gerakan teologi pascamodern, seperti yang dapat disimak dari kalangan pascaliberalisme, memperlihatkan beberapa kecenderungan yang menarik. Gerakan teologi pascamodern ini jelas berkaitan erat dengan apa yang disebut sebagai perkembangan “the linguistic turn,” yang mendominasi wacana filfasat pascamodern. Karena itu, teori-teori dan kritik-kritik kesusasteraan menjadi salah satu alat utama dalam interpretasi dan evaluasi teologi masa kini. Perkembangan teologi pascamodern ini juga memperlihatkan kecenderungan kembali kepada hermeneutika Karl Barth, yang melihat teks formatif kekristenan sebagai “a strange new world within the Bible.” Pada satu pihak, pengaruh teori kesusasteraan telah mendorong pemakaian reader-response criticism, yang melihat proses membaca sebagai proses penciptaan makna. Di bawah pengaruh tokoh seperti Stanley Fish, teolog-teolog saat ini banyak berbicara mengenai interpretive communities. Pada pihak lain, di bawah pengaruh Karl Barth, orang-orang dalam gerakan yang sama terdorong untuk mengutamakan teks formatif kekristenan sehingga mereka menganjurkan pembacaan yang realistik (realistic reading) terhadap narasi-narasi Alkitab, dan melihat narasi-narasi ini dapat menciptakan satu dunia realita yang lebih nyata daripada dunia yang kita kenal dengan panca indera kita. Teologi pascaliberal adalah salah satu dari gerakan teologi pascamodern yang mementingkan teks dan mengutamakan pembacaan realistik tersebut. Memang, di kalangan teologi pascaliberal sendiri terlihat juga kecenderungan untuk mengikuti jalur Stanley Fish, seperti yang dilakukan oleh Stanley Hauerwas. George Lindbeck dan Hans Frei, yang dianggap sebagai pelopor gerakan pascaliberalisme, juga memperlihatkan kecenderungan menempatkan interpretive communities sebagai pencipta makna (dan bahkan kebenaran) teks. Tulisan ini akan saya fokuskan hanya pada penekanan mereka terhadap teks dan memperlihatkan beberapa penyimpangan dari pandangan Barth tentang tekstualitas. Tulisan ini juga memperlihatkan bahwa antara mementingkan teks qua teks dengan mementingkan komunitas pencipta kebenaran teks jaraknya sangat tipis
Konteks Pelayanan Kristen di Indonesia
Tulisan Winfrid Prayogi dalam Veritas edisi yang lalu menggoda saya untuk mempertajam apa yang sudah dibicarakannya, khususnya yang berkaitan dengan situasi pluralitas agama di Indonesia. Apa yang hendak saya pertajam di sini berhubungan dengan konteks Indonesia yang didominasi oleh masyarakat yang beragama Islam. Suka atau tidak suka, harus kita akui bahwa sebenarnya kita tinggal-menetap dan melayani Tuhan di tengah-tengah “masyarakat Islam.” Gereja apa pun juga yang ada di bumi Indonesia ini, baik yang berbasis suku atau etnis tertentu maupun yang lintas etnis, tidak bisa tidak harus mempertimbangkan dengan serius kondisi riil Indonesia ini. Sebagai seseorang yang dididik dalam lembaga pendidikan teologi Injili dan beraktivitas di sekitar kota Malang, Jawa Timur, maka pikiran saya ini akan banyak dipengaruhi oleh hal-hal itu. Tesis yang hendak saya ajukan di sini adalah bahwa bila gereja memandang serius panggilannya untuk melayani Tuhan di bumi Indonesia ini maka tidak bisa tidak harus memahami Islam adalah suatu keniscayaan
Dasar-Dasar Bercerita di Sekolah Minggu
Jauh sebelum Alkitab ada, umat Allah sudah gemar berkata-kata mengenai Tuhan. Sambil duduk dekat api unggun di waktu malam, mereka menyanyi tentang kebesaran dan belas kasihan-Nya. Para kakek meneruskan kepada cucu mereka cerita-cerita mengenai Tuhan. Demikian seterusnya karya dan perbuatan Allah di dalam sejarah mereka turunkan kepada generasi selanjutnya dalam bentuk cerita, sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhan dalam kitab Ulangan 6:4-7. Penyampaian berita dalam bentuk cerita atau narasi sangat efektif dari zaman ke zaman dalam setiap generasi dan bangsa, sampai pada zaman moderen ini. Sekarang ini cerita dapat disampaikan melalui teknologi canggih seperti media elektronik dan audio visual. Harus diakui teknologi modern merupakan pilihan bagi anak-anak Sekolah Minggu di samping mendengar cerita dari orang tua dan Guru Sekolah Minggu (GSM) mereka. Namun demikian, meskipun media elektronik dan audio visual dapat melakukan tugas bercerita, tetapi mereka tidak dapat mengganti “hubungan pribadi” antara si pencerita dan pendengar, dalam hal ini anak-anak. Di sinilah seorang GSM memiliki kesempatan untuk tetap hadir dan sekaligus tantangan untuk meningkatkan mutu berceritanya