VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Not a member yet
    95 research outputs found

    Kehidupan Alam Perasaan Yesus Kristus : Teladan Sempurna bagi Para Pendidik Kristen

    No full text
    Unsur perasaan telah menjadi bagian yang penting dalam pendidikan masa kini. Adele Faber dan Elaine Mazlish adalah dua dari antara sekian penulis yang menulis tentang mendidik anak dengan menyisipkan unsur perasaan dalam metode pengajaran mereka. Pendekatan ini ternyata cukup efektif dalam mendidik anak baik di rumah maupun dalam ruang kelas, bahkan secara dramatis membantu mengurangi masalah-masalah seperti menghukum anak, absensi, perilaku, dan dapat meningkatkan kepercayaan diri anak. Dengan pendekatan ini anak merasa dipahami dan sekaligus diajar pula untuk memahami perasaan orang lain. Hal ini berbeda dengan beberapa tahun silam ketika pendidikan lebih didominasi oleh pengajaran yang mengandalkan logika yang rasional. Sekalipun banyak penulis sekuler telah memasukkan unsur perasaan ke dalam pendidikan, namun para penulis dan pendidik Kristen tampaknya masih enggan mendalami hal ini. Emosi acap kali dipandang sebagai unsur kepribadian yang tidak dapat diandalkan karena mudah berubah seiring dengan perubahan situasi atau suasana hati. Harus diakui bahwa memanfaatkan perasaan dalam pendidikan bukanlah satu-satunya metode untuk memperoleh hasil maksimal. Ungkapan kehati-hatian J. Dobson3 yang menyatakan, “Emosi itu harus selalu diperhitungkan dengan kemampuan berpikir dan kemauan,” patut memperoleh perhatian. Meski demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa literatur Kristen di bidang pendidikan yang memperhitungkan unsur perasaan masih tergolong langka. Tulisan ini diharapkan dapat mengisi kelangkaan tersebut. Tulisan ini bertujuan memberikan wawasan mengenai kehidupan emosi Yesus Kristus yang acap kali terabaikan dalam diskursus mengenai pribadi-Nya. Diharapkan uraian mengenai alam perasaan Yesus ini dapat membangkitkan inspirasi para pembaca untuk juga memperhitungkan unsur perasaan dalam tugas kita melaksanakan amanat agung Yesus Kristus, yakni menjadikan semua bangsa murid-Nya. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai pentingnya fungsi dan peran emosi dalam perkembangan individu, alam perasaan Yesus dan dampaknya dalam hidup pelayanan-Nya, beberapa aspek pengajaran Yesus yang penuh dengan perasaan yang patut dan dapat dijadikan teladan dalam pendidikan Kristen, setelah itu diakhiri dengan beberapa kesimpulan penting

    Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi

    No full text
    Artikel ini tidak bermaksud secara langsung dan detail menguraikan doktrin predestinasi, atau bahkan menjawab serangkaian pertanyaan rumit yang sering kali muncul seputar doktrin ini. Artikel ini lebih merupakan suatu usaha untuk memahami kembali kerangka dasar atau konteks doktrin predestinasi sebagaimana diajarkan oleh John Calvin. … Artikel ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas konteks pemahaman doktrin predestinasi Calvin dengan mengamati perkembangan tulisan-tulisannya guna melihat kerangka atau pola dasar pemikirannya tentang predestinasi. Bagian kedua merupakan aplikasi pemahaman bagian pertama di dalam membaca tulisan Calvin tentang predestinasi dalam relevansinya dengan konteks yang ia maksud

    Peranan Faktor Masa Depan dalam Pembimbingan Remaja

    No full text
    Mengungkap permasalahan remaja memerlukan kecermatan sebab kalau tidak, kita akan terjatuh ke dalam perangkap fokus tunggal. Upaya memetakan permasalahan remaja secara “keseluruhan” lebih merupakan upaya untuk menyederhanakan daripada menjabarkannya secara tepat. Secara pribadi saya tidak yakin kita bisa merangkumkan “keseluruhan” permasalahan remaja dewasa ini. Menurut pengamatan saya, permasalahan remaja berdimensi majemuk di mana setiap dimensi bukan saja terkait dengan dimensi lainnya, tetapi ia pun berdiri sendiri sebagai masalah mandiri yang memerlukan penanganan secara khusus dan terfokus. Dengan kata lain, saya melihat permasalahan remaja sebagai permasalahan yang bersifat multidimensional sekaligus idiosinkretik—setiap dimensi memiliki karakteristiknya tersendiri. Sebagai pemerhati remaja kita tetap dapat melakukan “sesuatu” untuk salah satu dimensi permasalahannya tanpa kehilangan fokus pada keterkaitan antardimensi. Kita bisa menyoroti permasalahan remaja dari sekurang-kurangnya tujuh dimensi, yakni Dimensi Keluarga, Dimensi Sosial-Ekonomi, Dimensi Akademik, Dimensi Rohani, Dimensi Kebutuhan, Dimensi Perkembangan, dan Dimensi Gangguan atau Penyimpangan. Setiap dimensi—bak akar pohon—terkait dan tumpang tindih dengan keenam dimensi lainnya namun setiap dimensi merupakan suatu pokok kajian terpisah yang memerlukan penanganan secara khusus pula. Pada artikel ini saya akan menelaah salah satu dari ketujuh dimensi tersebut, yakni Dimensi Kebutuhan, dan sudah tentu dalam keterkaitannya dengan dimensi lainnya, yaitu Dimensi Kerohanian dan Dimensi Keluarga. Di akhir artikel ini saya akan memberi sumbang-saran untuk menggali potensi remaja

    Karakteristik Kepemimpinan Kristen yang Pas (Lukas 7:18-28)

    No full text
    Khotbah ini disampaikan pada Kebaktian Pembukaan Semester tanggal 19 Januari 2001 di Seminari Alkitab Asia Tenggara, dimuat dengan izin lisan dari Pdt. Dr. Eka Darmaputera

    Analisa Kritis terhadap Pandangan-Pandangan Unio Mystica ditinjau dari Teologi Perjanjian Baru

    No full text
    Unio mystica, dalam bahasa Latin, atau mystical union, dalam bahasa Inggris, lebih baik diterjemahkan sebagai persatuan mistik daripada kesatuan mistik. Karena kesatuan mistik mengandung makna konotatif pasif dan statis. Lain halnya dengan persatuan mistik yang berkonotasi aktif dan dinamis, di mana justru sifat keberagamaan yang aktif dan dinamis inilah yang hendak dikejar melalui persatuan mistik … saya akan membahas lebih jauh pandangan beberapa teolog dan pakar, ajaran tentang persatuan mistik. Selanjutnya saya akan mencoba menggali keluar kebenaran kristiani tentang ajaran persatuan mistik dari sudut pandang teologi biblika, khususnya teologi Perjanjian Baru. Akhirnya, berdasar teologi biblika ini saya akan memberikan analisis kritis terhadap berbagai pandangan tentang persatuan mistik

    Analisa S.W.O.T. untuk Parenting : Beberapa Parameter Kurikuler untuk Pelayanan Keluarga

    No full text
    Seorang ayah mengeluh, “Kelihatannya tanggung jawab mendidik anak-anak menjadi semakin sulit. Terlalu banyak ancaman di sekitar kita yang bisa merusak dan mengganggu pertumbuhan mereka. Saya tidak mengerti apa yang harus saya perbuat!” Yang lain, seorang ibu dari tiga anak mengatakan, “Saya dibesarkan oleh orang tua yang ultraotoriter, dan hanya itulah satu-satunya cara yang saya tahu tentang membesarkan anak. Tetapi saya tidak ingin anak-anak saya kehilangan masa kecil mereka seperti saya, ibu mereka!” Kalimat-kalimat di atas adalah beberapa ekspresi kekuatiran para orang tua dalam membesarkan dan memastikan keberhasilan anak-anak mereka di masa depan. Kebingungan, keragu-raguan, dan stres adalah bumbu dari parenting. Banyak orang tua mengalaminya karena mereka berkeinginan untuk menolong anak-anak mereka bertumbuh secara totalitas, tetapi merasa tidak berdaya. Di lain pihak, sering para orang tua beranggapan bahwa parenting adalah aktivitas yang bisa dilakukan secara naluriah, otomatis, dan tanpa direncanakan. Akibatnya, mereka tidak pernah secara sengaja mempelajari parenting. Padahal, parenting merupakan tanggung jawab utama orang tua. Menurut Jack O. Balswick dan Judith K. Balswick, “Kenyataannya orang tua di sebagian besar masyarakat hanya berharap anak-anak mereka tumbuh dengan sendirinya menjadi orang dewasa yang normal dan sehat.” Namun sayangnya, hal tersebut bukanlah realitas yang kita temukan di masyarakat. Drastisnya perubahan lingkungan hidup dan tahap-tahap pertumbuhan anak menuntut penyesuaian yang berkelanjutan dalam parenting dan selalu saja ada masalah yang muncul karena kegagalan dalam proses penyesuaian tersebut. Biasanya, reaksi para orang tua adalah panik dan bingung karena mereka tidak mengantisipasi perubahan yang terjadi. Ketidakmampuan untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut menghasilkan keluarga-keluarga yang tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya (dysfunctional families), dan anak-anak yang bermasalah. Akhirnya, parenting mereka tidak hanya mempengaruhi para anggota keluarga, tetapi juga seluruh masyarakat karena masyarakat sendiri merupakan suatu sistem yang terdiri dari sejumlah keluarga. Artikel ini adalah paparan hasil sebuah studi lapangan yang dilakukan antara Maret hingga Mei 1998 di Baguio City, Filipina. Penelitian tersebut dirancang sebagai studi kasus perbandingan yang berkonsentrasi pada praktek-praktek parenting dari sejumlah keluarga Kristen Filipina dan Tionghoa. Dimulai dengan pengertian dasar tentang parenting, artikel ini menyajikan secara singkat hasil penelitian di atas dalam kerangka kerjanya dan kemudian diakhiri dengan sebuah usulan berupa parameter-parameter kurikulum untuk pelayanan keluarga di gereja

    Mengenal Filsafat Pendidikan Paulo Freire : Antara Banking Concept of Education, Problem Posing Method, dan Pendidikan Kristen di Indonesia 

    No full text
    Paulo Freire adalah salah seorang dari sembilan pendidik Kristen—baik dari kalangan Protestan maupun Katolik—yang dianggap paling berpengaruh di abad ke-20 ini. Berbeda dengan delapan pendidik lain yang kebanyakan lahir dan berkarya di negara maju, Freire dilahirkan dan berkarya, dalam sebagian besar hidupnya, di dunia ketiga. Latar belakang sosial budaya dari pemikiran Freire yang tidak terlalu berbeda jauh dengan kondisi Indonesia inilah yang menjadi salah satu alasan utama untuk mengenal dan mencoba menggali relevansi pemikirannya bagi pendidikan di Indonesia pada umumnya, dan secara khusus untuk pendidikan Kristen di Indonesia. Tulisan ini akan mencoba memperkenalkan filsafat pendidikan Freire. Untuk itu akan dipaparkan latar belakang kehidupannya dan pandangannya tentang pendidikan. Penulis akan memaparkan secara garis besar alur pemikiran pendidikan Freire untuk menampilkan “gambar besar” bagi pembaca yang belum terlalu mengenalnya. Selanjutnya, secara khusus penulis akan menyoroti dikotomi antara “Banking Concept of Education” dan “Problem Posing Method” yang tampaknya menjadi salah satu pemikirannya yang khas. Berikutnya, penulis akan mencoba berdialog secara kritis dengan pemikiran Freire untuk melihat kemungkinan-kemungkinan sumbangsihnya yang aplikatif dan kontekstual untuk pendidikan Kristen di Indonesia

    Hal Kebetulan dalam Rut 2:3

    No full text
    Salah satu terjemahan yang perlu direvisi menurut Cornelius Kuswanto adalah kata “kebetulan” yang terdapat di Rut 2:3, Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (TB, BIS; TL “untung”).1 Menurut Kuswanto, “Rut datang ke ladang Boas kelihatannya seperti sebuah kebetulan, namun sebenarnya langkah Rut dipimpin oleh pengaturan Tuhan” (h. 137). Ia mengusulkan agar terjemahan “kebetulan” pada ayat tersebut diubah menjadi “Dan terjadilah adanya (ternyata) ia berada di tanah milik Boas” (h. 138). Untuk mendukung usulannya, Kuswanto menggunakan Rut 4:1 sebagai contoh, disertai analisis sintaktikal, yang sayangnya, tidak dilakukan untuk Rut 2:3 yang justru menjadi subjudul artikelnya, “Rut Sampai di Ladang Boas: Kebetulan atau Pengaturan Tuhan?” Oleh karena itu, paparan berikut akan mengisi kekurangan analisis leksikal, semantik, dan sedikit sintaktikal dari Rut 2:3. Sebagai catatan, penulis tidak keberatan dengan usulan Kuswanto bahwa terjemahan “kebetulan” pada Rut 4:1 seharusnya tidak ada

    Teologi Pluralisme Agama John Hick : Sebuah Dialog Kritis dari Perspektif Partikularis

    No full text
    Salah satu lagu George Harrison, anggota kelompok The Beatles yang terkenal, berjudul “My Sweet Lord.” Salah satu kalimat pada bagian refrainnya berbunyi: “I really want to know you, Lord, but it takes so long.” Kalau kita simak, pada latar belakang lagu ini terdengar paduan suara menyanyikan “Halleluyah.” Jika didengar sepintas lalu, lagu ini memberikan kesan seolah-olah lagu Kristen. Tetapi jangan keliru, karena Halleluyah ini kemudian berubah menjadi “Hare Krishna, Krishna, Krishna,” lalu nama dewa-dewa orang India muncul. Lagu ini menunjukkan ciri khas pemikiran kebanyakan orang pada masa kini. Mereka percaya bahwa agama-agama adalah jalan menuju Allah. Kemajemukan agama adalah fakta yang telah lama kita jumpai. Namun pada masa kini fakta kemajemukan agama bukan hanya sesuatu yang diterima tetapi juga dianggap baik, bahkan perlu dijaga, sebagaimana dikemukakan oleh Lesslie Newbigin: Kita sudah terbiasa mengatakan bahwa kita hidup di dalam masyarakat yang majemuk—bukan hanya masyarakat yang pada kenyataannya majemuk dalam bermacam-macam kebudayaan, agama, dan gaya hidup, tetapi juga majemuk dalam arti bahwa kemajemukan ini dirayakan sebagai perkara yang disepakati dan dihargai. Di sini kita perlu membuat perbedaan antara pluralisme agama sebagai sebuah fakta dan pluralisme agama sebagai suatu ideologi. Pluralisme sebagai suatu ideologi adalah suatu kepercayaan bahwa pluralisme ini didukung serta diinginkan, dan bahwa klaim-klaim normatif yang berbau imperialistik serta bersifat memecah belah perlu dibuang. Salah seorang tokoh pluralisme agama yang cukup terkenal adalah John Hick, yang membangun suatu pluralisme hipotetis yang cukup solid dan komprehensif. Artikel ini adalah sebuah dialog kritis terhadap pandangan Hick, khususnya mengenai metodologi, epistemologi, pandangannya tentang Yang Real (The Real), dan konsep keselamatannya. Sistematika penulisan artikel ini adalah sebagai berikut: Pertama, akan dibahas perjalanan spiritual Hick hingga ia sampai pada teologi pluralisme agamanya, dilanjutkan dengan pemaparan Hick mengenai masalah hubungan antara kekristenan dan agama lain di dalam sejarah agama Kristen. Bagian berikutnya akan mengulas metodologi, epistemologi, Yang Real serta konsep keselamatan menurut Hick. Selanjutnya adalah dialog kritis terhadap metodologi, epistemologi, konsep tentang Yang Real dan konsep keselamatan Hick. Bagian terakhir merupakan pembelaan atas keberatan Hick terhadap pandangan partikularisme

    Reformasi, Teologi dan Kehidupan Sehari-Hari : Ajaran Calvin dan Konsistori di Geneva tentang Pernikahan

    No full text
    Setiap kali kita membicarakan Reformasi yang terjadi pada abad keenam belas, sering kali perhatian kita hanya tertuju pada formulasiformulasi teologis dengan segala pernik-perniknya serta kompleksitas pemahaman dogmatika dari para reformator. Pandangan seperti ini menyebabkan kita lupa bahwa Reformasi itu sendiri terjadi karena para reformator berupaya untuk memaparkan pemikiran teologis mereka dengan tujuan agar jemaat umum bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. … Melalui tulisan ini penulis berupaya untuk memaparkan bagaimana Calvin menerapkan pandangan reformasi mengenai pernikahan, baik dari sudut pandang teologis, aturan tata gereja Geneva dan dalam praktek seharihari. Penelitian ini dipusatkan pada masa dekade pertama sejak Calvin menerbitkan edisi pertama Institutio pada tahun 1536 sampai pada penerbitan Peraturan Tata Cara Pernikahan yang dikeluarkan oleh para pemimpin di Geneva pada tahun 1547. Dekade pertama ini memiliki peran penting dalam sejarah Reformasi di Geneva, sebab pada masa ini ajaran Reformasi dari Calvin berada pada masa ujian untuk meneguhkan dasardasar pemikiran teologisnya; pada saat yang sama juga mengubah cara berpikir jemaat dari cara lama yang berdasarkan ajaran gereja dan kepausan yang berpusat di Roma dengan segala penekanannya tentang sakramen yang dicampur dengan ajaran mistis dan penuh takhyul. Dari hasil penelitian ini penulis berharap agar para pembaca bisa melihat bahwa upaya yang dilakukan oleh Calvin untuk menerapkan teologi Reformasi dalam kehidupan jemaatnya tidaklah mengalami jalan yang mudah. Di satu sisi Calvin harus berdiri di atas ajaran Alkitab dan menyampaikan ajaran Alkitab ini bagi jemaatnya. Di sisi lain, jemaat yang pada umumnya belum terpelajar dan cara berpikirnya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dan adat yang dibentuk oleh gereja di Roma dengan segala pemikiran takhyul dari abad pertengahan, masih sulit berubah apa lagi dalam hal pernikahan. Dari catatan konsistori Geneva yang penulis akan ketengahkan di sini, pembaca dapat melihat bagaimana orang-orang di Geneva menghadapi problema pernikahan mereka, dan bagaimana Calvin serta para pendeta lainnya menerapkan ajaran Reformasi mereka

    13

    full texts

    95

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇