VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Not a member yet
95 research outputs found
Sort by
Polarisasi Dikotomis Agape dan Eros : Suatu Analisa Kritis terhadap Teologi Kasih Agustinus
Dalam kekristenan, kasih adalah salah satu kata yang sering menimbulkan kesalahpahaman. Kata ini oleh sebagian orang Kristen sering dipahami secara dikotomis, sebagai kasih ilahi (agape) dan kasih manusiawi (eros). Keduanya sering dibedakan secara ketat, terpisah dan bertentangan satu dengan yang lain, yang satu dianggap baik, sementara yang lain dianggap buruk. Kasih ilahi atau agape, sering dianggap lebih positif, sebagai kasih yang sejati dan mulia. Sebaliknya, kasih manusiawi atau eros sering dianggap lebih negatif sebagai “nafsu berahi,” “seksualitas yang sensual,” atau “cinta“ tanpa makna rohani apapun. Pemahaman dikotomis seperti ini berakibat sangat buruk bagi orang Kristen, karena pengagungan terhadap yang satu biasanya berakibat pelecehan terhadap yang lain. Konsep kasih yang begitu agung dapat menjadi sesuatu atau tidak berarti sama sekali, seperti dikatakan Mildred B. Wynkoop, “It has lost its mooring and stands for ‘what I want’—a most deceptive concept and despotic tyrant.” Agustinus, salah satu arsitek besar kekristenan, adalah teolog yang sangat berminat terhadap topik kasih. Pemahamannya tentang kasih sangat alkitabiah karena, secara umum, ia selalu berusaha membangun teologi dan hikmatnya dengan referensi Alkitab, yang dipercayainya sebagai firman Allah. Tetapi bukan itu saja, ia juga dianggap sebagai orang yang pertama kali mencetuskan pemahaman dikotomis seperti yang sudah disinggung di atas. Itu sebabnya artikel ini, pertama, berusaha untuk mengkaji ulang teologi kasih Agustinus seobjektif mungkin dengan cara mengeksposisi pandangannya tentang topik ini, khususnya melalui karya-karyanya; kedua, berusaha menganalisa secara kritis pandangannya dalam terang pemikirpemikir Kristen modern yang juga concern dengan topik ini, dan tentu saja dalam terang firman Allah. Melalui paparan singkat dalam artikel ini diharapkan perspektif orang Kristen tentang kasih menjadi lebih baik dan tepat, sehingga kasih tidak lagi menjadi kata yang kontroversial dan sering disalahtafsirkan, tetapi sebaliknya, kasih menjadi kata yang dapat dimengerti secara lebih utuh dan lebih bermakna
Kepemimpinan Yohanes Pembaptis
Seorang pemimpin biasanya menimbulkan dua hal yang kontradiktif. Ia bisa dikasihi atau sebaliknya, dibenci oleh orang-orang yang dipimpinnya. Ada berbagai alasan atau motivasi yang dapat menimbulkan dua hal kontradiktif sebagai akibat kepemimpinan seseorang. Namun pembahasan mengenai soal ini, meski penting, tidak dapat diuraikan di sini. Artikel ini lebih dititikberatkan pada diri seorang pemimpin ketimbang respons terhadapnya. Relasi benci-kasih terhadap seorang pemimpin akan menimbulkan pertanyaan: “Apa sebenarnya tugas dan fungsi seorang pemimpin?” Dari sekian banyak figur Alkitab, kepemimpinan Yohanes Pembaptis terkesan sangat menonjol dan dramatis. Dengan pendekatan naratif saya berupaya menyusun suatu potret Yohanes Pembaptis. Kompleks dan luasnya masalah menyebabkan data-data dasar hanya bersumber dari injil Yohanes sehingga tentu saja hasilnya bukan merupakan sebuah potret yang utuh. Namun paling sedikit sketsa ini diharapkan dapat mendorong penelitian lanjutan terhadap karakter Yohanes Pembaptis. Penelaahan dimulai dari Yohanes 1:1-18, dilanjutkan dengan bagian lain dari kitab ini. Sudah merupakan kelaziman di kalangan pakar injil Yohanes memberi label Prolog untuk 1:1-18. Melalui artikel ini saya ingin menguji apakah benar Prolog tersebut merupakan miniatur injil Yohanes? Jika bagian ini dinyatakan sebagai injil Yohanes dalam bentuk padat dan ringkas, maka kitab ini tentulah merupakan uraian lanjutan dari Prolog. Kita akan menguji tesis ini dengan melihat karakterisasi Yohanes Pembaptis dalam Prolog dan injil Yohanes. Dengan perkataan lain, pertanyaan yang akan ditelusuri adalah: Apakah Prolog merupakan bagian integral dari injil Yohanes
Kekeliruan Pengartian Konsep Anugerah dalam Teologi dan Pelayanan Praktis
Berkali-kali dalam perjalanan ke luar kota, ketika menghubungi handphone seseorang atau ketika HP saya berdering, lawan bicara di seberang sering kali bertanya: “Pak Daniel, sekarang ada di mana?” atau “Pak Daniel, sekarang sudah sampai di mana?” Pertanyaan yang bunyinya seperti itu sangat berkesan bagi saya, karena di dalamnya, secara sadar atau tidak, terkandung adanya sebuah indikasi yang tersirat dari kecenderungan zaman modern ini, yaitu manusia dengan mobilitasnya yang tinggi nyaris boleh dikatakan berada di mana-mana. Manusia telah menjadi makhluk yang hampir menuju ke arah lingkup yang omnipresent melalui kemajuan telekomunikasi, revolusi teknologi, dan informasi superhighway yang ajaib. Itu baru satu alat, yaitu handphone. Belum lagi segala kelengkapan modern lainnya seperti komputer, internet, video, teleconference system, teknologi laser, genetika dan lain sebagainya yang disebutkan oleh Jacques Ellul sebagai kecenderungan manusia menjadikan teknologi sebagai sebuah kunci atau “decisive factor.” Dalam situasi kehidupan yang seperti itu saya jadi tergoda untuk berpikir: Apakah manusia atau orang percaya masih membutuhkan yang namanya “anugerah”—atau paling sedikit, apakah dalam kehidupan yang serba modern dan seakan-akan segala sesuatu dapat diraih dalam genggaman tangan, manusia (dan sekali lagi, termasuk orang percaya atau mungkin juga para hamba Tuhan) masih menganggap anugerah sebagaimana arti yang sebenarnya? Jikalau manusia semakin hari menjadi semakin autonomous atau mandiri, apakah ia akan terus dapat menghayati makna dan pengertian yang tepat tentang anugerah seperti yang dimaksudkan dalam Alkitab? Sebagai orang beriman, apalagi pelayan Tuhan, kita semua menyadari bahwa yang menjadikan kekristenan berbeda dengan agama lain adalah kepercayaan tentang anugerah. Kehidupan Kristen dimulai dan dilanjutkan dalam anugerah. Tanpa anugerah kekristenan menjadi kehilangan makna dan relevansi. Karena itu tidak ada yang lebih berarti dalam iman Kristen yang sehat selain pengertian orang percaya yang benar, tepat dan menyeluruh mengenai konsep anugerah. Namun demikian saya menjadi sedih dan kuatir akhir-akhir ini karena adanya orang Kristen yang bukan hanya salah mengartikan anugerah Allah secara benar dan tepat, tetapi juga boleh dikatakan “menghina Roh kasih karunia” (Ibr. 10:29). Mungkin pertanyaan yang langsung muncul setelah ini adalah: Apa buktinya kalau dikatakan bahwa konsep anugerah telah disalahmengertikan? Apa tandanya bahwa anugerah itu direndahkan? Apa contoh konkret bahwa anugerah Allah telah didevaluasikan oleh orang Kristen sendiri? Baiklah saya akan mulai penulisan artikel ini dengan definisi yang rinci dan kesimpulan mengenai arti yang alkitabiah dari istilah “anugerah.” Setelah itu artikel ini akan membahas beberapa kekeliruan pengartian konsep tersebut dalam berteologi dan kenyataan praktis. Pada bagian akhir saya akan memberikan kesimpulan untuk konteks pelayanan dan bergereja
Sekolah Teologi dan Gerakan Penginjilan
Artikel ini membahas kaitan antara sekolah teologi dan penginjilan
Rahasia Jati Diri Yesus dalam Injil Markus : Suatu Tinjauan terhadap Tesis William Wrede
Kristologi dimulai ketika manusia mulai mengungkapkan kesaksian imannya di dalam nama Yesus. Momentum paling krusial yang tercatat di dalam Kitab Injil adalah ketika Petrus memberikan pengakuan kepada Yesus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16; Mrk. 8:29; Luk. 9:20). Suatu pengakuan yang dibenarkan oleh Yesus sendiri, sesuai dengan kesadaran diri-Nya sebagai Mesias yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Dalam sejarah kekristenan studi kristologi yang signifikan telah banyak dilakukan dan telah memunculkan tantangan terhadap pemahaman kristologi tradisional gereja-gereja Kristen yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Pemahaman-pemahaman yang baru selalu berupaya untuk mencapai suatu konklusi yang berbeda dengan pemahaman sebelumnya dengan cara mempertanyakan kembali kesadaran Mesianik dari Yesus. Akibatnya pertanyaan ini telah menimbulkan banyak perdebatan di kalangan para teolog karena setiap mereka berusaha untuk memberikan jawaban menurut sudut pandangnya masing-masing. Salah seorang dari antara jajaran teolog yang terlibat dalam perdebatan yang sengit ini adalah William Wrede. Ia adalah pelopor yang berinisiatif menganalisa dan menghargai natur teologi kitab-kitab Injil Sinoptik. Ia jugalah yang pertama kali memprakarsai studi Injil Markus dengan teorinya yang disebut Messianic Secret. Karena upaya inilah Injil Markus dapat dikenal sebagai Injil yang mengandung berita teologis yang berbeda, bukan hanya sekadar mengisahkan kembali sejarah pelayanan Yesus. Sebelum Wrede Injil Markus secara tradisional diperlakukan sebagai kitab yang paling sedikit bernilai teologis meskipun kitab ini diterima sebagai kitab yang paling dapat dipercaya dan sebagai dokumen historis dari antara keempat Injil
Gereja Sebagai Umat Pilihan Allah dalam Pandangan Clemens Romanus
Surat 1 Clement yang ditulis oleh Clemens Romanus (Clement of Rome) adalah salah satu naskah gereja abad permulaan yang dianggap memegang peranan penting dalam sejarah gereja mula-mula. Surat ini ditulis pada akhir abad pertama Masehi, sekitar tahun 95-96, dan merupakan tulisan Kristen paling awal sesudah penutupan kanon Perjanjian Baru yang kita miliki. Naskah ini berbentuk surat kiriman dan dicantumkan bersama-sama dengan salinan naskah Perjanjian Baru yang dimuat dalam Codex Alexandrianus, yang selalu dinilai memiliki bobot yang tinggi dalam analisa tekstual untuk salinan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kenyataan bahwa surat ini dicantumkan bersama-sama dengan salinan Perjanjian Baru membuktikan bahwa gereja abad mula-mula sangat menghargai surat ini. Selain itu, surat ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Syriac, dan Coptic, sehingga isinya dapat dibaca oleh lebih banyak umat Kristen di wilayah yang lebih luas lagi, yakni di sekitar Yunani, Siria, Palestina dan Mesir pada akhir abad pertama dan awal abad kedua Masehi. …Tujuan penulisan artikel ini ialah untuk menunjukkan bahwa bagi Clement, pemahaman mengenai gereja sebagai umat pilihan Allah yang diikat erat dengan tali kasih satu dengan yang lain, adalah cara terpenting untuk mengatasi dan mencegah perpecahan di antara orang percaya. Menurut Clement gereja sebagai umat pilihan Allah memiliki tanggung jawab yang besar untuk menunjukkan kasih satu kepada yang lain
Rekonsiliasi Etnis : Misi Bersama Komunitas Kristen Tionghoa
Dalam diskusi yang diadakan bersama oleh Kantor Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia dan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Arief Budiman menyampaikan bahwa ada empat konflik besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia hari ini. Salah satu dari keempat konflik itu adalah konflik antara Cina dan pribumi … Komunitas Kristen Tionghoa sebagai suatu entitas sosial hidup dan melayani di tengah konflik-konflik tadi, khususnya di tengah arus pusaran konflik etnis Tionghoa dan etnis Indonesia lainnya. … komunitas Kristen Tionghoa pertama tama hadir untuk menjadi saksi Kristus bagi bangsa ini. Untuk mencapai hal ini maka diperlukan suatu terobosan radikal dari pihak komunitas Kristen Tionghoa untuk membuka jalan bagi tersampaikannya dan diterimanya Injil Yesus Kristus, kepada dan oleh seluruh bangsa ini. … Untuk itu saya akan menempuh prosedur demikan: pertama-tama saya akan mengajak Anda membaca sejarah untuk mencari tahu di mana akar konflik Tionghoa dengan etnis Indonesia lainnya berada. Dari situ saya akan membawa Anda sejenak merenungkan apa yang dikatakan Alkitab mengenai misi rekonsiliasi, dan akhirnya saya mencoba memberikan beberapa kemungkinan yang dapat saja terjadi bila misi rekonsiliasi ini kita tuntaskan atau tidak kita tuntaskan hari ini
Mengenal Martin Buber dan Filsafat Dialogisnya
Tidak lama setelah kematian Martin Buber pada kolom editorial New York Times terdapat komentar berikut: “Martin Buber was the foremost Jewish religious thinker of our time and one of the world’s most influental philosophers.” Buber, meskipun ia seorang Yahudi yang beragama Yahudi namun memberi banyak pengaruh kepada pemikir-pemikir Kristen, seperti John Baille, Karl Barth, Emil Brunner, Friedrich Gogarten, Reinhold Niebuhr, H. Richard Niebuhr, J. H. Oldham, Paul Tillich, serta para pemikir Kristen lainnya …. Buber tidak hanya memberikan pengaruh di bidang filsafat dan teologi saja, tetapi juga di bidang-bidang lain. Karena besarnya pengaruh Buber, khususnya di bidang filsafat dan teologi, agaknya kita perlu mengenal Buber lebih dekat, serta pemikirannya. Karena tidak mungkin menuangkan seluruh pemikiran Buber dalam artikel yang relatif pendek ini, penulis hanya akan memperkenalkan salah satu pemikiran Buber yang dianggap paling berpengaruh, yaitu filsafat dialogisnya
Pandangan John Knox tentang Reformasi Gereja dalam Hal Praktikal dan Sakramental
Gerakan Reformasi tidak hanya terjadi di Jerman, di mana Martin Luther mencetuskan 95 tesisnya pada 31 Okotober 1517. Negara-negara Eropa lainnya, seperti Skotlandia juga terlibat dalam gerakan ini. Setiap negara memiliki tokoh reformasinya masing-masing yang berusaha agar Gereja kembali berjalan sesuai dan berdasarkan otoritas firman Tuhan. Reformasi di Skotlandia sangat berkaitan erat dengan perkembangan politik di negara itu. Karena itu, untuk memahami reformasi di Skotlandia, maka pertama-tama kita perlu memahami situasi politik saat itu serta kaitannya dengan situasi di dalam gereja. Setelah itu kita akan melihat bagaimana Knox menanggapi situasi politik di sekitarnya, baik secara lisan maupun tulisan. Pemaparan akan difokuskan secara khusus pada hal-hal praktikal di dalam Gereja dan sakramen
Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi
Menurut kronologi sejarah, gereja Protestan mulai bereksistensi pada peristiwa Reformasi abad ke-16. Sekalipun ketika itu Martin Luther—dan juga kemudian John Calvin—menentang ajaran gereja Katolik Roma, mereka tidak bermaksud mendirikan gereja yang baru. Tujuan dari Reformasi itu sendiri adalah untuk menyerukan sebuah amanat agar gereja kembali kepada dasar ajaran dan misi yang sesungguhnya; gereja disadarkan dan dibangunkan agar berpaling pada raison d’etre dan vitalitasnya di bawah terang Injil. … Tulisan ini mencoba melihat teologi Reformasi dari segi hakikat/esensinya serta kaitan/relevansinya dengan iman Kristen pada masa kini. Karena keterbatasan ruang, penulis lebih banyak memfokuskan pembahasan pada pandangan J. Calvin (1509-1564) tentang esensi Reformasi itu sendiri, karena di dalam pemikiran Calvin-lah kita dapat menemukan pemikiran dasar tentang teologi Reformasi dalam struktur yang lebih mendalam dan sistematis