Jurnal Sundermann
Not a member yet
    63 research outputs found

    Menggugat Tuhan: Harmoni Teodisea Leibniz dalam Realitas Krisis dan Penderitaan Liyan di Gaza

    Get PDF
    Perang yang berlangsung antara Palestina dan Israel di Jalur Gaza sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Pada tahun 2023, perang kembali terjadi lagi di Jalur Gaza, yakni antara Kelompok Hamas (militan Palestina) dengan tentara Israel. Akibatnya, banyak korban berjatuhan dan mengalami penderitaan. Korban ini bukan hanya dari kalangan militer, melainkan juga orang-orang yang tidak bersalah seperti anak-anak, lansia, balita, wanita, penyandang disabilitas, dan sebagainya. Armada Riyanto menyebut kelompok ini sebagai Liyan. Keadaan ini kontradiksi dengan pengalaman akan Tuhan yang menjadi sumber kebaikan, sumber kebijaksanaan, dan sumber keadilan. Mengapa Liyan mengalami penderitaan? Apakah penderitaan tersebut berasal dari Tuhan? Dimana posisi Tuhan dalam penderitaan mereka? Fokus dari tulisan ini adalah untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan. Leibniz menyatakan Allah merupakan sumber dari segala sesuatu. Allah menciptakan dunia yang terbaik dan tidak pernah menghendaki penderitaan manusia. kejahatan merupakan konsekuensi dari ketidaksempurnaan manusia dan kehendak bebasnya. Penderitaan yang dialami Liyan dalam perang tersebut bukan berasal dari Tuhan, melainkan akibat dari kejahatan sesamanya. Akibat keegoisan dan persaingan yang terjadi di antara pihak yang berperang membuat Liyan mengalami penderitaan. Mereka menjadi korban dari kehendak bebas manusia yang dipergunakan secara keliru. Tuhan selalu mendampingi Liyan yang menderita. Tuhan meminta pertanggungjawaban dari kehendak bebas manusia. Tuhan selalu berkarya dalam hidup manusia, bahkan pada saat manusia itu mengalami penderitaan. Perang ini harus segera dihentikan. Krisis kemanusiaan yang terjadi akibat perang tersebut harus membutuhkan penanganan dan perhatian yang serius dari berbagai pihak, khususnya mereka yang terlibat secara aktif dalam perang tersebut

    Menciptakan Equilibrium: Harmonisasi Kekuasaan Konstruktif Vs Otoritarianisme Politik dalam Etika Kristen

    Get PDF
    Kekuasaan Konstruktif dan otoritarianisme politik di Indonesia memiliki hubungan yang erat dan signifikan, menciptakan fenomena yang meresahkan dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor penyebab dan dampak penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi dalam konteks politik Indonesia. Melalui metodologi penelitian kualitatif, berbagai sumber literatur dianalisis untuk memahami dampak negatif dari kekuasaan yang tidak terkendali, termasuk munculnya praktik korupsi, kolusi, serta lemahnya penegakan hukum. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi kuat antara penyalahgunaan kekuasaan dengan ketidakadilan sosial dan erosi kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya reformulasi kebijakan yang lebih efektif dan penerapan etika Kristen dalam praktik politik. Dengan mengedepankan prinsip-prinsip etika, diharapkan kekuasaan dapat digunakan untuk melayani masyarakat secara adil, menciptakan lingkungan kondusif bagi pembangunan berkelanjutan, serta memberikan wawasan baru bagi pembuat kebijakan dalam menangani masalah otoritarianisme dan penyalahgunaan kekuasaan di Indonesia

    Konsep Kesetaraan Gender dalam Ritual Pa’bannetauan Perkawinan

    Get PDF
    This study discusses the division of gender roles in the culture of Mamasa, West Sulawesi, focusing on the Pa'bannetauan ritual related to marriage and childbirth. The study finds that the bilateral kinship system in Mamasa allows for an equitable division of roles between men and women, supporting gender equality. Although there is freedom in choosing a partner, strict customary rules must still be followed, including offerings and agreements between both families. These findings are compared with patrilineal and matrilineal kinship systems in other cultures, showing that the bilateral system in Mamasa better supports gender equality. The article concludes that the customary norms in Mamasa can serve as an example of how traditions can support gender equality and justice in society

    Dari Alkitab ke alki(tab)? Preferensi Nasrani mengenai Fenomena Penggunaan Kitab

    Get PDF
    Kitab digital telah menjadi alat dan bahan penting untuk belajar dan beribadah dalam komunitas Kristen. Meski demikian, sebagian perilaku umat Nasrani, tetap mempertahankan kebiasaan menggunakan Alkitab dalam konteks Indonesia. Peneliti berargumen bahwa orang Kristen mempunyai preferensi terkait budaya menggunakan salah satu atau keduanya sesuai sikon: Alkitab dan/atau alki(tab). Tujuan penelitian ini ialah menganalisis preferensi Nasrani mengenai fenomena penggunaan kitab yang dianalisis berdasarkan perspektif sosiologi agama. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan reviu literatur, observasi, wawancara, dan Screenshot Diaries. Peneliti menemukan bahwa modernisasi memengaruhi perubahan sosial yang membuat masyarakat mengakrabkan diri dengan era digital. Hal itu telah tampak dalam siklus kehidupan tertentu yang mencerminkan keadaan dalam menggunakan alki(tab), selain Alkitab. Walaupun ada kitab digital, sebagian umat tetap memilih menggunakan Alkitab karena keyakinan bahwa menggunakan Alkitab lebih tidak terdistorsi oleh godaan perangkat elektronik. Penggunaan kitab tentu memperlihatkan keuntungan sekaligus tantangan. Ada transformasi ganda dari perilaku orang Kristiani mengenai penggunaan kitab yang berimplikasi pada preferensi

    Media Sosial sebagai Sarana Pendidikan Kristiani: Suatu Upaya untuk Mendidik Generasi Z

    Get PDF
    Media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z, generasi ini lahir pada saat internet telah tersedia dan mereka sangat bergantung pada teknologi untuk mengakses informasi. Sebagai respons terhadap perubahan realitas ini, gereja menghadapi tantangan dan peluang untuk mengadaptasi metode Pendidikan Kristiani dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana pembelajaran untuk menjangkau generasi ini. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana gereja dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana yang relevan bagi Pendidikan Kristiani untuk mendidik Generasi Z. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan mengumpulkan, mengevaluasi, dan menganalisis sumber-sumber yang relevan dengan bidang penelitian. Melalui studi literatur, dan hasil survei, ditemukan bahwa penggunaan media sosial dapat memperkuat penyampaian ajaran agama, memperluas jangkauan komunitas, dan menciptakan ruang interaktif yang relevan bagi generasi muda. Namun, tantangan seperti distorsi informasi, ketergantungan pada teknologi, bahaya kedangkalan karena ketiadaan berpikir serta kurangnya keterlibatan langsung dalam kehidupan berjemaat tetap menjadi hambatan yang perlu diatasi oleh gereja. Penelitian ini menawarkan pentingnya mengintegrasikan strategi digital dengan pendekatan pastoral untuk merelevansikan pendidikan kristiani yang relasional dan inkarnasional

    Menakar Ulang Gairah Relevansi Gereja

    Get PDF
    This article aims to examine the myth of relevance lived by churches in Indonesia, which understands that the church must be relevant to the life issues in the world. This article takes a different path, namely, to critically question the assumption of relevance and proposing a different spiritual and ecclesial approach. Such an approach suggests that the church must be irrelevant to the world, in order to maintain its identity and calling received from the Triune God. The study is characteristically more conceptual than contextual, therefore a review of the context of churches in Indonesia is not specifically presented. A comparative study of the thoughts of Henri J. M. Nouwen, Timothy Radcliffe, Jonathan Menezes, and Mark Sayers is carried out analytically, which is then summarized through James Hunter's thoughts on the concept of “faithful presence,” which helps churches to maintain the tension between their identity and their relationship with the world

    Pendeta Digital: Transformasi Fungsi Pastoral di Era AI dan Society 5.0

    Get PDF
    Penelitian ini menganalisis transformasi fungsi pastoral dalam era Society 5.0, khususnya fenomena digitalisasi pelayanan gerejawi dan pergeseran peran pendeta dalam ruang digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fungsional melalui teori The Artifice of Intelligence dari Noreen Herzfeld, studi ini menyelidiki kesenjangan antara fungsi pastoral tradisional dan potensi pelayanan digital. Temuan mengungkapkan bahwa meskipun AI memiliki kapabilitas teknis dalam mendukung pelayanan gereja, aspek-aspek fundamental seperti relasi interpersonal, pemahaman kontekstual, dan penyampaian pesan spiritual tetap membutuhkan sentuhan kemanusiaan. Transformasi digital menghadirkan urgensi redefinisi fungsi pastoral yang membutuhkan keseimbangan antara inovasi digital dan nilai-nilai fundamental pelayanan. Kesimpulannya, substitusi total peran pendeta oleh AI bertentangan dengan hakikat pelayanan pastoral yang menekankan relasi interpersonal dan spiritualitas manusiawi, sehingga diperlukan kerangka teologis yang jelas untuk mengatur integrasi AI dalam pelayanan gerejawi

    Gereja dan Stunting: Integrasi Tanggung-Jawab

    Get PDF
    Stunting is a serious problem currently faced by Indonesia. About 20 out of 100 children under five years old suffer from stunting. The stunting condition is so severe that it has even occurred since the beginning of life, when a new child is born, characterized by a height and birth weight below the recommended minimum size. The church is an organic entity that should not only convey the truth of God's word, but also provide solutions to the problem of stunting. Jesus' command to the disciples in Mark 6:35-44 to feed the people is the basis for the discussion of this paper, which will open the paradigm of the church's involvement in handling stunting in the future. There are many things that the church can do, directly or indirectly, for pregnant women and mothers of under five children

    Meaning Strengthen Your Heart And Behave Like A Man 1 Kings 2:2

    Get PDF
    The behavior of God's people in interpreting words often results in misinterpretation, so that this causes mistakes in interpreting certain words in the Bible. However, this is only a misunderstanding, because the Bible is never wrong, but human thinking does not reach the contents of the Bible. This study aims to provide a deeper understanding so that readers can understand the meaning of words like "man" in Book 1 Kings 2:2, so as not to misinterpret these words. This study uses qualitative methods, namely interviews and literature. The informants in this interview were: 1. Erika Dame Simorangkir 2. Sondang Lubis 3. Bintahan Harianja, M.Th. 4. Bill Dubois 5. Tiorinta Siboro. Thus, the conclusion of this research is "behave like a man" in Book 1 Kings 2:2 is a figurative word for Solomon to act decisively as a leade

    Mengembangkan Diakonia Reformatif bagi Orang Miskin di Jemaat Banua Niha Keriso Protestan Siofabanua

    Get PDF
    Konteks warga Gereja BNKP Jemaat Siofabanua yang dihadapkan dengan persoalan kemiskinan menjadi pemicu pelayanan diakonia karitatif. Pelayanan dalam bentuk pemberian bantuan uang atau barang, kepada warga jemaat yang miskin, dilakukan sekali dalam empat bulan. Namun, diakonia karitatif belum menjadi solusi untuk mengentaskan kemiskinan warga jemaat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Gereja BNKP Jemaat Siofabanua telah menerapkan diakonia reformatif dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan warga jemaatnya. Dalam penelitian ini penulis memakai metode deskriptif dalam rangka menggambarkan dan menganalisa penerapan diakonia reformatif serta manfaatnya secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama ini, pelayanan diakonia bagi warga Gereja BNKP Jemaat Siofabanua adalah pelayanan diakonia karitatif. Pelayanan ini baik untuk menyelesaikan masalah yang bersifat insidentil dalam durasi waktu yang tidak lama atau dalam bahasa lain tanggap darurat, namun belum mampu mengentaskan kemiskinan warga jemaat. Mengingat bahwa pelayanan diakonia karitatif itu berupa uang dan barang yang habis terpakai dalam waktu singkat karena sangat dibutuhkan. Gereja BNKP Jemaat Siofabanua masih menerapkan pelayanan diakonia karitatif, belum diakonia reformatif yang dapat membangun kehidupan jemaat. Dengan kata lain, pelayanan diakonia yang tepat untuk mengentaskan kemiskinan warga jemaat ialah pelayanan diakonia reformatif, bukan karitatif. Sebab penerapan diakonia reformatif berimplikasi bagi pertumbuhan ekonomi warga jemaat

    53

    full texts

    63

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sundermann
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇