Jurnal Sundermann
Not a member yet
    63 research outputs found

    Hakikat Pelayan Jemaat dari Perspektif Allah: Studi Hermeneutik terhadap Metafora dalam 2 Korintus 2:14a

    Get PDF
    Artikel ini ditulis dalam rangka membantu para Pendeta Jemaat menjawab pergumulan mereka oleh karena tuntutan Jemaat terhadap kriteria pendidikan dan kecakapan yang harus mereka miliki, untuk merespons perkembangan zaman. Tuntutan tersebut mendorong para pelayan berusaha memenuhinya dengan menempuh pendidikan atau pelatihan atas usaha sendiri. Namun di sisi lain, hal itu menimbulkan problema baru. Para pelayan semakin kurang mengandalkan kekuatan spiritualitas dalam melayani. Pelayanan semakin berorientasi pada prestasi. Akibatnya tidak sedikit pelayan yang lupa akan hakikat pelayanan. Tingginya biaya untuk mengasah kemampuan dan ketrampilan, yang tidak diimbangi oleh kemampuan Jemaat menanggulangi biaya hidup pelayan, menyebabkan pelayanan pelayan berorientasi pada kepentingan dirinya. Untuk menjawab pergumulan tersebut, penulis menyodorkan perspektif lain tentang hakikat pelayan, dengan menelusuri pengalaman dan pandangan Paulus, melalui kajian literatur, dengan melakukan studi hermeneutik atas 2 Korintus 2:14a. Ayat tersebut mengandung sebuah metafora, yakni tawanan perang, yang digunakan Paulus untuk mengemukakan pembelaannya terhadap kerasulannya, yang sedang mendapat serangan dari pihak luar Jemaat, yang berhasil memprovokasi Jemaat Korintus, sehingga Jemaat itu mulai menilai Paulus berdasarkan tradisi pada waktu itu, yaitu mengandalkan kemampuan manusia. Dengan ukuran itu mereka menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Menghadapi tuduhan tersebut, Paulus menggambarkan kerasulannya dengan menggunakan metafora tawanan perang yang rela dipermalukan dan digiring ke dalam maut (2 Kor 2:14a) demi kemuliaan sang pemenang yang menawannya. Melalui metafora itu, Paulus mendemonstrasikan pelayanan Yesus, yang rela menyerahkan diriNya ke dalam maut untuk melakukan kehendak BapaNya. Untuk itu Paulus memandang bahwa kemampuannya melayani tidak dengan mengandalkan usaha-usaha manusia, melainkan kemampuan yang semata-mata berasal (keluar) dari Allah saja

    PAK Dewasa Dalam Konteks Dua Dunia: Indonesia dan Negeri Belanda: Life-story Based Theology

    No full text
    Paper ini hendak menjelaskan bahwa Life-story based Theology merupakan jenis teologi yang mengacu kepada respons pembaca, seperti halnya: Reading the Bible through another eyes; Laity Movement di awal tahun 80-an. Life-story based Theology, menyangkut dua aspek yakni menawarkan alternatif lain di samping metode-metode tafsir historis-kritis, tafsir literair, dan bertujuan untuk mengangkat dan menggiatkan partisipasi pembaca Alkitab, sebagai pemegang peran yang tidak kalah pentingnya dari metode-metode lain. Life-story based Theology memang tampak mudah dan sedikit bisa diparalelkan dengan kesaksian iman yang sudah lama dikenal di jemaat-jemaat. Seseorang warga gereja berdiri di depan dan bercerita mengenai pengalaman imannya. Tetapi perlu menerapkan apa yang diminta oleh Life-story based Theology, yakni teologi Kristen sebagai ungkapan dari iman yang mencari dan menyelidiki makna dari riwayat hidup Tuhan Yesus dengan segala dimensinya. Namun juga mencari makna yang terkait dari bermacam-macam interpretasi dari riwayat Yesus dengan riwayat hidup kita dengan berbagai interpretasinya. Intinya, segala dimensi dari riwayat Yesus dalam kaitan dengan riwayat hidup manusia. Itulah sebabnya, kita dapat mengatakan adanya life story yang didasarkan pada Teologi

    Theology of Mission of Banua Niha Keriso Protestant in the Context of Religious Pluralism in Indonesia: A Critical Analysis

    Get PDF
    Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) is one of the churches organized by the Western missionaries in Nias, Indonesia. Missionaries sent by Rheinische Missions-Gesellschaft (RMG) since 1865 imparted a theology of mission which emphasized the superiority of Christianity compared to other religions. This kind of mission theology can cause tension and triggered conflict among religions because of the issue of Christianization. Therefore, the primary purpose of this study was to do a critical analysis of the theology of mission of BNKP that is informed by the theology of religion, which addresses the challenge of religious pluralism in Indonesia. This research focused on mission and religions studies. Through historical, sociological, or anthropological studies and content analysis of religions and BNKP, author found four models of mission that is acknowledged by BNKP. The first is a mission as conversion. Here, mission means being a witness of the Gospel to others, so they make a personal decision to believe in Jesus Christ and to be a member of the church. The second is the church-centered mission. The mission is done for the sake of planting and building the church by self-governing, self-propagating, and self-sustaining churches. The third is missio Dei. The mission is understood as God’s mission, and the church is only the instrument of God’s mission. The last is a mission as a holistic mission. In this model, mission means reaching the whole dimension of life including the whole creation

    53

    full texts

    63

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sundermann
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇