Journals of Universitas Teknologi Sumbawa
Not a member yet
2607 research outputs found
Sort by
Analisis Korelasi Tingkah Laku Seksual terhadap Produksi Spermatozoa Sapi Simmental di Balai Inseminasi Buatan Provinsi NTB
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Tingkah Laku Seksual Terhadap Produksi Spermatozoa Sapi Simental di BIBD Banyumulek Provinsi Nusa Tenggara Barat. Evaluasi kualitas semen dilakukan secara makroskopis meliputi jumlah volume spermatozoa dan secara mikroskopis meliputi motilitas dan konsentrasi spermatozoa. Metode analisis yang digunakan yaitu metode deskriptif dan dianalisis menggunakan analisis korelasi person. Hasil penelitian menunjukkan nilai tingkah laku seksual (waktu ereksi) tertinggi terdapat pada pejantan Surya 2 28,44±25,01 detik, sedangkan tingkah laku seksual (waktu reaksi) tertinggi terdapat pada pejantan Surya 2 dengan lama 33,35±23,88 detik dan tingkah laku seksual (waktu ejakulasi) tertinggi terdapat pada pejantan Surya 2 dengan lama 36,88±10,50 detik. Nilai rata-rata Produksi Spermatozoa (TS) tertinggi terdapat pada pejantan Surya 2 63,78±42,69 (x106ml) dan nilai rata-rata Total Spermatozoa Motil (TSM) tertinggi terdapat pada pejantan Surya 2 3856,69±2654,59 (x106ml). Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan dengan nilai sig (P<0,05) tingkah laku seksual terhadap TS terdapat pengaruh dengan nilai sig (0,04) dan (0,02) pada sapi simental. Tingkah laku seksual terhadap TSM (P>0,05) tidak terdapat pengaruh dengan nilai sig (0,10) pada sapi Simental di Balai Inseminasi Buatan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat.This study aims to determine the Relationship of Sexual Behavior to Sperm Production of Simmental Cattle in BIBD Banyumulek, West Nusa Tenggara Province. Evaluation of semen quality was carried out macroscopically including the number of spermatozoa volume and microscopically including motility and spermatozoa concentration. The analytical method used was a descriptive method and was analyzed using person correlation analysis. The results showed that the highest sexual behavior value (erection time) was found in the Surya 2 bull 28.44 ± 25.01 seconds, while the highest sexual behavior (reaction time) was found in the Surya 2 bull with a duration of 33.35 ± 23.88 seconds and the highest sexual behavior (ejaculation time) was found in the Surya 2 bull with a duration of 36.88 ± 10.50 seconds. The highest average value of Spermatozoa Production (TS) was found in the male Surya 2 63.78±42.69 (x10ml) and the highest average value of Total Motile Spermatozoa (TSM) was found in the male Surya 2 3856.69±2654.59 (x10ml). the results of the analysis showed an influence with a sig value (p<0,05) of sexual behavior on TS there was an influence with a sig value (0,04) and (0,02) in Simental cattle. Sexual behavior on TSM (p>0,05) there was no influence with a sig value (0,10) in Simental cattle at the regional artificial Insemination Center of West Nusa Tenggara provinc
ANALISIS PENGARUH KONSENTRASI SIANIDA DAN RASIO PADAT CAIR PADA PROSES PELINDIAN EMAS DARI BIJIH EMAS DESA MOKONG
Emas merupakan logam mulia bernilai ekonomi tinggi yang dimanfaatkan secara luas dalam berbagai bidang, seperti perhiasan, elektronik, kesehatan, dan teknologi. Peningkatan produksi emas di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir mendorong aktivitas eksploitasi di berbagai daerah, termasuk Desa Mokong, Kecamatan Moyo Hulu. Pengolahan emas di wilayah ini umumnya masih menggunakan metode amalgamasi yang memiliki tingkat toksisitas tinggi dan efisiensi ekstraksi yang rendah, sehingga diperlukan metode alternatif yang lebih efektif, seperti sianidasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi natrium sianida (NaCN), rasio padat–cair, dan waktu pelindian terhadap persen ekstraksi emas. Variasi konsentrasi NaCN yang digunakan adalah 250, 500, dan 750 ppm dengan rasio padat–cair 1:10, 1:15, dan 1:20 serta waktu pelindian 0,5; 6; 12; 24; dan 48 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaCN dan rasio padat–cair secara signifikan meningkatkan persen ekstraksi emas. Kondisi optimum diperoleh pada konsentrasi NaCN 750 ppm dengan rasio padat–cair 1:20 selama 48 jam, menghasilkan persen ekstraksi emas sebesar 91%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teknologi pengolahan emas yang lebih efektif dan berkelanjutan, khususnya bagi pertambangan emas skala kecil.Emas merupakan logam mulia bernilai ekonomi tinggi yang dimanfaatkan secara luas dalam berbagai bidang, seperti perhiasan, elektronik, kesehatan, dan teknologi. Peningkatan produksi emas di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir mendorong aktivitas eksploitasi di berbagai daerah, termasuk Desa Mokong, Kecamatan Moyo Hulu. Pengolahan emas di wilayah ini umumnya masih menggunakan metode amalgamasi yang memiliki tingkat toksisitas tinggi dan efisiensi ekstraksi yang rendah, sehingga diperlukan metode alternatif yang lebih efektif, seperti sianidasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi natrium sianida (NaCN), rasio padat–cair, dan waktu pelindian terhadap persen ekstraksi emas. Variasi konsentrasi NaCN yang digunakan adalah 250, 500, dan 750 ppm dengan rasio padat–cair 1:10, 1:15, dan 1:20 serta waktu pelindian 0,5; 6; 12; 24; dan 48 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaCN dan rasio padat–cair secara signifikan meningkatkan persen ekstraksi emas. Kondisi optimum diperoleh pada konsentrasi NaCN 750 ppm dengan rasio padat–cair 1:20 selama 48 jam, menghasilkan persen ekstraksi emas sebesar 91%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teknologi pengolahan emas yang lebih efektif dan berkelanjutan, khususnya bagi pertambangan emas skala kecil
MANAJEMEN RISIKO KEAMANAN ASET TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN ISO 31000:2018 PADA KANTOR LURAH PRAPEN
Kantor Lurah Prapen merupakan salah satu instansi pemerintah dalam penyelenggaraan administrasi dan pelayanan masyarakat. Dimana, Kantor Lurah Prapen menghadapi keterbatasan dalam sumber daya TI dan pengelolaan risiko yang belum optimal, terdapat potensi kebocoran data akibat kurangnya sistem keamanan yang memadai, rendahnya kesadaran pegawai terhadap ancaman keamanan TI seperti malware atau phishing, serta belum adanya kebijakan keamanan TI yang terstruktur. Framework ISO 31000 dapat membantu organisasi dalam mengidentifikasi, menganalisis, serta memberikan rekomendasi pengelolaan terhadap risiko sehingga lebih efektif. Berdasarkan hasil identifikasi risiko ditemukan 30 risiko yang mungkin dapat terjadi. Analisa dan evaluasi tingkat risiko di bagi menjadi 3 level yaitu High, Medium dan Low. Berdasarkan hasil evaluasi deiketahui 3 risiko berada pada level High yang berarti risiko membutuhkan penangnan secepat mungkin, 18 risiko pada level medium yang berarti risiko membutuhkan penanganan dan 9 risiko level Low dimana risiko dapat dihindari atau diatasi oleh kantor Kelurahan Prapen. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kantor lurah prapen dapat menangani risiko yang memiliki level High dengan cepat dimana risiko tersebut dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar dan dapat menghambat proses bisnis kantor lurah Prapen. Adapun risiko yang berada pada level Medium dapat dilakukan penanganan serta mitigasi, sehingga dapat mengurangi tingkat kerugian dan dampak dari risiko tersebut
MANAJEMEN RISIKO ASET TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN ISO 31000:2018 (STUDI KASUS: BPBD LOMBOK TENGAH)
BPBD kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu instansi pemerintah yang bertugas untuk menangani masalah penanggulangan bencana daerah, dalam pelaksanaannya BPBD kabupaten Lombok Tengah sering mengalami beberapa kendala baik yang disebabkan oleh faktor SDM, gangguan alam, masalah teknis dan masalah keamanan data. Dimana masalah-masalah tersebut dapat mengakibatkan rusaknya infrastruktur dan terganggunya proses bisnis perusahaan. Untuk menangani masalah tersebut maka dibutuhkan sebuah analisa terhadap manajemen risiko aset teknologi informasi yang dimiliki oleh kantor BPBD kabupaten Lombok Tengah dengan menggunakan model analisa yang terstruktur dan dapat dipercaya. Salah satunya menggunakan framework ISO 31000 yang dimana dapat membantu organisasi dalam mengidentifikasi, menganalisis, serta memberikan rekomendasi pengelolaan terhadap risiko sehingga lebih efektif. Berdasarkan hasil identifikasi risiko dan berdasarkan aset yang dimiliki ditemukan 33 risiko yang mungkin dapat terjadi. Analisa penilaian risiko dibagi menjadi 3 tingkatan risiko yaitu High, Medium dan Low, yang mana diukur berdasarkan frekuensi dan dampak risiko tersebut, dan kemudian digambarkan berdasarkan matrik risiko. Berdasarkan hasil penilaian risiko tersebut didapatkan 9 risiko termasuk dalam kategori Medium, dan 14 risiko termasuk dalam tingkat Lo
Analisis Penerapan Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pada PT KTC Coal Mining & Energy Site Loa Tebu : Pendekatan Deskriptif Kualitatif Berbasis Data Sekunder
According to data form ILO, the coal mining industry accounts for approimalety 2.78 million deaths annually, and in 2023, BPJS Ketenagakerjaan reported 2,137 cases in the mining sector. This study aims to analyse the implementation of Occupational Health and Safety (OHS) at PT KTC Coal Mining & Energy using a descriptive qualitative approach with secondary data obtained from the company’s internal documents. The results indicate that the company has effectively implemented its OHS Management system. This is evident through the management’s commitment to achieving “Zero Accident”, as well as the application of hazard identification and risk control in major mining activites using the HIRARC method. In addition, the company provides adequate personal protective equipment and has established emergency response procedures through an Emergency Response Team (ERT) and regular drill simulations. Although most risks are categorized as low to moderate and supported by regular audits, certain challenges remain, such as difficulties in supervision due to the vast working area. Overall, the implementation of OHS in company complies with Government Regulation No. 50 of 2012 and the Mining Safety Management System (SMKP), supported by a collaborative safety culture among employees.According to data form ILO, the coal mining industry accounts for approimalety 2.78 million deaths annually, and in 2023, BPJS Ketenagakerjaan reported 2,137 cases in the mining sector. This study aims to analyse the implementation of Occupational Health and Safety (OHS) at PT KTC Coal Mining & Energy using a descriptive qualitative approach with secondary data obtained from the company’s internal documents. The results indicate that the company has effectively implemented its OHS Management system. This is evident through the management’s commitment to achieving “Zero Accident”, as well as the application of hazard identification and risk control in major mining activites using the HIRARC method. In addition, the company provides adequate personal protective equipment and has established emergency response procedures through an Emergency Response Team (ERT) and regular drill simulations. Although most risks are categorized as low to moderate and supported by regular audits, certain challenges remain, such as difficulties in supervision due to the vast working area. Overall, the implementation of OHS in company complies with Government Regulation No. 50 of 2012 and the Mining Safety Management System (SMKP), supported by a collaborative safety culture among employee
ANALISIS FAKTOR KEGAGALAN DAN OPTIMALISASI PROSES EKTRAKSI GELATIN TULANG IKAN SEBAGAI SUMBER GELATIN HALAL : ANALISIS FAKTOR KEGAGALAN DAN OPTIMALISASI PROSES EKTRAKSI GELATIN TULANG IKAN SEBAGAI SUMBER GELATIN HALAL
Gelatin adalah jenis protein berserat hasil dari denaturasi parsial kolagen dan sering digunakan di berbagai industri. Sumber utamanya adalah sapi dan babi, namun keduanya menghadirkan isu di Indonesia terkait keamanan pangan dan ketentuan religius. Gelatin babi tidak diterima karena statusnya haram, sedangkan gelatin sapi dikaitkan dengan risiko penularan penyakit BSE. Oleh sebab itu, tulang ikan menjadi alternatif sumber gelatin halal yang berpotensi, meskipun proses ekstraksinya masih menghadapi kendala mutu dan rendemen. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penyebab kegagalan ekstraksi gelatin tulang ikan serta pengaruh suhu, pH, waktu, dan rasio bahan terhadap pelarut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa studi pustaka disertai analisis kualitatif yang didukung data praktikum. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketidaktepatan parameter proses, terutama suhu, waktu, perendaman asam, dan pH, menjadi penyebab utama kegagalan pembentukan gel. Optimalisasi parameter tersebut berpotensi menghasilkan gelatin tulang ikan yang memenuhi SNI dan Standar GMIA. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan mutu gelatin terutama ditentukan oleh pengendalian waktu dan suhu ekstraksi, pH, durasi perendaman dengan asam, jenis ikan serta bagian tubuh ikan yang digunakan selama ekstraksi.Gelatin adalah jenis protein berserat hasil dari denaturasi parsial kolagen dan sering digunakan di berbagai industri. Sumber utamanya adalah sapi dan babi, namun keduanya menghadirkan isu di Indonesia terkait keamanan pangan dan ketentuan religius. Gelatin babi tidak diterima karena statusnya haram, sedangkan gelatin sapi dikaitkan dengan risiko penularan penyakit BSE. Oleh sebab itu, tulang ikan menjadi alternatif sumber gelatin halal yang berpotensi, meskipun proses ekstraksinya masih menghadapi kendala mutu dan rendemen. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penyebab kegagalan ekstraksi gelatin tulang ikan serta pengaruh suhu, pH, waktu, dan rasio bahan terhadap pelarut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa studi pustaka disertai analisis kualitatif yang didukung data praktikum. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketidaktepatan parameter proses, terutama suhu, waktu, perendaman asam, dan pH, menjadi penyebab utama kegagalan pembentukan gel. Optimalisasi parameter tersebut berpotensi menghasilkan gelatin tulang ikan yang memenuhi SNI dan Standar GMIA. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan mutu gelatin terutama ditentukan oleh pengendalian waktu dan suhu ekstraksi, pH, durasi perendaman dengan asam, jenis ikan serta bagian tubuh ikan yang digunakan selama ekstraksi
ANALISIS GLOBAL WARMING POTENTIAL (GWP) EMISI GAS RUMAH KACA SEKTOR TRANSPORTASI DI KABUPATEN SUMBAWA
Perubahan iklim merupakan tantangan global yang disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK), yang berdampak pada perubahan suhu global, cuaca ekstrem, dan ancaman terhadap ketahanan pangan serta air bersih. Kabupaten Sumbawa, sebagai wilayah agropolitan dengan ketergantungan tinggi pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, mengalami dampak nyata dari perubahan iklim seperti gagal panen dan penurunan produksi rumput laut. Di sisi lain, sektor transportasi menjadi penyumbang utama emisi GRK, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil oleh kendaraan bermotor. Kabupaten Sumbawa menunjukkan tingkat konsumsi bahan bakar yang tinggi, menjadikannya salah satu kontributor emisi GRK terbesar di Provinsi NTB. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kontribusi sektor transportasi terhadap total emisi GRK di Kabupaten Sumbawa, sebagai dasar untuk merumuskan kebijakan mitigasi yang seimbang antara kebutuhan mobilitas dan pelestarian lingkungan. Hasil perhitungan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor transportasi menunjukkan bahwa total emisi setara karbon dioksida (CO? eq) mencapai 61.384.220,81 CO? eq, dengan kontribusi terbesar berasal dari gas CO? sebesar 59.966.119,65 CO? eq.Perubahan iklim merupakan tantangan global yang muncul akibat akumulasi emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, yang memicu peningkatan suhu rata-rata bumi, intensifikasi fenomena cuaca ekstrem, serta memperbesar risiko terhadap ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih. Kabupaten Sumbawa, sebagai kawasan agropolitan yang aktivitas ekonominya didominasi oleh sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, turut mengalami dampak signifikan dari perubahan iklim tersebut, seperti terjadinya gagal panen serta penurunan produksi rumput laut. Di sisi lain, sektor transportasi berperan sebagai kontributor utama emisi GRK, terutama melalui proses pembakaran bahan bakar fosil oleh kendaraan bermotor. Tingginya tingkat konsumsi bahan bakar di Kabupaten Sumbawa menjadikan daerah ini sebagai salah satu penyumbang terbesar emisi GRK di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi besaran kontribusi sektor transportasi terhadap total emisi GRK di Kabupaten Sumbawa, sehingga dapat dijadikan dasar bagi perumusan kebijakan mitigasi yang mampu menyeimbangkan kebutuhan mobilitas dengan perlindungan lingkungan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa emisi GRK dari sektor transportasi mencapai 61.384.220,81 CO? eq, dengan porsi dominan berasal dari gas CO? sebesar 59.966.119,65 CO? eq
ANALISIS LITERATUR TENTANG KONTRIBUSI MASYARAKAT DALAM KONSERVASI DI PULAU MOYO, SATONDA, DAN SEKITARNYA: DASAR PENGEMBANGAN STRATEGI BERKELANJUTAN
Konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem di kawasan Pulau Moyo, Satonda, dan sekitar Dompu memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Melalui tinjauan literatur dari sepuluh studi yang dipilih, artikel ini mengidentifikasi pola keberhasilan dan tantangan dalam pengelolaan konservasi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi, dukungan sosial-ekonomi, dan keberdayaan masyarakat. Namun, masih terdapat kekurangan dalam pengembangan model konservasi yang inovatif dan berkelanjutan. Rencana riset selanjutnya direkomendasikan untuk fokus pada pembangunan model konservasi partisipatif yang inklusif dan adaptif berbasis masyarakat, dengan pendekatan multisektoral dan teknologi inovatif. Temuan ini diharapkan menjadi dasar pengembangan kebijakan konservasi berbasis masyarakat yang efektif dan berkelanjutan di kawasan tersebut.Konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem di kawasan Pulau Moyo, Satonda, dan sekitar Dompu memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Melalui tinjauan literatur dari sepuluh studi yang dipilih, artikel ini mengidentifikasi pola keberhasilan dan tantangan dalam pengelolaan konservasi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi, dukungan sosial-ekonomi, dan keberdayaan masyarakat. Namun, masih terdapat kekurangan dalam pengembangan model konservasi yang inovatif dan berkelanjutan. Rencana riset selanjutnya direkomendasikan untuk fokus pada pembangunan model konservasi partisipatif yang inklusif dan adaptif berbasis masyarakat, dengan pendekatan multisektoral dan teknologi inovatif. Temuan ini diharapkan menjadi dasar pengembangan kebijakan konservasi berbasis masyarakat yang efektif dan berkelanjutan di kawasan tersebut.
TINDAK TUTUR ILOKUSI PADA TUTURAN FILM TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK SUTRADARA SUNIL SORAYA
Penelitian ini bertujuan menguraikan fungsi tindak tutur illokusioner yang disampaikan penutur kepada lawan tutur dalam interaksi, ditinjau dari perspektif pragmatik khususnya tindak tutur illokusioner. Pendekatan kualitatif dipilih karena data penelitian berupa percakapan antarkarakter dalam bentuk dialog. Sumber data penelitian adalah film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang disutradarai oleh Sunil Soraya. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan pencatatan. Analisis data dilakukan dengan metode padanan. Temuan mengenai fungsi tutur dianalisis berdasarkan teori Leech. Menurut Leech, tindak tutur illokusioner dibagi menjadi empat tipe yang dijadikan data, berjumlah 38 potong data. Ke-39 data tersebut terklasifikasi menjadi 5 data kompetitif, 5 konvivial, 14 kolaboratif, dan 5 konfliktif. Selain itu, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck mengajarkan bahwa cinta sejati melampaui batas agama, ras, dan budaya. Namun, dalam mengejar cinta, seseorang tetap harus menjunjung nilai-nilai baik dalam hidup serta menjaga kehormatan diri dan keluarga.Penelitian ini bertujuan menguraikan fungsi tindak tutur illokusioner yang disampaikan penutur kepada lawan tutur dalam interaksi, ditinjau dari perspektif pragmatik khususnya tindak tutur illokusioner. Pendekatan kualitatif dipilih karena data penelitian berupa percakapan antarkarakter dalam bentuk dialog. Sumber data penelitian adalah film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang disutradarai oleh Sunil Soraya. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan pencatatan. Analisis data dilakukan dengan metode padanan. Temuan mengenai fungsi tutur dianalisis berdasarkan teori Leech. Menurut Leech, tindak tutur illokusioner dibagi menjadi empat tipe yang dijadikan data, berjumlah 38 potong data. Ke-39 data tersebut terklasifikasi menjadi 5 data kompetitif, 5 konvivial, 14 kolaboratif, dan 5 konfliktif. Selain itu, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck mengajarkan bahwa cinta sejati melampaui batas agama, ras, dan budaya. Namun, dalam mengejar cinta, seseorang tetap harus menjunjung nilai-nilai baik dalam hidup serta menjaga kehormatan diri dan keluarga
Analisis Mitigasi Risiko Pada Pengrajin Pembuatan Parang Menggunakan Metode JSA Dan HOR (Studi Kasus: UD. Parang Tayam): Indonesia
UD. Parang Tayam adalah usaha kecil yang berlokasi di Desa Tarwa, Kecamatan Moyohulu, Kabupaten Sumbawa Besar, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan kapasitas produksi sekitar 10 hingga 12 batu bata merah per hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis langkah-langkah untuk mengurangi insiden kecelakaan kerja dalam proses produksi. Dua metode utama diterapkan: Analisis Keselamatan Pekerjaan (JSA) untuk mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja dan langkah-langkah pencegahannya, serta pendekatan Rumah Risiko (HOR) yang menekankan pencegahan dua tahap. Pada HOR 1, Potensi Risiko Agregat (ARP) digunakan untuk mengevaluasi potensi risiko dan mengidentifikasi faktor risiko prioritas. Sementara itu, pada HOR 2, langkah-langkah mitigasi dirumuskan untuk faktor risiko prioritas tersebut. JSA mengidentifikasi 10 potensi bahaya dari 16 aktivitas kerja. Ini termasuk iritasi mata akibat debu dedak beras, gangguan pernapasan, terpeleset, dan paparan percikan api. Sementara itu, HOR 1 mengidentifikasi enam faktor risiko prioritas (A7, A16, A5, A10, A13, A8) yang memerlukan pengelolaan lebih lanjut. HOR 2 mengembangkan 17 langkah mitigasi risiko dari enam faktor risiko utama, dengan memprioritaskan PA1 yang memiliki nilai ETDk tertinggi (975) sebagai langkah mitigasi utama. Pendekatan ini memungkinkan pengurangan risiko keselamatan dan kesehatan kerja secara efektif dan efisien di UD. Parang TayamParang Tayam adalah usaha kecil yang berlokasi di Desa Tarwa, Kecamatan Moyohulu, Kabupaten Sumbawa Besar, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan kapasitas produksi sekitar 10 hingga 12 batu bata merah per hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis langkah-langkah untuk mengurangi insiden kecelakaan kerja dalam proses produksi. Dua metode utama diterapkan: Analisis Keselamatan Pekerjaan (JSA) untuk mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja dan langkah-langkah pencegahannya, serta pendekatan Rumah Risiko (HOR) yang menekankan pencegahan dua tahap. Pada HOR 1, Potensi Risiko Agregat (ARP) digunakan untuk mengevaluasi potensi risiko dan mengidentifikasi faktor risiko prioritas. Sementara itu, pada HOR 2, langkah-langkah mitigasi dirumuskan untuk faktor risiko prioritas tersebut. JSA mengidentifikasi 10 potensi bahaya dari 16 aktivitas kerja. Ini termasuk iritasi mata akibat debu dedak beras, gangguan pernapasan, terpeleset, dan paparan percikan api. Sementara itu, HOR 1 mengidentifikasi enam faktor risiko prioritas (A7, A16, A5, A10, A13, A8) yang memerlukan pengelolaan lebih lanjut. HOR 2 mengembangkan 17 langkah mitigasi risiko dari enam faktor risiko utama, dengan memprioritaskan PA1 yang memiliki nilai ETDk tertinggi (975) sebagai langkah mitigasi utama. Pendekatan ini memungkinkan pengurangan risiko keselamatan dan kesehatan kerja secara efektif dan efisien di UD. Parang Tayam