Journals of Universitas Teknologi Sumbawa
Not a member yet
2607 research outputs found
Sort by
PERAN KELEKATAN ORANG TUA DAN SELF-ESTEEM TERHADAP DEPRESI REMAJA DENGAN KECENDERUNGAN BUNUH DIRI
Penelitian ini bertujuan adalah untuk menilai peran kelekatan orang tua dan self-esteem terhadap depresi remaja dengan kecenerungan bunuh diri. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan analisis regresi linier sederhana dan regresi linier berganda. Subjek berjumlah 100 remaja berusia 15 dan 21 tahun yang memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup. Hasil analisis hipotesis pertama menunjukkan adanya pengaruh signifikan kelekatan orang tua terhadap depresi sebesar 41,9% dengan perolehan nilai t hitung -8.141 dan nilai signifikansi 0.00. Hasil uji hipotesis kedua mengenai pengaruh self-esteem terhadap depresi mendapatkan nilai t hitung -9.116 dan nilai signifikansi 0.00 yang berarti self-esteem memiliki pengaruh signifikan terhadap depresi dengan besar pengaruh 56,4%. Sedangkan pengujian hipotesis ketiga yang mendapatkan nilai f hitung sebesar 62,740 dan nilai R-squared sebesar 0.564 mengimplikasikan bahwa 56,4% depresi remaja dengan kecenderungan bunuh diri dipengaruhi oleh kelekatan orang tua dan self-esteem, sedangkan 43,6% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.This study aims to assess the role of parental attachment and self-esteem on adolescent depression with suicidal tendencies. A quantitative approach was used with simple linear regression and multiple linear regression analysis. Subjects totaled 100 adolescents aged 15 and 21 years who had thoughts of ending life. The results of the first hypothesis analysis showed a significant effect of parental attachment on depression by 41.9% with the acquisition of the calculated t value of -8.141 and a significance value of 0.00. The results of the second hypothesis test regarding the effect of self-esteem on depression get a t value of -9.116 and a significance value of 0.00, which means that self-esteem has a significant influence on depression with a large influence of 56.4%. While testing the third hypothesis which gets the calculated f value of 62.740 and the R-squared value of 0.564 implies that 56.4% of adolescent depression with suicidal tendencies is influenced by parental attachment and self-esteem, while the remaining 43.6% is influenced by other variables
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN INTERPERSONAL DENGAN PEMAAFAN PADA INDIVIDU BERPACARAN DI KECAMATAN GADINGREJO
Conflict often occurs in romantic relationships during early adulthood, which can lead to relationship failure. Forgiveness is an essential component in repairing romantic relationships affected by conflict. One factor that may influence an individual's willingness to forgive is the quality of the relationship, particularly the presence of interpersonal trust. The aim of this study is to examine the relationship between interpersonal trust and forgiveness among dating individuals in the Gadingrejo District. This study employed a quantitative research method and used purposive sampling to select participants. The sample consisted of 392 individuals currently in romantic relationships, residing in the Gadingrejo District. Data were analyzed using the Spearman Rho correlation technique, which revealed a highly significant negative relationship, with a correlation coefficient of -0.459 and p = 0.000 (p < 0.001). This indicates that the higher the level of interpersonal trust, the lower the level of forgiveness toward one's partner. Interpersonal trust contributed an effective value of 10.9% to forgiveness.Konflik sering terjadi dalam sebuah hubungan berpacaran dewasa awal yang dapat menyebabkan kegagalan hubungan. Pemaafan merupakan unsur penting dalam memperbaiki hubungan berpacaran akibat konflik. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi seseorang untuk memaafkan adalah kualitas hubungan, khususnya yang di dalamnya terdapat kepercayaan interpersonal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan interpersonal dengan pemaafan pada individu berpacaran di Kecamatan Gadingrejo. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif serta menggunakan teknik purposive sampling dalam pemilihan sampelnya. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 392 subjek dengan populasi penelitian yaitu individu berpacaran di Kecamatan Gadingrejo. Penelitian ini menggunakan teknik analisis Spearman Rho, yang menunjukkan hasil bahwa adanya hubungan negatif yang sangat signifikan, dengan nilai keofisien korelasi sebesar -0,459 dan p = 0,000 (p < 0,001). Artinya, semakin tinggi kepercayaan interpersonal maka semakin rendah pemaafan individu terhadap pasangannya. Kepercayaan Interpersonal memiliki sumbangan efektif sebesar 10,9% terhadap pemaafan
PERBANDINGAN DIRI GENERASI Z TERHADAP KONSUMSI KONTEN MEDIA SOSIAL PLATFORM TIKTOK DALAM MEMBANGUN CITRA DIRI (SELF IMAGE) (STUDI PADA MAHASISWA UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA)
TikTok telah menjadi bagian penting dalam kehidupan digital, terutama di kalangan generasi muda. Platform ini memengaruhi cara individu memandang diri sendiri dan orang lain melalui konsumsi konten dan perbandingan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lebih dalam tentang perbandingan diri Mahasiswa UTS dalam mengonsumsi konten TikTok dalam membangun citra diri, dengan pendekatan kualitatif dan metode wawancara mendalam pada pengguna aktif TikTok. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa UTS sebagai representasi Generasi Z memiliki kemampuan evaluatif yang baik, terutama dalam menilai opini dan kemampuan secara akurat. Meskipun konten TikTok dapat memengaruhi persepsi nilai sosial dan citra diri, para narasumber mampu bersikap kritis dan selektif. Persepsi positif lebih dominan, dan konten sering dipandang sebagai sumber inspirasi dan motivasi. Narasumber juga menunjukkan pola perbandingan sosial yang sehat, baik melalui upward comparison sebagai motivasi, downward comparison sebagai refleksi, maupun perbandingan dengan individu setara untuk membentuk citra diri yang realistis. Dengan demikian, konsumsi konten dan perbandingan sosial di TikTok berperan sebagai mekanisme evaluasi diri yang mendukung pembentukan citra diri yang sehat di era media digital.TikTok has become a significant part of digital life, particularly among the younger generation. The platform influences how individuals perceive themselves and others through content consumption and social comparison. This study aims to further analyze how UTS students engage in self-comparison when consuming TikTok content in shaping their self-image. A qualitative approach was employed, using in-depth interviews with active TikTok users. The findings indicate that most UTS students, representing Generation Z, demonstrate strong evaluative abilities, especially in accurately assessing opinions and skills. Although TikTok content has the potential to influence perceptions of social values and self-image, the participants were able to remain critical and selective. Positive perceptions were more dominant, with content often seen as a source of inspiration and motivation. Participants also exhibited healthy patterns of social comparison, including upward comparison as a source of motivation, downward comparison as a means of reflection and gratitude, and comparison with similar individuals to form a realistic and positive self-image. Thus, content consumption and social comparison on TikTok serve as mechanisms of self-evaluation that support the development of a healthy self-image in the digital media era
RELATIONSHIP BETWEEN ANXIETY LEVELS AND SLEEP QUALITY IN UNISA YOGYAKARTA STUDENTS WHO ARE WRITING THEIR THESES
Penelitian ini bertujuan menimbulkan hubungan antara tingkat kecemasan dan kualitas tidur pada mahasiswa Unisa Yogyakarta yang sedang menyusun skripsi. Total 185 responden yang dipilih melalui Accidental Sampling yang digunakan dalam penelitian dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) digunakan sebagai instrumen penelitian. Analisis data menerapkan uji korelasi Product Moment Pearson. Mayoritas responden dalam penelitian ini mengalami kecemasan sedang (67,7%) dan memiliki kualitas tidur yang buruk (86,4%). Uji hipotesis menghasilkan koefisien korelasi r = 0,369 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05), menandakan adanya hubungan positif dan signifikan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur. Kecemasan pelajar yang tinggi mengakibatkan kualitas tidur yang dialami menjadi buruk. Implikasi studi menunjukkan pentingnya intervensi psikologis dan dukungan konseling dari universitas untuk menurunkan kecemasan serta meningkatkan kualitas tidur mahasiswa tingkat akhir.
Kata kunci : Kecemasan, kualitas tidur, pelajarPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara tingkat kecemasan dan kualitas tidur pada mahasiswa Unisa Yogyakarta yang sedang dalam proses penulisan tesis. Sebanyak 185 responden dipilih melalui accidental sampling dalam desain penelitian korelasional kuantitatif, dengan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebagai instrumen penelitian. Data dianalisis menggunakan uji Pearson Product-Moment Correlation, yang menghasilkan koefisien korelasi r = 0,369 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara tingkat kecemasan dan kualitas tidur dalam kategori rendah. Mayoritas responden mengalami kecemasan sedang (67,7%) dan kualitas tidur buruk (86,4%), menunjukkan bahwa tingkat kecemasan yang lebih tinggi berhubungan dengan kualitas tidur yang lebih buruk. Temuan ini menekankan pentingnya intervensi psikologis dan dukungan konseling dari universitas untuk membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur di kalangan mahasiswa tahun akhir.
Kata Kunci: Kecemasan, kualitas tidur, mahasiswa, tesi
IMPLEMENTASI DAN STRATEGI MANAJEMEN KELAS OLEH GURU UNTUK MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR YANG KONDUSIF DI SDN BOAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi dan strategi manajemen kelas yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di SDN Boak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian adalah guru kelas dan siswa di SDN Boak. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di SDN Boak telah menerapkan berbagai strategi manajemen kelas, seperti pengaturan tata ruang yang fleksibel, pemberian penguatan positif, penegakan disiplin secara adil, serta pendekatan emosional yang humanis terhadap siswa, guru tidak hanya fokus pada penyampaian materi, tetapi juga menggunakan strategi seperti ice breaking, bercerita, bernyanyi, atau permainan untuk menjaga minat belajar siswa.. Implementasi strategi tersebut mampu menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan partisipatif sehingga meningkatkan motivasi serta keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan manajemen kelas bergantung pada kemampuan guru dalam mengintegrasikan aspek pengelolaan fisik, sosial, dan emosional kelas secara seimbang
THE RELATIONSHIP BETWEEN CONFORMITY AND PROSOCIAL BEHAVIOR AMONG MSME TRADERS IN SALATIGA CITY
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konformitas dan perilaku prososial pada pedagang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Salatiga. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan populasi pedagang UMKM di Kota Salatiga dan teknik purposive sampling, menghasilkan 104 partisipan. Instrumen yang digunakan adalah skala Prosocial Tendencies Measure (PTM) untuk mengukur perilaku prososial dan The Conformity Scale untuk mengukur konformitas. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman karena distribusi data tidak normal dan hubungan antarvariabel tidak linear. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif signifikan antara konformitas dan perilaku prososial (r = 0,242; p = 0,013), yang berarti semakin tinggi konformitas, semakin tinggi kecenderungan pedagang menampilkan perilaku prososial. Temuan ini memiliki implikasi praktis bagi pembinaan UMKM, yaitu pentingnya memperkuat norma kelompok sekaligus mengembangkan faktor psikologis dan sosial yang mendorong perilaku prososial berkelanjutan.This study aims to examine the relationship between conformity and prosocial behavior among Micro, Small, and Medium Enterprise traders in Salatiga City. A quantitative correlational method was employed, with the population consisting of MSME traders in Salatiga and a purposive sampling technique yielding 104 participants. The instruments used were the Prosocial Tendencies Measure (PTM) to assess prosocial behavior and The Conformity Scale to measure conformity. Data were analyzed using Spearman’s correlation due to non-normal distribution and non-linear relationships between variables. The results revealed a significant positive relationship between conformity and prosocial behavior (r = 0.242; p = 0.013), indicating that higher conformity is associated with greater tendencies to display prosocial actions. These findings have practical implications for Micro, Small, and Medium Enterprise development programs, emphasizing the need to strengthen group norms while fostering psychological and social factors that encourage sustainable prosocial practices
VARIASI ECO-ANXIETY PADA MASYARAKAT PESISIR: BERDASARKAN USIA DAN GENDER
Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat eco-anxiety masyarakat pesisir berdasarkan jenis kelamin dan usia. Metode penelitian menggunakan survei kuantitatif dengan 117 responden. Analisis deskriptif menunjukkan mayoritas responden perempuan (78,6%) dengan skor eco-anxiety rata-rata lebih tinggi (Mean = 13,43, SD = 7,03) dibanding laki-laki (Mean = 12,64, SD = 5,91). Berdasarkan usia, skor tertinggi terdapat pada kelompok usia 41–55 tahun (Mean = 14,03, SD = 6,49), diikuti kelompok 21–30 tahun (Mean = 13,52, SD = 7,03), sedangkan kelompok 31–40 tahun memiliki skor terendah (Mean = 11,35, SD = 6,47). Temuan ini menunjukkan perempuan dan kelompok dewasa lanjut cenderung memiliki tingkat eco-anxiety lebih tinggi. Hal ini dapat dijelaskan oleh tingkat paparan informasi isu lingkungan, kesadaran terhadap perubahan iklim, dan tanggung jawab sosial yang lebih besar pada kelompok tersebut. Hasil penelitian menjadi dasar untuk intervensi psikoedukasi terkait kesehatan mental masyarakat pesisir
FENOMENA SELEB TIKTOK: GEN Z DAN PERSONAL BRANDING
This study examines how Generation Z TikTok celebrities in Malang, Indonesia, build sustainable personal branding strategies that align with the Sustainable Development Goals (SDGs) and the vision of Society 5.0. As social media becomes a dominant space for shaping digital identity and influence, personal branding takes on a new meaning—not just for self-promotion, but also for social impact. Using a descriptive qualitative method, this research involves in-depth interviews with six TikTok celebrities selected through purposive sampling. The study found that these celebrities develop their personal branding through consistent content creation, audience interaction, and a value-based narrative that emphasizes education, gender equality, environmental awareness, and community empowerment—aligning their digital persona with several SDGs, such as SDG 4 (Quality Education) and SDG 13 (Climate Action). The celebrities also demonstrated adaptability in navigating algorithmic trends while maintaining authenticity and long-term interaction. These findings highlight how Gen Z celebrities strategically align personal and social values through digital platforms, offering insights into sustainable branding within the context of Society 5.0. This research contributes to the understanding of how digital identity, youth culture, and global goals intersect in the evolving landscape of celebrity communication.
Keywords: Personal Branding, Tiktok, Social Media, Celebrity, Digital Marketing.Penelitian ini mengkaji bagaimana para selebrity TikTok dari Generasi Z di Malang, Indonesia, membangun strategi personal branding yang berkelanjutan dan selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) dan visi Society 5.0. Seiring media sosial menjadi ruang dominan untuk membentuk identitas dan pengaruh digital, personal branding memiliki makna baru—tidak hanya untuk promosi diri, tetapi juga untuk dampak sosial. Dalam penggunaan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan enam selebrity TikTok yang dipilih melalui purposive sampling. Studi ini menemukan bahwa para selebrity ini mengembangkan personal branding melalui pembuatan konten yang konsisten, interaksi dengan audiens, dan narasi berbasis nilai yang menekankan edukasi, kesetaraan gender, kesadaran lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat—menyelaraskan persona digital mereka dengan beberapa SDGs, seperti SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 13 (Aksi Iklim). Para selebrity juga menunjukkan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi tren algoritma sambil mempertahankan keaslian dan interaksi jangka panjang. Temuan ini menyoroti bagaimana selebrity Gen Z secara strategis menyelaraskan nilai-nilai pribadi dan sosial melalui platform digital, menawarkan wawasan tentang branding yang berkelanjutan dalam konteks Society 5.0. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana identitas digital, budaya anak muda, dan tujuan global saling beririsan dalam lanskap komunikasi selebrity yang terus berkembang.
Kata Kunci: Personal Branding, Tiktok, Media Sosial, Selebrity, Pemasaran Digital
POLITICAL COMMUNICATION STRATEGIES IN A PAPUAN CULTURAL APPROACH (A CASE STUDY OF THE PAPUA GOVERNOR ELECTION)
Komunikasi politik di Papua mencerminkan pertemuan unik antara modernisasi demokrasi dan sistem simbolik tradisional. Politik di Papua tidak hanya dipahami sebagai perebutan kekuasaan, tetapi juga sebagai media ekspresi identitas budaya dan legitimasi kolektif masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan dukungan wawancara etnografis bersama tokoh adat, tokoh agama, dan aktor politik. Analisis dilakukan melalui teori strukturasi Giddens, teori komunikasi antarbudaya Gudykunst, dan antropologi simbolik Geertz untuk memahami reproduksi makna dalam praktik kampanye politik. Temuan menunjukkan bahwa kemenangan pasangan Matius-Aryoko pada Pilgub Papua 2025 dipengaruhi oleh kemampuan mereka mengintegrasikan narasi budaya, modal kepercayaan sosial, dan simbol lokal, seperti noken dan ritual adat, ke dalam pesan politik yang persuasif. Strategi ini menjadikan kampanye sebagai performa budaya yang memperkuat kohesi sosial dan legitimasi politik. Komunikasi politik berbasis budaya di Papua berfungsi sebagai negosiasi dialogis antara kearifan lokal dan proyek demokrasi nasional. Kandidat yang mampu memadukan simbol kultural dengan etika komunal memperoleh legitimasi moral dan penerimaan publik yang lebih luas. politik berbasis budaya menjadi jalan transformatif bagi nasionalisme Papua, yang bergerak dari pinggiran menuju pusat wacana kebangsaan Indonesia.
Kata Kunci: Komunikasi Politik, Legitimasi Budaya, Papua, Kearifan Lokal, Nasionalisme TransformatifPolitical communication in Papua reflects a unique intersection between democratic modernization and traditional symbolic systems. Politics is not merely a contest for power but a medium to express cultural identity and collective legitimacy within Papuan society. This research applies a qualitative phenomenological method supported by ethnographic interviews with customary, religious, and political actors. The analysis draws upon Giddens’ structuration theory, Gudykunst’s intercultural communication framework, and Geertz’s symbolic anthropology to interpret meaning reproduction in campaign practices. The study finds that the victory of Matius-Aryoko in the 2025 gubernatorial election was shaped by their ability to embed cultural narratives, trust capital, and local symbols, such as noken and ritual gatherings, into persuasive messages. These elements transformed political campaigns into cultural performances that strengthened social cohesion and legitimacy. Political communication in Papua thus operates as a dialogic negotiation between local wisdom and the national democratic project. Candidates who successfully align symbolic representation with communal ethics gain deeper moral authority and public acceptance. Cultural-based political communication provides a transformative path for Papuan nationalism, shifting it from the periphery to the center of Indonesia’s civic discourse.
Keywords: Political Communication, Cultural Legitimacy, Papua, Local Wisdom, Nationalism Transformation
STUDI DESKRIPTIF TENTANG KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN CHARACTER STRENGTHS REMAJA KORBAN BULLYING
Bullying remains a serious problem in adolescent development, particularly due to its widespread impact on psychological, social, and emotional aspects. Adolescents who experience bullying tend to face obstacles in forming social relationships, including a decline in interpersonal communication skills that play an important role in daily interactions. This study uses a descriptive approach with the aim of identifying patterns of interpersonal communication and aspects of character strengths that emerge in adolescents who have experienced bullying. Data were collected through interviews, observations, and relevant measurement instruments to gain an in-depth understanding of the psychological condition of the subjects. The subjects in this study were three adolescents who were victims of bullying. The results of the study show that adolescent victims of bullying generally tend to withdraw from social interactions, experience barriers in expressing their thoughts, stress, anxiety, lack of motivation to study, and emotions, and exhibit low self-confidence in communication. In terms of character strengths, it was found that some character strengths such as courage, perseverance, and emotional regulation had declined, although some aspects such as empathy and gratitude were still evident in some subjects.
Keywords: Interpersonal Communication, Character Strengths, BullyingBullying masih menjadi salah satu permasalahan serius dalam perkembangan remaja, terutama karena dampaknya yang luas terhadap aspek psikologis, sosial, dan emosional. Remaja yang mengalami bullying cenderung menghadapi hambatan dalam menjalin hubungan sosial, termasuk menurunnya kemampuan komunikasi interpersonal yang berperan penting dalam proses interaksi sehari-hari. Metode Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan mengidentifikasi pola komunikasi interpersonal serta aspek-aspek character strengths yang muncul pada remaja yang pernah mengalami bullying. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara, observasi untuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai kondisi psikologis subjek. Subjek dalam penelitian ini 3 orang remaja korban bullying. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja korban bullying umumnya memiliki kecenderungan menarik diri dalam interaksi sosial, mengalami hambatan dalam mengungkapkan pikiran, stres, cemas, kurang motivasi belajar, dan emosinya, serta menunjukkan rasa percaya diri yang rendah dalam berkomunikasi. Pada aspek character strengths, ditemukan bahwa beberapa kekuatan karakter seperti keberanian, ketekunan, dan kemampuan regulasi emosi mengalami penurunan, meskipun beberapa aspek seperti empati dan rasa syukur masih muncul pada beberapa subjek.
Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal, Character Strengths, Bullyin