Journals of Universitas Teknologi Sumbawa
Not a member yet
2607 research outputs found
Sort by
Pelindian Bijih Emas Menggunakan Natrium Tisulfat 1 M dan Hidrogen Peroksida 30% : Pelindian Bijih Emas Menggunakan Natrium Tisulfat 1 M dan Hidrogen Peroksida 30%
One of the minerals that has high economic value, so that this mineral is often exploited on a large scale, especially in West Sumbawa Regency, is the metallic gold mineral (Au). In general, the gold leaching processuses cyanidation and amalgamation methods, but these two methods have a high degree of toxicity to theenvironment. One alternative method of leaching gold ore is using sodium thiosulfate. The use of sodiumthiosulphate is considered very ef ective, due to high gold recovery, low risk to the environment, faster dissolution of gold compared to cyanide and the reagent used is also quite economical. Leaching was carriedout using 200 mesh size of gold ore taken at Pekirum Village with sodium thiosulphate as a reagent andhydrogen peroxide as an oxidizing agent. In this study, the leaching process was carried out using aconcentration of 1 M sodium thiosulphate, 30% H?O? concentration, 6 hours of leaching time and a temperatureof 60°C. The characterization results using AAS showed that the percentage of gold recovery using sodiumthiosulfate and H?O?salah satu mineral yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga menjadikan mineral ini seringdieksploitasi secara besar-besaran khususnya di Kabupaten Sumbawa Barat adalah mineral logam emas (Au). Pada umunya proses pelindian emas menggunakan metode sianidasi dan amalgamasi, akan tetapi kedua metodeini memiliki tingkat toksisitas yang tinggi terhada lingkungan. Salah satu metode alternatif pelindian bijih emasmenggunakan natrium tiosulfat. Penggunaan natrium tiosulfat dinilai sangat efektif, dikarenakan perolehan emasyang tinggi, resiko terhadap lingkuingan yang rendah, pelarutan emas lebih cepat dibandingkan dengan sianidadan reagen yang digunakan juga cukup ekonomis. Pelindian dilakukan menggunakan bijih emas ukuran 200mesh yang di ambil di Desa Pekirum dengan natrium tiosulfat sebagai reagen dan hidrogen peroksida sebagaioksidator. Pada penelitian ini, proses pelindian dilakukan dengan menggunakan konsentrasi natrium tiosulfat 1M, konsentrasi H?O? 30%, waktu pelindian selama 6 jam dan pada temperatur 60°C. Hasil karakterisasimenggunakan AAS menunjukkan bahwa persentase perolehan emas menggunakan natrium tiosulfat dan H?O? sebesar 49,42%
Analysis of the Work Effectiveness of Automatic Bage Fish Dryer with the Addition of Dehumidifier, Exhaust Fan and Air Ventilation in the Electrical Laboratory of Sumbawa University of Technology
The automatic bage fish dryer designed by Ari Kurniawan in 2022 has several shortcomings. One of them is the temperature of the drying room, which is not stable based on the predetermined set point, namely 60 C, and the drying room is still too humid, as a result of which the fish does not dry completely. So, in this study researchers improved the problem of temperature stability and humidity levels by adding a Dehumidifier, an exhaust fan, and Air Ventilation. Researchers used experimental quantitative research methods to facilitate the research process. The results obtained after the addition of the Dehumidifier, Exhaust Fan, and Air Ventilation provide temperature stability in the automatic bage fish dryer of 60 C with the smallest level of humidity reduction of 16% RH.Alat pengering ikan bage otomatis yang pernah dirancang oleh Ari Kurniawan pada tahun 2022 memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya pada suhu ruang pengeringan yang tidak stabil berdasarkan set point yang telah ditentukan yaitu pada suhu 60?C serta ruang pengeringan masih terlalu lembab akibatnya ikan tidak kering secara sempurna. Sehingga, pada penelitian ini peneliti memperbaiki masalah kestabilan suhu dan tingkat kelembaban tersebut dengan menambahkan Dehumidifier, Exhaust Fan, dan Ventilasi udara. Peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif eksperimen untuk mempermudah dalam proses penelitian. Hasil penelitian yang didapatkan setelah penambahan Dehumidifier, Exhaust Fan, dan Ventilasi udara memberikan kestabilan suhu pada alat pengering ikan bage otomatis sebesar 60?C dengan tingkat penurunan kelembaban terkecil sebesar 16%RH
Analisis Buckling pada Rangka Mesin Pemberi Pakan Ikan otomatis
Food security is a problem that the world will face in the future. One solution to address the issue of food security globally is in the fisheries sector. Indonesia is considered a solution as it is the second largest fish producer in the world, as stated by the FAO in The State of World Fisheries and Aquaculture 2022 report. However, in order to increase fish production, aquaculture needs to be conducted to maintain the stability of fisheries in Indonesia. To facilitate this process, an automatic fish feeder device is required. This device needs to undergo research, specifically in the field of buckling analysis. Buckling is a failure phenomenon that occurs due to compressive pressure on a structure, causing a change in its shape in the form of lateral deflection to another equilibrium form. In this analysis, calculations are performed for critical loads, deformation, and equivalent stress. The applied load on the frame is 100 kg or 981 N. The obtained critical load for frame type 1 with a cross-sectional area of 40 mm x 40 mm x 0.5 mm is 13.879,923 N, while for frame type 2 with a cross-sectional area of 40 mm x 25 mm x 0.5 mm, the critical load is 12.621,791 N. The maximum deformation for frame 1 is 0.25013 mm, and the minimum deformation is 0 mm. For frame 2, the maximum deformation is 0.53323 mm, and the minimum deformation is 0 mm. The maximum equivalent stress for frame 1 is 180.38 MPa, and the minimum equivalent stress is 0.0046383 MPa. The maximum equivalent stress for frame 2 is 99,735 MPa, and the minimum equivalent stress is 0.0016464 MPa.Ketahanan pangan merupakan permasalahan yang akan di hadapi dunia di masa yang akan datang solusi untuk menjawab permasalahan ketahanan pangan di dunia yaitu salah satunya pada sektor perikanan. Negara Indonesia menjadi sebuah solusi karena menjadi negara dengan penghasil ikan terbanyak ke dua di dunia sesuai yang di sampaikan oleh FAO dalam laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2022. Namun, dalam proses peningkatan hasil ikan perlu dilakukannya pembudidayaan agar menjaga kestabilan hasil perikanan di Indonesia. Anda memerlukan pengumpan ikan otomatis untuk mempermudah pengoperasian. Penelitian harus dilakukan pada kerangka penggunaan teknologi ini, analisis tekuk. Tegangan tekan pada suatu struktur dapat menyebabkan fenomena keruntuhan yang disebut buckling, yang mengakibatkan pembengkokan lateral struktur menjadi bentuk kesetimbangan yang berbeda. Beban kritis, deformasi, dan tegangan ekuivalen semuanya dihitung dalam pendekatan ini. Jumlah beban yang diberikan pada rangka sebesar (100 Kg/981 N). sehingga hasil beban kritis yang didapatkan sebesar (13.879,923 N) pada jenis rangka 1 dengan luas penampang (40 mm x 40 mm x 0,5 mm) dan pada jenis rangka 2 dengan luas penampang (40 mm x 25 mm x 0,5 mm) sebesar (12.621,791 N). Adapun deformasi maksimum sebesar (0,25013 mm) terhadap rangka 1 dan nilai minimum sebesar (0 mm). Nilai deformasi maksimum pada rangka 2 sebesar (0,53323 mm) dan nilai minimum sebesar (0 mm). sedangkan equivalent stress maksimum pada rangka 1 sebesar (180,38 Mpa) dan nilai minimum sebesar (0,0046383 Mpa). Nilai equivalent stress maksimum pada rangka 2 sebesar (99,735 Mpa) dan nilai minimum sebesar (0,0016464 Mpa)
Analisis Kekuatan Pengelasan Gas Metal Arc Welding (GMAW) Material SS400 Menggunakan variasi Kawat Las dan Arus Listrik dengan Metode Uji Bending
Welding is the process of joining two metals into a joint using heat. This study aims to determine how much the value of the bending strength test on gas welding metal arc welding (GMAW) using ER70S-3 welding wire with electric current variations, namely 80A, 100A and 120A. The welding method used in this study is gas metal arc welding (GMAW), the material used is SS400 with a length of 150 mm, a width of 20 mm and a thickness of 10 mm. the type of compound used is V compound with 60° dryness according to AWS G1 standard. 1:2000. The test conducted is bending test with Three points Bending method. Bending test specimen based on ASTM E32-02 standardization. The lowest bending strength test value is at 80A with an average value of 17.3 kN and a bending voltage value of 1946.25 N/mm2. The average value of bending test strength at 100A current strength is 18.0 kN and bending voltage value is 2.025 N / mm2. for the strong current of 120 is the largest with an average value of 19.8 kN and bending stress value of 2227.5 N/mm2. Pengelasan adalah proses penyatuan dua buah logam menjadi suatu bentuk sambungan dengan menggunakan proses panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar nilai kekuatan uji bending pada pengelasan gas metal arc welding (GMAW) menggunakan kawat las ER70S-3 dengan variasi arus listrik, yaitu 80A, 100A dan 120A. Metode pengelasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah gas metal arc welding (GMAW), material yang digunakan adalah SS400 dengan ukuran panjan 150 mm, lebar 20 mm dan tebal 10 mm. jenis kampuh yang digunakan adalah kampuh V dengan kemeringan 60° sesuai standar AWS G1. 1:2000. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian bending dengan metode Three Poin Bending. Spesimen uji bending berdasarkan standarisasi ASTM E32-02. Nilai kekuatan uji bending paling rendah adalah pada kuat arus 80A dengan nilai rata – rata 17,3 kN dan nilai tegangan bending sebesar 1.946,25 N/mm². Nilai rata – rata kekuatan uji bending pada kuat arus 100A yaitu 18,0 kN dan nilai tegangan bending sebesar 2.025 N/mm². untuk kuat arus 120 adalah yang terbesar dengan nilai rata – rata 19,8 kN dan nilai tegangan bending sebesar 2.227,5 N/mm². 
Pengaruh Kecepatan Udara Dan Kapasitas Pengeringan Pada Mesin Pengering Kerupuk Ikan Tongkol
Research on the influence of air drying speed on crackers has been carried out by Siregar, M.S., Anggara, M., Aldrin, A., & Hidayat, A. (2023) where air speed influences the value of drying rate, air content value and drying efficiency value , the higher the air speed, the greater and more efficient the drying rate, air content value and drying efficiency value. Meanwhile, research has never been carried out on testing the capacity of a drying machine for mackerel fish crackers to determine the capacity of a drying machine according to the size of the machine, namely with dimensions of 40 cm long, 40 cm wide and 85 cm high. The aim of this research was to determine the effect of air speed and drying capacity on drying rate, air content and drying efficiency on a tuna cracker drying machine. This research uses an experimental drying method using a tuna cracker drying machine by testing air speed and drying capacity. From the test results, the best drying rate between the two was at a speed of 2,5 m/s with 100% capacity. The best water content is at a speed of 2 m/s with a capacity of 50% and a capacity of 75% and at a speed of 2,5 m/s with a capacity of 50% and a capacity of 75% (according to the 12% cracker water content standard, SNI 0272:1991) as well as drying efficiency the best between the two is at a speed of 2,5 m/s 100% capacity.Penelitian tentang pengaruh kecepatan udara pengeringan kerupuk sudah pernah dilakukan oleh Siregar, M. S., Anggara, M., Aldrin, A., & Hidayat, A. (2023) yang dimana kecepatan udara mempengaruhi nilai dari laju pengeringan, nilai kadar air dan nilai efisiensi pengeringan, semakin tinggi kecepatan udara maka laju pengeringan, nilai kadar air dan nilai efisiensi pengeringan semakin besar dan efisien. Sementara penelitian tentang uji kapasitas mesin pengering kerupuk ikan tongkol belum pernah dilakukan untuk mengetahui kapasitas mesin pengering yang sesuai dengan ukuran mesin yaitu dengan dimensi panjang 40 cm, lebar 40 cm dan tinggi 85 cm. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kecepatan udara dan kapasitas pengeringan terhadap laju pengeringan, kadar air dan efesiensi pengeringan pada mesin pengering kerupuk ikan tongkol. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen pengeringan menggunakan mesin pengering kerupuk ikan tongkol dengan pengujian kecepatan udara dan kapasitas pengeringan. Dari hasil pengujian mendapatkan laju pengeringan terbaik diantara keduanya berada pada kecepatan 2,5 m/s kapasitas 100%. kadar air terbaik berada pada kecepatan 2 m/s dengan kapasitas 50% dan kapasitas 75% dan pada kecepatan 2,5 m/s dengan kapasitas 50% dan kapasitas 75% (Sesuai standar kadar air kerupuk 12%, SNI 0272:1991) serta efisiensi pengeringan terbaik diantara keduanya berada pada kecepatan 2,5 m/s kapasitas 100%
Delineasi Area Rawan Longsor Menggunakan GIS/Penginderaan Jauh dan AHP di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar
The Lhoong District, Aceh Besar Regency, is an area that is highly vulnerable to landslides, especially during the rainy season. This research aims to delineate landslide-prone areas in Lhoong District, Aceh Besar Regency, using GIS/remote sensing applications and methodsAnalytical Hierarchy Process (AHP) with six parameters: lithology, slope, land cover, lineament density, drainage density, and Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). The results of each parameter were then given a weight from calculations using the AHP method and then superimposed on the existing map to calculate the level of landslide susceptibility. Overlaying these six parameters produces a Landslide Potential Map with five levels of vulnerability: very low vulnerability (6%), low vulnerability (43%), medium vulnerability (30%), high vulnerability (20%), and very high vulnerability (1%).Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu wilayah yang sangat rentan terjadi bencana tanah longsor, khususnya pada musim penghujan. Penelitian ini bertujuan untuk mendelineasi area rawan longsor di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh besar menggunakan aplikasi GIS/penginderaan jauh dan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan enam parameter yaitu litologi, kelerengan, tutupan lahan, lineament density, drainage density, dan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Hasil dari tiap parameter kemudian diberikan bobot dari perhitungan menggunakan metode AHP kemudian ditumpang susun dengan peta yang ada untuk menghitung tingkat kerawanan longsor. Hasil dari overlay keenam parameter tersebut menghasilkan Peta Potensi Tanah Longsor dengan lima tingkat kerentanan, yaitu kerentanan sangat rendah (6%), rendah (43%), menengah (30%), tinggi (20%), dan sangat tinggi (1%)
Evaluasi Emisi Karbon Bata Beton Dengan Abu Insinerasi Limbah B3 PT. Kawasan Industri Makassar
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menekankan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan oleh setiap individu. Metode utama untuk pengelolaan limbah berbahaya beracun melibatkan pembakaran di incinerator dapat menghasilkan abu yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, terutama dalam beton. Emisi CO2 dari produksi beton dan industri konstruksi menjadi perhatian utama dalam konteks pemanasan global. Penelitian ini berfokus pada pengolahan abu insinerator limbah B3 PT. Kawasan Industri Makassar sebagai bahan bangunan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan penurunan emisi CO2 pada bata beton dengan penggunaan abu hingga 35%, dengan intensitas CO2 mencapai 14,60% untuk proporsi campuran mutu C dan 22,63% untuk proporsi campuran mutu D lebih rendah dibandingkan dengan bata beton tanpa campuran abu. Meskipun terjadi penurunan kuat tekan, produk masih memenuhi standar. Pemanfaatan residu abu insinerator dapat meminimalkan emisi karbon dalam produksi bata beton, menawarkan alternatif berkelanjutan untuk limbah berbahaya beracun, dan mendukung upaya mengurangi dampak lingkungan dari industri konstruks
VOCABULARY LEARNING STRATEGY EMPLOYED BY INDONEISAN ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE (EFL) LEARNERS IN MALAYSIA
The study discusses Vocabulary Learning Strategies (VLS) employed by Indonesian English as a Foreign Language (EFL) learners in the context of environmental issues in Malaysia. The research aims to examine the most frequently used vocabulary learning strategies by Indonesian EFL students and determine whether students with different levels of education and academic majors significantly differ in the use of vocabulary learning strategies at state universities in Malaysia. A total of 202 students enrolled in various degree programs and academic majors were randomly selected for this study during the second semester of the academic year 2022-2023. A questionnaire based on Schmitt's taxonomy (1997) was adopted and distributed through Google Forms. Additionally, data analysis procedures employed statistical analysis with descriptive statistics and One-way ANOVA to compare individual differences in the use of VLS. The findings of this research indicate that the most frequently used VLS by students are in the determinacy category, while the least used are in the Social category. The results also demonstrate no statistically significant differences in the use of VLS based on the level of education and academic majors
Efesiensi Pemasaran Ternak Sapi Di Kabupaten Sumbawa
The aim of this research is the efficiency of cattle marketing in Sumbawa Regency. The sample size is 21 respondents consisting of 15 small breeders, 5 and 1 collector trader. The variables observed consist of marketing margin, famer share, and marketing efficiency. The results show that there are two marketing channels, namely breeders, farmers and collectors and two channels of breeders and collectors. The highest marketing channel margin is in the first marketing channel of IDR 1,246,667/head and the lowest margin is in the second channel of IDR 1,370,000/head. The highest famer share is in channel one at 89.75% and the second channel at 88.77 %. The second channel is the most efficient channel based on the number of indices, namely 3.52 while the first channel is 3.78.
PENGARUH PEMUASAAN SECARA PERIODIK TERHADAP KONSUMSI DAN EFISIENSI PAKAN PADA BENIH IKAN JURUNG (Tor soro)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengulangan siklus pengurangan pakan yang dilanjutkan dengan pemberian pakan tetap terhadap konsumsi pakan dan efisiensi pakan, serta mengetahui tingkat nafsu makan benih ikan Jurung (Tor soro) setelah dilakukan satiasi secara berkala selama 2-3 hari. Data yang diamati meliputi bobot mutlak, panjang mutlak, total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelangsungan hidup (SR) dan kualitas air. Penelitian ini dilakukan di Penangkaran Amfibi Padang Lancat di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Ikan yang diuji adalah benih ikan jurung berukuran 3-5 cm. dengan panjang rata-rata 1,60 ± 0,00 cm dan berat rata-rata 2,16 ± 0,23g. Pemberian pakan diberikan pada pukul 08.00-08.10 WIB, pukul 12.00-12.10 WIB dan pukul 16.00-16.10 WIB ikan secara at satiation. Ikan dipelihara dengan padat tebar 15 ekor/wadah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara pemberian pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, FCR, RGR, dan pertumbuhan panjang absolut, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR. Perlakuan Po (tidak puasa) memberikan nilai TKP terendah sebesar 4,44 g, nilai RGR tertinggi sebesar 5,11 ± 0,00/hari, dan nilai pertumbuhan panjang absolut tertinggi sebesar 1,60 ± 0,00 cm. Perlakuan P2 (1 hari pemberian pakan dilanjutkan 3 hari pemberian pakan) memberikan nilai EPP tertinggi sebesar 0,94±0,04%, dan nilai FCR terendah sebesar 1,06±0,04