Repository Poltekkes Kupang
Not a member yet
4410 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN DAN TROMBOSIT DENGAN LAMA PENGOBATAN PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS OESAPA KOTA KUPANG
Latar belakang : Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat menginfeksi organ tubuh yang lainnya (tuberculosis ekstra paru) seperti pleura, kelenjar limfe, tulang, dan organ ekstra paru lainnya. Saluran pernafasan merupakan jalur utama masuknya kuman Mycobacterium tuberculosis. Infeksi TB terjadi melalui (droplet nuclei), yaitu pasien TB batuk, bersin atau berbicara dan percikan droplet mengandung bakteri dapat terhirup. Tujuan penelitian : Mengetahui hubungan kadar hemoglobin dan trombosit dengan lama pengobatan penderita TB paru di Puskesmas Oesapa. Metode penelitian observasional analitik menggunakan desain cross sectional dengan teknik pengumpulan data berupa pemeriksaan kadar hemoglobin dan trombosit pada penderita tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan tuberkulosis paru, sampel penelitian 20 orang. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Hasil penelitian : Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukan bahwa jumlah penderita tuberkulosis paru lebih banyak terjadi pada usia produktif (15-50 tahun) sebanyak 15 orang (75,0%), berdasarkan jenis kelamin lebih banyak pada laki-laki 15 orang (75%), berdasarkan lama pengobatan lebih banyak pada fase lanjutan (3-6 bulan) yaitu 14 orang (70%). Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin menunjukkan sebagian besar pasien kadar hemoglobin normal, tertinggi laki-laki 12 orang (80%) dan perempuan 3 orang (60%). Penderita tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan mengalami anemia tertinggi laki-laki 3 orang (20%) dan perempuan 2 orang (40%). Hasil pemeriksan jumlah trombosit menunjukan sebagian besar pasien memiliki jumlah trombosit normal, tertinggi laki-laki 11 orang (73,3%) dan perempuan 4 orang (80%). Penderita tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan mengalami keadaan trombositopenia tertinggi pada laki-laki yaitu sebanyak 4 orang (26,70%) dan perempuan 1 orang (20%). Simpulan : Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan signifikan atau bermakna antara lama pengobatan dengan kadar hemoglobin maupun lama pengobatan dengan jumlah trombosit
GAMBARAN C-REAKTIF PROTEIN PADA LANSIA DI UPTD KESEJAHTERAAN SOSIAL LANJUT USIA BUDI AGUNG KUPANG
Lansia adalah tahap akhir kehidupan manusia yang ditandai oleh perubahan degeneratif pada kulit, jantung, pembuluh darah, tulang, syaraf, dan jaringan tubuh lainnya. Penuaan merupakan siklus kehidupan dengan menurunnya fungsi organ, membuat tubuh rentan terhadap penyakit karena perubahan struktur dan fungsi pada sel, jaringan, dan sistem organ seiring bertambahnya usia. Adanya gangguan kondisi kesehatan atau penyakit di dalam tubuh dapat menimbulkan proses inflamasi. Salah satu indikator penting dalam mengevaluasi tingkat inflamasi di dalam tubuh adalah dengan pemeriksaan C-Reaktif protein (CRP). Tujuan penelitian ini untun mengetahui Untuk mengetahui Gambaran C-Reaktif Protein pada Lansia di UPTD Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia Budi Agung Kupang. Metode yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan metode rancangan cross sectional study. Penelitian ini dilaksanankan di Laboratorium Prodi TLM. Metode pemeriksaan yang digunakan adalah metode kualitatif latex aglutinasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 56 orang responden mempunyai CRP reaktif 20% dan hasil non reaktif 50% dengan paling banyak ditemukan pada perempuan 11%, umur 75-90 tahun 7%, memiliki 1 dan 2 jumlah penyakit penyerta 9%, penyakit penyerta hipertensi 13% dan diikuti dengan penyakit penyerta rheumatoid arthritis 9%
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG CARA MENYIKAT GIGI DAN ANGKA DEBRIS INDEX PADA ANAK KELAS V11 SMP NEGRI 10 KUPANG TAHUN 2024
Latar Belakang: Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga kesehatan
Pasal 1 ayat 1 menyatakan bawah tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri
dalan bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan
di bidang kesehatan yang untuk jenis terteantu melakukan kewewenangan untuk melakukan
upaya kesehatan.Riskesdas 2013 untuk Indonesia usia 8 tahun keatas mengungkap presentasi
anak sekolah yang mempunyai masalah gigi dan mulut dari tahun 2007 - 2013 meningkat dari
23,2% menjadi 25,2% sedangkan berdasarkan kelompok usia 10-14 tahun meningkat dari
20,6% menjadi 25,2%. Kebiasan menyikat gigi penduduk Indonesia sebesar 76,6 menyikat gigi
setiap hari pada saat pagi atau mandi sore. faktor yang dapat mempengaruhi kebersihan gigi
dan mulut seseorang adalah pengetahuan cara menyikat gigi,frekuensi menyikat gigi,waktu
menyikat gigi,dan bentuk sikat gigi yang digunakan sehingga dapat mencegah terjadinya
penumpukan plak dan debris sedini mungkin Penyebab utama rendahnya kebersihan gigi dan
mulut ada anak menengah adalah perilaku menyikat gigi yang belum baik. Hal ini ditandai
dengan adanya plak gigi yang menempel dan menumpuk pada gigi bagian belakang. pada tahun
2023 dengan hasil partisipasi orang tua siswa dalam mengawasi anaknya menyikat gigi masih
sekitar 70% saja sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang
Gambaran Perilaku Menyikat Gigi Pada anak Kelas V11 SMP Negri 10 Kupang. Tujuan
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang cara menyikat gigi dan angka debris index
pada anak kelas V11 SMP Negri 10 Kota Kupang. .jenis penelitian deskriptif dengan metode
survei yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang cara menyikat gigi dan
angka debris index pada anak kelas V11 SMP Negri 10 Kupang. Hasil Penelitian sebagian
besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 42 responden (54,5%) dan sebagian
besar responden berumur 13 tahun sebanyak 51 responden (966,7%) pengetahuan tentang cara
menyikat gigi dengan kriteria cukup sebanyak 39 responden (50,6%) angka debris index
dengan kriteria sedang sebanyak 48 responden (62,5%). Kesimpulan Tingkat pengetahuan
kelas V11 siswa-siswi SMP Negeri 10 Kupang tentang Gambaran pengetahuan tentang cara
menyikat gigi termasuk dalam kategori sedang 50,6%. Debris index pada siswa-siswi Kelas
V11 SMP Negeri 10 Kota kupang termasuk dalam kategori sedang 62,
GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH SEWAKTU PADA USIA PARUH BAYA DI RT 30/RW 011 KELURAHAN MAULAFA KOTA KUPANG
Glukosa merupakan produk akhir metabolisme karbohidrat dan juga sumber
energi utama bagi makhluk hidup. Glukosa berasal dari dua sumber yaitu eksogen
dan endogen. Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan
ciri – ciri berupa tingginya kadar glukosa darah, yang merupakan sumber energi
utama bagi sel tubuh manusia. Usia sangat erat kaitannya dengan kenaikan kadar
glukosa darah, sehingga semakin bertambahnya usia maka gangguan toleransi
glukosa semakin tinggi. Proses menua yang berlangsung setelah umur 30 tahun
akan mengakibatkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah sewaktu
pada usia paruh baya di RT 30/ RW 011 Kelurahan Maulafa Kota Kupang. Jenis
penelitian ini bersifat deskriptif melalui pendekatan cross sectional. Subyek
penelitian sebanyak 53 orang yang berusia 45 – 60 tahun di RT 30/RW 011
Kelurahan Maulafa Kota Kupang. Data pola makan dan aktifitas fisik subyek
penelitian diperoleh dari kuesioner dan pengukuran kadar glukosa darah
menggunakan metode Point Of Care Testing (POCT). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa 49.1% memiliki kadar glukosa darah sewaktu yang normal,
sedangkan 50.9% responden memiliki kadar glukosa sewaktu yang tinggi.
Berdasarkan data kuesioner menunjukkan bahwa kadar glukosa darah tidak
normal terbanyak pada usia 51 – 60 tahun sebanyak 18 orang (33.9%).
Berdasarkan jenis kelamin laki – laki memiliki kadar glukosa yang tidak normal
paling banyak yaitu 14 orang (26.4%). Berdasarkan hasil yang didapatkan
responden yang memiliki kadar glukosa darah tidak normal memiliki aktivitas dan
pola makan yang tidak seimbang, pola makan lebih dari tiga kali sehari memiliki
presentase 9.4% responden yang kadar glukosa darah nya tinggi sedangkan untuk
yang jarang melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga memiliki presentase
33.9% responden yang kadar glukosa darah nya tinggi
Gambaran pengetahuan dan persepsi orang tua murid Paud Alfa Omega II Manutapen tentang pentingnya topikal aplikasi fluor dan fissure sealing dalam pencegahan karies gigi
Latar Belakang : Karies gigi merupakan masalah yang sering di jumpai di Indonesia dan penderitaannya sering diabaikan. Karies gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Karies gigi terjadi pada anak-anak dan orang dewasa.Pengetahuan dan pemahaman kesehatan gigi yang kurang pada orang tua akan menyebabkan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada anak yang kurang baik., orang tua khususnya ibu yang merupakan orang terdekat dengan anak dalam pemeliharaan kesehatan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sikap dan perilaku anak. Dalam merubah kebiasaan yang buruk bagi kesehatan gigi anak. Sikap, perilaku dan kebiasaan orang tua selalu dilihat dan ditiru.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi orang tua tentang pentingnya pemberian topical aplikasi flour dan fissure sealent terhadap pencegahan karies di Paud Alfa Omega II Manutapen Kota Kupang. Metode Penelitian: Jenis atau metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif .32 orang. Instrument yang digunakan adalah lembar observasi untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi orang tua tentang pentingnya topical aplikasi flour dan fissure sealing untuk mencegah karies. Hasil Penelitian : distribusi pengetahuan orang tua tentang penggunaan topikal aplikasi flour dan fissure sealing dalam pencegahan karies gigi yang termasuk kriteria baik sebanyak 18 orang (40,0 %), yang termasuk kriteria sedang sebanyak 26 orang (57,8 %), dan kriteria buruk sebanyak 1 orang (2,2 %). Kesimpulan: Pengetahuan dan persepsi orang tua tentang penggunaan topikal aplikasi flour dan fissure sealing dalam pencegahan karies gigi termasuk dalam kriteria sedang
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Hipertensi Di Desa Baopana Wilayah Kerja Puskesmas Hadakewa Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata
Latar Belakang : Hipertensi adalah faktor pemicu penyakit kardiovaskuler yang dapat menimbulkan kematian sehingga disebut silent killer, karena tidak menimbulkan gejala dan tanpa disadari penderita. Seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan diastolik ≥ 90 mmHg (WHO, 2023). Data pada masyarakat di dapatkan angka yang minum obat sebanyak 61,45%, dan yang tidak patuh minum obat sebanyak 38,5%. Kepatuhan minum obat merupakan kunci pengendalian hipertensi guna mencegah komplikasi. Perkiraan pasien hipertensi di dunia sekitar 1,28 miliar. Range usia mereka dari 30-79 tahun. Sebagian besar dari mereka tinggal di negara berpenghasilan rendah. Sekitar 46% orang dewasa yang memiliki hipertensi tidak menyadari bahwa mereka mengalami kondisi tersebut. Dan baru sekitar 42% dari total penderita hipertensi di dunia yang terdiagnosa dan diberi pengobatan (WHO, 2023). Untuk meningkatkan tingkat kepatuhan hipertensi salah satunya dengan cara memberikan informasi bahwa ketika pasien sudah merasa sehat, pengobatan tidak dihentikan. Sebab dengan pengobatan secara teratur dapat mengurangi komplikasi akibat hipertensi yang dapat menyerang kapan saja. Tujuan : Menganalisis Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di desa Baopana wilayah kerja puskesmas Hadakewa kecamatan Lebatukan. Metodologi : Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian adalah pre eksperimen dengan rancangan penelitian adalah the one group pretest – posttest design. Hasil : Pendidikan kesehatan di Desa Baopana menunjukan pencapaian positif dalam meningkatkan pengetahuan dan potensial untuk meningkatkan manajemen pengobatan pada pasien hipertensi. Kesimpulan : Setelah edukasi yang diberikan dapat memberikan dampak positif bagi para pasien hipertensi. Pasien menjadi sadar dan memiliki kemauan untuk minum obat secara rutin
GAMBARAN KESEHATAN JARINGAN PERIODONTAL DAN PIGMENTASI GINGIVA PADA PRIA PEROKOK BERDASARKAN LAMA MEROKOK DI RT 44 RW 16 DI KELURAHAN LILIBA KOTA KUPANG
Pendahuluan. Jaringan periodontal adalah jaringan fungsional yang mendukung gigi agar tetap
berada pada tempatnya,jaringan periodontal terdiri dari gingiva,tulang alveolar,ligament
periodontal,dan cementum.Adapun penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan masalah pada
jaringan periodontal diantara periodontitis,gingivitispenyakit ini disebabkan oleh salah satu
kebiasaan yaitu kebiasaan merokok.Merokok adalah salah satu bentuk factor yang dapat
meyebabkan terjadinya peradangan jaringan periodontal,karena kandungan yang terdapat pada
rokok yaitu karbon monoksida,nikotin dan tar.Adapun masalah lain yang disebabkan oleh rokok
yaitu pigmentasi gingiva yang pewarnaan berupa warna gelap,keunguan,atau bercak-bercak
coklat terang yang tidak beraturan. Tujuan Penelitian.Untuk mengetahui gambaran kesehatan
jaringan periodontal dan pigmentasi gingiva pada pria perokok berdasarkan lama merokok di RT
44 RW 16 Kelurahan Liliba Kota Kupang. Metode Penelitian.Jenis penelitian yang digunakan
untuk penelitian ini adalah penelitian deskriptif dimana tujuannya adalah mendappatkan
gambaran tentang kesehatan periodontal dan pigmentasi gingiva pada pria perokok Berdsarkan
Lama Merokok di RT 44 RW 16 dikelurahan Liliba Kota Kupang.Untuk mengetahui kesehatan
jaringan periodontal dan pigmentasi gingiva berdasarkan lama merokok di gunakan format
CPIT-N dan tabel daftar tilik pada subjek penelitian.Kesimpulan.Dari pengukuran yang sudah di
lakukan di ketahui status kesehatan jaringan periodontal yang terjadi pada pria perokok RT 44
RW 16 Kelurahan Liliba Kota Kupang yang terbanyak adalah berkalkulus dan pigmentasi
gingiva pada pria perokok RT 44 RW 16 Kelurahan Liliba Kota Kupang adalah sebesar 92,5%
dan paling banyak terjadi dibagian margin gingiva
Pengaruh Pemberian Rebusan Jahe Dan Madu Terhadap Penurunan Frekuensi Batuk Pada Anak Dengan Masalah ISPA Di Wilayah Kerja Puskesmas Sikumana Kota Kupang
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang
menyerang satu atau lebih bagian saluran pernapasan, mulai dari hidung
hingga alveoli. Tujuan : Untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Rebusan
Jahe dan Madu Terhadap Penurunan Frekuensi Batuk Pada Anak Dengan
Masalah ISPA. Metode : Penelitian ini menggunakan metode studi kasus
dengan penderita ISPA ringan (batuk, pilek, ada sekret) berfokus pada
pemberian rebusan jahe dan madu sebagai terapi komplementer pada anak
dengan ISPA. Menggunakan 3 instrumen yaitu pedoman wawancara,
pedoman observasi dan format MTBS .Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah
Kerja Puskesmas Sikumana Kupang terhitung dari tanggal 18 Mei 2024 – 4
Juni 2024. Hasil : Setelah dilakukan tindakan kepada pasien 1 dan 2,
frekuensi batuk anak menjadi berkurang. Pada pasien 1 selama 4 hari berturut
– turut frekuensi batuk berkurang yang awalnya 4x dalam sehari menjadi 1x
dalam sehari dan pasien 2 selama 3 hari berturut-turut frekuensi batuk
berkurang yang awalnya 3x menjadi 1x dalam sehari. Kesimpulan :
Pemberian rebusan jahe dan madu pada An.N selama 4 hari berturut – turut
dan An.C selama 3 hari berturut-turut Dimana dalam sehari diberikan 3x
sebanyak 50 cc efektif sebagai terapi komplementer pada kasus ISPA ringa
PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG SORGUM (Sorghum bicolor) DAN TEPUNG IKAN TERI (Stolephorus sp) TERHADAP SIFAT ORGANOLEPTIK BISKUIT
ABSTRAK
Pengaruh Substitusi Tepung Sorgum dan Tepung Ikan Teri Terhadap Sifat Organoleptik Biskuit
Irene Buy Mangngi Mata
Email: [email protected]
Poltekkes Kemenkes Kupang Prodi Gizi
xiv + 63 : gambar, tabel, lampiran
Latar Belakang: Kurang Energi Protein (KEP) adalah salah satu bentuk malnutrisi yang disebabkan oleh kekurangan energi dan protein dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari atau karena penyakit tertentu. Disebut KEP jika berat badan tidak sesuai dengan penunjuk berat badan menurut umur (BB/U). KEP merupakan kekurangan gizi (energi dan protein) yang paling parah dan tidak ada habisnya, terutama pada bayi. Hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukkan bahwa prevalensi status gizi kurang dan buruk di Indonesia sebesar 17,7% dengan rincian status gizi kurang sebanyak 13,8% dan gizi buruk sebanyak 3,9%. Maka peneliti menganggap penting untuk melakukan penelitian yang memformulasikan pangan local sebagai bahan alternative makanan selingan balita dalam bentuk biscuit dengan cara pemanfaatan pangan local (sorgum dan ikan teri) yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Tujuan: Peneliian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung sorgum dan tepung ikan teri terhadap sifat organoleptic biscuit dengan formula (30%:10%), (20%:15%), (10%:20%).
Metode Penelitian: Eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan yaitu P0, P1, P2, P3. Analisis data menggunakan analisis statistic Oneway Anova pada tingkat kepercayaan 95%. Jika ada perbedaan akan dilanjutkan dengan uji Tukey.
Hasil: Substitusi tepung sorgum dan tepung ikan teri meningkatkan nilai gizi makro (energy, protein, lemak, karbohidrat) pada biscuit. Selain nilai gizi makro, penilaian organoleptic terhadap biscuit berada pada kategori agak suka sampai dengan suka.
Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini, peneliti merekomendasikan P3 karena paling disukai baik dari segi warna, aroma, tekstur, rasa serta tinggi akan kandungan gizi makro dengan substitusi tepung sorgum 10% dan tepung ikan teri 20%.
Kata Kunci: Kekurangan energi protein, tepung sorgum, tepung ikan teri, biscuit, substitusi.
Kepustakaan: 41 Buku (2013 s/d 2023
Asuhan Kebidanan Berkelanjutan Pada Ny.N.B di Tempat Praktek Mandiri Bidan Periode 03 Februari S/D 28 Maret 2024
Latar Belakang : penyebab langsung terjadinya kematian ibu adalah, perdarahan sebesar 23%, eklampsia 24%, dan penyakit infeksi 9%, sedangkan penyebab tidak langsung kematian ibu adalah kurang energi kronik (KEK) sebesar 17% dan anemia 50%. Dalam rangka menurunkan AKI dan AKB upaya yang dilakukan adalah dengan memastikan bahwa setiap ibu memiliki akses dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan memberikan asuhan kebidanan secara berkelanjutan
pada ibu hamil trimester III sampai dengan KB. Tujuan : menerapkan Asuhan Kebidanan Berkelanjutan pada Ny. N.B di Tempat Praktek Mandiri Bidan tanggal 03 Februari sampai dengan 28 Maret 2024 dengan menggunakan Tujuh Langkah Varney dan metode pendokumentasian SOAP. Metode : jenis studi kasus yang digunakan adalah penelaahan kasus. subjek studi kasus yaitu Ny. N.B di Tempat Praktek Mandiri Bidan. teknik pengumpulan data menggunakan data primer yang meliputi pemeriksaan fisik, wawancara, dan observasi. data sekunder meliputi kepustakaan dan studi dokumentasi Hasil dan Pembahasan : setelah dilakukan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny. N.B penulis mendapat hasil pada kehamilan, ibu melakukan kunjungan sebanyak tiga kali dalam pemberian asuhan tidak terdapat penyulit, persalinan berjalan dengan normal, kunjungan post partum serta kunjungan pada bayi baru lahir berjalan normal dan tidak terdapat penyulit. Ibu menggunakan KB implant. Simpulan : asuhan kebidanan secara berkelanjutan keadaan pasien baik mulai dari kehamilan sampai pada bayi baru lahir dan rencana untuk ber-KB berjalan dengan baik