Repository Poltekkes Kupang
Not a member yet
4410 research outputs found
Sort by
Gambaran Kadar Laju Endap Darah (LED) Pada Lansia Di UPTD Panti Kesejahteraan Sosial Budi Agung Kupang
Proses penuaan yang terjadi pada lansia secara perlahan mengakibatkan kemunduran struktur dan fungsi organ, baik aspek fisik, psikis, mental dan sosial, sehingga lansia rentan terhadap berbagai penyakit. Penyakit yang sering menyerang kaum lansia adalah peradangn Inflamasi dan infeksi. Keberadaan penyakit seperti peradangan dan juga infeksi ini bisa dengan melakukan pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) sebagai screening awal. Laju endap darah pada umumnya untuk mendeteksi penegakan diagnosis seseorang sedang sakit infeksi, radang akut, nyeri sampai kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar laju endap darah pada lanjut usia di UPTD panti Kesejahteraan Sosia Budi Agung Kupang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Data diperoleh dari hasil kuisioner menggunakan metode pemeriksaan westergren dengan jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 57 responden yang terdiri dari 23 laki-laki dan 34 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari responden yang tidak normal atau mengalami peningkatan kadar laju endap darah sebanyak 25 orang 43,9% yang terdiri dari 11 laki-laki dengan presentase 44% dan perempuan 14 orang dengan presentase 56% sedangkan yang normal sebanyak 32 orang 56,1% yakni laki- laki sebanyak 12 orang 37,5% dan perempuan sebanyak 20 orang 62,5%
Analisa Kadar Hemoglobin Pada Petani Yang Terpapar Pestisida Di Desa Mata Air Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang
Sektor pertanian sangat berperan besar dalam memenuhi kebutuhan bangsa Indonesia. Dalam perkembangan sektor pertanian, peningkatan penggunaan pestisida juga terjadi hampir seluruh pertanian. Pestisida dapat mempengaruhi kadar hemoglobin dalam darah. Terpaparnya pestisida dalam tubuh dapat menimbulkan abnormalitas pada profil darah karena pestisida dapat mengganggu pembentukan sel-sel darah dan fungsinya. Penurunan kadar hemoglobin juga terjadi pada orang yang terpapar organofosfat dan karbamat secara berlebihan karena terbentuknya sulfhemoglobin dan methemoglobin yang menyebabkan hemoglobin tidak dapat menjalankan fungsinya dalam menghantar oksigen. Hemoglobin adalah salah satu komponen darah yang berfungsi sebagai transportasi oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah petani yang kadar hemoglobinnya rendah di Desa Mata Air Kabupaten Kupang. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena atau keadaan yang ada tanpa memanipulasi variabel. Penelitian deskriptif dapat memberikan gambaran yang jelas tentang suatu topik atau masalah. Dari hasil penelitian dari karakteristik usia, makanan, usia, sakit bawaan, lama bekerja, didapati hasil bahwa sebagian besar petani memiliki kadar hemoglobiin yang normal. Dari hasil penelitian didapati bahwa Responden terbanyak pada karakteristik usia, yaitu usia 26-45 tahun memiliki kadar hemoglobin normal sebanyak 52.27% dan terendah sebanyak 2.27%. Responden pada karakteristik jenis kelamin yang memiliki kadar hemoglobin normal terbanyak adalah laki-laki dengan kadar hemoglobin normal berjumlah 43.18% dan terendah sebanyak 6.82%. Responden terbanyak pada karakteristik jenis makanan yang dikonsumsi, yaitu konsumsi sayuran hijau dengan jumlah respnden yang memiliki kadar hemoglobin normal sebanyak 84.09% dan kadar hemoglobin 15.91%. Responden terbanyak pada karakteristik memiliki sakit bawaan, yaitu tidak memiliki riwayat sakit bawaan dengan jumlah responden yang memiliki kadar Hb normal sebanyak 84.09% dan kadar Hb rendah sebanyak 15.91%. Responden terbanyak pada karakteristik lama waktu bekerja, yaitu 3-7 jam memiliki kadar hemoglobin normal 59.09% dan terendah sebanyak 15.91%
HUBUNGAN LAMANYA PENGOBATAN TERHADAP KADAR ASAM URAT PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS SIKUMANA KOTA KUPANG
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular akibat infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, dan dapat menyebar melalui percikan ludah ketika penderita TB paru aktif batuk, bersin, bicara, tertawa, atau bahkan bernyanyi. Asam urat merupakan bagian normal dari darah dan urine, yang dihasilkan dari pemecahan nukleotida purin, yang berasal dari makanan maupun dari nukleotida purin yang diproduksi oleh tubuh. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan lama pengobatan dengan kadar asam urat pada pasien tuberkulosis paru yang mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) di Puskesmas Sikumana Kota Kupang. Jenis penelitian yang digunakan memiliki sifat deskriptif dengan rancangan penelitian observasi atau pengamatan serta pendekatan cross sectional. Terdapat dua variable penelitian yaitu variable bebas dan variable terikat. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pasien tuberkulosis paru lebih banyak terjadi pada usia produktif (15-50 tahun) yaitu sebanyak 15 orang (75%), berdasarkan jenis kelamin lebih banyak terjadi pada laki-laki yaitu 12 orang (60%), dan berdasarkan lama pengobatan lebih banyak terjadi pada fase intensif (0-2 bulan) yaitu sebanyak 14 pasien (70%). Hasil pemeriksaan kadar asam urat menunjukkan pasien yang berusia produktif (15-50) memiliki kadar asam urat yang lebih banyak yaitu sebanyak 11 orang (73,30%), berdasarkan jenis kelamin lebih banyak terjadi peningkatan kadar asam urat pada laki-laki yaitu sebanyak 9 orang (75,00%), dan berdasarkan lama pengobatan peningkatan kadar asam urat lebih banyak terjadi pada fase intensif yaitu 12 orang (85,70%). Kesimpulan dari hasil penelitian, adanya hubungan yang signifikan atau bermakna antara lamanya pengobatan dengan kadar asam urat
HUBUNGAN LAMANYA PENGOBATAN DENGAN KADAR ASAM URAT PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS OEPOI KUPANG
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Saluran pernafasan merupakan jalur utama masuknya kuman Mycobacterium tuberculosis. Infeksi TB banyak terjadi melalui (droplet nuclei) saat seorang pasien TB batuk, bersin, atau berbicara dan percikan droplet yang mengandung bakteri dapat terhirup. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan lamanya pengobatan dengan kadar asam urat pada pasien tuberkulosis yang mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) di Puskesmas Oepoi Kota Kupang. Metode penelitian observasional dengan menggunakan desain cross sectional dengan teknik pengumpulan data berupa pemeriksaan kadar asam urat pada penderita tuberkulosis yang menjalani pengobatan tuberkulosis, dengan sampel penelitian sebanyak 20 orang yang kemudian dianalisis mengunakan uji korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukkan jumlah penderita tuberkulosis paru lebih banyak terjadi pada usia produktif (15-50 tahun) yaitu sebanyak 17 penderita (85%), berdasarkan jenis kelamin lebih banyak terjadi pada laki-laki yaitu 11 penderita (55%), dan berdasarkan lama pengobatan lebih banyak terjadi pada fase intensif (0-2 bulan) yaitu sebanyak 11 pasien (55%). Hasil pemeriksaan kadar asam urat menunjukkan sebagian besar penderita memiliki kadar asam urat tinggi pada usia non produktif (>50 tahun) yaitu sebanyak 3 penderita (66,7%). Penderita yang mengalami peningkatan kadar asam urat yaitu pada laki-laki sebanyak 7 pasien (63,6%) dan pada fase intensif sebanyak 10 penderita (90,9) mengalami peningkatan kadar asam urat. Kesimpulan dari hasil penelitian, terdapat hubungan yang signifikan atau bermakna antara lama pengobatan dengan kadar asam urat dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,01)
GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH SEWAKTU PADA PENDERITA TUBERKULOSIS YANG MENJALANI PENGOBATAN DENGAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) DI PUSKESMAS BAKUNASE
Tuberkulosis adalah penyakit menular infeksi paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberkulosis. Bakteri ini merupakan patogen sistem pernafasan dan termasuk dalam famili Mycobacterium yang menyebabkan tuberkulosis (TB), Penyakit ini ditularkan melalui udara dengan perantara ludah atau dahak dari penderita tuberkulosis (TB) paru aktif batuk, berbicara, bersin, butir-butir air ludah akan berterbangan di udara dan akan terhirup oleh orang sehat. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan crossectional yang bertujuan untuk mengetahui kadar glukosa darah sewaktu pada penderita Tuberkulosis yang menjalani pengobatan dengan obat anti tuberkulosis (OAT) di Puskesmas Bakunase berdasarkan umur, jenis kelamin, interpretasi BTA dan lamanya waktu pengobatan. Data karakteristik responden didapatkan dari hasil quesioner dan data hasil rekam medik, dan kadar glukosa darah sewaktu diukur dengan menggunakan metode Point Of Care Testing (POCT). Responden adalah penderita TB yang menjalani pengobatan di Puskesmas Bakunase sebanyak 40 orang. Hasil penelitian didapatkan kadar glukosa darah sewaktu berdasarkan umur penderita yaitu 15-64 tahun yang mengalami kenaikan sebanyak 5 orang (12,5%). Berdasarkan jenis kelamin didapatkan laki-laki yang mengalami peningkatan sebanyak 2 orang (5%), sedangkan pada perempuan yang mengalami peningkatan sebanyak 3 orang (7,5%). Berdasarkan lama pengobatan, fase awal yang mengalami peningkatan sebanyak 3 orang (7,5%), sedangkan pengobatan fase lanjutan yang mengalami peningkatan sebanyak 2 orang (5%). Berdasarkan interpretasi BTA yaitu pada hasil positif didapatkan kadar glukosa darah sewaktu normal sebanyak 27 orang (67,5%), dan kadar glukosa darah sewaktu tinggi sebanyak 5 orang (12,5%)
Efektifitas Edukasi Dengan Media Poster Tentang Sirih Pinang Bagi Ibu-Ibu Yang Anaknya Sekolah Paud Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa Kota Kupang
Latar Belakang : Tingkat pengetahuan merupakan salah satu kriteria umum yang mempengaruhi sikap menjaga kesehatan gigi seseorang atau komunitas. Pengetahuan yang baik dapat mempengaruhi perilaku kesehatan dalam meningkatkan kesehatan khususnya kesehatan gigi dan mulut. Sebaliknya, pengetahuan yang kurang mengenai pentingnya pemeliharaan gigi dan mulut dapat menyebabkan timbulnya sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulu. Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata) Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Tujuan Penelitian : Untuk menganalisis efektifitas edukasi dengan media poster tentang sirih pinang bagi ibu-ibu yang anaknya sekolah di paud kelurahan belo, kecamatan maulafa kota kupang. Hasil Penelitian : Penelitian dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2024 – 8 Mei 2024 di Paud Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Penelitian ini melibatkan ibu-ibu anak paud yang di gunakan sebagai sampel dengan jumblah keseluruhan 60 orang. Tingkat Pengetahuan Sirih Pinang Sebelum Memberikan Edukasi Dengan Media Poster pada Ibu-Ibu Anak Paud Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 60 orang tau anak Paud Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Di peroleh data tingkat pengetahuan sirih pinang sebelum di berikan edukasi menggunakan media poster dengan kriteria sedang sebanyak 37 responden (62%), Pengetahuan Sirih Pinang Sesudah Memberikan Edukasi Menggunakan Media Poster pada Ibu-Ibu Anak Paud Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa Kota Kupang Secara Deskriptis menunjukan bahwa rata-rata pengetahuan sesudah memberikan edukasi menggunakan media poster pada ibu-ibu anak paud kelurahan belo, kecamatan maulafa kota kupang memiliki peningkatan pengetahuan tentang sirih pinang yaitu kriteria baik sebanyak 58 responden (97%). Kesimpulan : Tingkat pengetahuan sebelum memberi edukasi dengan media poster berada pada kategori sedang sebanyak 37 orang (62%).Tingkat pengetahuan sesudah di berikan edukasi dengan media poster adalah responden berapada pada kategori baik sebanyak 58 orang (97%)
GAMBARAN KADAR UREUM DAN CREATININ PADA PASIEN TUBERKULOSIS DENGAN TERAPI OBAT ANTI TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS BAKUNASE
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis dan dapat disembuhkan. Tuberkulosisdapat menyebar dari satu orang ke orang lain melalui transmisi udara (droplet dahak pasien tuberkulosis). Pasien yang terinfeksi Tuberkulosis akan memproduksi droplet yang mengandung sejumlah basil kuman TB ketika mereka batuk, bersin, atau berbicara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar ureum dan kreatinin pada pasien tuberkulosis dengan terapi obat anti tuberkulosis di puskesmas bakunase. Metode penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional, dengan sampel penelitian sebanyak 20 orang. Hasil penelitian disimpulkan bahwa kadar ureum dan kreatinin pada penderita tuberculosis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, jenis kelamin dan lama pengobatan. Berdasarkan umur penderita yaitu 15-50 tahun sebanyak 14 orang (70%), umur >50 tahun sebanyak 6 orang (30%). Berdasarkan jenis kelamin pasien, perempuan 11 orang (55%) dan laki-laki 9 orang (45%). Berdasarkan lama pengobatan, pengobatan yaitu fase awal sebanyak 8 orang (40%) dan fase lanjut sebanyak 12 orang (60%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar ureum tinggi sebanyak 1 orang (5%), kadar ureum normal sebanyak 19 orang (95%), kadar kreatinin tinggi sebanyak 1 orang (5%) dan kadar kreatinin normal sebanyak 19 orang (95%)
Uji Aktivitas Antidiabetes Infusa Daun Salam (Syzygium polyanthum) Terhadap Mencit Putih Jantan (Mus musculus L) Yang Diinduksi Glukosa
Daun salam merupakan salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan di Nusa Tenggara Timur dan memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Salah satu khasiatnya yaitu sebagai obat untuk menurunkan kadar gula darah yang digunakan oleh masyarakat. Diabetes adalah peningkatan kadar gula didalam darah akibat tubuh tidak dapat memproduksi insulin secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimal infusa daun salam sebagai efek antidiabetes terhadap mencit. Metode yang dilakukan pada jenis penelitian eksperimen, yang menggunakan hewan uji mencit putih jantan sebanyak 15 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan. Sebelum dilakukan perlakuan diukur kadar gula darah awal mencit dan diinduksi dengan glukosa sebanyak 1 ml. Kelompok pertama sebagai kontrol positif diberi metformin, kelompok kedua kontrol negatif diberi Na CMC, kelompok ketiga dan seterusnya diberikan infusa daun salam dengan konsentrasi 10%b/v, 20%b/v,dan 40%b/v. Pengukuran kadar gula darah dilakukan setelah 30 menit diinduksi dan mencit yang mengalami kenaikan kadar gula darah diberikan infusa daun salam konsentrasi 10%b/v, 20%b/v, dan 40%b/v, diukur penurunan kadar gula darah selama 2 jam tiap 30 menit. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Paired T Test untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan, kemudian dilanjutkan dengan uji One Way Anova untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas antidiabetes dan dilanjutkan uji LSD (Least Significant Difference) untuk membedakan persen aktivitas antidiabetes antara setiap konsentrasi pada hewan uji. Simpulan penelitian ini menunjukan infusa daun salam memiliki aktivitas antidiabetes pada setiap konsentrasi dan persentasi penurunan kadar gula darah paling besar yaitu konsentrasi infusa 10% b/v
GAMBARAN ANGKA LEMPENG TOTAL BAKTERI PADA MAKANAN SATE DI WILAYAH KECAMATAN KELAPA LIMA KOTA KUPANG
Makanan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Jika ditinjau dari segi kesehatan, makanan yang dikonsumsi harus memenuhi nilai gizi sebagai sumber energi zat pengatur juga mempunyai peran dalam penyebaran penyakit bahkan keracunan makanan. Makanan dapat terkontaminasi oleh bakteri akibat penerapan higiene sanitasi yang tidak baik. Higiene sanitasi merupakan suatu upaya untuk mengendalikan faktor risiko terjadinya kontaminasi terhadap makanan, baik yang berasal dari bahan makanan, orang, tempat dan peralatan supaya aman di konsumsi. Sate adalah olahan daging yang terkenal dan memiliki banyak peminat di indonesia. Bahan pembuatan sate yaitu daging. Daging memiliki daya tarik yang tinggi bagi konsumen karena tingkat kesukaan dan sebagai sumber gizi dari produk pangan. Sumber daging yang diperoleh dari hewan ternak seperti unggas atau hewan mamalia mengandung berbagai jenis mikroba, salah satunya yaitu bakteri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif untu mengetahui Angka Lempeng Total bakteri pada makanan sate. Sate yang diambil sebanyak 4 variasi dari 2 pedagang di Wilayah Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang dengan menggunakan teknik Purposive sampling dengan pertimbangan yang paling banyak dikunjungi atau dibeli. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Angka Lempeng Total (ALT). Hasil dari penelitian Angka Lempeng Total bakteri pada 4 sampel sate diperoleh S1 jumlah koloni 3x10², S2 jumlah koloni 7x105, S3 jumlah koloni bakteri 2x103, dan S4 jumlah koloni bakteri 1x104. Berdasarkan 4 sampel tersebut, terdapat 1 sampel sate yaitu S2 yang tidak memenuhi syarat tentang Angka Lempeng Total bakteri pada produk daging asap olahan panas menurut Standar Nasional Indonesia 7388:2009 yaitu > 1x105 koloni/g karena hasil yang diperoleh diatas batas maksimun
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT DENGAN KEJADIAN KARIES PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS TARUS
Latar Belakang : Selama masa kehamilan, terjadi adanya peningkatan hormon estrogen dan progesteron. Sering terjadi rasa mual dan muntah di pagi hari. Ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut. Kondisi rongga mulut pada ibu hamil dapat mempengaruhi janin dalam kandungannya, sehingga penting bagi ibu hamil untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kebersihan gigi dan mulut dengan kejadian karies pada ibu hamil di puskesmas Tarus. Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian jenis deskriptif. Populasi penelitian ini adalah ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Tarus, dengan jumlah sampel sebanyak 45 ibu hamil, serta cara pengambilan data adalah dengan menggunakan teknik accidental sampling. Variabel penelitian adalah variabel bebas: tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kebersihan gigi dan mulut dan variabel terikat: kejadian karies pada ibu hamil. Alat ukur penelitian menggunakan kuesioner dan lembar pemeriksaan karies gigi. Hasil Penelitian: diketahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kebersihan gigi dan mulut dengan kategori baik 33%, sedang 42% dan buruk 25%. Kejadian karies pada ibu hamil dengan kategori sangat rendah 13%, rendah 31%, sedang 20%, tinggi 25% dan sangat tinggi 11%. Kesimpulan:pengetahuan ibu hamil tentang kebersihan gigi dan mulut paling banyak pada kriteria sedang. Angka kejadian karies pada ibu hamil termasuk dalam kategori rendah dan kategori tinggi. Ibu hamil dengan pengetahuan baik memiliki karies paling banyak dengan kategori rendah, sedangkan ibu hamil dengan pengetahuan buruk memiliki karies paling banyak pada kategori rendah