Repository Poltekkes Kupang
Not a member yet
4410 research outputs found
Sort by
Kepadatan jentik Aedes sp berdasarkan kondisi tempat penampungan air (TPA) di kelurahan Tuak daun merah kecamatan Oebobo kota Kupang
Kelurahan Tuak Daun Merah merupakan salah satu kelurahan di Kota Kupang juga sering terjadi kasus Demam berdarah Dengue (DBD). Menurut data dari puskekesmas Oepoi Kelurahan Oebufu tahun 2023 yaitu 26 kasus, yang terdapat pada wilayah kelurahan Tuak Daun Merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Kepadatan jentik Aedes sp berdasarkan kondisi (TPA) yang berada pada Wilayah Kelurahan Tuak Daun Merah Kecamatan Oebobo Kota Kupang.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari mengetahui tingkat kepadatan jentik Aedes sp yang berada pada TPA masyarakat, ketersediaan penutup pada (TPA), warna TPA masyarakat, volume air TPA. Populasi dalam penelitian ini yaitu Seluruh Rumah penderita DBD, sampel yang digunakan yaitu 100 Rumah disekitar Rumah penderita DBD. Data dalam penelitian ini akan di olah dan dianalisi secara Deskriktif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Jumlah Bak mandi dalam rumah dengan positif jentik sebanyak 40%, Drum dengan jentik sebanyak 33% dan tempayan dengan jentik sebanyak 6% sedangkan jumlah bak mandi dengan jentik di luar rumah 86%, drum dengan jentik 83% dan tempayan dengan jentik 50%. Dengan hasil House Index (HI) 72%, Countener Index (CI) 38% dan Breteau indeks (BI) 137. Ketersediaan tempat penampungan air dengan jenis Bak mandi tertutup dengan posotif jentik 33%, Drum Tertutup dengan positif jentik 33% dan Tempayan tertutup dengan positif jentik 6%. Sedangkan Jenis bak mandi yang tidak tertutup dengan positif jentik 45%, Drum tidak tertutup dengan positif jentik 78% dan Tempayan tidak tertutup dengan positif jentik 50%. Untuk warna gelap dengan jentik sebnyak 93% dan warna terang dengan jentik sebanyak 7%. Untuk volume air yang 50 liter dengan jentik sebanyak 33%.Kepada Masyarakat dihimbau selalu melakukan tindakan 3M Plus dan memberikan abate/mosnon TB sebagai langkah pencegahan meningkatnya kepadatan jentik agar terhindar dari risiko penularan penyakit DBD
Hubungan kadar hemoglobin dan jumlah trombosit dengan lama pengobatan pada penderita Tuberkulosis di Puskesmas Bakunase Tahun 2024
Tuberkulosis merupakan penyakit kronik menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Hemoglobin merupakan sebuah biomolekul yang mengandung zat besi dan dapat mengikat oksigen. Trombosit adalah sel yang tidak memiliki inti, berbentuk cakram dengan diameter 2-5µm, yang berasal dari pertunasan sel raksasa berinti banyak mengakariosit (sel nucleus besar) yang terdapat dalam sumsum tulang berukuran besar yang terdiri atas sejumlah lobus yang saling berhubungan. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan kadar hemoglobin dan jumlah trombosit dengan lama pengobatan penderita tuberkulosis. Metode penelitian: Observasional analitik dengan teknik pengumpulan data berupa pemeriksaan kadar hemoglobin dan jumlah trombosit pada penderita tuberkulosis yang menjalani pengobatan tuberculosis. dengan sampel penelitian sebanyak 20 responden. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Hasil penelitian: Hasil laboratorium menunjukkan jumlah pasien tuberkulosis lebih banyak terjadi pada usia produktif produktif (15-50 tahun) yaitu sebanyak 14 penderita (70%), berdasarkan jenis kelamin lebih banyak terjadi pada perempuan yaitu 11 penderita (55,5%), dan berdasarkan lama pengobatan lebih banyak terjadi pada fase lanjut (2-6 bulan) yaitu sebanyak 12 penderita (60%). Hasil pemeriksaan menunjukkan sebagian besar penderita memiliki kadar hemoglobin dalam kategori normal, terdiri dari 12 pasien (60%) yang masing-masing 6 pasien perempuan dan 6 pasien laki-laki. Penderita yang mengalami kadar hemoglobin rendah terbanyak perempuan sebanyak 5 penderita (45,5%) dan penderita yang mengalami jumlah trombosit yang tinggi pada laki-laki sebanyak 2 penderita (22,2%). Hasil pemeriksaan jumlah trombosit sebagian besar penderita memiliki jumlah trombosit normal pada jenis kelamin perempuan yang terdiri dari 9 penderita (81,8%), sedangkan penderita yang mengalami trombosit yang rendah pada laki-laki yaitu 2 penderita (22,2%), jumlah trombosit yang tinggi terdapat pada 1 penderita (9,1%) perempuan. Kesimpulan: Hasil uji kolerasi spearman kadar hemoglobin pvalue 0.493 (>0.05), sedangkan jumlah trombosit dengan lama pengobatan pvalue 0.631(>0.05). Masing-masing hasil ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan atau bermakna antara lama pengobatan dengan kadar hemoglobin dan jumlah trombosit
Gambaran Taeniasis Dan Personal Hygiene Pada Peternak Babi Di Kelurahan Oebufu
Kecacingan juga merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit yang dapat membahayakan kesehatan. Salah satu jenis parasit yang menginfeksi tubuh manusia yaitu cacing Taenia solium yang ditularkan oleh kista larva cacing pita (cysticercosis) yang dapat menular pada babi karena terkontaminasi melalui kotoran pembawa telur/ cacing pita dan tidak ada sanitasi yang baik. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran taeniasis dan personal hygiene pada peternak babi di Kelurahan Oebufu. Desain penelitian ini deskritif dengan pengumpulan data kuesioner serta pemeriksaan mikroskopis menggunakan metode langsung. Jumlah resonden sebanyak 51 peternak babi. Hasil penelitian pada 51 resonden yang tidak ditemukan resonden yang positif mengandung Taenia solium namun terdapat yang terinfeksi positif Hookworm sebanyak 2 orang (4%). Bedasarkan karakter usia dan jenis kelamin terdapat 2 orang terinfeksi positif Hookworm yang berjenis kelamin perempuan dengan usia 46-64 tahun. Berdasarkan hasil kuesioner responden peternak babi memiliki personal hygiene yang baik, tetapi terdapat peternak babi yang positif terinfeksi telur cacing Hookworm yang memiliki personal hygiene yang kurang baik seperti tidak mencuci tangan mengunakan sabun sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan dan saat makan, tidak mandi setelah melakukan pekerjaan dan tidak menggunakan alas kaki dan sarung tangan saat bekerja sehinngga telur atau larva cacing tambang (Hookworm) dapat masuk kedalam tubuh melalui kulit luar melalui folikel-folikel rambut, pori-pori kulit maupun kulit yang rusak. Selain itu, masyarakat juga mempunyai hewan peliharaan lain seperti anjing dan kucing. Apabila hewan peliharaan membuang kotoranya di sembarangan tempat seperti di sekitar halaman rumah maka hal ini dapat menjadi salah satu faktor dalam infeksi kecacingan
Gambaran Kadar Hemoglobin Pada Balita Stunting Di Desa Bone Kecamatan Nekamese Kabupaten Kupang
Stunting merupakan suatu keadaan dimana anak mengalami masalah kekurangan gizi kronis yang menyebabkan kegagalan pertumbuhan pada balita dibawah usia lima tahun sehingga mengakibatkan anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Sehingga kekurangan gizi ini dapat terjadi pada saat bayi masih dalam kandungan ibunya dan pada masa awal setelah anak dilahirkan, namun keterlambatan perkembangan baru nampak pada saat anak berusia 2 tahun. Oleh karena itu, periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK) harus mendapat perhatian khusus karena menentukan tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas anak di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar hemoglobin pada balita stunting di Desa Bone Kecamatan Nekamese Kabupaten Kupang yang meliputi jenis kelamin, usia dan pekerjaan ibu. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah metode total sampling. Populasi pada penelitian ini adalah semua balita penderita stunting di Desa Bone Kecamatan Nekamese Kabupaten Kupang yang berjumlah 35 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin perempuan sebanyak 18 responden (51%), kelompok usia terbanyak yang mengalami stunting yaitu 2 tahun sebanyak 10 responden (29%), balita stunting terbanyak dari ibu yang bekerja sebagai ibu rumah tangga yaitu 15 responden (43%) dan kadar hemoglobin normal sebanyak 16 responden (46%), rendah sebanyak 18 responden (51%) dan tinggi sebanyak 1 responden (3%) yang berarti dari 35 sampel balita penderita stunting, lebih banyak yang mengalami penurunan kadar hemoglobin. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa balita penderita stunting rentan terkena anemia berdasarkan kadar hemoglobin, rata-rata kadar hemoglobin 10,8 g/dL, kadar hemoglobin terendah 8,5 g/dL, kadar hemoglobin tertinggi 13,5 g/dL. Bagi instansi terkait untuk orang tua dapat meningkatkan kebutuhan gizi pada anak semasa kecil agar gizi terpenuhi secara baik
Gambaran Kadar Glukosa Darah Sewaktu Pada anak Stunting di Puskesmas Nekamese Kabupaten Kupang
Hubungan glukosa dengan anak stunting adalah jika seseorang yang dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya mengalami kekurangan gizi dapat mengalami masalah pada perkembangan sistem hormonal insulin dan glukagon pada pankreas yang mengatur keseimbangan dan metabolisme glukosa. Sehingga, pada saat usia dewasa jika terjadi kelebihan intake kalori, keseimbangan gula darah lebih cepat terganggu, dan pembentukan jaringan lemak tubuh (lipogenesis) juga lebih mudah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah sewaktu pada anak stunting di Puskesmas Nekamese Kabupaten Kupang. Penelitian ini menggunakan metode POCT (Point Of Care Testing). Karakteristik pasien anak stunting menunjukan bahwa jumlah responden perempuan sebanyak 18 orang (51,43%) dibanding responden laki-laki sebanyak 17 orang (48,87%). Berdasarkan Usia responden penelitian yang memiliki presentase lebih tinggi paling banyak pada kelompok usia 3-4 tahun sebanyak 11 orang (31,43%). Berdasarkan pekerjaan Ibu responden penelitian yang memiliki presentase lebih tinggi paling banyak pada kelompok IRT memiliki porposi anak stunting sebanyak 15 orang (42,84%). Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu pada anak Stunting didapatkan jumlah glukosa yang rendah sebanyak 10 responden (28,57%) dan normal sebanyak 25 responden (71,43%). berdasarkan jenis kelamin dari 35 orang pada kelompok laki- laki dan perempuan sama-sama memiliki kadar glukosa darah sewaktu sebanyak 10 orang (28,57%) yang selebinya normal. berdasarkan usia didominasi oleh kelompok usia 3-4 tahun sebanyak 4 responden (11,43%), berdasarkan pekerjaan ibu yaitu IRT sebanyak 7 (20,00%) responden. Penting bagi Ibu balita menjaga pola makan anak dan asupan nutrisi untuk anak
Uji Aktivitas Antidiabetes Infusa Daun Salam (Syzygium polyanthum) Terhadap Mencit Putih Jantan (Mus musculus L) Yang Diinduksi Glukosa
Daun salam merupakan salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan di Nusa Tenggara Timur dan memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Salah satu khasiatnya yaitu sebagai obat untuk menurunkan kadar gula darah yang digunakan oleh masyarakat. Diabetes adalah peningkatan kadar gula didalam darah akibat tubuh tidak dapat memproduksi insulin secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimal infusa daun salam sebagai efek antidiabetes terhadap mencit. Metode yang dilakukan pada jenis penelitian eksperimen, yang menggunakan hewan uji mencit putih jantan sebanyak 15 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan. Sebelum dilakukan perlakuan diukur kadar gula darah awal mencit dan diinduksi dengan glukosa sebanyak 1 ml. Kelompok pertama sebagai kontrol positif diberi metformin, kelompok kedua kontrol negatif diberi Na CMC, kelompok ketiga dan seterusnya diberikan infusa daun salam dengan konsentrasi 10%b/v, 20%b/v,dan 40%b/v. Pengukuran kadar gula darah dilakukan setelah 30 menit diinduksi dan mencit yang mengalami kenaikan kadar gula darah diberikan infusa daun salam konsentrasi 10%b/v, 20%b/v, dan 40%b/v, diukur penurunan kadar gula darah selama 2 jam tiap 30 menit. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Paired T Test untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan, kemudian dilanjutkan dengan uji One Way Anova untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas antidiabetes dan dilanjutkan uji LSD (Least Significant Difference) untuk membedakan persen aktivitas antidiabetes antara setiap konsentrasi pada hewan uji. Simpulan penelitian ini menunjukan infusa daun salam memiliki aktivitas antidiabetes pada setiap konsentrasi dan persentasi penurunan kadar gula darah paling besar yaitu konsentrasi infusa 10% b/v
Uji Efek Antihiperglikemia Infusa Daun Kenitu (Chrysophylum cainito L.) terhadap Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Glukosa
Hiperglikemia merupakan kondisi kadar gula darah melebihi batas normal, dan menjadi salah satu penyebab diabetes mellitus (DM). Pengobatan DM dapat menggunakan antidiabetes sintetis, namun menimbulkan efek samping cukup serius sehingga digunakan obat tradisional, salah satunya daun kenitu (Chrysophylum cainito L.). Penelitian ini untuk mengetahui efek antihiperglikemia infusa daun kenitu dan konsentrasi infusa yang paling efektif dalam memberikan aktivitas antihiperglikemia. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan hewan uji tikus putih jantan (Rattus norvegicus) sebanyak 15 ekor yang diinduksi hiperglikemia menggunakan glukosa 50%. Peningkatan kadar gula darah diukur sebelum dan sesudah induksi lalu dianalisis dengan Paired T Test. Setelah induksi berhasil (p0.05)
Studi Kandungan BOD dan TSS Pada Air Sungai Yang Tercemar Limbah Cair Tahu Industri Di Kelurahan Oebufu Kota Kupang
Kasus pencemaran limbah tahu yang terjadi di Daerah Aliran Sungai kali Oebufu disebabkan oleh adanya limbah industri yang dibuang sembarangan. Pabrik Tahu seringkali belum ditangani secara baik sehingga menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Salah satunya dampak limbah bau dari limbah cair dan padat. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui kandungan BOD dan TSS air sungai yang tercemar limbah cair tahu di Kelurahan Oebufu Kota Kupang.Penelitan ini dilakukan secara deskriptif dengan variabel penelitian kandungan BOD dan TSS Air Sungai sebelum tercemar limbah cair tahu, kandungan BOD dan TSS pada bak penampungan limbah cair tahu, kandungan BOD dan TSS Air Sungai setelah tercemar limbah cair tahu, kandungan BOD dan TSS Air Sungai yang tercemar limbah cair tahu dengan jarak 50 meter membandingkan kandungan BOD dan TSS Air Sungai sebelum dan sesudah tercemar limbah car tahu. Sampel dalam penelitian ini 7 sampel. Pengumpulan data akan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel kemudian akan dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan BOD air sungai yang belum tercemar limbah cair tahu adalah 9.61 mg/l. Rata-rata air sungai yang sudah tercemar limbah cair tahu adalah 50.17 mg/l. Rata-rata air sungai yang telah tercemar dengan jarak 50 meter adalah 21.885 mg/l.Kandungan BOD pada bak penampungan limbah tahu adalah 21.21.mg/L. Kandungan TSS air sungai yang belum tercemar adalah 92 mg/l. Rata-rata air sungai yang sudah tercemar limbah cair tahu adalah 151 mg/l. Rata-rata air sungai yang telah tercemar dengan jarak 50 meter adalah 13 mg/l. Kandungan TSS pada bak penampungan limbah tahu adalah 594. mg/L. Penelitian ini dapat disimpulkan pemeriksaan parameter BOD pada Air Sungai Oebufu yang sudah tercemar limbah cair tahu semuanya tidak memenuhi syarat. dan pemeriksaan parameter TSS pada Air Sungai Oebufu 3 memenuhi syarat dan 1 tidak memenuhi syarat. Di sarankan kepada pemilik pabrik tahu agar melakukan pengolahan limbah cair tahu dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar
GAMBARAN KEJADIAN PEDICULOSIS CAPITIS PADA ANAK SEKOLAH DASAR GMIT TUATUKA KECAMATAN KUPANG TIMUR
Pediculosis capitis merupakan infeksi kulit rambut kepala yang disebabkan oleh parasit pediculus humanus var.capitis. Pediculus humanus capitis merupakan ektoparasit obligat pemakan darah di kulit kepala manusia. Pediculosis capitis perlu mendapat perhatian karena penyakit ini sering menyerang anak-anak umur 5-16 tahun Tujuan dari penelitian ini untuk Mengetahui Hygiene Personal, pengetahuan dan kejadian pada anak sekolah dasar GMIT Tuatuka terhadap Pediculosis capitis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional. responden dalam penelitian ini berjumlah 104 orang anak dari kelas 1 sampai IV. Data prevalensi pediculosis, personal higiene, dan pengetahuan diperoleh dengan pemeriksaan saecara langsung.Berdasarkan kebiasaan menggunakan sisir serit untuk menghilangkan kutu, terdapat 41 orang atau (64,1%) anak tertular yang tidak pernah memiliki kebiasaan tersebut dan 11 orang atau (17, 2%) anak hanya melakukannya sesekali(kadang-kadang). Kebiasaan ini dapat menjadi faktor kutu rambut yang terus berkembangbiak bertambah banyak namun penanganannya sangat kurang atau tidak memadai. Prevalensi Pediculosis capitis pada anak Sekolah dasar GMIT Tuatuka diketahui infestasi pediculosis capitis sebesar 61( 64%) orang anak dari total 104 orang anak yang diteliti. Anak perempuan lebih banyak terinfestasi berjumlah (75%)48 anak, sedangkan anak laki-laki berjumlah lebih sedikit (25%)16 anak. Personal Hygiene kurang baik 40,4% Dan Pengetahuan Yang dimiliki oleh Anak Sekolah Dasar GMIT Tuatuka cukup baik yaitu 48,1%
PERBANDINGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA BALITA STUNTING DAN NON-STUNTING DI DESA TUNFEU KECAMATAN NEKAMESE KABUPATEN KUPANG
Balita Pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak, hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai dengan -3 SD (pendek/ stunted) dan <-3 SD (sangat pendek / severely stunted). Malnutrisi dapat merusak kekebalan tubuh terhadapap berbagai penyakit, terutama infeksi yang mengganggu pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, mengakibatkan rendahnya kualitas manusia. Hemoglobin adalah metalo protein pengangkut oksigen dari paru paru ke jaringan seluruh tubuh dan mengambil karbondioksida dari jaringan tersebut dibawa ke paru untuk dibuang ke udara bebas. Tujuan penelitian untuk melihat perbandingan kadar hemoglobin pada balita stunting dan non stunting berdasarkan karakteristik usia, jenis kelamin. Penelitian ini menggunakan metode analitik deskriptif dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa balita stunting yang memiliki kadar hemoglobin yang rendah adalah sebesar 14 (66,67%) dan sebanyak 7 (33,33%) balita stunting yang memiliki kadar hemoglobin normal. Sedangkan pada balita non stunting menunjukkan bahwa balita yang memiliki kadar hemoglobin rendah sebanyak 3 (14,3%) dan 18 (65,7%) yang memiliki kadar hemoglobin normal. Hasil uji Independent Sample T- test perbandingan kadar hemoglobin didapatkan nilai P value 0,01 < 0,05 yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kadar hemoglobin balita stunting dan non stunting