Repository Poltekkes Kupang
Not a member yet
    4410 research outputs found

    Efektivitas konsumsi jus tomat terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II Di Puskesmas Oesapa

    Get PDF
    Penyakit gula darah merupakan gangguan kronis yang memengaruhi kemampuan tubuh dalam memproduksi atau menggunakan insulin. Gangguan ini terjadi akibat kelainan metabolisme yang disebabkan oleh ketidakmampuan pankreas dalam menghasilkan insulin, sehingga kerja insulin menjadi terhambat dan menyebabkan peningkatan kadar gula darah (Siti Rohmah, 2019). Diabetes Mellitus Tipe 2 (DM Tipe 2) adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah akibat berkurangnya sekresi insulin oleh sel beta pankreas atau gangguan fungsi insulin. Kondisi ini dapat terjadi melalui tiga mekanisme, yaitu kerusakan sel beta pankreas akibat faktor eksternal seperti virus atau zat kimia, penurunan reseptor glukosa di pankreas, serta gangguan pada reseptor insulin di jaringan perifer

    PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera) DAN TEPUNG IKAN LELE(Clariidae) TERHADAP TINGKAT KESUKAAN CRACKERS

    Get PDF
    Latar Belakang : Stunting adalah permasalahan gizi jangka panjang yang dipengaruhi oleh pola makan yang tidak cukup kebutuhan nutrisi selama perode yang cukup lama. Hasil Riskesdas 2018, prevalensi balita stunting di Indonesia berada di angka,8% terbagi atas 19,3% pendek dan 11,5% sangat pendek.Crackers merupakan biskuit berjenis adonan keras. Kandungan gizi daun kelor dan ikan lele memiliki tinggi protein 40% kalsium 35,91% dan ikan lele protein 65%, kalsium 285%. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun kelor dan tepung ikan lele terhadap tingkat kesukaan dan nilai gizi crackers. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Terdapat tiga perlakuan dengan komposisi tepung daun kelor dan tepung ikan lele yang berbeda: P1 (5%:10%), P2 (10%:15%), dan P3 (15%:20%). Analisis data menggunakan analisis statitik Oneway Anova pada tingkat kepercyaan 95%. Jika ada perpedaan akan dilanjutakan dengan uji Tukey Hasil : Pengaruh penambahan tepung kelor dan tepung ikan lele meningkatkan nilai gizi protein dan kalsium. Selain nilai gizi penilaian organoleptik terhadap Cracker berada pada kategori suka sampai dengan agak suka Kesimpulan : Crackers yang paling direkomendasikan adalah dengan perlakuan P1, karena paling disukai dari segi warna, aroma, tekstur, dan rasa. Meskipun perlakuan P3 menghasilkan nilai gizi yang lebih tinggi, namun tingkat kesukaannya lebih rendah

    Hubungan Aktivitas Fisik dan Kualitas Tidur dengan Status Gizi Remaja Usia 15-18 Tahun di SMK Negeri 3 Kupang

    Get PDF
    Latar belakang : Status gizi remaja merupakan suatu keadaan dimana asupan dan penyerapan zat gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizi. Masalah gizi seperti kelebihan atau kekurangan gizi dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan antara asupan dan penyerapan nutrisi. Tiga beban โ€“ kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan kekurangan zat gizi mikro โ€“ merupakan tiga tantangan gizi yang dihadapi remaja di Indonesia. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dan kualitas tidur dengan status gizi remaja usia 15-18 tahun di SMK Negeri 3 Kupang. Metode Penelitian : Observasi mendalam dengan metodologi cross-sectional. Metode Probability Sampling digunakan untuk mengumpulkan sampel, dan digunakan 221 sampel. Kuesioner Tingkat Aktivitas Fisik (PAL) digunakan untuk mengukur aktivitas fisik, Indeks Kualitas Tidur Pittsburgh (PSQI) digunakan untuk mengukur kualitas tidur, dan berat badan serta tinggi badan digunakan untuk mengukur status gizi. Uji Korelasi Gamma digunakan untuk analisis data. Hasil : Sebagian besar aktivitas fisik kategori berat sebanyak 170 sampel (76,9%), kualitas tidur sebagian besar kategori buruk sebanyak 121 sampel (54,8%), rata-rata berat badan dan tinggi badan responden adalah 46,8 kg dan 154,9 cm dan status gizi sebagian besar kategori normal sebanyak 169 sampel (76,5%). Analisis hubungan aktivitas fisik dengan status gizi p = 0.551 dan analisis hubungan kualitas tidur dengan status gizi p = 0937. Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dan kualitas tidur dengan status gizi

    Gambaran riwayat pemberian ASI Eksklusif dan MP-ASI dengan status gizi anak 6-24 bulan di Puskesmas Oesapa Kota Kupang

    Get PDF
    Latar Belakang : Gizi merupakan salah satu faktor penting untuk menentukan kualitas sumber daya manusia.Balita merupakan kelompok rawan gizi diusia ini ibu harus memperhatikan balita untuk memberi Asi Eksklusif sampai berusia 6 bulan dan MP-ASInya diberikan secara teratur agar pertumbuhan dan perkembangan balita baik. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk gambaran riwayat pemberian Asi Eksklusif dan MP-ASI dengan status gizi anak 6-24 bulan di Puskesmas Oesapa Kota Kupang. Metode Penelitian :Penelitain yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif.Teknik pengambil sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive random deskriptif.Jumlah sampel sebanyak 105 balita berusia 6-24 bulan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Oesapa Kota Kupang.Instrumen dalam pengambilan data menggunakan kuisioner.Analisis data menggunakan analisis univariat yang kemudian disajikan dengan tabel dan narasi. Hasil : Riwayat pemberian Asi eksklusif pada balita usia 6-24 bulan di wilayah Puskesmas Oesapa Kota Kupang sebanyak 50 responden (47,6%) diberikan Asi eksklusif.sedangkan balita tidak diberi Asi eksklusif 55 responden (52,4%).Tingkat Pengetahuan ibu tentang MP-ASI dengan kategori Jenis MP-ASI Baik ada 64 responden (61,0%),cukup ada 41 responden (39,0%),dengan kategori Frekuensi MP-ASI Baik ada 72 responden (67,6%),cukup ada 34 responden (32,4%),dan kategori jumlah MP-Asi Baik ada 84 responden (80,0%),cukup ada 21 responden (20,0%).Status Gizi berdasarkan 4 indikator di dapatkan bahwa status gizi berdasarkan Berat Badan Menurut Umur yang lebih dominan adalah status gizi normal yaitu sebanyak 70 responden (66,7%),indikator Berat Badan Menurut Tinggi Badan yang lebih domain adalah status gizi nomal yaitu sebanyak 82 responden (78,1%),indikator Tinggi Badan Menurut Umur yang lebih domain adalah status gizi normal yaitu sebanyak 76 responden (72,4%),dan indikator Indeks Massa Tubuh Menurut Umur lebih domain adalah status gizi normal yaitu sebanyak 78 responden (74,3%). Kesimpulan Dalam penelitian ini yaitu sebagian besar balita di puskesmas oesapa kota kupang mendapatkan Asi Eksklusif dan MP-ASI berstatus gizi baik

    Studi Tentang Suhu, Kelembaban dan Pencahayaan Dalam Ruangan Kampus B Kemenkes Poltekkes Kupang

    No full text
    Temperatur ruangan perkantoran harus memenuhi aspek kebutuhan kesehatan dan kenyamanan pemakai ruangan.untuk dapat memenuhi syarat kesehatan dan kenyamanan suhu ruang perkantoran berkisar 23แต’C sampai 26แต’C.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu, kelembapan dan pencahayaan ruangan di kampus B Poltekkes Kemenkes Kupang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau mengambarkan Suhu, Kelembaban dan Pencahayaan Di Kampus B Kemenkes Poltekkes Kupang Tahun 2024.Data suhu, kelembapan dan intensitas pencahayaan yang diperoleh dari pengukuran di Kampus B Kemenkes Poltekkes Kupang menggunakan alatMulti-functions.Data sekunder data yang diperoleh dari reverensihasil. Penelitian menunjukkan bahwa suhu ruangan yang memenuhi syratsuhu di Prodi gizi kelas 1b 30oC, kelas 3c 30oC, dosen Akademik 20oC, dikatakan memenuhi syarat, di lab kimia dikatakan tidak memenuhi syarat karena memperoleh nilai 31oC dan di Prodi Kebidanan kelas 1c memperoleh suhu 29oC, kelas 30oC, lab KB 29oC dikatakan memenuhi syarat di ruangan dosen 3 tidak memenuhi syarat karena memperoleh 31oC. kelembaban di Prodi gizi kelas 1b 54%RH, kelas 3c 55,95%RH, dosen Akademik 56,2%RH, di laboratorim kimia dikatakan tidak memenuhi syarat dan di prodi kebidanaan kelas 1 c 58%RH, kelas 2b 57%RH dan 59,55%RH dan yang tidak memenuhi syarat pada ruangan laboratorium KB. 4 menunjukan bahwa pencahayaan pada ruangan di prodi Gizi dan kebidanan dikatakan memenuhi syarat. Kesimpulan yang di dapat dari penelitianโ€œStudi Tentang Suhu, Kelembaban dan Pencahayaan Dalam Ruangan Kampus B Kemenkes Poltekkes Kupangโ€suhu pada ruangan kampus terdapat 2 ruangan yang tidak memenuhi syarat yaitu ruangan lab kimia dengan suhu 31oC dan ruangan dosen 3 dengan suhu 31oC.kondisi kelembaban ruangan kampus terdapat 2 ruangan yang tidak memenuhi syarat pada ruangan laboratorium kimia dengan kelembaban 63,46%RH dan laboratorium KB dengan kelembaban 61%RH. pencahayaan dilakukan di ruangan kelas, ruangan dosen dan laboratorium. Hasil penelitian pencahyaaan alami di Kampus B Kemenkes Poltekkes Kupang menunjukan bahwa dari semua ruangan pencahyaan memenuhi syarat

    โ€œProses Asuhan Gizi Terstandar Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Oesapa Kota Kupang

    Get PDF
    Latar Belakang : Tuberkulosis terus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia dan secara global. Oleh karena itu telah menjadi salah satu tujuan pembangunan kesehatan berkelanjutan. Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Angka Penemuan Kasus TB Paru di Provinsi NTT per 24 November 2021 sebesar 20,6% yakni 3.852 kasus dari target 18.833 masih jauh dari target yang di tetapkan (Dinkes Provinsi NTT 2021). Berdasarkan laporan yang di dapat dari Puskesmas Oesapa di mana jumlah TBC pada tahun 2023 (Januari-Oktober) sebanyak 135 kasus. Tujuan Penelitian : Untuk melakukan Proses Asuhan Gizi Terstandar Pada Pasien Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Oesapa Kota Kupang. Metode Penelitian : Jenis penelitian deskriptif observasional dengan rancangan studi kasus, dilaksanakan pada bulan Mei 2024 dan subyek penelitian berjumlah 4 orang. Hasil penelitian : Hasil pemantuan selama 5 hari pada 4 pasien menunjukkan, hasil antropomteri selama observasi dari hari pertama hingga akhir, berat badan pasien mengalami perubahan. Asupan makan keempat pasien belum memenuhi syarat dan masih dalam kategori defisit. Untuk data klinis dan fisik, pasien dalam keadaan sadar penuh dan merasa mual akibat obat anti tuberculosis yang dikonsumsi pasien. Kesimpulan : Berdasarkan hasil pemantauan asupan makanan pasien, rata-rata energi, protein, lemak, dan karbohidrat keempat responden masih tergolong defisit, karena pasien masih dalam masa pengobatan sehingga reaksinya menurunkan nafsu makan pasien

    FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI POSYANDU PERMATA BUNDA KELURAHAN OEPURA KOTA KUPANG

    Get PDF
    โ€™Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 6-24 Bulan di Posyandu Permata Bunda Kelurahan Oepura Kota Kupangโ€™โ€™. (Dibimbing oleh Christina R.Nenotek,SKM.,M.Kes) Latar Belakang : Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI Eksklusif mampu menurunkan angka kesakitan dan kematian anak. Pemberian ASI eksklusif, ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain.ASI Eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja selama enam bulan tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan nasi tim kecuali vitamin, mineral dan obat. Asi mengandung semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi untuk kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi. (Syamaun, 2018) Tujuan Penelitian : Menganalisis Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Stunting pada balita di wilayah Posyandu Permata Bunda kelurahan Oepura Kota kupang. Metode Penelitian : Jenis penelitian Analitik Observasional dengan rancangan โ€œCross Sectional Studyโ€ dilaksanakan pada bulan Mei 2024. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling yaitu terdiri dari 57 Responden Balita. Data yang diambil meliputi hubungan Asi Ekslusif, Pendidikan, Pekerjaan, Asupan makanan (Protein, Kalsium, Zink). Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 57 responden. balita mengalami Stunting sebanyak 36 balita. Distribusi berdasarkan asupan protein Lebih berjumlah 41 orang (71,9%), Normal berjumlah 11orang (19,3%), Kurang berjumlah 5 orang (8,8%). Distribusi berdasarkan asupan zink Lebih berjumlah 17 orang (29,8%), Normal berjumlah 17orang (29,8%), Kurang berjumlah 23 orang (40,4%). Distribusi berdasarkan asupan kalsium Lebih berjumlah 1 orang (1,8%), Normal berjumlah 2 orang (3,5%), Kurang berjumlah 54 orang (94,7%). Kesimpulan : โ€™Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 6-24 Bulan di Posyandu Permata Bunda Kelurahan Oepura Kota Kupangโ€™โ€™sebagian besar balita mengalami Stunting. Saran : Bagi balita yang mengalami Stunting sebaiknya memperhatikan Asupan makan yang diberikan dalam hal ini keluarga balita sangat diharapkan untuk bisa memberikan dukungan dan motivasi serta memperhatikan pola makan balita. Untuk peneliti selanjutnya diharapkkan agar meneliti faktor-faktor lain yang belum diteliti dalam penelitian ini yang berhubungan dengan kejadian stunting terhadap balita dengan sampel yang lebih besar dengan ruang ringkup yang luas sehingga dapat meningkatkan ketelitian hasil penelitian

    HUBUNGAN POLA MAKAN DAN STATUS SOSIAL EKONOMI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 12-59 BULAN DI KELURAHAN OESAPA BARAT

    Get PDF
    ABSTRAK KAROLINA TOJI โ€œHubungan Pola Makan dan Status Sosial Ekonomi dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 12-59 Bulan di Kelurahan Oesapa Baratโ€ Dibimbing oleh Alberth M.S. Baumali, S. KEP.,NS,MPH. Latar Belakang: Kondisi yang disebut stunting (kerdil) terjadi ketika balita lebih pendek atau lebih tinggi dari usianya. Panjang atau tinggi badan yang lebih besar atau sama dengan minus dua standar deviasi dari median standar pertumbuhan anak WHO digunakan untuk mengukur kondisi ini. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan kejadian stunting pada balita usia 12 sampai 59 bulan di Kecamatan Oesapa Barat dengan faktor pola makan dan status sosial ekonomi. Metode Penelitian: Penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross-sectional digunakan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini digunakan metode straight random sampling sebagai metode pengambilan sampelnya. 58 orang menjadi sampel penelitian. Pada bulan Februari hingga Mei 2024, penelitian ini dilakukan di Kelurahan Oesapa Barat. Hasil Penelitian: Berdasarkan temuan, satu balita (1,7) dari 58 balita memiliki pola makan baik, 56 balita memiliki pola makan cukup (96,6), dan satu balita memiliki pola makan kurang (1,7). Pendapatan orangtua rendah sebanyak 42 orang (72,4) dan pendapatan tinggi sebanyak 16 orang (27,6). Balita terhambat diurutkan menjadi sangat pendek, 21 orang (36,2), pendek 23 orang (39,7) dan normal 14 orang (24,1). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara balita stunting dengan pendapatan orang tua (p value 0,178) atau balita stunting dengan pola makan (p value 0,332). Kesimpulan: Berdasarkan uji Fisher Exact, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian stunting pada balita usia 12 hingga 59 bulan dengan pola makan dan status sosial ekonomi (pendapatan). Kata Kunci: Pola Makan, Status Sosial Ekonomi, dan Balita Stunting

    Survei Sanitasi Rumah Penderita TB Paru Di Kelurahan Oesapa Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang

    Get PDF
    ABSTRAK SURVEI SANITASI RUMAH PENDERITA TB PARU DI KELURAHAN OESAPA KECAMATAN KELAPA LIMA KOTA KUPANG Yosua Riwu, Olga Mariana Dukabain*) *)Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Kupang Xi i+ 39 halaman, tabel, gambar, lampiran Kondisi fisik rumah dapat mempengaruhi pencegahan penularan TB Paru kepada orang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komponen rumah penderita TB Paru di Kelurahan Oesapa Kecamatan Kelapa Lima, sanitasi rumah penderita TB Paru, kualitas lingkungan rumah penderita TB Paru, perilaku penderita TB Paru. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan variabel independen, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri) tanpa membuat perbandingan dan mencari variabel itu dengan variabel lain. Hasil penelitian diperoleh komponen rumah penderita TB Paru yaitu lubang asap dapur dengan presentase (20%). Sarana sanitasi dengan kejadian penyakit TB Paru yaitu sarana pembuangan sampah dengan presentase (100%). Kualitas lingkungan rumah yaitu pekarangan dimanfaatkan dengan presentase (80%). Perilaku penghuni yaitu membuka jendela kamar dengan presentase (20%). Disimpulkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan berkaitan dengan komponen rumah penderita TB Paru didapatkan lubang asap dapur yang tidak memenuhi syarat, sarana sanitasi rumah yang didapatkan jamban (sarana pembuangan kotoran) yang tidak memenuhi syarat, kualitas lingkungan rumah didapatkan pekarangan dimanfaatkan yang tidak memenuhi syarat, perilaku penghuni didapatkan membuka jendela kamar yang tidak memenuhi syarat. Kata Kunci : sanitasi rumah, penderita TB Paru Kepustakaan : 24 buah (2001-2023

    Gambaran Status Gizi, Asupan Energi Dan Asupan Protein Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Di RSUD Prof. Dr. W Z Johannes Kupang

    Get PDF
    Latar Belakang : Pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis sering menghadapi tantangan dalam menjaga asupan gizi yang memadai. Ketidakseimbangan asupan energi dan protein dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka.Tujuan Penelitian :. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik demografis, status gizi, serta asupan energi dan protein pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Prof W. Z. Johannes Kupang. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain cross-sectional, menggunakan teknik accidental sampling terhadap 31 responden di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Hasil : Berdasarkan Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis memiliki karakteristik demografis yang cenderung lebih rendah pada tingkat pendidikan dan lebih dominan pada laki๏ฟฝlaki. Selain itu, terdapat masalah serius pada asupan energi dan protein, di mana sebagian besar pasien mengalami defisit yang signifikan, yang berpotensi mempengaruhi status gizi dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.Kesimpulan : Sebagian besar pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis memiliki asupan energi dan protein yang tidak mencukupi, yang berpotensi memperburuk status gizi mereka

    2,326

    full texts

    4,410

    metadata records
    Updated in lastย 30ย days.
    Repository Poltekkes Kupang
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! ๐Ÿ‘‡