Repository Poltekkes Kupang
Not a member yet
    4410 research outputs found

    PENERAPAN METODE KANGURU DAN METODE NESTING TERHADAP PENINGKATAN SUHU TUBUH BAYI BBLR DENGAN HIPOTERMIA DI RUANG NICU RSUD PROF. DR. W.Z JOHANNES KUPANG

    Get PDF
    Latar Belakang: Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah konndisi dimana bayi memiliki berat badan kurang dari 2.500 gram, tanpa memandang usia gestasi. Menurut WHO kondisi BBLR di dunia setiap tahun kurang lebih 96,5%. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untukmengidentifikasi penerapan metode kanguru dan metode nesting terhadap kenaikan suhu bayi BBLR yang mengalami hipotermia. Metode Penelitian: Metode yang digunakan yakni deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan dalam bentuk studi kasus dimulai dari pengkajian hingga dokumentasi. Hasil penelitian : Hasil dari penelitian yang dilakukan pada empat bayi dengan dua bayi diberikan nesting yakni bayi Ny. V.S dengan suhu sebelum metode 36,4o c setelah penerapan meningkat menjadi 36,6o c. Bayi Ny S.M dengan suhu sebelum metode 36,3o c setelah penerapan meningkat menjadi 36,6o c, sehingga peningkatan suhu yang terjadi pada kedua bayi adalah 0,2o c. Pada bayi yang diterapkan metode kanguru yakni bayi Ny. D.P dengan suhu sebelum metode 36,3o c setelah penerapan meningkat menjadi 37,4o c sehingga peningkatan suhu yang terjadi sebanyak 1,1o c. Bayi Ny. R.B dengan suhu sebelum metode 36,4o c setelah penerapan meningkat menjadi 37,0o c. Sehingga peningkatan yabg terjadi sebanyak 0,7o c. Kesimpulan : Dari penelitia ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa metode kanguru dan metode nesting dapat meningkatkan suhu tubuh bayi BBLR, namun metode kanguru memberikan peningkatan yang paling banyak

    KEBIASAAN BURUK TENTANG KESEHATAN GIGI TERHADAP STATUS KARIES GIGI PADA SISWA/I KELAS IV SD NEGERI BALFAI KABUPATEN KUPANG

    Get PDF
    Latar Belakang : Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Perawatan kesehatan gigi dan mulut secara keseluruhan diawali dari kebersihan gigi dan mulut pada setiap individu. Salah satu indikator kesehatan gigi dan mulut yaitu tingkat kebersihan gigi dan mulut. Karies gigi banyak terjadi pada anak-anak karena mereka cenderung lebih menyukai makanan manis yang bisa menyebabkan terjadinya karies gigi. Karies gigi anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti mikrobiologi, diet sehari-hari dan kondisi oral hygiene. Anak usia sekolah adalah anak yang berusia antara 6 sampai 12 tahun, dimana pada saat itu mulai tertarik untuk mencoba makanan baru yang mereka ketahui. Anak-anak selalu menginginkan makanan yang menurut mereka menarik. Metode Penelitian : pegambilan sampel berupa 79 siswa/I kelas IV SD Negeri Balfai Kabupaten Kupang.Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner dan lembar pemeriksaan DMFT. Hasil Penelitian : Dari 79 responden ,kebiasaan burukntentang kesehatan gigi terhadap status karies gigi kelas IV SD Negeri Balfai Kab.Kupang iswa/siswi kelas IV SD Negeri Balfai Kab.Kupang sebanyak 52 responden (66%) dengan kriteria baik.status karies gigi siswa/siswi kelas IV SD Negeri Balfai Kab.Kupang sebanyak 58 responden (74%) dengan kriteria sangat rendah. Hubungan kebiasaan buruk dengan status karies gigi siswa-siswi kelas IV SDN Balfai Kabupaten Kupang sebanyak 41 responden (51%) dengan kriteria sangat rendah. Kesimpulan : kebiasaan buruk tentang kesehatan gigi terhadap Status karies gigi pada Siswa/I Kelas IV SD Negeri Balfai Kabupaten Kupang masih harus perlu ditingkatkan

    Implementasi Pendidikan Kesehatan Dalam Pemenuhan Nutrisi Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR) Pada Keluarga Di Wilayah Kerja Puskesmas Sikumana Kota Kupang

    No full text
    Latar Belakang: Berat badan merupakan salah satu indikator kesehatan pada bayi yang baru lahir dikarenakan masalah nutrisi yang tidak terpenuhi dengan baik maka diberikanlah pendidikan Kesehatan. Tujuan Penelitian: Mengetahui gambaran implementasi pemenuhan kebutuhan nutrisi pada bayi berat badan lahir rendah (bblr) pada keluarga di wilayah kerja puskesmas sikumana kota kupang. Metode Penelitian: menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan pastisipan adalah satu orang menggunakan pedoman wawancara dan observasi analisis data secara naratif.Hasil: sebelum diberikan pendidikan Kesehatan Ny.K.O menjawab kuesioner dengan skor 50 dan setelah dilakukan pendidikan Kesehatan Ny.K.O menjawab kuesioner dengan skor 90. Kesimpulan: Pendidikan Kesehatan mampu memberikan tingkat pengetahuan pada ibu pasien Saran: Pendidikan Kesehatan terhadap nutrisi dapat dipahami dan dilakukan oleh ibu pasie

    Efektivitas Pemberian Biji Kelor Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Sikumana

    No full text
    Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana tekanan didalam pembuluh darah ada pada ambang batas normal dengan nilai rentang yaitu 140/90 mmHg (WHO,2023). Berdasarkan data dari WHO (2023), sekitar 1,28 miliar orang seluruh dunia yakni rentang umur antara 30 hingga 70 tahun mengalami hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana efektivitas pemberian biji kelor terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Metode pada penelitian ini yaitu kuantitatif dalam bentuk eksperimen yang berfokus pada keefektivan pemberian biji kelor terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Pengumpulan data yang digunakan menggunakan metode kuesioner dan dokumentasi. Hasil penelitian pada Tn.N dengan hipertensi sebelum dilakukan pemberian biji kelor tekanan darah responden tinggi. Sebelum dilakukan pemberian biji kelor tekanan darah Tn.N 160/100 mmHg dan setelah dilakukan pemberian biji kelor selama 5 hari berturut-turut tekanan darah Tn.N menurun yaitu130/90 mmHg. Sedangkan pada Ny.F sebelum dilakukan pemberian biji kelor tekanan darah Ny.F 140/100 mmHg dan setelah dilakukan pemberian biji kelor tekanan darah Ny.F menurun yaitu 110/90 mmHg. Kesimpulan dari peneltian ini yaitu setelah dilakukan pemberian biji kelor pada Tn.N dengan masalah hipertensi, dengan pemberian 250 ml/hari (1 gelas), makan tekanan darah menurun yaitu 130/90 mmHg dengan keluhan yang dirasakan berkurang. Sedangkan Ny.F setelah dilakukan pemberian biji kelor didapatkan tekanan darah menurun yaitu 110/90 mmHg dengan keluhan yang dirasakan berkurang, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian biji kelor efektif dalam menurunkan tekanan darah pada kedua responden

    Penerapan Terapi Range Of Motion (ROM) terhadap kelemahan otot pada pasien Stroke Non Hemoragic di Rumah Sakit Bhayangkara Titus Ully Kupang

    No full text
    Stroke merupakan penyakit serius yang bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Hal ini disebabkan oleh adanya penyumbatan atau pembekuan pada darah yang dapat menghentikan aliran darah ke bagian otak. Latihan Range Of Motion (ROM) atau rentang gerak berperan penting dalam perawatan penderita stroke hal ini tidak hanya mencegah gangguan tersebut tetapi juga mendukung keberhasilan pengobatan. Penelitian ini kualitatif dengan desain deskriptif, studi kasus dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus dengan responden berjumlah 2 orang dengan kriteria responden yaitu kriteria inklusi dan eksklusi, Studi kasus ini adalah mengobservasi bagaimana penerapan Terapi ROM terhadap kelemahan otot di Rumah Sakit Bhayangkara Kupang. Metode pengumpulan data pada studi kasus ini adalah dengan metode wawancara, observasi dan studi dokumen. Didapatkan hasil sebelum dilakukan Latihan ROM yaitu skala kekuatan otot pada kedua subjek penelitian yaitu 3 dan setelah dilakukan terapi ROM hasil menunjukkan skala kekuatan otot pada kedua subjek penelitian yang diukur menggunakan lembar pengukuran skala kekuatan otot yaitu dengan dilakukannya Latihan Range Of Motion (ROM) 1 kali sehari selama 3 hari berturut-turut dengan waktu yang dibutuhkan 5-10 menit setiap harinya, didapatkan hasil tidak adanya peningkatan kekuatan otot pada kedua subjek penelitian. Penerapan Range Of Motion (ROM) efektif untuk meningkatan kekuatan otot namun ini membutuhkan waktu lama dan harus dilakukan secara rutin dan berulang-ulang, sehingga perlu mengedukasi kedua subjek penelitian serta keluarga perlu mengetahui tentang manfaat, tujuan dan cara melakukan Latihan Range Of Motion (ROM) agar dapat melakukan Latihan gerak sendi ketika diruma

    ASUHAN GIZI TERSTANDAR PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN HIPERTENSI DI RUANG RAWAT INAP RSUD PROF DR. W.Z. JOHANNES KUPANG

    Get PDF
    Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau ganguan/ resistensi insulin. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi diabetes melitus di Indonesia pada usia ≥15 tahun meningkat dari 5,7% pada tahun 2007 menjadi 6,9% pada tahun 2013, dan mencapai 8,5% pada tahun 2018 (Komariah & Rahayu, 2020). Di Nusa Tenggara Timur, prevalensi diabetes melitus pada tahun 2018 adalah 0,9%. Menurut data rekam medik di RSUD Prof. DR.W.Z. Johannes Kupang penderita diabetes melitus tipe 2 yang menjalani rawat inap dari bulan Januari sampai Juni 2023 sebanyak 46 pasien. Tujuan Penelitian: Untuk Mengetahui Asuhan Gizi Pada Pasien Diabetes Melitus dengan Hipertens di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan rancangan studi kasus untuk mengetahui tentang asuhan gizi pada pasien Diabetes Melitus dengan Hipertensi di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johanes Kupang. Penelitian dilakukan di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johanes Kupang pada bulan Mei 2024. Hasil Penelitian: Hasil assesment gizi pada responden 1 status gizi kelebihan BB tingkat ringan sedangkan responden 2 status gizi normal, fisik/klinis lemas seluruh badan, pusing, mual, muntah, tekanan darah tinggi, hasil laboratorium GDS, GDP, GD 2 Jam PP tinggi, rata-rata asupan kedua responden sebelum intervensi dalam kategori defisit berat, dan untuk rata-rata aupan setelah intervensi dari kedua responden sudah mengalami peningkatan walaupun ada beberapa yang masih dalam kategori defisit. Kesimpulan : Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi pada kedua responden menunjukkan bahwa tidakada perubahan status gizi dari kedua responden. Hasil pemeriksaan laboratorium GDS,GDP, dan GD 2 Jam PP baik responden 1 maupun responden 2 sudah mengalami penurun. Hasil perkembangan fisik/klinis dari kedua responden selama 3 hari TD sudah mencapai normal dan untuk fisik pasien sudah mulai membaik. Hasil rata-rata tingkat asupan kedua responden selama 3 hari pengamatan sudah mengalami peningkatan walaupun ada beberapa yang masih dalam kategori defisit

    PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG PISANG KEPOK DAN KACANG MERAH DALAM SIFAT ORGANOLEPTIK SOES

    Get PDF
    Latar belakang : Kekurangan Energi Protein (KEP) yaitu kondisi akibat tidak terpenuhinya energi juga protein dari makanan sehari-hari atau sebab penyaki tertentu. Anak dikatakan jika bear badannya di bawah standar WHO-NCHS weightforage (BB/U). Biasanya penderita KEP cenderung berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Dari data Riskesdas (2018) mnyatakan bahwasanya populasi gizi kurang dan buruk di NTT sebanyak 17,7% yaitu gizi kurang sebanyak 13,8% dan gizi buruk 3,9%. Sehingga penting guna menjadikan pangan lokal menjadi alternatif bagi penderita KEP seperti Soes dari tepung pisang kapok dan tepung kacang merah sebab mengandung tinggi protein yang cocok bagi yang mengalami KEP. Tujuan : guna mengetahui pengaruh substitusi tepung pisang kepok dan tepung kacang merah merah pada daya terima soes. Metode Penelitian : Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang meliputi pengujian 3 perlakuan, yaitu P1: Tepung pisang kepok (20%) : tepung kacang merah (40%), P2 : Tepung pisang kepok (25%): Tepung kacang merah (50%) ,P3 : Tepung pisang kepok (30%) : Tepung kacang merah (60%). Analisis statistik Oneway Anova digunakan guna menganalisis data pada interval pada tingkat kepercayaan 95%. Uji Tukey akan digunakan guna melanjutkan apabila terdapat perbedaan. Hasil : Dari hasil penelitian ini direkomendasikam perlakuan P2 sebab paling banyak disukai mulai dari segi warna, aroma, tekstur, dan juga rasa dengan substitusi tepung pisang kepok dan kacang merah 25 % : 50 %. Kesimpulan : Dari hasil penelitian ini perlakuan yang direkomendasikan mulai dari warna, aroma, tekstur dan juga rasa yaitu perlakuan P2 substitusi tepung pisang kapok sebanyak 25% juga tepung kacang merah 50% yang juga paling disukai oleh panelis

    HUBUNGAN TINGKAT PENDAPATAN DAN PEMBERIAN MP-ASI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 6 – 24 BULAN DI DESA SILLU KABUPATEN KUPANG TAHUN 2024

    No full text
    NONIA MELIANI BIRA “Hubungan Tingkat Pendapatan Keluarga Dan Pemberian MP-ASI Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 6-24 Bulan Di Desa Sillu Kabupaten Kupang” Di bimbing oleh Yohanes Don Bosko Demu, SKM, MPH. Latar Belakang : Menurut data prevalensi stunting dari WHO, pada tahun 2020 terdapat sekitar 22% atau 149,2 juta kasus stunting di seluruh dunia. Sementara itu, data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 menunjukkan bahwa angka stunting di Indonesia mencapai 30,8%. Studi Kasus Gizi Indonesia (SSGI) 2021 mencatat bahwa Nusa Tenggara Timur memiliki prevalensi stunting tertinggi di Indonesia, yaitu 37,8%. Kota Kupang juga menjadi fokus utama dalam penanganan stunting, dengan prevalensi stunting balita mencapai 42,7% berdasarkan RISKESDAS 2018. Di tingkat desa, Desa Sillu juga menunjukkan angka stunting yang tinggi, yakni 14,75%. Tujuan Penelitian : Untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan prevalensi stunting pada balita berusia 6-24 bulan di Desa Sillu, Kabupaten Kupang Metode Penelitian : Jenis penelitian yang diterapkan adalah survei analitik dengan desain "cross-sectional study." Desain ini menilai hubungan antara variabel independen (pendapatan keluarga dan MP-ASI) dan variabel dependen (stunting) pada waktu yang bersamaan. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, dengan melibatkan 98 responden. Hasil hasil penelitian menunjukan yang berhubungan dengan stunting pada balita adalah Tingkat pendapatan keluarga (p volue = 0,001), usia diberikan MP-ASI (p volue 0,00), frekuensi pemberian MP-ASI (p volue = 0,003), dan yang tidak berhubungan dengan stunting pada balita adalah tekstur pemberian MP-ASI (p volue = 0,048). Kesimpulan : intervensi perlu dilakukan terhadap faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada balita, antara lain pendapatan keluarga, usia pertama di berikan MP-ASI, frekuensi MP-ASI, dan Tekstur MP-ASI

    STATUS KARIES GIGI PADA ANAK (PPA) IO.0628 SILOAM, KOTA KUPANG

    Get PDF
    STATUS KARIES GIGI PADA ANAK (PPA) IO.0628 SILOAM, KOTA KUPANG Merciana Abon Lemaking1, Applonia L. Obi1 , Merniwati S. Eluama1 [email protected] 1Jurusan Kesehatan Gigi Kemenkes Poltekes Kupang Intisari Latar Belakang :. Karies merupakan penyakit yang banyak menyerang anak-anak sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama umur 6 sampai 9 tahun dimana gigi molar pertama permanen sudah mulai tumbuh sehingga mudah terkena karies. Tujuan : Penelitian ini adalah untuk mengetahui status karies gigi anak pada Pusat Pengembangan Anak (PPA) IO.0628 Siloam Kota Kupang. Metode : Penelitian ini adalah untuk mengetahui status karies gigi susu dan status karies gigi permanen dengan menggunakan indeks DMF-T dan def-t pada anak Pusat Pengembangan Anak (PPA) IO.0628 Siloam Kota Kupang. Alat ukur pemeriksaan menggunakan lembar status karis gigi. Cara pengambilan menggunakan rumus Slovin dengan populasi sebanyak 54 anak PPA.Variabel penelitian adalah variable bebas dan Variabel Terikat. Variabel bebas : mikroorganisme, host, substrat dan waktu. Sedangkan Variabel Terikat : DMF-T dan def-t. Hasil penelitian : Berdasarkan hasil pemeriksaan gigi permanen pada anak laki-laki terdapat 26 gigi berkaries dari 24 anak, sedangkan pada anak perempuan terdapat 47 gigi berkaries sbanyak 30 anak. Berdasarkan kriteria penilaian DMF-T yang paling tinggi adalah kriteria sedang sebanyak 10 gigi (19%) berkaries. Hasil pemeriksaan gigi susu pada anak laki-laki terdapat 26 gigi berkaries pada 22 anak, sedangkan 42 gigi yang berkaries pada anak perempuan sebanyak 32 anak. Berdasarkan kriteria penilaian def-t yang paling tinggi adalah kriteria rendah sebanyak 14 gigi yang berkaries (26%). Kesimpulan: Status karies gigi permanen pada anak PPA dengan presentase paling tinggi adalah dengan kriteria sangat sedang, status karies gigi susu termasuk kriteria rendah. Kata kunci : Anak PPA, Karies, DMFT, def

    PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG BAYAM MERAH (Amarantus tricolor) DAN TEPUNG JEWAWUT (Setaria italica) TERHADAP SIFAT ORGANOLEPTIK MOCHI

    Get PDF
    ABSTRAK PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG BAYAM MERAH (Amaratus Tricolor) DAN TEPUNG JEWAWUT (Setaria Italic) TERHADAP TERHADAP SIFAT ORGANOLEPTIK MOCHI George Alesandro Ratu (Dibimbing oleh Asmulyati S. Saleh., SST.,M.Gz) [email protected] Latar Belakang : Anemia pada remaja putri sering disebabkan oleh rendahnya asupan zat besi dan nutrisi penting lainnya. Bayam merah dan jewawut merupakan sumber zat besi yang potensial untuk meningkatkan nilai gizi produk pangan seperti mochi. Pengembangan mochi dengan tepung bayam merah dan jewawut dapat menjadi alternatif solusi dalam mengatasi anemia. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung bayam merah (Amaranthus tricolor) dan tepung jewawut (Setaria italica) terhadap sifat organoleptik dan nilai gizi mochi. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL). Tiga perlakuan digunakan, yaitu perbandingan tepung bayam merah dan jewawut: P1 (40%:60%), P2 (50%:50%), dan P3 (60%:40%). Penelitian dilakukan di Laboratorium Ilmu Teknologi Pangan Poltekkes Kemenkes Kupang. Uji organoleptik melibatkan 30 panelis. Hasil : Hasil uji daya terima menunjukkan bahwa semua perlakuan (P1, P2, dan P3) memiliki rata-rata skor mendekati 4, yang artinya disukai. Hasil uji Anova menunjukkan tidak ada pengaruh signifikan pada aspek warna, aroma, tekstur, dan rasa (p>0,05). Namun, nilai gizi tertinggi ditemukan pada perlakuan P2 (50%:50%), yang menghasilkan kandungan energi, protein, lemak, karbohidrat, dan zat besi paling tinggi dibandingkan dengan P1 dan P3. Kesimpulan : Penambahan tepung bayam merah dan jewawut pada mochi berpengaruh positif terhadap daya terima dan nilai gizi, dengan perlakuan P2 sebagai pilihan terbaik berdasarkan uji organoleptik dan analisis gizi

    2,326

    full texts

    4,410

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository Poltekkes Kupang
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇