Repository Poltekkes Kupang
Not a member yet
4410 research outputs found
Sort by
PENERAPAN HIDROTERAPI PADA KELUARGA DENGAN MASALAH KEPERAWATAN NYERI AKUT TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI DESA MBATAKAPIDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS WAINGAPU
Pendahuluan: Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi merupakan suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang abnormal di dalam arteri yang menyebabkan suatu gangguan pada pembuluh darah yang dapat menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada organ tubuh. Keadaan tersebut mengakibatkan jantung bekerja lebih keras untuk mengedarkan keseluruh tubuh melalui pembuluh darah. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menurunkan atau mengontrol tekanan darah adalah dengan teknik non-farmakologi dengan hidroterapi yaitu terapi dengan menggunakan air. Hidroterapi rendam kaki air hangat merupakan salah satu jenis terapi alamiah yang bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi edema, meningkatkan relaksasi otot, menyehatkan jantung, mengendorkan otot-otot, menghilangkan stress, meringankan rasa sakit, meningkatkan permeabilitas kapiler, memberikan kehangatan pada tubuh sehingga sangat bermanfaat untuk terapi penurunan tekanan darah pada hipertensi. Tujuan: tujuan dari studi kasus ini adalah untuk menerapkan intervensi hidroterapi pada keluarga dengan masalah keperawatan nyeri akut terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Metode: studi kasus dengan pendekatan penelitian yang bersifat kualitif yang memungkinkan peneliti untuk menyelidiki peristiwa, situasi spesifik, lebih lanjut studi kasus hanya fokus pada satu unit, dimana unit tersebut merujuk pada individu, keluarga, kelompok, kounitas atau suatu instansi. Hasil: berdasarkan hasil analisa data pada klien 1 tekanan darah 150/90 mmHg, diperoleh diagnosa keperawatan nyeri akut dengan keluhan nyeri pada kepala skala 6 dan tampak meringis, klien 2 tekanan darah 180/100 mmHg, diperoleh diagnosa keperawatan nyeri akut dengan keluhan nyeri pada kepala skala 6 dan merasa pusing. Setelah dilakukan tindakkan keperawatan selama 5 hari intervensi nyeri akut teratasi yang ditandai dengan keluhan nyeri menurun, gelisah menurun, meringis menurun. Perencanaan dan penlaksaan dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasien serta evaluasi klien teratasi. Kesimpulan: berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, peneliti menyimpulkan bahwa intervensi hidroterapi pada pasien hipertensi dapat menurunkan nyeri, mencegah tegang otot leher, dan mengatasi pusing.
Kata Kunci: Nyeri akut., hipertensi., hidroterapi., teknik nonfarmakologi
EFEKTIFITAS PEMBERIAN JUS MENTIMUN TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KANATANG
Pendahuluan Penyakit tidak menular atau dikenal dengan New Communicable Disease merupakan penyebab utama kematian diseluruh dunia. Penyakit tidak menular (PTM) Membunuh Lebih Banyak setiap tahun dibandingkan dengan gabungan semua penyebab kematian lainnnya. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang saat ini menjadi prioritas dalam dunia kesehatan secara global yaitu hipertensi. Tujuan Untuk mengetahui Efektivitas Pemberian Jus Mentimun Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Dipuskesmas KanatangMetode Penelitian deskriptif analitik studi kasus untuk mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan dan Efektivitas Pemberian Jus Mentimun Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada 2 keluarga dengan anggota keluarga mengalami hipertensi diwilayah Kerja Puskesmas Kanatang. Metode pengambilan data adalah dengan wawancara, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dengan 2 kasus keluarga dengan menggunakan SDKI,SLKI, dan SIKI. Instrument pengumpulan data menggunakan format asuhan keperawatan sesuai ketentuan yang berlaku di Prodi Keperawatan Waingapu yang meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil dan pembahasan Berdasarkan analisa data yang diperoleh pengkajian ditemukan 2 diagnosa yang sama untuk klien 1 dan 2 yaitu defisit pengetahuan dan manejemen kesehatan tidak efektif. Dari diagnose yang ditemukan pada klien 1 dan 2 diperoleh hasil evaluasi keperawatan yang teratasi. Perencanaan dan pelaksanaan ditunjang dengan fasilitas dan sarana yang mendukung, evaluasi dilakukan secara langsung baik formatif maupun sumatif Kesimpulan proses perawatan pada klien 1 dan 2 berjlan sesuai harapan, dengan melakukan terapi jus mentimun didapat hasil dengan adanya penurunan tekanan darah pada pasien 1 sebelum melakuakan terapi jus mentimun pemeriksaan tekanan darah 200/90 mmHg dan setelah diberikan jus mentimun mengalami penurunan yaitu 130/90 mmHg dan pada klien 2 juga mengalami hal yang sama yaitu sebelum terapi jus mentimun hasil pemeriksaan di dapatkan tekanan darah 160/90 mmHg dan mengalami penurunan 120/80 mmHg. Saran diharapkan untuk di perhatikan lagi bagi tenaga kesehatan setempat, untuk meningkatkan derajat kesehatan keluarga terutama dalam memberikan asuahan keperawatan keluarga dengan klien hipertensi.
Kata kunci : Hipertensi, Jus Mentimu
PENERAPAN LATIHAN BATUK EFEKTIF PADA PASIEN TUBERCOLOSIS PARU DENGAN GANGGUAN POLA NAFAS DI RUANG DAHLIA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UMBU RARA MEHA WAINGAPU
Latar Belakang:Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri . Tuberkulosis salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah utama di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Beberapa faktor yang berperan terhadap penangulangan Penyakit ini Salah satu faktor penting dalam penyembuhan dan perawatan pasien dengan TB Paru latihan batuk efektif. Penyakit ini bisa menular dari penderita tuberkulosis BTA positif melalui udara (droplet nuclei) ketika mereka bersin, batuk, dan berbicara sehingga kuman terhirup dan mengakibatkan seseorang terinfeksi tuberkulosis Tujuan:Mampu menerapkan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Tuberkulosis Paru di Ruang Dahlia Rumah Sakit Umum Daerah Umbu Rara Meha Waingapu,menggunakan pendekatan proses keperawatan.Hasil Dan Pembahasan: Berdasarkan analisa data yang diperoleh ditemukan 2 vi diagnosa yaitu bersihan jalan napas tidak efektif dan hipertermi pada intervensi dan implementasi dari hasil evaluasi, pada evaluasi sampai pada hari ketiga selama perawatan.Kesempulan: Pengkajian pada klien ditemukan adanya keluhan demam dan batuk berdahak sulit dikeluarkan Sekret. Pada klien ditemukan keluhan sesak napas dan hasil pengukuran tanda-tanda vital klien adalah sebagai berikut Nadi: 128x/menit, Suhu: 38,8 oC, RR: 38x/menit, Tekanan Darah: 110/80 mmHg dan SPO2: 85 X/menit.diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien yaitu bersihan jalan napas tidak efektif dan hipertermi.Saran: Klien dan keluarga di harapkan mampu menerapkan intervensi pemberian terapi inhalasi dan batuk efektif secara mandiri
Kata Kunci: Batuk Efektif,Tb Paru,Pola Napa
Uji Efektivitas Serbuk Biji Kelor Dan Serbuk Biji Asam Sebagai Bahan Alami Dalam Penurunan Kekeruhan Pada Air Sumur Gali Tahun 2024
Sumur gali merupakan salah satu jenis sarana yang banyak dimiliki oleh masyarakat khususnya masyarakat kota kupang untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.Dalam kondisi tertentu air sumur yang digunakan oleh masyarakat akan mengalami masalah pada kualitas fisik sala satunya kekeruhan air yang dimilikinya hal ini dipengaruhi oleh bahan-bahan organik atau zat-zat terlarut yang menyebabkan kekeruhan pada air sehinga air menjadi kotor.Dampak dari kekruhan air yang terjadi yang terjadi secara terus menerus akan menimbulkan ketidaknyamanan dari kualitas air bahkan menimbulkan penyakit yang dibawa oleh air seperti diare,salmonellosis,leptospirosis,Jenis penelitian ini ialah pra eksperimen dengan rancangan “one grup pre-post test design”.Variabel dalam penelitian ini ialah tingkat kekeruhan air sumur gali sebelum diuji menggunakan bahan alami serbuk biji kelor dan serbuk biji asam,tingkat kekeruhan air sumur gali setelah di uji menggunakan bahan alami serbuk biji kelor dan serbuk biji asam, menganalisis efektivitas penggunaan serbuk biji kelor dan biji asam dalam menurunkan tingkat kekeruhan air sumur gali. Populasi dan sampel dalam penelitian ini ialah air sumur yang ada di Kota Kupang dan sampelnya ialah sala satu sarana air sumur di Kota Kupang. Metode dalam penelitian ini ialah kekeruhan sesudah pengolahan dan efisiens penurunan kekeruhan air dengan menggunakan alat Turbidimeter yang di lakukan di Laboratorium Penguji Poltekes Kemenkes Kupang.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa angka kekeruhan air baku sumur gali sebelumnya sebesar 240 NTU setelah pemanfaatan serbuk biji kelor dan serbuk biji asam jawa dosis 4 gr/1 Ltr air sangat efektif untuk menurunkan angka kekeruhan air. Hasil dapat terlihat serbuk biji kelor sedikit lebih efektif dalam menurunkan kekeruhan pada air bersih sumur gali yaitu hingga 109 NTU (54,58%) sedangkan serbuk biji asam jawa menurunkan kekeruhan air hingga 163 NTU (32,08%).Dari uraian diatas bahwa pengunaan serbuk biji kelor dan asam ternyata dapat menurunkan tingkat kekeruhan air sumur sehinga masyarakat dapat mengunakan serbuk biji kelor dan asam untuk menurunkan kandungan kekeruhan pada air sumur
Kemampuan Penggunaan Kartu Menuju Gigi Sehat Ibu Hamil (KMGS Bumil) Oleh Kader Posyandu Di Desa Baumata
Latar Belakang : Kesehatan mulut merupakan hal penting untuk kesehatan secara umum dan kualitas hidup. Kesehatan mulut berarti terbebas kanker tenggorokan, infeksi dan luka pada mulut, penyakit gusi, kerusakan gigi, kehilangan gigi, dan penyakit lainnya, sehingga terjadi gangguan yang membatasi dalam menggigit, mengunyah, tersenyum, berbicara, dan kesejahteraan psikososial. Kesehatan gigi menjadi hal yang penting, khususnya bagi perkembangan anak.Menjaga kesehatan adalah kewajiban setiap manusia, termasuk memelihara dan menjaga kesehatan gigi dan mulut. Peningkatan resiko terjadinya penyakit gigi dan mulut dapat dialami oleh semua individu, termasuk ibu hamil. Kartu menuju gigi Sehat Ibu Hamil (KMGS) merupakan model deteksi dini risiko penyakit gigi dan mulut pada ibu hamil sebagai upaya peningkatan kegiatan integritas KIA dan Gigi. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui kemampuan penggunaan kartu menuju gigi sehat ibu hamil (KMGS bumil) oleh kader posyandu Di Desa Baumata. Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif. Hasil Penelitian: penelitian dilakukan di dua posyandu desa Baumata yaitu 10 orang kader posyandu, pengetahuan pengisian KMGS Bumil kriteria baik dengan persentase 40%,kriteria sedang dengan persentase 60% dan kriteria buruk dengan persentase 0%, Ketepatan pengisian KMGS Bumil kriteria baik dengan persentase 50%, kriteria sedang dengan persentase 50% dan kriteria buruk dengan persentase 0%, Kecepatan pengisian KMGS Bumil, kriteria baik dengan persentase 0%, kriteria sedang dengan persentase 100% da kriteria buruk dengan persentase 0%. Kesimpulan: kemampuan penggunaan KMGS Bumil oleh kader posyandu di Desa Baumata dengan kriteria baik dengan persentase 30%, kriteria sedang dengan persentase 70% dan kriteria buruk dengan persentase 0%
Formulasi Nutrasetikal Sereal Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk) Dengan Tepung Sorgum (Sorghum bicolor L.moench) Sebagai Pengikat
Latar Belakang : Stunting pada balita dapat dicegah dengan mengkonsumsi makanan bernutrisi yang bisa didapatkan dari pangan lokal seperti kelor. Kelor merupakan tanaman yang dikenal dengan sebutan miracle plant atau tree of life. Bagian dari tanaman kelor yang dapat dimanfaatkan dan memiliki nutrisi adalah daun kelor. Daun kelor dapat dipreparasi menjadi bentuk tepung yang memiliki kandungan makronutrien dan mikronutrien yang tinggi sehingga dapat ditambahkan pada berbagai produk makanan. Tingginya kandungan nutrisi yang ada pada tepung daun kelor memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk nutrasetikal. Salah satu jenis produk nutrasetikal yang dapat dikembangkan adalah sereal dalam bentuk granul yang mengandung serat, energi, mineral dan vitamin. Jenis pengikat yang digunakan merupakan faktor utama yang berpengaruh pada karakteristik fisik granul. Salah satu jenis pengikat yang dapat digunakan adalah tepung sorgum yang memiliki kemampuan ikatan dan konsistensi kemampuan untuk menyerap air dan daya kembangnya baik serta sifat lekat dan cenderung membentuk gel apabila disuspensikan dengan air. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui karakteristik sereal meliputi uji hedonik, uji kadar air dan uji kadar abu. Metode penelitian : Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Hasil penelitian : Hasil evaluasi karakteristik sereal dengan perbedaan konsentrasi pengikat pada FI (10%) dan FII (20%) menunjukan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan dengan uji hedonik terhadap warna, rasa dan aroma dapat diterima dengan baik oleh panelis. Kadar air pada kedua formula yaitu 3% dan kadar abu 4% sehingga telah memenuhi standar sereal sesuai dengan SNI 01-4270-1996. Simpulan : Formulasi nutrasetikal sereal daun kelor dengan tepung sorgum memenuhi syarat standar sereal sesuai dengan SNI 01-4270-199
FORMULASI GEL HAND SANITIZER EKSTRAK DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle Linn)
Hand sanitizer di pasaran banyak yang mengandung bahan aktif alkohol dimana alkohol jika pemakaian berulang sebagai sediaan pembersih tangan dapat menyebabkan kekeringan dan iritasi pada kulit. Salah satu bahan alami yang dapat diharapkan sebagai alternatif yang cukup potensial untuk mengganti penggunaan alkohol pada hand sanitizer adalah daun sirih hijau (Piper betle Linn). Daun sirih mengandung minyak atsiri sebesar 1 – 4,2%, dan senyawa fenol beserta turunannya dan memiliki aktivitas sebagai bakterisidal lima kali lebih kuat. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan data formula gel hand sanitizer ekstrak daun sirih hijau yang memenuhi karakteristik meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji pH yang sudah sesuai dengan standar.,Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif. Sediaan diformulasikan dengan variasi konsentrasi ekstrak daun sirih hijau yaitu F1 (2,5%); F2 (5%), dan F3 (10%), lalu dilakukan evaluasi terhadap sediaan meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji pH. Hasil uji organoleptis ketiga formula yaitu bentuk gel akan semakin cair setiap kenaikan konsentrasi ektrak daun sirih hijau pada formulasi sediaan. Hasil uji homogenitas dan uji pH ketiga formula memenuhi syarat. Hasil uji daya sebar mengalami penurunan daya sebar. Hasil uji daya lekat menunjukkan F2 dan F3 tidak memenuhi syarat. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sirih hijau (Piper Betle Linn) dapat dibuat menjadi bentuk sediaan gel hand sanitizer yang memenuhi karakteristik fisik sediaan. Formula F1 (2,5%) memiliki hasil evaluasi sediaan yang memenuhi syarat yaitu uji organoleptik dan homogenitas yang baik; pH 6,3; daya lekat 1 detik; daya sebar 6 cm
Uji Aktivitas Antioksidan Infusa Daun Bunga Putih (Clerodendrum costatum R.Br) Asal Semau Kabupaten Kupang Dengan Metode DPPH (2,2-Diphenyl-1-picrylhydrazyl)
Radikal bebas (reactive oxygen spesies) merupakan salah satu penyebab terjadinya kerusakan pada sel. Salah satu unsur atau substansi yang dibutuhkan (tubuh) dalam mencegah berkembangnya radikal bebas adalah Antioksidan . Salah satu tanaman di Nusa Tenggara Timur yang juga merupakan penghasil antioksidan adalah bunga putih, khususnya pada bagian daun bunga putih. Tujuan penilitian ini untuk mengukur nilai IC50 infusa daun bunga putih (Clerodendrum costatum R.Br) dengan konsentrasi 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm dan 500 ppm. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Kemampuan antioksidan infusa daun bunga putih (Clerodendrum costatum R.Br) dapat dilihat dari berkurangnya intensitas warna ungu dari larutan DPPH saat direaksikan yang diukur menggunakan spektrofotometri UV-VIS pada panjang gelombang 516,6 nm. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai IC50 infusa daun bunga putih (Clerodendrum costatum R.Br) yaitu 251,1832 ppm. Simpulannya, Infusa daun bunga putih memiliki potensi sebagai antioksidan dengan kategori lemah karena nilai IC50 >150 ppm
Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Sabun Cair Fraksi Metanol – Air Bunga Flamboyan (Delonix regia (Hook.) Raf.) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
Latar Belakang : Penyakit infeksi manjadi salah permasalahan kesehatan di kalangan masyarakat Indonesia. Penyakit yang ditimbulkan berupa penyakit kulit seperti asbes, jerawat, bahkan menginitis. Mikroorganisme yang paling sering menyebabkan infeksi pada tubuh manusia salah satunya adalah Staphylococcus aureus. Cara melindungi kulit dari infeksi bakteri, yaitu menggunakan sabun antibakteri dalam bentuk cair. Sabun cair merupakan salah satu sediaan kosmetika yang dapat membersihkan kulit. Penggunaan sabun cair dianggap lebih praktis penggunaannya dan higienis. Ekstrak tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif dalam pembuatan sabun cair yakni ekstrak bunga Flamboyan yang memiliki aktivitas biologis seperti antifungi dan antibakteri.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui aktivitas antibakteri sediaan sabun cair fraksi metanol – air bunga Flamboyan terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Metode Penelitian: Jenis penelitian berupa penelitian eksperimental. Sediaan sabun cair diformulasikan dalam variasi kosentrasi hasil fraksimetanol-air bunga flamboyan, yaitu F1 (0,5%) dan F2 (1%), yang kemudian dilakukan pengujian terkait aktivitas antibakteri dengan melihat zona hambat yang terbentuk. Hasil Penelitian : Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan ekstrak hasil fraksi metanol-air bunga Flamboyan memiliki presentase rendemen 64,05% dan positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, tannin dan saponin. Sabun mandi cair F1 dan F2 memiliki aktivitas antibakteri kategori kuat, dengan F1 (0,5%) 17,33 mm dan F2 (1%) 18,06 mm. Simpulan : Sabun cair fraksi metanol -air bunga Flamboyan, memiliki aktivitas dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus
Penerapan Intervensi Keperawatan Menghardik Halusinasi Dan Melakukan Aktivitas Terjadwal Untuk Menghardik Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Skizorfrenia Di Rumah Sakit Jiwa Naimata Kupang
Latar Belakang: Halusinasi pendengaran merupakan gangguan yang banyak terjadi pada pasien dengan skizofrenia, terdapat 70% pasien dengan halusinasi pendengaran di Indonesia. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa jenis halusinasi yang paling banyak diderita oleh pasien dengan skizofrenia adalah pendengaran. Oleh karena itu ada beberapa Intervensi untuk mengontrol halusinasi pendengaran diantaranya menghardik halusinasi dan melakukan aktivitas terjadwal. Tujuan : Mengidentifikasi Penerapan tindakan menghardik halusinasi dan melakukan aktivitas terjadwal terhadap halusinasi pendengaran. Metode : penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil : setelah dilakukan tindakan menghardik halusinasi dan melakukan aktivitas terjadwal salama 7 hari partisipan dapat mengontrol halusinasi yang ditunjukan dengan tanda dan gejala halusinasi seperti menggerakkan bibir tanpa suara, tersenyum atau tertawa tidak sesuai, pergerakan mata cepat, respon verbal lambat, suka menyendiri, dan tidak bisa membedakan halusinasi dan realita sudah tidak nampak. Kesimpulan : Tindakan menghardik halusinasi dan melakukan aktivitas terjadwal dapat mengontrol halusinasi pendengaran yang dialami pasien. Saran : Intervensi ini bisa dijadikan salah satu terapi nonfarmakologi yang dilakukan oleh perawat untuk mengontrol halusinasi pendenaran pasien