Repository Poltekkes Kupang
Not a member yet
4410 research outputs found
Sort by
Inventarisasi Tanaman Obat Tradisional Dalam Pengobatan Wasir (Hemoroid) Oleh Masyarakat Di RT.005/RW.003 Kelurahan Teunbaun Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang
Wasir merupakan keadaan pelebaran pembuluh darah pada bagian anus yang terjadi karena konstipasi atau pola makan yang rendah serat (Indrayani et al., 2021). Inventarisasi tanaman berkhasiat obat adalah pencatatan tanaman berkhasiat obat. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Teunbaun. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mendapatkan data tanaman berkhasiat obat yang digunakan oleh Masyarakat kelurahan Teunbaun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan Teknik wawancara. Responden yang berhasil diwawancarai berjumlah 16 orang yakni terdiri dari responden laki-laki (25%) dan responden perempuan (75%) dengan karakteristik berusia 40-60 tahun. Tanaman yang berhasil di inventarisasi sebanyak 18 tanaman. Sumber perolehan tanaman yang dipakai Masyarakat yaitu ditanam sendiri dan diambil dari hutan. Rata-rata bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan baku obat adalah daun (73%), batang (3%), akar (11%), herba (7%), bunga (3%), dan buah (3%). Adapun cara pengolahan tanaman obat tradisional oleh Masyarakat Kelurahan Teunbaun yaitu dengan cara direbus (75%), dicampurkan (6%), dan dihaluskan (18%). Lama pemakaian tanaman obat tradisional digunakan selama selama 3 kali sehari 1 gelas pada saat sebelum makan digunakan hingga sembuh total
Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemeliharaan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Ibu Hamil Yang Berkunjung Di Puskemaskas Oebobo
Latar Belakang Kehamilan merupakan sebuah proses fisiologis yaitu proses yang menyebabkan terjadinya perubahan pada tubuh wanita. perubahan pada tubuh wanita meliputi anatomis, perubahan fisiologis, dan psikologis yang berkaitan dengan perubahan hormonal. Perubahan hormonal tidak hanya mempengaruhi kesehatan secara umum tetapi juga kesehatan sistem kekebalan tubuh dan mulut. Tujuan Penelitian Untuk mengetahutahui hubungan anatara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan gigi dan mulut pada ibu hamil yang berkunjung di Puskesmas Oebobo. Metode Penelitian yang akan digunakan adalah jenis peniliatan deskriptif, yaitu untuk mendeskripsikan atau mengambarkan suatu keadaan dalam suatu komunikasi atau yang terjadi di Puskesmas Oebobo. Metode ini bertujuan untuk melihat gambaran fenomena (termasuk kesehatan) yang terjadi suatu populasi tertentu. Hasil Penelitian Hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan gigi dan mulut di UPTD PKM Oebobo meliputi : pengetahuan tentang cara menyikat gigi, pola makan dan kontrol kesehatan gigi dengan persentase paling tertinggi adalah dengan kriteria baik dengan persentase 43%, ibu hamil mengetahui cara mejaga kesehatan gigi dan mulut dengan menyikat gigi, menjaga pola makan ,kontrol kesehatan gigi dan mulut sedangkan status kebersihan gigi dan mulut ibu hamil yang paling tertinggi dengan kriteria sedang 26,6 %. Kesimpilan Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan gigi dan mulut pada ibu hamil yang berkunjung di UPTD Puskesmas Oebobo, dapat disimpulkan : Pengetahuan ibu hamil tentang cara menyikat gigi baik (78%) dengan status kebersihan gigi dan mulut ibu hamil di UPTD Puskesmas Oebobo sedang (46%).Pengetahuan ibu hamil tentang pola makan baik (94%) dengan status kebersihan gigi dan mulut ibu hamil di UPTD Puskesmas Oebobo sedang (58%). Pengetahuanibu hamil tentang kontrol kesehatan gigi dan mulut baik (86%) dengan status kebersihan gigi dan mulut ibu hamil di UPTD Puskesmas Oebobo sedang (56%).
_______________________________________
Uji Aktivitas Antidiabetes Infusa Brokoli (Brassica oleracea var. italica) Terhadap Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus) Galur Wistar Yang Diinduksi Glukosa
Diabetes melitus adalah salah satu gangguan metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Diabetes melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat dari insufusuebsi fungsi insulin. Banyak tanamn yang berpotensi sebagai penurun kadar glukosa darah, salah satunya adalah tanaman brokoli (Brassica oleracea var. italica). Tujuana penelitian adalah mengetahui uji aktivitas antidiabetes infusa brokoli pada tikus putih jantan terhadap penurunan kadar glukosa darah. Metode penelitian yang digunakan untuk menentukan efek terapi adalah metode induksi. Sampel brokoli dapat bermanfaat untuk menurunkan kadar LDL dan mencegah terjadinya stres oksidatif pada jaringan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan sampel infusa dosis 25% b/v, dosis 50% b/v dan dosis 75% b/v. Hasil pengujian skrining fitokimia menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, serta terpenoid steroid pada brokoli. Perlakuan yang dilakukan dengan menggunakan kontrol positif metformin dan kontrol negatif Na Cmc. Simpulan infusa brokoli dengan dosis 25% b/v, dosis 50% b/v, dan dosis 75% b/v memberikan pengaruh terhadap penurunan kadar gula darah tikus yang diinduksi sukrosa. Pada infusa brokoli dengan dosis 25% b/v lebih optimal dari dosis 50% dan 75% yang diperkuat dengan uji statistik
Perbedaan Histologi Ginjal Mencit yang diinduksi Minuman Sopi Tradisional dengan yang diinduksi Vodka
Konsumsi alkohol yang berlebihan dalam jangka waktu yang panjang dapat merusak jaringan dan organ tubuh, salah satunya ginjal. Alkohol dapat merusak ginjal dengan produk sampingan metabolismenya berupa ROS (Reactive Oxygen Spesies), yaitu sebuah molekul reaktif yang dapat membentuk radikal bebas sehingga memicu kerusakan pada sel dan jaringan. Provinsi di Indonesia dengan prevalensi konsumsi minuman beralkohol tertinggi menurut Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018 yaitu Sulawesi Utara (16,0%), Nusa Tenggara Timur (15,6%), dan Bali (14,0%). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi alkohol terhadap perubahan histomorfologi ginjal mencit. Jenis minuman beralkohol yang digunakan adalah minuman tradisional khas Provinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu sopi dengan kadar alkohol sekitar 40-70% dan minuman beralkohol yang diproduksi pabrik, yaitu vodka dengan kadar alkohol 40%. Digunakan 27 ekor mencit yang dibagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol (KK) tidak diberi perlakuan, kelompok 1 (K1) yang diinduksi sopi 1 x 0,5 ml/hari, kelompok 2 (K2) yang diinduksi vodka 1 x 0,5 ml/hari. Parameter pengukurannya adalah ada tidaknya kerusakan pada glomerulus dan tubulus dengan menentukan banyaknya sel yang mengalami hipertrofi dan atrofi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian minuman sopi tradisional dan vodka dengan dosis 0,5 ml/hari selama 14 hari belum memberikan efek kerusakan pada ginjal
Uji Efektivitas Antidiabetes Infusa Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Pada Mencit Putih Jantan(Mus musculus L.) Dengan Metode Induksi Glukosa
Daun pandan wangi merupakan salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan di Nusa Tenggara Timur dan memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Salah satu khasiatnya yaitu sebagai obat untuk menurunkan kadar gula darah yang digunakan oleh masyarakat. Diabetes adalah peningkatan kadar gula didalam darah akibat tubuh tidak dapat memproduksi insulin secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antidiabetes dari pemberian infusa daun pandan wangi terhadap mencit putih jantan dan menentukan konsentrasi dari infusa daun pandan wangi pada mencit putih jantan. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, yang menggunakan hewan uji mencit putih jantan sebanyak 15 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan. Sebelum dilakukan perlakuan diukur kadar gula darah awal mencit dan diinduksi dengan glukosa sebanyak 1 ml. Kelompok pertama sebagai kontrol positif diberi metformin, kelompok kedua kontrol negatif diberi Na CMC, kelompok ketiga dan seterusnya diberikan infusa daun pandan wangi dengan konsentrasi 5%b/v, 10%b/v, dan 20%b/v. Pengukuran kadar gula darah dilakukan setlah 30 menit diinduksi dan mencit yang mengalami kenaikan kadar gula darah diberikan infusa daun pandan wangi konsentrasi 5%b/v, 10%b/v, dan 20%b/v, diukur penurunan kadar gula darah selama 2 jam tiap 30 menit. Hasil penelitian menggunakan uji Paired T Test dengan nilai P<0,05 Metformin ,000, Na CMC ,054, IDP 5% ,003, IDP 10%,013, IDP 20% ,006 dilanjutkan dengan uji One Way Anova dengan nilai P<0,05 untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas antidiabetes dan dilanjutkan uji LSD untuk membedakan adanya perbedaan yang bermakna. Simpulan penelitian ini menunjukan infusa daun pandan wangi memiliki aktivitas antidiabetes pada konsentrasi tertentu dan persentasi penurunan kadar gula darah paling besar yaitu konsentrasi 20%b/v
PROFIL KETEPATAN WAKTU PENGAMBILAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS OLEH PASIEN TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS OESAPA KOTA KUPANG
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi paru kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini menular dengan cepat pada orang yang rentan dengan daya tahan tubuh lemah dan apabila tidak segera diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga kematian. Ketepatan waktu pengambilan obat anti tuberkulosis adalah patuh atau taatnya penderita mengambil obat sesuai regiment OAT yang sudah ditentukan oleh dokter atau petugas medis. Kepatuhan minum obat merupakan salah satu faktor keberhasilan pengobatan tuberkulosisi. Tujuan peneltian ini untuk mengukur ketepatan waktu pengambilan obat anti tuberkulosis oleh pasien tuberkulosis di puskesmas Oesapa Kota Kupang. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif yaitu dengan mengumpulkan data penderita tuberkulosis tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil analisis terhadap 126 pasien diketahui bahwa terdapat 122 pasien (96,82%) yang tepat ambil obat dan 4 pasien (3,18%) yang tidak tepat ambil obat. Penderita TB di Puskesmas Oesapa paling banyak diderita oleh pasien jenis kelamin laki-laki yaitu berjumlah 64% dan perempuan berjumlah 36%. Sedangkan untuk usia pasien terbanyak pada usia 18-29 tahun berjumlah 50% sedangkan paling sedikit pada usia 73-83 yaitu berjumlah 1%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ketepatan waktu pengambilan obat antituberkulosis oleh pasien tuberkulosis sesuai dengan waktu yang ditentukan sebanyak 122 pasien (96,82%)
Gambaran Kadar Ureum Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Baktakte Kabupaten Kupang
Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan ke-lainan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. Pada penderita Diabetes mellitus tipe 2 terjadi suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektivitas biologis dari insulin, akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemia, oleh karena itu, ginjal tidak dapat menahan hiperglikemia, sehingga apabila terjadi hiperglikemia maka ginjal tidak bisa menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Adanya gangguan pada ginjal dapat mengakibatkan peningkatan ureum yang dibuang di dalam darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Gambaran kadar Ureum Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Batakte Kabupaten Kupang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional dengan teknik purposive random sampling dimana peneliti sudah mempunyai target individu dengan karakteristik yang sesuai dengan penelitian. Pemeriksaan ini dilakukan di Laboratorium Klinik Asa Kota Kupang dengan menggunakan alat BT 15i dengan metode kinetik enzimatik. Berdasarkan hasil penelitian dari 40 responden yang dilakukan pemeriksaan kadar ureum diperoleh hasil ureum tinggi sebanyak 5 orang (12%) dari 40 orang dengan distribusi ureum tinggi berdasarkan usia terbanyak dimiliki oleh pasien dengan rentang usia >65 tahun (8%), dengan jenis kelamin laki-laki (5%), dan lama menderita DM Tipe 2 selama >6 tahun (10%)
GAMBARAN C-REACTIVE PROTEIN (CRP) DAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUD Prof. Dr. W. Z. JOHANNES KUPANG
Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis ditandai dengan dengan meningkatnya kadar gula darah (hiperglikemia). C-Reactive Protein (CRP) merupakan salah satu protein fase akut yang berfungsi sebagai penanda (marker) inflamasi akut. Peningkatan kadar C-Reactive Protein (CRP) pada penderita diabetes disebabkan oleh adanya respon inflamasi akibat adanya komplikasi dari diabetes melitus. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui peningkatan dari kadar CRP pada penderita diabetes melitus dengan melihat kadar glukosa darah puasa, jenis kelamin, umur, dan tipe diabetes melitus. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian desktriptif observasional. Sampel yang didapat pada penelitian ini adalah 50 sampel. Spesimen serum dari sampel penelitian diperiksa glukosa darah puasa lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan CRP metode aglutinasi lateks. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan tentang Gambaran C-Reactive Protein (CRP) dan Kadar glukosa darah puasa pada penderita diabetes melitus, didapatkan 40 sampel (80%) non reaktif dan 10 sampel (20%) reaktif, dengan hasil reaktif terbanyak dilihat pada usia 19-59 tahun sebanyak 7 sampel (14%), yang dilihat dari jenis kelamin perempuan sebanyak 7 sampel (14%), dari kadar glukosa darah puasa tinggi sebanyak 5 sampel (10%), dan berdasarkan tipe diabetes melitus sebanyak 10 sampel (20%) diabetes melitus tipe 2. Adanya C-Reactive Protein (CRP) pada penderita diabetes melitus sebagai penanda adanya inflamasi akibat komplikasi diabetes melitus
PERBANDINGAN LAMANYA WAKTU PAPARAN ASAP OBAT NYAMUK TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI PARU MENCIT
Zat yang terkandung dalam obat nyamuk bila digunakan dalam jangka waktu lama dapat mempengaruhi dan menyebabkan kelainan pada organ tubuh manusia, salah satunya adalah paru-paru. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran histopatologi paru mencit dengan perbandingan lamanya waktu paparan asap obat nyamuk. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen sungguhan dengan jumlah 24 ekor mencit yang dibagi dalam 4 kelompok yakni P0 sebagai kontrol, P1, P2, dan P3 sebagai kelompok perlakuan (4 jam, 6 jam, dan 8 jam). Pembedahan dilakukan pada hari ke 30 untuk diamati secara makroskopis dan mikroskopis. Pengamatan makroskopis meliputi mengamati warna dan mengukur diameter paru. Secara makroskopis diketahui pada P0 memiliki warna merah muda dengan rerata diameter 5,972 mm; pada P1 memiliki warna merah dengan rerata diameter 7,388 mm; pada P2 memiliki warna merah dengan bercak coklat dengan diameter 7,972 mm; dan pada P3 memiliki warna merah dengan bercak putih dengan rerata diameter 9,33 mm. Pengamatan mikroskopis menggunakan parameter yang meliputi kongesti, inflamasi, dan nekrosis. Uji Kruskall Wallis menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada kongesti, inflamasi dan nekrosis dengan nilai signfikansi masing masing p=0,001; p=0,00; dan p=0,00. Uji Mann Whitney U pada kongesti menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kelompok P0 dan P2; P0 dan P3; P1 dan P2; P1 dan P3. Pada inflamasi menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kelompok P0 dan P2; P0 dan P3; P1 dan P2; P1 dan P3; P2 dan P3. Pada nekrosis menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara semua kelompok perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukan adanya perbedaan bermakna histopatologi paru mencit berdasarkan lamanya waktu paparan asap obat nyamuk
Pengalaman Karies Gigi Pada Anak Usia Dini Dan Kunjungan Anak Pada Fasilitas Kesehatan Gigi Pada Keluarga Kurang Mampu Di Paud Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa Kota Kupang
Latar Belakang : Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, dimulai dari perrmukaan gigi mulai dari email, dentin, dan meluas kearah pulpa. Karies dikarenakan berbagai sebab, diantaranya adalah karbohidrat, mirkoorganisme, dan air ludah, jika dibiarkan tidak diobati, penyakit ini dapat dapat menyebabkan rasa sakit, kehilangan gigi, dan infeksi prevalensi dan insiden karies gigi dalam suatu populasi dipengaruhi oleh sejumlah factor resiko seperti jenis kelamin, usia, status social ekonomi, pola diet dan kebiasaan menjaga kebersihan gigi dan mulut. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui gigi yang sudah ditambal (PTI) dan angka kunjungan anak ke fasilitas kesehatan pada anak usia dini di Paud Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Hasil Penelitian: Penelitian ini dilakukan di Paud Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa Kota Kupang, yang terdiri dari 3 Paud, dan melibatkan 45 orang anak. . Dari sejumblah anak paud di kelurahan Belo, data karies gigi dari masing-masing sekolah setelah dilakukan pemeriksaan adalah ada yang masih berada dalam kategori sangat tinggi yaitu 33% dan ada juga yang berada di kategori sangat tinggi yaitu 53% juga, sedangkan nilai PTI masing-masing anak adalah 0% atau tidak terdapat gigi yang ditambal, dan juga kunjungan anak pada fasilitas kesehatan gigi adlah 0% juga atau tidak pernah melakukan kunjungan ke fasilitas kesehatan gigi. Kesimpulan: Angka PTI dari semua anak Paud di Kelurahan Belo setelah di lakukan pemeriksaan tidak terdapat gigi yang ditambal atau nilai PTI nya 0%.Kunjungan anak pada fasilitas kesehatan tidak pernah dilakukan oleh orangtua, dikarenakan ekonomi orangtua yang kurang mampu sehingga mengakibatkan orangtua tidak pernah membawa anak ke fasilitas kesehatan gigi