Repository Poltekkes Kupang
Not a member yet
4410 research outputs found
Sort by
Efek Hepaprotektif Fraksi Air Daun Faloak (Sterculiaquadrifida R.Br) dengan Parameter Makro Patologi Pada Tikus Putih Jantan ( Rattus Norvegicus)
Salah satu tanaman yang digunakan secara tradisional adalah tanaman Faloak. Tanaman faloak banyak digunakan dalam pengobatan tradisional di Nusa Tenggara Timur. Daun faloak diduga memiliki efek hepatoprotektif berdasarkan kemampuannya sebagai antioksidan, yaitu salah satu mekanisme hepatoprotektif untuk melawan radikal bebas yang berkontribusi terhadap kerusakan jaringan hati. Penelitian ini bertujuan Untuk Mengetahui dosis fraksi daun faloak (Sterculia quadrifida R. Br.) yang efektif terhadap hepatoprotektor dengan parameter makropatologi pada organ hati pada tikus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang menggunakan hewan uji tikus putih jantan sebanyak 30 ekor yang dibagi dalam 6 kelompok perlakuan. Pada penelitian ini dilakukan penimbangan berat badan tikus pada hari ke 0 sampai hari ke-15 untuk mengetahui perubahan berat badan tikus yang terjadi. Hasil penimbangan berat badan tikus menunjukan bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan. kerusakan pada organ hati ini tidak ditemukan pada kelompok yang diberikan kurkumin, fraksi air daun faloak dosis 50mg/kgBB, 100mg/kg/BB, 200mg/KgBB tetapi ditemukan dalam kelompok kontrol CMC 1%. Fraksi air daun faloak dosis 50mg/kgBB, 100mg/kgBB, 200mg/kgBB secara makroskopik mampu melindungi kerusakan hati akibat pemberian paracetamol dosis toksik
GAMBARAN KADAR UREUM PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS BATAKTE KABUPATEN KUPANG
Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan kelainan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. Pada penderita Diabetes mellitus tipe 2 terjadi suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektivitas biologis dari insulin, akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemia, oleh karena itu, ginjal tidak dapat menahan hiperglikemia, sehingga apabila terjadi hiperglikemia maka ginjal tidak bisa menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Adanya gangguan pada ginjal dapat mengakibatkan peningkatan ureum yang dibuang di dalam darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Gambaran kadar Ureum Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Batakte Kabupaten Kupang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional dengan teknik purposive random sampling dimana peneliti sudah mempunyai target individu dengan karakteristik yang sesuai dengan penelitian. Pemeriksaan ini dilakukan di Laboratorium Klinik Asa Kota Kupang dengan menggunakan alat BT 15i dengan metode kinetik enzimatik. Berdasarkan hasil penelitian dari 40 responden yang dilakukan pemeriksaan kadar ureum diperoleh hasil ureum tinggi sebanyak 5 orang (12%) dari 40 orang dengan distribusi ureum tinggi berdasarkan usia terbanyak di-miliki oleh pasien dengan rentang usia >65 tahun (8%), dengan jenis kelamin laki-laki (5%), dan lama menderita DM Tipe 2 selama >6 tahun (10%)
Gambaran Perilaku Ibu dalam Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Balita yang Berisiko Stunting di Kelurahan Liliba
Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut balita itu penting untuk dijaga karena untuk menghindarkan balita dari rasa sakit yang dapat ditimbulkan seperti penyakit rongga mulut adalah sariawan, gigi berlubang, gusi berdarah, dan lainnya yang dapat menyebabkan balita kesulitan makan dan juga tidak mau makan, sehingga mempengaruhi gangguan pada gizi balita yang dapat menyebabkan balita mengalami stunting. Angka kejadian (prevalensi) stunting di Indonesia tergolong masih relatif tinggi yaitu sebesar 30,8%. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah 5 tahun) akibat dari kurang gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Perilaku mengenai kesehatan gigi dan mulut anak menjadi suatu keharusan bagi seorang ibu, karena seorang ibu adalah ujung tombak perkembangan anak. Peranan ibu dalam upaya pemeliharaan ksehatan gigi anak oleh ibu sangat diperlukan untuk membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan dan menyediakan fasilitas bagi anak agar kesehatan giginya dapat baik. Tujuan: mengetahui gambaran perilaku ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak balita yang berisiko stunting di kelurahan liliba. Manfaat: bagi ibu menambah dan memperluas wawasan pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi dan mulut khususnya untuk anak degan risiko stunting. Metode: jenis atau metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif yaitu untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak balita yang berisiko stunting di kelurahan liliba. Hasil Penelitian: Menunjukan bahwa distribusi frekuensi pengetahuan ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak balita yang berisiko stunting di kelurahan liliba persentase tertinggi adalah Tingkat pengetahuan kriteria kurang sebesar (38%). Distribusi frekuensi sikap ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak balita yang berisiko stunting di kelurahan liliba persentase tertinggi adalah sikap kriteria cukup sebesar (54%). Distribusi frekuensi tindakan ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak balita yang berisiko stunting di kelurahan liliba persentase tertinggi adalah tindakan kriteria cukup sebesar (54%). Kesimpulan: dari penelitian yang dilakukan pada ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada anak balita yang berisiko stunting pengetahuan kurang karena ibu belum memahami dengan baik informasi tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Sikap cukup karena walaupun pengetahuan kurang tapi ibu masih mau untuk menyiapkan sikat gigi khusus untuk anak dan mengantikan sikat gigi setiap 3-4 bulan sekali. Tindakan cukup karena walaupun pengetahuan kurang tapi ibu masih mau untuk membantu mengajari anak menyikat gigi
Tingkat Pengetahuan Anak-Anak Tentang Kesehatan Gigi Dan Mulut Dengan Kejadian Karies Di Panti Asuhan Katolik Sonaf Maneka Kupang
Latar Belakang : Kesehatan gigi dan mulut berpengaruh terhadap kehidupan termasuk fungsi utama adalah untuk berbicara, pengunyahan dan rasa percaya diri. Gigi yang tidak dipelihara dengan baik akan menimbulkan penyakit pada gigi yang diantaranya adalah karies gigi. Riset kesehatan dasar tahun 2018 menunjukan bahwa sebanyak 57,6% orang indonesia memiliki masalah gigi dan mulut dengan proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah karies gigi seabyak 45,3%. Angka anak-anak yang mengalami masalah gigi mencapai 93%, artinya hanya ada 7% anak-anak yang tidak mengalami masalah kesehatan gigi dan gigi. Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut sebaiknya diberikan sejak usia dini, karena pada usia dini anak mulai mengerti akan pentingnya kesehatan serta larangan yang harus dijauhi atau kebiasaan yang dapat mempengaruhi keadaan giginya. Tujuan Penelitian : Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Anak-anak Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut Dengan Kejadian Karies Di Panti Asuhan Sonaf Maneka Kupang. Metode Penelitian : yang digunakan adalah metode deskriptif. Hasil Penelitian : Diperoleh bahwa pengetahuan anak-anak tentang menyikat gigi yang baik dan benar memiliki kriteria baik dengan persentase 76.7% dengan kejadian karies kriteria sangat rendah dengan persentase 50.0%, pengetahuan anak-anak tentang makanan yang menyehatkan dan merusak gigi memiliki kriteria baik dengan persentase 93.3% dengan kejadian karies kriteria sangat rendah dengan persentase 53.3%, pengetahuan anak-anak tentang kontrol kesehatan gigi memiliki kriteria baik dengan persentase 70.0% dengan kejadian karies kriteria sangat rendah dengan persentase 53.3% dan pengetahuan anak-anak tentang karies gigi memiliki kriteria baik dengan persentase 56.7% dengan kejadian karies gigi kriteria sangat rendah dengan persentase 40.0%. Kesimpulan : Hasil ini menunjukan bahwa tingkat pengetahuan anak-anak tentang kesehatan gigi dan mulut dalam kriteria baik dengan memiliki kejadian karies tergolong kriteria sangat renda
KARYA TULIS ILMIAH GAMBARAN KEJADIAN GINGIVITIS DAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG GINGIVITIS PADA ANAK USIA 13-15 TAHUN DI SMP NEGERI 10 KOTA KUPANG TAHUN 2024
Latar belakang : Gingivitis merupakan penyakit peradangan pada jaringan gingiva
yang banyak diderita oleh masyarakat di Indonesia. Hasil survey WHO
menyebutkan bahwa hampir 90% penduduk di dunia terkena penyakit gingivitis dan
80% diantaranya paling banyak dibawah 12 tahun, sedangkan sisanya hampir 100%
dialami remaja berusia 14 tahun. Gingivitis adalah suatu kelainan berupa
peradangan pada gusi. Gingivitis bisa terjadi pada kondisi-kondisi tertentu seperti :
karang gigi (calculus), gigi yang berjejal (crowding), merokok, pembuatan gigi
tiruan yang buruk, leukimia, obat-obatan dan masalah hormonal juga mempunyai
peranan penting seperti kehamilan dan pubertas. Tujuan: penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui “Gambaran Kejadian Gingivitis Dan Tingkat Pengetahuan
Tentang Gingivitis Pada Anak Usia 13-15 Tahun di SMP Negeri 10 Kota Kupang
Tahun 2024”. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif,
dengan jumlah sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 74 orang. Hasil
penelitian: Gambaran kejadian gingivitis ditinjau dari : Tingkat keparahan
gingivitis terbanyak terdapat pada kriteria ringan yaitu 54,2% (39 orang), kelompok
usia yang menderita gingivitis terbanyak terdapat pada usia 14 tahun 69,5% (50
orang) dan jenis kelamin terbanyak yang menderita gingivitis terdapat pada jenis
kelamin perempuan 57% (41 orang). Sedangkan gambaran tingkat pengetahuan
anak usia 13-15 tahun tentang gingivitis ditinjau dari : tingkat pengetahuan anak
usia 13-15 tahun berada pada kategori baik yaitu 54,2% (39 orang), kelompok usia
yang memiliki tingkat pengetahuan terbanyak berada pada usia 14 tahun 41,7% (30
orang) dan jenis kelamin yang memiliki tingkat pengetahuan tentang gingivitis
terbanyak terdapat pada jenis kelamin perempuan 36,1% (26 orang). Kesimpulan:
Gambaran kejadian gingivitis pada anak usia 13-15 tahun di SMP Negeri 10 Kota
Kupang berada pada kriteria ringan yaitu sebanyak 54,2% (39 orang), sedangkan
gambaran tingkat pengetahuan tentang gingivitis berada pada kriteria baik yaitu
sebanyak 54,2% (39 orang). Saran: Diharapkan anak-anak untuk bisa lebih
menjaga dan memperhatikan kesehatan gigi dan mulutnya agar tidak mengalami
penyakit gigi dan mulut khususnya gingiviti
TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG MEROKOK TERHADAP STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT
Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut adalah hal yang sangat berpengaruh dalam mendukung perilaku guna menjaga kebersihan dan juga kesehatan gigi dan mulut. Bertambahnya pengetahuan seseorang dapat mempengaruhi kapabilitas orang tersebut dalam menyerap dan merespon informasi, semakin meningkat pengetahuan seseorang maka kemampuan untuk memiliki sikap dan perilaku akan semakin baik, pengetahuan yang baik dapat berakibat pada perilaku yang sehat, sebaliknya minim pengetahuan menjadi faktor timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut. Kebersihan gigi dan mulut adalah suatu keadaan dimana gigi geligi yang berada di dalam rongga mulut dalam keadaan yang bersih, bebas dari plak, dan kotoran lain yang berada di atas permukaan gigi seperti debris, karang gigi, dan sisa makanan serta tidak tercium bau busuk dalam mulut.
Untuk mengetahui “Tingkat pengetahuan masyarakat tentang merokok terhadap status kebersihan gigi dan mulut di Kelurahan Liliba RT 21 RW 11’’.
Jenis atau metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yaitu untuk mendapatkan gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan yang ada hubungannya dengan masalah yang di teliti yakni Tingkat Pengetahuan masyarakat Tentang merokok terghadap status kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) di kelurahan liliba RT 21 RW 11. Dengan sampel berjumlah 30 orang. Instrument yang di gunakan adalah kuisioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat dan format pemeriksaan OHI-S untuk mengetahui kebersihan gigi dan mulut.
Dari hasil penelitian yang di lakukan di masyarakat kelurahan liliba RT 21 RW 11 tentang Tingkat pengetahuan masyarakat perokok dengan status kebersihan gigi dan mulut di kelurahan liliba RT 21 RW 11 menunjukan bahwa tingkat pengetahuan dengan status kebersihan gigi dan mulut kategori sedang cenderung memiliki pengetahuan sedang (43,33%) dan kurang (20%).
Ada hubungan antara pengetahuan dan ststus kebersihan gigi dan mulut semakin kurang pengetahuan maka semakin buruk ststus kebersihan gigi dan mulut
Studi Higiene Sanitasi Rumah Makan Padang Di Kota Kupang Tahun 2024
Penerapan higiene sanitasi pada pengolahan pangan sangat penting dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit karena pangan. Salah satu penerapan higiene sanitasi yang perlu diperhatikan adalah rumah makan padang karena rentang waktu pengolahan cukup panjang dan makanan yang diperdagangkan dilakukan secara siap saji, sehingga perlu diperhatikan pengolahan pangan, penyimpanan pangan dan penjamah pangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui higiene sanitasi rumah makan padang di Kota Kupang tahun 2024. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional. Variabel dalam penelitian adalah area luar, area pelayanan konsumen, area dapur/penyiapan pangan, pemilihan dan penyimpanan bahan pangan, persiapan dan pengolahan/pemasakan pangan, penjamah pangan, peralatan, penyajian pangan matang dan pengemasan pangan matang. Sampel dalam penelitian ini adalah 15 rumah makan padang yang di ambil secara langsung dengan menggunakan form IKL. Analisa data secara deskriptif yaitu membandingkan dengan standar yaitu jika ≤ 80 maka memenuhi syarat dan 600C dan suhu dingin <50C dan selalu menggunakan alat pelindung diri
GAMBARAN INFEKSI KECACINGANSOIL TRANSMITTED HELMINTH (STH) PADA ANAK USIA 6-10 TAHUN DI SD GMIT OEKONA, DESA OENIF, KECAMATAN NEKAMESE, KABUPATEN KUPANG
Penyakit cacingan merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing atau
parasit yang menginfeksi saluran pencernaan danmenempel pada dinding usus.
Terdapat dua jenis cacing usus yaitu Soil transmitted helminth (cacing yang ditularkan
melalui tanah), dan non-soil transmitted helminth (cacing yang tidak ditularkan melalui
tanah). Terdapat empat jenis Soil transmitted helminthyang sering ditemukan dalam
tubuh manusia dan dapat menimbulkaninfeksi, yaitu cacing gelang (Ascaris
lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Ancylostoma
duodenale dan Necator americanus), sedangkan yang termasuk jenis non-soil
transmitted helminth yaitu Enterobius vermicularis dan Strongyloides stercoralis.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui angka kejadian infeksi kecacingan Soil
transmitted helminth(STH), serta hygiene perorangan, dan sanitasi lingkungan
padaAnak Usia 6-10 Tahun di SD GMIT Oekona, Desa Oenif, Kecamatan Nekamese,
Kabupaten Kupang.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif.
Populasi pada penelitian ini adalah semua anak usia 6-10 tahun di SD GMIT Oekona,
Desa Oenif, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, dengan jumlah sampel 40
siswa yang bersedia disampling. Data dikumpulkan menggunakan kuisioner kemudian
dianalisis menggunakan analisis univariat. Berdasarkan hasil pemeriksaan secara
langsung dengan mikroskop diperoleh hasil negatif karena tidak ditemukan adanya
telur cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan Hookworm. Hygiene
perorangan yang beresiko terjadinya infeksi kecacinganSoil transmitted
helminth(STH), yaitu kebiasaan mencuci tangandengan sabun (20%), kebiasaan
menggunakan alas kaki (27,5), kebiasaan memotong kuku (20%), kebiasaan bermain
ditanah (17,5%), Kebiasaan Buang Air Besar(BAB) dijamban (7,5%).Sanitasi
lingkungan yang beresiko terjadinya infeksi kecacingan Soil transmitted
helminth(STH), yaitu ketersediaan WC/jamban (7,5%), ketersediaan air bersih (20%),
ketersediaan tempat sampah (37,5%), kondisi lantai rumah (25%
ALASAN MASYARAKAT TIDAK MENGGUNAKAN BPJS UNTUK KESEHATAN MULUT
Latar Belakang: Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan
hidup seseorang, salah satunya adalah kesehatan gigi dan mulut. Masyarakat Nusa
Tenggara Timur (NTT) masih sangat sedikit yang mengunjungi fasilitas kesehatan
menggunakan BPJS. Masyarakat yang mengunjungi dokter gigi hanya 5,1% dan
sebanyak 42,9% masyarakat melakukan pengobatan gigi sendiri. Hampir seluruh
masyarakat (9,2%) tidak pernah berobat ke tenaga medis gigi. Tujuan : Untuk
mengetahui alasan masyarakat tidak menggunakan BPJS untuk keehatan mulut.
Metode : Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif kuantitatif. Metode penelitian deskriptif kuantitatif merupakan salah satu
jenis penelitian yang tujuannya menggambarkan jumlah orang yang memberikan
respon atau pendapat tentang alasan masyarakat tidak menggunakan BPJS untuk
Kesehatan mulut. Hasil Penelitian : Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa
persentase alasan masyarakat tidak menggunakan BPJS untuk kesehatan mulut
paling tertinggi sebanyak 17 responden (65,4%). Hal ini menunjukan bahwa
sebagian besar responden menyatakan bahwa waktu tunggu untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan mulut dari BPJS kesehatan terlalu lama. Kesimpulan :
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan alasan masyarakat tidak
menggunakan BPJS untuk kesehatan mulut paling tertinggi sebanyak 17 responden
(65,4%) dengn alasan waktu tunggu terlalu lama
PERAN IBU DALAM PEMELIHARAAN KEBERSIHAN GIGI ANAK
Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan
jasmani yang tidak bisa dipisahkan satu dan yang lainnya. Kesehatan gigi dan mulut
yang terganggu bisa menjadi tanda atau bahkan menjadi faktor timbulnya gangguan
kesehatan yang lain. Peran ibu sangat diperlukan dalam membentuk perilaku anak,
misalnya membimbing memberikan pengertian, mengingatkan dan menyediakan
fasilitas kepada anak agar anak dapat memelihara kebersihan gigi dan mulutnya.
Tujuan: Untuk mengetahui apa peran ibu dalam pemeliharaan kebersihan gigi
anak. Metode: Jenis penelitian di gunakan adalah deskriptif kuantitatif, metode
penelitian deskriptif kuantitatif ini adalah salah satu jenis metode yang tujuannya
untuk mendeskripsikan peran ibu dalam pemeliharaan Kesehatan gigi dan mulut
terhadap kebersihan gigi anak. Hasil: Berdasarkan penelitian yang dilakukan
menunjukkan bahwa peran ibu dalam membimbing anak menyikat gigi paling
tinggi sebanyak 52 responden (94,45%), peran ibu dalam menjaga pola makan anak
paling tinggi sebanyak 53 responden (96,3%), peran ibu dalam mengontrol
kesehatan gigi anak paling tinggi sebanyak 53 responden (96,3%). Kesimpulan:
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa peran ibu dalam
pemeliharaan kebersihan gigi anak tergolong tidak baik. Hal ini dikarenakan bahwa
sebagian ibu tidak membimbing anak untuk menyikat gigi, tidak menjaga pola
makan anak dan tidak pernah mengontrol kesehatan gigi anak