Repository Poltekkes Kupang
Not a member yet
4410 research outputs found
Sort by
Hubungan Body Image, Kebiasaan Makan, Dan Durasi Tidur Dengan Status Gizi Remaja Usia 15-18 Tahun Di SMA Negeri 6 Kota Kupang
Latar Belakang : Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa remaja ditandai dengan pubertas dalam perubahan fisik lebih cepat akibat dari hormonal. Masa remaja adalah masa perkembangan yang dimulai pada usia 10 sampai 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun sampai 22 tahun. Remaja sangat memperhatikan body imagenya terutama pada bentuk tubuh yang salah satu gambaran suatu masalah gizi pada remajaterutama pada remaja putri. Body image adalah persepsi, pikiran dan perasaan seseorang tentang bentuk dan ukuran tubuhnya. Kebiasaan makan berdasarkan jenis, jumlah dan frekuensi makanan yang dikonsumsi sehari-hari, masalah kebiasaan makan yang tidak sehat sering terjadi pada remaja. Kesehatan fisik seseorang dipengaruhi oleh istirahat atau tidur. Tidur dikatakan baik bukan hanya dapat memulihkan energi sebagai bentuk keseimbangan dinamis dalam aktivitas sehari-hari,tetapi juga memiliki peranan pada perkembangan mental dan psikologis. Tujuan Penelitian : Menganalisis hubungan body image, kebiasaan makan, dan durasi tidur dengan status gizi remaja usia 15-18 tahunm di SMA Negeri 6 Kota Kupang.
Metode Penelitian : Penelitian ini mengunakan penelitian kuantitatif dengan desai cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 110 orang. Yang dilakukan di SMA Negeri 6 Kota Kupang, pada bulan Maret sampai Mei 2024 dengan menggunakan uji chi square. Hasil : Hasil penelitian menunjukan bahwa siswa/siswi yang mempunyai body image negatif sebanyak 27 orang (24,3 %), positif sebanyak 83 orang (74,8 %). kebiasaan makan yang dimiliki siswa/siswi dalam kategori baik 67 orang (60,4 %), cukup 28 orang (25,2 %) dan kurang sebanyak 15 orang (13,5 %). Durasi tidur siswa/siswi yang mempunyai durasi tidur dengan kategori baik 106 orang (95,5 %) dan buruk sebanyak 4 orang (3,6 %). Status gizi siswa/siswi dalam kategori berat badan kurang sebanyak 31 orang (27,9 %), berat badan lebih sebanyak 3 orang (2,7 %), normal sebanyak 73 orang (66,7%) dan obesitas sebanyak 3 orang (2,7 %). Hasil analisis dengan fisher exact menunjukan tidak ada hubungan antara body image (p=0,488), kebiasaan makan (p=0,445), durasi tidur (p=0,663) dengan status gizi. Kesimpulan : Berdasarkan uji fisher exact di dapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara body image, kebiasaan makan dan durasi tidur dengan status gizi pada remaja
EFEK HEPAPROTEKTIF FRAKSI AIR DAUN FALOAK (Sterculia Quadrifida R.Br) DENGAN PARAMETER TOTAL PROTEIN PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus.) YANG DIINDUKSI PARACETAMOL
Tanaman faloak (Sterculia quadrifida R.Br) merupakan tanaman khas Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat salah satunya untuk menyembuhkan gangguan fungsi hati. Pengambilan kulit pohon faloak yang dilakukan masyarakat sering kali melebihi kemampuan regenerasi kulit pohon sehingga berakibat kematian pohon. Metabolit sekunder dari batang sama dengan daun faloak yang dapat berperan sebagai hepatoprotektor atau pelindung kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hepaprotektif dan dosis efektif fraksi air daun faloak pada tikus dengan parameter kadar total protein. Dalam penelitian ini menggunakan 6 kelompok tikus putih jantan galur wistar dengan perlakuan kelompok normal, kelompok positif (kurkumin 3,6mg/kg BB), kelompok negatif (Na-CMC 1 %), dan 3 kelompok perlakuan fraksi air daun faloak dosis 50mg/kgBB, 100mg/kgBB, 200mg/kgBB selama 14 hari secara oral. Pada hari ke-8, semua kelompok di induksi parasetamol 900 mg/kgBB kecuali kelompok kontrol normal yang tidak diberi perlakuan apapun. Hasil kadar total protein kemudian dianalisis dengan SPSS. Penelitian ini menunjukan bahwa setiap kelompok perlakukan tidak memiliki perbedaan secara signifikan karena nilai sig yang diperoleh sebesar 0,657 (p>0.05). Fraksi air daun faloak secara statistik tidak mempengaruhi kadar total protein pada hewan yang diinduksi parasetamol dosis toksik selama 7 hari
Efektivitas Pemberian Jus Labu Siam (Sechium edule) Terhadap Penurunan Tekanan Darah Lansia dengan Hipertensi Berbasis Asuhan Keperawatan di Panti Sosial Budi Agung Kupang, Kota Kupang
Latar Belakang: Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah di atas batas normal, yaitu lebih dari 140/ 90 mmHg. Hipertensi dapat dicegah dengan pengobatan secara medis dan non medis Untuk pengobatan non medis dapat menggunakan jus labu siam, karena mengandung kalium, flavonoid dan alkaloid yang dapat menurunkan tekanan darah. Tujuan penelitian: untuk mengetahui efektifitas pemberian jus labu siam terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi berbasis asuhan keperawatan di Panti Werdha Budi Agung Kupang. Metode Penelitian: Rancangan yang digunakan dalam karya ilmiah akhir ini adalah metode deskriptif dalam bentuk studi kasus. Subjek penelitian ini melibatkan 2 responden. Hasil: Waktu pengambilan kasus 24-27 Juli 2024. Cara penelitian ini dengan memberikan terapi jus labu siam selama 3 hari, dilakukan pengecekan tekanan darah setiap sebelum diberikan jus labu siam, didapatkan hasil bahwa pemberian jus labu siam secara rutin dapat berdampak terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi.
Kesimpulan: Pemberian terapi jus labu siam selama 3 hari efektif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan tekanan darah tinggi.Saran: Pada lansia tetap memgkonsmsi jus labu siam dalam menurunkan tekanan darah
Efektifitas Edukasi Ibu Anak Balita Tentang Stimulasi Perkembangan Anak Terhadap Penerapan Stimulasi Anak Dengan Gangguan Perkembangan Di Puskesmas Oesapa
Latar belakang: Stimulasi (ASAH) adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6 tahun agar anak berkembang secara optimal, setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Otak anak yang berkembang sangat pesat mengandung sekitar 100 milyar neuron, menghasilkan bertrilyun-trilyun sambungan antar neuron yang banyaknya melebihi kebutuhan, sambungan tersebut harus diperkuat melalui berbagai rangsangan (stimulasi). Tujuan: Agar orang tua mengetahui cara menstimulasi anak dalam perkembangan anak. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan menggunakan pendekataan studi kasus yaitu mengaplikasikan langsung proses keperawatan yang mencakup pengkajian satu unit penelitian secara intensif misalnya keluarga, kelompok, komunitas atau institusi. Subjek: Penelitian ini sebanyak dua orang ibu dengan anak balita. Hasil: Penelitian ini menunjukan hasil banwa pengetahuan ibu tentang cara menstimulasi anak meningkat. Kesimpulan: Berdasarkan analisa data dan pembahasan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan tentang gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang penerapan stimulasi perkembangan anak menarik kesimpulan, Sebagian kecil dari ibu-ibu memiliki tingkat pengetahuan kurang baik tentang penerapan stimulas
Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu Dan Asupan Zat Gizi Makro Dengan Kejadian Gizi Kurang Pada Balita Usia 0-59 Bulan Di Kelurahan Kelapa Lima Kota Kupang
Latar Belakang : Gizi kurang merupakan masalah kesehatan yang berdampak negatif pada kualitas sumber daya manusia. Pengetahuan gizi ibu dan asupan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak sangat berperan dalam status gizi balita.
Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi ibu dan asupan zat gizi makro dengan kejadian gizi kurang pada balita usia 0-59 bulan di Kelurahan Kelapa Lima, Kota Kupang.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan dilaksanakan di Kelurahan Kelapa Lima dari April hingga Juni 2024. Populasi penelitian ini adalah 80 balita dengan sampel diambil secara total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dan food recall 3x24 jam, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square.
Hasil : Hasil penelitian menunjukan terdapat 66 ibu (94,3%) memiliki pengetahuan gizi yang baik, namun tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan gizi ibu dengan kejadian gizi kurang (p=0,62). Asupan protein lebih (58,6%), lemak cukup (81,4%), dan karbohidrat lebih (47,1%) juga tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian gizi kurang (protein p=0,89, lemak p=0,77, karbohidrat p=0,40). Sebanyak 57 balita (81,4%) mengalami gizi kurang.
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi ibu dan asupan zat gizi makro dengan kejadian gizi kurang pada balita usia 0-59 bulan di Kelurahan Kelapa Lima, Kota Kupang
Gambaran Persiapan Dan Pengolahan Makanan Lunak Sumber Protein Di Instalasi Gizi RSUD PROF. DR. W. Z. Johannes Kupang
Alexia Oa Kumanireng “Gambaran Persiapan dan Pengolahan Makanan Lunak Sumber Protein di Instalasii Gizi RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang” Dibimbing oleh Maria Helena Dua Nita, SST., M.Gizi
Latar Belakang : Penyelenggaraan makanan di rumah sakit merupakan serangkaian proses kegiatan yang dimulai dari perencanaan menu sampai dengan penyajian makanan.persiapan dan pengolahan bahan makanan merupakan subsistem dari penyelenggaraan makanan institusi. Persiapan bahan makanan merupakan kegiatan mempersiapkan bahan makanan yang siap untuk diolah, sedangkan pengolahan makanan merupakan suatu kegiatan mengubah atau memasak bahan makanan mentah menjadi makanan yang siap untuk dimakan, berkualitas, dan aman untuk dikonsumsi. Tujuan dari pengolahan makanan yaitu untuk mengurangi resiko kehilangan zat gizi, meningkatkan nilai cerna, mempertahankan warna, rasa, tekstur, dan penampilan , serta bebas dari organisme dan zat berbahaya bagi tubuh.
Tujuan Penelitian : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran persiapan dan pengolahan makanan lunak sumber protein di Instalasi Gizi RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang.
Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif observasional dengan menggunakan desain penelitian crossectional untuk mengamati dan menggambarkan persiapan dan pengolahan makanan lunak sumber protein yaitu menu lauk hewani dan lauk nabati di Instalasi Gizi RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang.
Hasil : Berdasarkan hasil penelitian bahwa ketersediaan bahan makanan dapat mempengaruhi kesesuaian menu yang berlaku sehingga selama lima hari pengamatan 70% sudah sesuai dengan siklus menu yang berlaku sedangakan 30% tidak sesuai. Perersiapan bahan makanan dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku dirumah sakit. Pengolahan makanan dilakukan sesuai dengan standar bumbu dan standar resep rumah sakit. Dalam kegiatan persiapan dan pengolahan makanan menggunakan peralatan yang bersih dan dalam keadaan baik atau tidak cacat. Sedangkan untuk higene tenaga penjamah makanan 100% tidak sesuai karena dalam menjamah makanan sebagian besar para petugas menggunakan APD seperti celemek, korpus, masker, dan alas kaki yang aman tetapi tidak menggunakan sarung tangan dan penjepit makanan pada saat menjamah makanan.
Kata kunci : Persiapan, Pengolahan, Makanan Lunak, Sumber Protei
Gambaran Cara Pengolahan Menu Protein Pada Pasien Diruangan Anak RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang
Latar Belakang : Penyelenggaraan makanan rumah sakit melibatkan serangkaian kegiatan yang mencakup perencanaan menu, perencanaan kebutuhan pangan, perencanaan anggaran, pengadaan bahan, penerimaan dan penyimpanan bahan, proses pemasakan bahan, pendistribusian dan pencatatan, serta pelaporan dan evaluasi. Protein merupakan salah satu jenis makronutrien yang memiliki komponen penting yang tidak dapat diabaikan. Anak-anak memiliki kebutuhan yang lebih tinggi (0,92-1,02 g/kgBB/hari) dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua.
Tujuan Penelitian : Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian deskritif dimana hasil penelitian diambil di Instalasi Gizi Di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang.
Hasil : Berdasarkan hasil pengamatan di Instalasi Gizi Di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang bahan makanan protein untuk TKTP yang diolah menggunakan teknik mengukus (boiling) terlebih dahulu yaitu rolade tahu dan bakso daging setelah itu baru ditumis. Sedangkan yang diolah menggunakan teknik menggoreng (deep frying) yaitu, sambal goreng tempe, ikan tim bumbu bawang, ayam kecap, tumis tahu saos tomat, perkedel ikan, ayam goreng, dan tempe bumbu tomat, sedangkan teknik stewing yaitu ikan bumbu acar dan umtuk teknik braising yaitu opor tempe.
Kesimpulan : Menu protein di Instalasi Gizi RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang yaitu untuk protein hewani ada Ikan bumbu acar, Sosis telur, Ikan tim bumbu bawang, Ayam kecap, Perkedel ikan, Ayam goreng, Bakso daging. Ada pula menu protein nabati yaitu Sambal goreng tempe + kacang tanah, Kukus rolade tahu, Opor tempe, Tumis tahu saos tomat, Tempe bacem, Tahu saos tomat, Tempe bumbu tomat. Teknik pengolahan menu protein di Instalasi Gizi RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang menggugunakan teknik pengolahan boiling, deep frying, stewing dan braising. Alat yang digunakan untuk pengolahan snack di Instalasi Gizi RSUD Prof. dr. W. Z. Johannes Kupang yaitu steamer, whisking bowl, wajan/kuali, sutel, saringan, kompor gas, dimana alat yang digunakan tersebut terbuat bahan stainlees stell yang mempunyai daya tahan pada suhu yang tinggi, tidak muda berkarat dan tidak beracun, sehingga alat-alat pengolahan tersebut tidak berpengaru pada bahan makanan yang akan diola
Efektivitas Pemberian Ekstrak Kelor Timor (Moringa Oleifera) Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus
Diabetes merupakan salah satu penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat. Berbagai metode pengobatan ditawarkan untuk penyembuhan, mulai dari pengobatan secara medis maupun pengobatan non-medis menggunakan herbal. Berbagai komplikasi dapat ditimbulkan akibat diabetes diantaranya penurunan fungsi ginjal, kerusakan saraf, kebutaan, bahkan harus di amputasi. Mengingat bahaya dari penyakit diabetes ini maka telah diperkenalkan tentang penggunaan ekstrak kelor timor (moringa oleifera) untuk menurunkan kadar gula darah. Tahap penelitian ini meliputi pemberian ekstrak kelor timor (moringa oleifera) untuk menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus di wilayah kerja puskesmas Sikumana Kota Kupang. Responden penelitian ini adalah 2 responden. Responden diukur kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam PP kemudian diberikan perlakuan dengan pemberian ekstrak kelor timor (moringa oleifera) 2 kali sehari setelah makan selama tiga hari. Setelah itu dilakukan pengukuran kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam PP. Hasil penelitian menunjukan pemberian ekstrak kelor timor (moringa oleifera) selama tiga hari, efektiv untuk menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus
Efek Pemberian Madu (Apis Dorsata) Dalam Tindakan Oral Hygiene Terhadap Penyembuhan Mukositis Pasien Post Kemoterapi Kanker Payudara Di Wilayah Kerja Puskesmas Bakunase
Latar belakang : Mukositis adalah salah satu efek samping kemoterapi yang sering terjadi. Diperkirakan angka kejadian mukositis pada populasi penderita kanker mencapai 30%-80%. Oral hygiene dilakukan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut. Salah satu oral hygiene yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan mukositis adalah oral hygiene menggunakan madu (Apis Dorsata). Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi efek madu (Apis Dorsata) terhadap penyembuhan mukositis pasien post kemoterapi kanker payudara Metode: Penelitian ini adalah studi kasus menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Subjek penelitian adalah seorang pasien kanker payudara post kemoterapi yang mengalami mukositis skala 3 dengan tindakan oral hygiene menggunakan madu (Apis Dorsata) sebanyak 15 cc sebagai agen topikal dioleskan langsung pada daerah mukositis dan madu (Apis Dorsata) 20 cc sebagai cairan untuk berkumur yang telah diencer dengan air 50 cc dilakukan setelah makan pagi, siang, dan malam berturut-turut selama 3 hari, dan dievaluasi hasilnya setiap hari menggunakan pedoman wawancara untuk menggambarkan keluhan dan lembar observasi untuk menilai skala mukositis. Analisis data dilakukan secara tekstual naratif dan kuantitatif tentang perubahan skala mukositis yang terdiri skala 1-4. Hasil : Hasil analisis menunjukan terdapat penurunan skala mukositis dari skala 3 ke skala 2. Kesimpulan : Pemberian madu ( Apis Dorsata ) dalam tindakan oral hygiene dapat menurunkan skala mukositis akibat efek kemoterapi. Saran: Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dalam protokol oral hygiene pada pasien yang mengalami mukositis sebagai efek kemoterapi
Pemberian Terapi Oksigen Nasal Kanul Terhadap Saturasi Oksigen Pada Pasien Pneumonia Di RSUD PROF. DR. W.Z Johannes Kupang
Latar belakang oksigen tergolong kebutuhan dasar manusia yang bersifat vital. Oksigen dapat diperoleh melalui proses pernapasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan saturasi oksigen pada pasien yang diberikan terapi oksigen nasal kanul di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes
Kupang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus
dengan desain penelitian studi kasus deskriptif. Subjek penelitian adalah 2 orang pasien pneumonia yang ditetapkan berdasarkan kritria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian yang di peroleh, ada perbedaan sebelum dan sesuadah pemasangan oksigen nasal kanul dalam meningkatkan saturasi oksigen. Pada pasien An. G.P, sebelum terpasang oksigen nasal kanul, SPO2 95%, dan setelah terpasang oksigen nasal
kanul hari pertama SPO2 menjadi 97%, hari kedua SPO2 98-99%, dan hari ketiga SPO2 99-100%, An. G.P mendapatkan oksigen 2 lpm. Pada pasien An. A.N, sebelum terpasang oksigen nasal kanul SPO2 94%, setelah terpasang oksigen nasal kanul hari pertama SPO2 menjadi 96-97%, hari kedua SPO2 99%, dan hari ketiga SPO2 99%, An. A.N mendapatkan oksigen 2 lpm. Simpulan penelitian ini, pemberian terapi oksigen nasal kanul berhasil atau efektif dalam meningkatkan saturasi oksigen