Badan Tenaga Nuklir Nasional: Jurnal BATAN
Not a member yet
    4187 research outputs found

    Postur Kerja Pekerja Pengelolaan Limbah Radioaktif Padat di Instalasi Nuklir X : Potensi Risiko dan Rekomendasi Pengendalian

    Full text link
    Pengelolaan limbah radioaktif padat termasuk kegiatan yang melibatkan aktivitas manual yang memiliki risiko ergonomi dan dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada pekerjaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kesalahan postur kerja pekerja radiasi saat pengelolaan limbah radioaktif padat di instalasi nuklir X dan merekomendasikan pengendalian untuk mengurangi risiko terjadinya MSDs. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengukur risiko ergonomi adalah Quick Exposure Check sedangkan keluhan MSDs menggunakan Nordic Body Map. Metode analisis yang digunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi-Square dan rekomendasi postur kerja digambarkan dengan software CATIA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja mengalami keluhan MSDs sebesar 90% dengan keluhan tertinggi pada pinggang (28,57%), lengan kiri atas (17,86%), leher bawah, bahu kanan dan kiri, punggung, lutut kanan dan kiri (14,29%) dan tangan kanan (10,71%). Tingkat risiko ergonomi dengan kategori tinggi sebanyak 6 orang (60%) dan kategori sangat tinggi sebanyak 4 orang (40%). Potensi risiko ergonomi memiliki hubungan signifikan terhadap keluhan MSDs (P-value = 0,002) sedangkan jenis kelamin (P-value = 0,197), usia (P-value = 0,240), masa kerja (P-value = 0,240) dan indeks massa tubuh (P-value = 0,778) tidak memiliki hubungan signifikan dengan keluhan MSDs. Rekomendasi pengendalian dengan perbaikan postur kerja, perbaikan stasiun kerja dan penambahan alat bantu kerja

    Kemajuan Genetik dan Heritabilitas Pada Populasi F2 dari Turunan Mutasi Padi Rojolele

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman yang muncul pada populasi padi F2 dari hasil persilangan antara induk tanaman mutan (padi lokal: Rojolele) dengan tanaman mutan (padi hasil iradiasi: Rojolele Srinar dan Rojolele Sriten), dan menghitung nilai heritabilitas serta kemajuan genetik populasi F2 hasil persilangan R. Srinar dengan Rojolele (SIR) dan R. Sriten dengan Rojolele (SER). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juli 2021 di rumah kaca dan lahan percobaan Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi, Jakarta. Dua populasi F2 hasil persilangan SIR dan SER, dan tiga induk persilangan digunakan dalam penelitian ini. Secara berurutan, sebanyak 221 dan 204 sampel tanaman SIR dan SER, dan sebanyak 16 tanaman yang mewakili masing-masing induk. Penelitian ini menggunakan analisis skewness dan kurtosis untuk melihat pendugaan aksi gen dan jumlah gen pada populasi F2 persilangan SIR dan SER untuk 5 (lima) karakter, yaitu umur berbunga, tinggi tanaman, panjang malai, panjang daun bendera, dan jumlah anakan. Umur berbunga pada F2 persilangan SIR diduga terdapat aksi gen epistatis komplementer dan melibatkan banyak gen, sedangkan pada karakter lainnya dikendalikan sedikit gen dengan beberapa variasi aksi gen. Kemudian, pada F2 persilangan SER hanya pada jumlah anakan yang dikendalikan oleh banyak gen dengan aksi gen Aditif. Untuk nilai ragam genotipe dan fenotipe pada populasi F2 hasil persilangan SIR dan SER ditemukan nilai yang tinggi sehingga dikategorikan memiliki keragaman yang luas. Kelima karakter agronomi populasi F2 persilangan SIR menunjukkan rentang nilai antara 77,91 sampai 96,73 yang termasuk kriteria heritabilitas tinggi. Kritera yang sama juga ditemukan pada persilangan SER dengan rentang 71,58 sampai 99,36. Lebih lanjut, pada persentase kemajuan genetik (KG), semua termasuk berkriteria tinggi, kecuali pada umur berbunga pada F2 SIR, sedangkan KG populasi F2 SER semua karakter tergolong KG sedang kecuali pada karakter panjang daun bendera dan jumlah anakan

    Volcanic Ash Fall Hazard of Mount Merapi on Yogyakarta Nuclear Area

    Full text link
    The existence of nuclear installations in the Yogyakarta Nuclear Area is vulnerable to the eruption of Mount Merapi, the most active volcano in Indonesia. Tephra hazard has the potential to threaten the operational activities of nuclear installations in the Yogyakarta Nuclear Area; thus, it is necessary to analyze the distribution and potential hazard of volcanic ash from Mount Merapi for future eruptions. Numerical modelling is used in analyzing tephra distribution using TEPHRA2 software with parameters of the 2010 Mount Merapi eruption, which is then visualized to isomass and isopach maps of tephra distribution. The analysis resulted in the ash dispersion leading to the Yogyakarta Nuclear Area in April, May, June, and August with an accumulated mass of 20-50 kg/m3 with a thickness of 0.2-12 cm. It is necessary to deal with volcanic ash hazards such as roof strength, secondary cooling system, filtering system, and electrical system for several installations in the Yogyakarta Nuclear Area

    Cover

    No full text

    UJI PASCA IRADIASI PELAT ELEMEN BAKAR U3Si2/Al DENSITAS 4,8 gU/cm3 PADA BURNUP 60%: PENGAMATAN VISUAL, RADIOGRAFI SINAR-X DAN ANALISIS CITRA

    Full text link
    UJI PASCA IRADIASI PELAT ELEMEN BAKAR U3Si2/Al DENSITAS 4,8 gU/cm3 PADA BURNUP 60%: PENGAMATAN VISUAL, RADIOGRAFI SINAR-X DAN ANALISIS CITRA. Pengembangan bahan bakar U3Si2/Al densitas tinggi telah dilakukan melalui peningkatan densitas bahan bakar nuklir dari 2,96 gU/cm3 menjadi 4,8 gU/cm3. Peningkatan densitas uranium memiliki dampak terhadap integritas mekanik kelongsong dan stabilitas geometri, sehingga diperlukan pengujian pascairadiasi. Pengujian pascairadiasi yang dilakukan meliputi pengamatan visual, uji radiografi sinar-X dan analisis citra pada Pelat Elemen Bakar (PEB). Pengamatan visual sepanjang permukaan PEB dilakukan menggunakan periskop yang terdedikasi di operating area hot cell 102 dan didokumentasikan dengan bantuan kamera melalui jendela hot cell. Pengujian radiografi sinar-X dilakukan pada tegangan 150 kV dan kuat arus 1500 µA. Citra yang dihasilkan dianalisis lebih lanjut menggunakan software ImageJ. Pengamatan visual tidak menemukan indikasi cacat permukaan, lapisan oksida yang berlebih, swelling, blister, maupun cacat permukaan lainnya. Interpretasi citra radiografi sinar-X menunjukkan profil bahan bakar yang homogen, tidak menemukan indikasi cacat sub-permukaan, serta menghasilkan profil burn up yang sesuai dengan hasil pengujian gamma scanning. Berdasarkan hasil pengujian tak merusak, secara keseluruhan PEB U3Si2/Al densitas 4,8 gU/cm3 selama iradiasi di teras RSG-GAS menunjukkan kinerja yang cukup baik.Kata kunci: Uji pascairadiasi, PEB U3Si2/Al, pengamatan visual, radiografi sinar-X, analisis citr

    Geological Structure Control on the Formation of Metal Mineralization at Quartz Veins in Jendi Village, Wonogiri Regency, Central Java

    Full text link
    Quartz veins in the Jendi area and its surroundings are formed by geological structures with distributions and patterns that need to be known. This study uses data on striation, quartz vein orientation, and metal content in quartz veins. The use of this data aims to determine the relationship between the vein direction pattern and its metal mineral content with the main structure that forms it. The results of this study can be useful in determining the structural model and distribution of veins in the study area. The research method was carried out through a series of field and laboratory work. Fieldwork includes measuring striation data, measuring the orientation of quartz veins, and taking quartz vein samples. Studio work includes stereographic analysis of striation data, rosette diagram analysis of vein measurement data, and analysis of metallic element content of quartz veins. The quartz vein mineralization zone in the study area is controlled by a right slip fault with a northwest-southeast trend that forms a transtension zone with a north-south trend. The north-south trending veins are generally thick, long/continuous, and have a high metal content

    KARAKTERISASI MATERIAL INSULASI KABEL LISTRIK TEGANGAN RENDAH DARI PRODUK LOKAL PASCA IRADIASI GAMMA

    No full text
    KARAKTERISASI MATERIAL INSULASI KABEL LISTRIK TEGANGAN RENDAH DARI PRODUK LOKAL PASCA IRADIASI GAMMA. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari pengaruh radiasi gamma terhadap karakter polimer semi kristalin pada material insulasi kabel listrik tegangan rendah dari produk lokal, terkait penggunaannya di fasilitas dengan radiasi gamma tinggi. Sampel uji diiradiasi menggunakan perangkat Gamma Cell dengan dosis radiasi sebesar 25, 50, 100, 200, 400 dan 800 kGy. Derajat kristalinitas dan komposisi senyawa dari sampel uji dianalisis dengan uji XRD dan dikarakterisasi menggunakan FTIR. Berdasarkan uji XRD yang dilakukan, tidak teramati adanya perbedaan signifikan pada pola difraksi antara sampel uji non iradiasi maupun sampel uji iradiasi dengan variasi besar dosis. Hal ini mengindikasikan tidak terdapat perubahan fase mayor dari senyawa kristalin yang terkandung dalam sampel uji terkait. Adapun derajat kristalinitas dari sampel uji cenderung menurun seiring meningkatnya dosis radiasi yang diberikan. Hasil analisis FTIR menunjukkan adanya perbedaan transmittance yang fluktuatif antar sampel uji dengan dosis radiasi gamma yang berbeda juga dengan sampel uji non-iradiasi gamma. Adanya spektra yang semakin melebar di 400 kGy dan 800 kGy, pada wavenumber 3369 – 3370 cm-1, hal ini mengindikasikan adanya gugus O-H stretch. Pengujian lebih lanjut diperlukan untuk menguatkan identifikasi terhadap gugus fungsi, penentuan senyawa organik, maupun evaluasi terhadap karakter mekanik sampel uji yang sekaligus diperlukan untuk mengonfirmasi dugaan adanya gangguan terhadap asosiasi polimer-plasticizer.Kata kunci: Polimer semi kristalin, irradiasi gamma, derajat kristalinitas, perubahan kimi

    Tectonic Pattern Imaging of Southern Sumatra Region Using Double Difference Seismic Tomography

    Full text link
    Southern Sumatra and its surroundings are close to the contact zone of the Indo-Australian plate and Eurasian plate, so the area always relates to the high seismicity zone. The Sumatran subduction zone, the Mentawai fault, and several segments of the Sumatran fault drive seismic activities in the area. Tectonic settings are essential to understanding the area's source and hazard. This understanding can be obtained using the relocated hypocenter distribution and the 3D velocity model in the area. Relocated hypocenters and velocity models are obtained from simultaneous inversion from the BMKG earthquake catalog in January 2012-December 2020 using the double difference seismic tomography method. Seismic velocity inversion of P- and S- wave tomograms image the thermal zone beneath Dempo and Patah volcanoes at a depth of 30-50 km. Slab dehydration is also observed in several forearc high zone. Both phenomena are associated with negative anomalies. The Sumatran and Mentawai fault zones are marked between negative and positive anomalies on the contact zone. The subducted slab of the Indo-Australian plate is observed until a depth of 150 km, which is the maximum depth of nodes used in this study. The granitic basement beneath Anak Krakatau volcano is detected until 10 km. Two of those geological features are related to positive anomalies.Southern Sumatra and its surroundings are close to the contact zone of the Indo-Australian plate and Eurasian plate, so the area always relates to the high seismicity zone. The Sumatran subduction zone, the Mentawai fault, and several segments of the Sumatran fault drive seismic activities in the area. Tectonic settings are essential to understanding the area's source and hazard. This understanding can be obtained using the relocated hypocenter distribution and the 3D velocity model in the area. Relocated hypocenters and velocity models are obtained from simultaneous inversion from the BMKG earthquake catalog in January 2012-December 2020 using the double difference seismic tomography method. Seismic velocity inversion of P- and S- wave tomograms image the thermal zone beneath Dempo and Patah volcanoes at a depth of 30-50 km. Slab dehydration is also observed in several forearc high zone. Both phenomena are associated with negative anomalies. The Sumatran and Mentawai fault zones are marked between negative and positive anomalies on the contact zone. The subducted slab of the Indo-Australian plate is observed until a depth of 150 km, which is the maximum depth of nodes used in this study. The granitic basement beneath Anak Krakatau volcano is detected until 10 km. Two of those geological features are related to positive anomalies

    KEYWORD INDEX

    Full text link

    PREDICTION OF AP1000’S NUCLEAR REACTOR PRESSURE VESSEL TEMPERATURE DURING NORMAL OPERATION

    Full text link
    Modeling of thermal-hydraulic calculations for the AP1000 core to predict the reactor pressure vessel (RPV) temperature has been carried out. The reactor’s primary coolant system transfers the heat produced in the reactor fuel during reactor operation to the steam generator. Part of the heat will also be transferred from the coolant to the reactor vessel and the pipe. This paper presents the calculation result of the RPV temperature prediction during AP1000 normal operation. Calculations were performed using COBRA-EN code for analyzing the core thermal hydraulics and using analytics for predicting the RPV temperature. These methods were carried out with the aim to predict the RPV temperature as well as at steady state nominal power conditions, at the function of flow, and at power fluctuation conditions. The calculation results at nominal power 3400 MWt (100% heat generated in fuel was assumed) and thermal design flow with 10% tube plugging (TDF2) of 48,443.7 ton/hr, for the minimum system pressure of 15.1 MPa, nominal system pressure of 15.513 MPa, and design system pressure of 17.133 MPa, show that the core outlet coolant temperature is 326.96°C, 327.01°C, and 327.22°C, and the RPV temperature is 303.65°C, 303.87°C, and 306.67°C, and the minimum departure from nucleate boiling ratio (MDNBR) is 3.21, 3.29, and 3.01, respectively. During reactor operation at a fixed nominal power of 3400 MWt, nominal system pressure, and under the condition of flow fluctuation, the maximum RPV temperature is shown to be 303.87°C

    3,275

    full texts

    4,187

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Badan Tenaga Nuklir Nasional: Jurnal BATAN
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇