Badan Tenaga Nuklir Nasional: Jurnal BATAN
Not a member yet
4187 research outputs found
Sort by
PENGGUNAAN RADIASI SYNCHROTRON UNTUK PENGUKURAN DAERAH PLASTIS PADA MATERIAL BAJA KARBON
PENGGUNAAN RADIASI SYNCHROTRON UNTUK PENGUKURAN DAERAH PLASTIS PADA MATERIAL BAJA KARBON. Pada penelitian ini perubahan ukuran daerah plastis digunakan untuk verifikasi hasil analisis faktor intensitas tegangan dari retakan lelah yang dilakukan pada material yang memiliki tegungan sisa tarik. Daerah plastis vertikal digunakan untuk menyelidiki jejak faktor intensitas tegangan maksimum di dalam dan di luar daerah yang memiliki tegangan sisa tarik. Daerah plastis vertikal dideteksi dengan metoda line broadening dengan menggunakan radiasi synchrotron dengan ukuran spot 50 x 50 μm. Hasil pengukuran daerah plastis ini kemudian dibandingkan dengan hasil estimasi analitik. Hasil estimasi analitik ini didapatkan dengan imenjumlahkan faktor intensitas tegangan kerja maksimum dan faktor intensitas tegangan sisa yang dihitung dengan metoda weight function. Ukuran daerah plastis tertetak antara hasil analisis Rice dan Irwin. Juga dibandingkan dengan perhitungan menggunakan konstanta yang diperoleh dengan metoda micro hardness dan metoda etsa. Disimpulkan bahwa line broadening dari radiasi syncjrotron dapat digunakan untuk mengukur daerah plastis yang terbentuk selama proses peretakan. Total maximum faktor intensitas tegangan adalah jumlah dari faktor intensitas tegangan kerja maksimum dan faktor intensitas tegangan sisa sesuai dengan prinsip superposisi
MODEL MATEMATIK ALAT PENYERAP KEJUTAN MOBIL YANG MENGGUNAKAN PADUAN SHAPE MEMORY
MODEL MATEMATIK ALAT PENYERAP KEJUTAN MOBIL YANG MENGGUNAKAN PADUAN SHAPE MEMORY. Telah disusun model matematik alat penyerap kejutan yang menggunakan paduan Shape memory. Paduan shape memory merupakan paduan yang memiliki sifat yang unik dan mempunyai aplikasi yang luas. Paket Program Simulasi Tak Linier (SIMNON) digunakan untuk mengolah model matematik tersebut. Hasil perhitungan simulasi menunjukkan bahwa secara teoritis aplikasi paduan shape memory pada alat penyerap kejutan adalah layak. Hal ini terlihat bahwa walaupun temperatur naik, koefisien redam konstan
EFEK ANIL SUHU RENDAH PADA TERFENOL-D YANG DIBUAT DENGAN METODE REDUKSI-DIFUSI
EFEK ANIL SUHU RENDAH PADA TERFENOL-D YANG DIBUAT DENGAN METODE REDUKSI-DIFUSI — Dalam kegiatan ini dipelajari efek anil suhu rendah pada paduan magnetostriktif yang diperoleh dengan metode Reduksi-Difusi (RD). Diharapkan bahwa apabila cuplikan sebelumnya mengandung fasa sekunder berupa hidrida, fasa tersebut dapat dihilangkan dengan perlakuan anil tersebut. Anil dilakukan pada suhu 200°C, selama 8 jam, dalam vakum dinamis pada cuplikan berbentuk pelet yang dibungkus dalam lembaran Tantalum. Dalam ruangan cuplikan diletakkan pula 'getter' yaitu Ti murni. Hasil analisis data XRD menunjukkan beberapa aspek: pertama, ada kecenderungan penyempitan puncak-puncak difraksi setelah anil. Diduga ini akibat 'internal stress relieve', karena pada suhu anil tersebut, tidak ada perbaikan tingkat kristalisasi sampel. Kedua, fasa hidrida dapat dihilangkan melalui perlakuan anil ini, dan ketiga, pada cuplikan tertentu terlihat ada pergeseran posisi puncak-puncak difraksi fasa utama ke arah sudut yang lebih besar, menandakan bahwa fasa utama tersebut pada awalnya juga mengandung hidrogen dalam jumlah yang sangat kecil, yang belum pernah terdeteksi sebelumnya. Sebagai kesimpulan, perlakuan anil tersebut memberikan dampak positif pada cuplikan Terfenol-D, dan merupakan modifikasi penting dari metode sintesis Reduksi-Difusi
KARAKTERISASI PRESIPITAT AgI PADA (AgI)0,7(AgP03)0,3 DENGAN TEKNIK HAMBURAN NEUTRON SEBAGAI FUNGSI SUHU
KARAKTERISASI PRESIPITAT AgI PADA (AgI)0,7(AgP03)0,3 DENGAN TEKNIK HAMBURAN NEUTRON SEBAGAI FUNGSI SUHU. Gelas konduktor superionik (AgI)0,7(AgP03)0,3 telah dibuat ntelalui inetoda pendinginan cepat. Pada suhu ruang struktur yang terjadi incrupakan campuran antara gelas (AgI)0,7(AgP03)0,3 dan presipitat kristalin b-AgI. Secara insitu telah dipelajari perubahan struktur yang terjadi pada saat pemanasan dari suhu ruang sampai suhu diatas suhu fasa transisi beta ke alfa AgI, dengan metoda hamburan neutron. Percobaan dilakukan dengan menggunakan High Resolution Powder Diffractometer(HRPD) pada Nuclear Research Reactor Chalk River Laboratory Canada. Hasil percobaan menunjukkan adanya transisi ke fasa alfa-AgI pada suhu 435 K pada saat pemanasan, sedangkan pada saat pendinginan suhu transisi dari fasa alfa ke beta Agl diperoleh pada suhu 415 K. Pada bagian gelas. yaitu pada puncak tajam difraksi pertama dengan daerah Q=0,7 A tampak adanya kristalisasi pada suhu sekitar 390 K. yang kemudian meleleh pada suhu 544 K. pada saat pemanasan. Pada penelitian ini telah diamati pula perubahan posisi yang terjadi baik pada puncak Bragg maupun pada puncak gelas selama proses ini berlangsung
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SEL BATERAI SEKUNDER BAHAN SUPERIONIK AeRbAg4I1RbI3
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SEL BATERAI SEKUNDER BAHAN SUPERIONIK AeRbAg4I1RbI3. Bahan elektrolit padatan berbasis perak RbAg4I5 telah digunakan sebagai elektrolit untuk pembuatan sebuah sel baterai sekunder (rechargeable) dengan Ag sebagai anoda dan RbI3 sebagai katoda. Telah dilakukan pengukuran karakteristik pengisian-peluwahan (charge-discharge) dan polarisasi terhadap baterai pada kondisi tekanan atmosfir biasa dan temperatur ruang. Dapat disimpulkan bahwa konfigurasi sel Ag/RbAg4I5/ Rb13 dapat berfungsi sebagai baterai sekunder. Sel dapat berfungsi dengan balk pada rapat arus hingga 230 RA/cm1
PENGARUH LAKU PASIF PADA PERTUMBUHAN KOROSI SUMUR BAJA KARBON DALAM LARUTAN PEKAT LiBr YANG MENGANDUNG LiOH DAN LiNO3
PENGARUH LAKU PASIF PADA PERTUMBUHAN KOROSI SUMUR BAJA KARBON DALAM LARUTAN PEKAT LiBr YANG MENGANDUNG LiOH DAN LiNO3. Pada hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa timbulnya korosi sumur karena potensial korosi alami yang terjadi melampaui harga potensial kritis untuk terjadinya korosi sumur. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperdalam pengamatan pengaruh laku pasif pada permukaan bebas baja karbon (luas 5,0 dan 30,0 cm2) yang dicelup dalam larutan uji 60% LiBr + 0,2% LiOH + 0,2% LiNO3 terhadap pertumbuhan korosi sumur. Menurut hasil percoban laku pasif pada kisaran potensial katodik —900 hingga —700 (mV vs SCE) dengan waktu penahanan 1 jam, diperoleh harga potensial spontan maksimum (Esp,mAx) pada-750 mV dengan kedalaman korosi sumur 8 mm. Penelitian lebih lanjut pada laku pasif —750 mV dengan variabel waktu penahanan 1 hingga 100 jam menunjukkan bahwa semakin lama waktu penahanan semakin tinggi harga ESP maupun kedalaman korosi sumur yang dicapai. Hal ini dapat dilihat dari hasil penahanan selama 100 jam, diperoleh harga EsP sebesar 0 mV dengan kedalaman korosi sumur 40 um
PENGARUH PENAMBAHAN OKSIDA PERAK TERHADAP RAPAT ARUS KRITIS PADA SUPERKONDUKTOR Tc TINGGI YBa2Cu3O7-x
PENGARUH PENAMBAHAN OKSIDA PERAK TERHADAP RAPAT ARUS KRITIS PADA SUPERKONDUKTOR Tc TINGGI YBa2Cu3O7-x. Superkonduktor YBa2Cu3O7-x telah dibuat melalui reaksi padatan dengan campuran Ag2O masing-masing 0, 5 , 10, dan 20 persen berat dari setiap 2 gram prekursor YBa2Cu3O7-x. Pencampuran dilakukan di dalam mortal agate, yang kemudian diikuti dengan kalsinasi pada 900 oC selama 4 jam dan sintering pada 940oC selama 10 jam. Karakterisasi dilakukan dengan difraksi sinar x, scanning electron microscopy dan teknik probe empat titik. Hasil pengukuran cuplikan menunjukkan bahwa superkonduktor Tc tinggi YBa2Cu3O7-x dan YBa2Cu3O7-x/Ag2O memiliki struktur kristal orthorombik yang dicirikan oleh adanya puncak pola difraksi (003), (110/103), (005), (113), dan (006). Temperatur kritis (Tc) YBa2Cu3O7-x dan YBa2Cu3O7-x/Ag2O diperoleh masing-masing 89 K dan 88 K dan rapat arus kritis meningkat dengan kenaikan penambahan Ag2O