Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster MADURA
Not a member yet
2348 research outputs found
Sort by
PENGARUH EPIDEMI PENYAKIT MULUT DAN KUKU TERHADAP KESEJAHTERAAN EKONOMI MASYARAKAT.docx
Epidemi PMK adalah penyakit mulut dan kuku yang mana penyakit ini menyerang hewan berkaki genap atau hewan yang berkuku belah, sehingga menyebabkan hewan sakit dan juga mati, virus ini menyebar begitu cepat. Gejala yang terjadi adalah hewan tampak lemah, lesu, kaki pincang, air liur berlebihan, tidak mau makan, dan mulut melepuh. Hal ini dapat menyebabkan kerugian bagi masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut, maka ada dua permasalahan yang menjadi kajian pokok dalam penelitian ini, yaitu pertama, apakah terdapat pengaruh epidemi terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat di Kec. Jrengik. Kedua, bagaimana strategi masyarakat di kec. Jrengik dalam menghadapi epidemi PMK. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods atau metode campuran dengan jenis deskriptif. Sumber data dihasilkan dengan kuesioner, wawancara, dan observasi. Respondennya adalah masyarakat Kecamatan Jrengik. Sedangkan proses pengecakan keabsahan data dilakukan dengan validitas, reabilitas, CIBEST, dan uji t berpasangan. Hasil dari penelitian yang pertama adalah terdapat pengaruh epidemi PMK terhadap kesejahteraan masyarakat baik dari segi kesejahteraan materiil maupun kesejahteraan spiritualnya, yang di ukur dengan menggunakan model CIBEST dan juga uji-t. Hasil penelitian yang kedua adalah strategi masyarakat dalam menghadapi epidemi PMK cukup beragam, tapi yang cukup banyak dilakukan oleh masyarakat ialah dengan pemberian obat atau jamu dan di vaksinasi
Penerapan Intruksi Bupati Sampang No. 1/ISNT/2020 Tentang Optimalisasi Pengumpulan Zakat, Infak, dan Shadaqah (ZIS) di Kantor Kecamatan Kedungdung Melalui Baznas Kabupaten Sampang
Pengelolaan zakat yang optimal akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi penerima manfaat langsung, tetapi juga bagi pembangunan ekonomi dan sosial secara keseluruhan. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi dalam konteks pembangunan daerah. Optimalisasi Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS) merupakan langkah penting dalam rangka memenuhi kewajiban agama dan memperkuat peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas pengelolaan Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS) di Kabupaten Sampang. Dalam konteks ini, tingkat kepatuhan Aparatur Sipil Negara (ASN) Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kantor Kecamatan Kedungdung Kabupaten Sampang terhadap Instruksi Bupati No. 1/ISNT/2020 menjadi hal yang sangat relevan untuk dievaluasi. Dengan menggali pemahaman yang lebih dalam tentang dinamika pengelolaan zakat di tingkat lokal, diharapkan dapat tercipta kerangka kerja yang lebih baik dalam mengoptimalkan peran dan fungsi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program-program zakat.Optimal zakat management will have a positive impact not only on direct beneficiaries, but also on overall economic and social development. Therefore, this study has high relevance in the context of regional development. Optimizing Zakat, Infaq, and Shadaqah (ZIS) is an important step in order to fulfill religious obligations and strengthen the role of the National Zakat Agency (BAZNAS) as an institution responsible for managing Zakat, Infaq, and Shadaqah (ZIS) in Sampang Regency. In this context, the level of compliance of the State Civil Apparatus (ASN) of the Zakat Collection Unit (UPZ) of the Kedungdung District Office, Sampang Regency to the Regent's Instruction No. 1/ISNT/2020 is very relevant to evaluate. By exploring a deeper understanding of the dynamics of zakat management at the local level, it is hoped that a better framework can be created in optimizing the role and function of the National Zakat Agency (BAZNAS) and increasing community participation in zakat programs
DAMPAK BUDAYA DAN IDENTITAS TERHADAP PENGEMBANGAN PRIBADI KONSELOR
Konseling merupakan profesi yang bertujuan membantu individu mengatasi permasalahan hidup dan mengembangkan potensi diri secara optimal. Dalam proses konseling, hubungan antara konselor dan klien sangat penting. Oleh karena itu, pengembangan pribadi konselor menjadi krusial agar dapat membangun hubungan terapeutik yang efektif. Salah satu faktor yang memengaruhi pengembangan pribadi konselor adalah budaya dan identitas. Budaya mencakup nilai-nilai, kepercayaan, tradisi, dan norma yang dianut suatu kelompok masyarakat, sedangkan identitas merujuk pada cara individu mendefinisikan diri terkait karakteristik seperti ras, etnis, gender, orientasi seksual, agama, dan status sosial-ekonomi. Konselor yang berasal dari latar belakang budaya dan identitas berbeda dengan klien dapat mengalami kesulitan memahami perspektif klien secara mendalam, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Penelitian menunjukkan bahwa konselor yang memiliki kepekaan budaya dan pemahaman baik tentang identitas diri sendiri serta identitas klien akan lebih mampu membangun ikatan terapeutik efektif, memahami perspektif klien secara mendalam, dan memberikan intervensi yang tepat sesuai konteks budaya dan identitas klien. Oleh karena itu, konselor perlu mengembangkan kesadaran diri, kemampuan memahami dan menghargai budaya serta identitas klien, dan keterampilan komunikasi lintas budaya yang efektif. Pengembangan pribadi konselor terkait budaya dan identitas merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan komitmen jangka panjang. Konselor perlu terus merefleksikan dan mengevaluasi praktik mereka, serta berupaya meningkatkan kepekaan budaya, pemahaman identitas, dan keterampilan komunikasi lintas budaya agar dapat memberikan layanan konseling yang efektif, relevan, dan sensitif.
Abstract
Counseling is a profession that aims to help individuals overcome life problems and develop their potential optimally. In the counseling process, the relationship between the counselor and the client is very important. Therefore, the counselor's personal development is crucial in order to build an effective therapeutic relationship. One of the factors that influence the counselor's personal development is culture and identity. Culture includes the values, beliefs, traditions, and norms adopted by a community group, while identity refers to how individuals define themselves in terms of characteristics such as race, ethnicity, gender, sexual orientation, religion, and socio-economic status. Counselors who come from different cultural backgrounds and identities than their clients may have difficulty understanding the client's perspective in depth, potentially causing misunderstandings.
Research shows that counselors who have cultural sensitivity and a good understanding of their own identity and the identity of the client will be better able to build an effective therapeutic bond, understand the client's perspective in depth, and provide appropriate interventions according to the client's cultural context and identity. Therefore, counselors need to develop self-awareness, the ability to understand and appreciate the client's culture and identity, and effective cross-cultural communication skills. Counselor personal development related to culture and identity is an ongoing process that requires long-term commitment. Counselors need to continue to reflect on and evaluate their practice, and strive to improve cultural sensitivity, understanding of identity, and cross-cultural communication skills in order to provide effective, relevant, and sensitive counseling services
HUMANISME ALI SYARI’ATI: QS. IBRAHIM AYAT 4 SEBAGAI LANDASAN KEBERPIHAKAN MAHASISWA TERHADAP MASYARAKAT BAWAH
This research discusses Ali Shari’ati’s humanism thinking in the context of student’s alignment with the lower classes, by interpreting QS. Ibrahim verse 4. Shari’ati criticised the concept of Western humanism (liberalism, marxism and existentialism) which he considered too materialistic and did not take into account the spiritual dimension of man. Instead, he offers a tawhid-based humanism that emphasises man’s role as God’s representative on earth, with the main task of freeing the oppressed from social and structural shackles. This research uses a qualitative method with a literature study approach, analysing Ali Shari’ati’s works and other supporting literature. The results show that Ali Shari’ati’s concept of humanism encourages students to act as rausyan fikr (enlightened intellectuals) who are active in social change. Student’s alignment with the lower society must be manifested in the form of advocacy, empowerment, and real action based on religious and ethical values. By understanding Ali Shari’ati’s humanism, students can develop critical awareness and act as agents of change who contribute to social justice. This article asserts that siding with the oppressed is not just a moral choice, but also part of intellectual and spiritual responsibility.
Abstrak
Penelitian ini membahas tentang pemikiran humanisme Ali Syari’ati dalam konteks keberpihakan mahasiswa kepada masyarakat kelas bawah, dengan menafsirkan QS. Ibrahim ayat 4. Syari’ati mengkritisi konsep humanisme Barat (liberalisme, marxisme, dan eksistensialisme) yang dianggapnya terlalu materialistis dan tidak memperhitungkan dimensi spiritual manusia. Sebaliknya, ia menawarkan humanisme berbasis tauhid yang menekankan peran manusia sebagai wakil Tuhan di bumi, dengan tugas utama membebaskan kaum tertindas dari belenggu sosial dan struktural. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, menganalisis karya-karya Ali Syari’ati dan literatur pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep humanisme Ali Syari’ati mendorong mahasiswa untuk berperan sebagai rausyan fikr (intelektual yang tercerahkan) yang aktif dalam perubahan sosial. Keberpihakan mahasiswa kepada masyarakat kelas bawah harus diwujudkan dalam bentuk advokasi, pemberdayaan, dan tindakan nyata yang berlandaskan pada nilai-nilai agama dan etika. Dengan memahami humanisme Ali Syari’ati, mahasiswa dapat mengembangkan kesadaran kritis dan bertindak sebagai agen perubahan yang berkontribusi pada keadilan sosial. Artikel ini menegaskan bahwa berpihak pada yang tertindas bukan sekadar pilihan moral, tetapi juga bagian dari tanggung jawab intelektual dan spiritual
MENELUSURI JEJAK PEMIKIRAN AL-GHAZALI: DARI KRITIK FILSAFAT HINGGA SINTESIS ILMU DAN SPIRITUALITAS
Artikel ini mengkaji pemikiran Imam Al-Ghazali (1058-1111 M), salah satu tokoh intelektual terkemuka dalam sejarah Islam yang dikenal dengan gelar Hujjat al-Islam. Melalui pendekatan historis dan analisis kritis terhadap karya-karyanya, penelitian ini menggali kontribusi signifikan Al-Ghazali dalam bidang filsafat, teologi, dan tasawuf, serta sintesis komprehensif yang ia bangun di antara berbagai dimensi keilmuan Islam. Kajian ini membahas latar belakang sosio-politik masa Al-Ghazali, perjalanan intelektual dan spiritualnya, serta karya-karya monumentalnya seperti Tahafut al-Falasifah dan Ihya' Ulum al-Din. Fokus utama penelitian adalah epistemologi Al-Ghazali, kritiknya terhadap rasionalisme filosofis, konsepsi tentang hubungan akal dan wahyu, serta kontribusinya dalam melegitimasi tasawuf ke dalam ortodoksi Islam. Lebih jauh, artikel ini menganalisis relevansi pemikiran Al-Ghazali dalam konteks modern, terutama dalam menjawab tantangan globalisasi, sekularisasi, dan krisis moralitas. Temuan menunjukkan bahwa pemikiran Al-Ghazali menawarkan kerangka integratif yang menyeimbangkan rasionalitas dan spiritualitas, serta memiliki potensi kontributif dalam pengembangan pendidikan Islam kontemporer dan dialog antara tradisi dan modernitas. Penelitian ini memperkaya diskursus akademik dengan menyajikan perspektif komprehensif tentang warisan intelektual Al-Ghazali dan signifikansinya bagi pemikiran Islam saat ini.
Abstract
This article examines the thought of Imam Al-Ghazali (1058–1111 CE), one of the most prominent intellectual figures in Islamic history, renowned by the title Hujjat al-Islam. Through a historical approach and critical analysis of his works, this study explores Al-Ghazali’s significant contributions to philosophy, theology, and Sufism, as well as the comprehensive synthesis he constructed among various dimensions of Islamic knowledge. The research discusses the socio-political background of Al-Ghazali's era, his intellectual and spiritual journey, and his monumental works such as Tahafut al-Falasifah and Ihya' Ulum al-Din. The main focus of this study is Al-Ghazali's epistemology, his critique of philosophical rationalism, his conception of the relationship between reason and revelation, and his contribution to legitimizing Sufism within Islamic orthodoxy. Furthermore, this article analyzes the relevance of Al-Ghazali’s thought in the modern context, particularly in addressing the challenges of globalization, secularization, and moral crisis. The findings suggest that Al-Ghazali’s thought offers an integrative framework that balances rationality and spirituality, and holds significant potential for contributing to the development of contemporary Islamic education and the dialogue between tradition and modernity. This study enriches academic discourse by presenting a comprehensive perspective on Al-Ghazali's intellectual legacy and its significance for contemporary Islamic thought
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PADA LEMBAGA DAKWAH MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)
Latar belakang penelitian ini berfokus pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang memberikan dampak signifikan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di lembaga dakwah, khususnya di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam era digital, lembaga dakwah dihadapkan pada tantangan untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara efektif kepada masyarakat, terutama generasi muda. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh TIK terhadap pengembangan SDM di MUI serta untuk mengeksplorasi pentingnya pembinaan karakter dan spiritual dalam konteks ini. Metode penelitian yang digunakan adalah library research, yang melibatkan pengumpulan dan analisis dokumen resmi MUI, literatur terkait, dan sumber online yang relevan. Data yang dikumpulkan dianalisis secara mendalam untuk mengidentifikasi tema dan informasi penting mengenai penerapan teknologi dalam dakwah dan pengembangan SDM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MUI telah memanfaatkan teknologi digital, seperti media sosial dan aplikasi mobile, untuk memperluas jangkauan dakwah dan meningkatkan efektivitas penyampaian pesan. Namun, keberhasilan dakwah digital sangat bergantung pada SDM yang profesional dan terlatih. Pembinaan karakter dan spiritual juga diidentifikasi sebagai aspek krusial dalam memastikan bahwa para dai tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga integritas dan nilai-nilai keislaman yang kuat. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi dakwah yang lebih efektif dalam menghadapi tantangan era digital.
Abstract
The background of this research focuses on the development of information and communication technology (ICT) which has a significant impact on the development of Human Resources (HR) in da'wah institutions, especially in the Indonesian Ulema Council (MUI). In the digital era, da'wah institutions are faced with the challenge of delivering religious messages effectively to the public, especially the younger generation. Therefore, this research aims to analyze the influence of ICT on HR development in MUI and to explore the importance of character and spiritual development in this context. The research method used is library research, which involves collecting and analyzing official MUI documents, related literature, and relevant online sources. The data collected was analyzed in depth to identify important themes and information regarding the application of technology in da'wah and HR development. The results show that MUI has utilized digital technologies, such as social media and mobile applications, to expand the reach of da'wah and increase the effectiveness of message delivery. However, the success of digital da'wah is highly dependent on professional and trained human resources. Character and spiritual development were also identified as crucial aspects in ensuring that preachers not only have technical skills, but also integrity and strong Islamic values. The findings are expected to contribute to the development of digital da'wah programs
Optimalisasi Pembelajaran Tajwid dan Pembinaan Karakter Santri melalui Metode Hafalan
This study aims to determine the effectiveness of the Hidayatus Shibyan book memorisation method in improving understanding of tajwid and shaping the character of students at Madrasah Diniyah Al-Falah. A qualitative approach was used with direct observation and in-depth interviews with teachers and students. The results of the study show that the memorisation method, which is carried out actively, interactively, and supported by the high enthusiasm of the teachers, is able to improve the memorisation ability of students, strengthen their understanding of tajwid rules, and instil Islamic character values. In addition, the use of verses in the Hidayatus Shibyan facilitates students' memorisation and comprehension, making learning more enjoyable and effective. Teachers' freedom in choosing teaching methods and support from madrasah administrators also play a role in the success of the learning process. Thus, this memorisation method is highly relevant and effective as a learning strategy for tajwid and Islamic character education at the elementary level. This research is expected to contribute to improving the effectiveness of tajwid learning, strengthening Islamic character education, developing learning strategies, and providing inspiration in the development of Islamic education curricula
PERBANDINGAN PENDIDIKAN: SISTEM PENDIDIKAN DI INONESIA DAN SINGAPURA
Artikel ini membahas tentang program-program refomasi pendidikan di dua Negara dengan latar belakang dan kondisi serta ideologi yang berbeda yaitu Singapura dan Indonesia. Diantara program reformasi pendidikan di Singapura adalah Teach less, Learn More; Thinking School, Learning Nation, dan School Excellent Model. Sedangkan kebijakan reformasi pendidikan di Indonesia diantaranya diselenggarakan dengan desentralisasi pendidikan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Kurikulum 2013, serta program sertifikasi guru. Dari hasil pembahasan, dapat diketahui bahwa Singapura telah berhasil menyelenggarakan reformasi pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari kualitas pendidikan Singapura yang masuk dalam ranking teratas Negara-negara dengan pencapaian standar pendidikan internasional. Sementara itu, Indonesia nampak masih harus berjuang untuk mencapai tujuan reformasi pendidikan. Hasil implementasi pendidikan yang berbeda di kedua Negara ini tentu dikarenakan perbedaan latar belakang, serta kondisi sosial, ekonomi, politik budaya dan geografis kedua Negara tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyelengaraan reformasi pendidikan di sebuah Negara.
Abstract
This article discusses on educational reformation programs conducted in two countries which have different background as well as different ideology, social, economic, political, and geographical circumstances i.e., Singapore and Indonesia. Some of the main educational reform agendas in Singapore are Teach less, Learn More; Thinking School, Learning Nation, and School Excellent Model. Meanwhile, educational reform programs in Indonesia are conducted through educational decentralization within the framework of school based management, School-level Curriculum and the 2013Curriculum and teacher certification. It can be understood that Singapore has succeeded in conducting educational reform. This can be seen from the quality of Singaore’s education which has been ranked high in achieving he benchmark of international education standard. Meanwhile, Indonesia still needs to struggle to achieve the desired outcomes of educational reforms agendas. The differing result of educational reform revealed in these two countries resulted from different background of the countries. Thus, it can be concluded that there are a number of factors influencing the success of educational refoms agendas in a country
Pendampingan Tahsinul Qur’an di Pondok Pesantren Darur- Rohman Blu’uran Sampang
This research explores the Tahsinul Qur'an Mentoring program implemented at the Darur-Rohman Islamic Boarding School, an activity that is generally used to facilitate students in understanding and reading the Al-Qur'an. This research aims to evaluate Tahsinul Qur'an assistance in improving students' competence in reading the Qur'an. This research uses a qualitative approach which includes interviews, observations and document analysis to collect data from students at the Miftahul Ulum Darur-Rohman Islamic Boarding School. The research results revealed that Tahsinul Qur'an assistance had a positive impact in strengthening students' skills in reading the Koran. Santri involved in this program experienced significant improvements in understanding and pronunciation of reading the Al-Qur'an. In addition, this research identified key factors that contributed to the success of Tahsinul Qur'an assistance including the role of experienced teachers, and a learning environment that support. Recommendations are given to expand Tahsinul Qur'an assistance in Islamic boarding schools as an effort to enrich students' understanding and skills in reading the Qur'anPenelitian ini mendalami program Pendampingan Tahsinul Qur’an yang diterapkan di Pondok Pesantren Darur-rohman adalah suatu kegiata nyang umumnya digunakan untuk memfasilitasi santri dalam memahami, membaca Al- Qur'an. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Pendampingan Tahsinul Qur’an dalam meningkatkan kompetensi santri dalam membaca al- Qur’an.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mencakup wawancara, observasi, dan analisis dokumen untuk mengumpulkan data dari santri di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Darur-rohman. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Pendampingan Tahsinul Qur’an memiliki dampak positif dalam memperkuat keterampilan santri dalam membaca al-Qur’an. Santri yang terlibat dalam program ini mengalami peningkatan yang signifikan dalam pemahaman, pengucapan membaca Al-Qur'an.Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang berkontribusi pada kesuksesan Pendampingan Tahsinul Qur’an termasuk peran pengajar yang berpengalaman, dan lingkungan belajar yang mendukung. Rekomendasi diberikan untuk memperluas Pendampingan Tahsinul Qur’an di pondok pesantren sebagai upaya untuk memperkaya pemahaman dan keterampilan santri dalam membaca al-Qur’a