Beranda Jurnal Online Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang (POLTEKKES E-Journal)
Not a member yet
    2705 research outputs found

    Pemberdayaan Masyarakat Dalam Identifikasi, Penentuan Prioritas Dan Penyusunan Upaya Perbaikan Permasalahan Kesehatan Lingkungan

    Get PDF
    Beberapa permasalahan kesehatan lingkungan dapat menjadi potensi penularan penyakit, namun tidak dapat dilakukan intervensi secara keseluruhan, mengingat keterbatasan sumber daya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka identifikasi dan penentuan prioritas dapat dilakukan sebagai langkah awal dalam penyelesaian permasalahan kesehatan lingkungan. Tujuan kegiatan adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan dalam mengidentifikasi, menentukan prioritas dan menyusun upaya perbaikan permasalahan kesehatan lingkungan dalam rangka pencegahan penyakit berbasis lingkungan. Metode dan Sasaran kegiatan adalah kader kesehatan sebanyak 32 orang dengan Kegiatan dilaksanakan melalui koordinasi, sosialisasi, pendampingan (identifikasi, penentuan prioritas dan penyusunan upaya perbaikan) serta evaluasi. Analisis data menggunakan uji t-test dependent untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan kader kesehatan sebelum dan sesudah kegiatan pemberdayaan masyarakat. Hasil Identifikasi dan penentuan prioritas masalah kesehatan lingkungan di Desa Karangmangu ditemukan 5 besar permasalahan kesehatan lingkungan prioritas yang perlu dilakukan perbaikan antara lain sampah rumah tangga belum dilakukan pengolahan, terdapat rumah tangga yang belum mengakses sarana sanitasi dasar, rendahnya penerapan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), terdapat rumah tangga yang Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dan kurangnya kesadaran dalam pemberantasan sarang nyamuk. Perlu adanya upaya perbaikan terhadap 5 prioritas masalah kesehatan lingkungan secara berkelanjutan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Karangmangu

    Penerapan Afirmasi Positif dan Hipnotis 5 Jari Pada Gangguan Psikososial Kecemasan Lansia

    Get PDF
    Memelihara kesehatan mental orang yang lebih tua sangat penting. Risiko gangguan psikologis seperti demensia dan gangguan tidur meningkat dengan bertambahnya usia. Program ini menekankan pencegahan dini dengan memberikan pelatihan praktis untuk mengurangi kecemasan pada orang tua. Metode pengabdian dilakukan pada 52 orang tua di wilayah kelurahan pedalangan, Banyumanik, Semarang, . Afirmasi positif dan hipnotis 5 jari dilatih melalui kegiatan posyandu lansia pengabdi. Dimulai dengan pemeriksaan kesehatan, termasuk pengukuran tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol, serta senam lansia. Hasil pengabdian ini meliputi hasil pemeriksaan dan evaluasi setelah pelatihan selesai dengan hasil yang sangat memuaskan; hasil pemeriksaan tidak ada keluhan yang menonjol, dan evaluasi pelatihan senior mengatakan sangat senang dan sangat bermanfaat. Kesimpulan pengurus posyandu dan orang tua yang sangat antusias ditunjukkan dengan pelaksanaan berjalan dengan lancar dan baik. Semua peserta bahagia

    Pelatihan Failure Mode And Effect Analysis Dalam Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien

    Get PDF
    Keselamatan pasien merupakan prioritas utama bagi semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk klinik. Salah satu upaya mencegah terjadinya suatu risiko menggunakan metode manajemen risiko. Manajemen risiko proaktif berbasis Failure Mode Effect Analysis (FMEA) merupakan upaya strategis yang disarankan dalam memitigasi risiko. Permasalahan prioritas Klinik Denkensyhah 04.04.02 adalah kurangnya pengetahuan terkait langkah-langkah melakukan FMEA. Urgency penerapan FMEA juga sesuai dengan standar akreditasi klinik. Oleh karena itu, PKM ini bertujuan memberikan pelatihan urgency FMEA guna peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Metode dalam kegiatan PKM ini melalui pelatihan dengan metode ceramah, praktik dan diskusi, Kegiatan PKM dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2024. Secara menyeluruh kegiatan PKM berjalan lancar. Klinik Denkensyah 04.04.02 memiliki peluang untuk mengimplementasikan FMEA dalam upaya peningkatan mutu dan keselamatan. Metode pelatihan pada PKM ini cukup berhasil meningkatkan pengetahuan peserta yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata skor pre-post test sebesar 35 skor. Rata-rata skor awal sebesar 56 saat pre-test meingkat menjadi 91 saat post-test. Adanya peningkatan pengetahuan FMEA tersebut diharapkan akan berdampak pada sikap dan perilaku pimpinan maupun staff klinik dalam mengelola manajemen risiko proaktif berbasis FMEA guna peningkatan mutu dan keselamatan pasien

    The Association of Stress with the Occurrence of Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) Amid the COVID-19 Pandemic in Students of Senior High School

    Get PDF
    The most prevalent oral mucosal lesion is Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS). SAR can occur due to local trauma, stress, drug use, hormonal changes, nutritional deficiencies, immunological factors, smoking, hereditary and genetic factors, microbial factors, food hypersensitivity, hematinic deficiencies, and human immunodeficiency (HIV) infection. RAS is a prevalent condition that is defined by the presence of round ulcers that appear as recurrent lesions, numerous, small, round, have a yellowish base, and are surrounded by an erythematous halo and can occur in young and adult ages. Specifically, the pandemic caused by COVID-19 has affected people's lives around the world, including senior high school students. The incidence of RAS in adolescents is categorized as high; according to the findings of RISKESDAS, the percentage is 8.7%. Stress is a contributing component to the development of RAS. The objective of this investigation was to ascertain the correlation between stress and the prevalence of RAS during the COVID19 pandemic. This investigation employed a cross-sectional design and was observational analytic. A total of 104 research subjects were included in the study, which was conducted on students at SMA Negeri 6 in Yogyakarta. The results revealed 59 respondents with normal stress levels, of which 57 respondents (54.8%) were positive for RAS. The Spearman Rank correlation statistical test was employed to analyze the data, resulting in a significant value of p = 0.019 or 0.05, which denotes a correlation stress and the occurrence of RAS during the COVID-19 pandemic in students at SMA 6 Yogyakarta, serving as the conclusio

    Policy Brief: The Role Of Health Education Regarding Cervical Cancer Screening In Universities

    Get PDF
    Cervical cancer is one of the leading causes of death among women worldwide, including in Indonesia. Although it can be prevented through cervical cancer screening such as Pap smears and HPV tests, many women, including students, are unaware of the importance of routine screening. Universities, as educational institutions with a significant female student population in a vulnerable age group, play a crucial role in raising awareness and encouraging participation in cervical cancer screenings. However, several challenges exist, including low awareness among students about cervical cancer, social stigma, limited access to medical services, and the lack of integration of health education into the Curriculum.This policy brief aims to provide policy recommendations that universities can implement to address these issues. Key recommendations include integrating health education on cervical cancer into the Curriculum, collaborating with health institutions to provide screening services on campus, and developing sensitive and inclusive awareness campaigns. By increasing knowledge, reducing stigma, and improving access to services, this policy is expected to enhance student participation in cervical cancer screening, reduce mortality rates from cervical cancer, and foster a healthier reproductive health culture among students.These policies promise positive impacts on student health and have the potential to enhance the University's reputation as an institution that cares about its students' well-being. Successful implementation of this policy will reduce the prevalence of cervical cancer among young women and improve the overall quality of life for students

    Gambaran Kadar Ureum, Asam Urat, Kreatinin, dan Albumin Pasien TB-MDR yang Mengkonsumsi OAT di RSP Dr. Ario Wirawan Salatiga

    Get PDF
    Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) is a type of tuberculosis that is resistant to two first-line antituberculosis drugs (OAT), namely Isoniazid and Rifampicin. MDR-TB treatment involves a combination of first-line and second-line OAT, which is carried out over a long period of time. The prolonged use of these drugs can cause side effects that affect various organs of the body, especially the kidneys. One indication of impaired kidney function is an increase in blood levels of ureum, uric acid, creatinine and albumin. In addition, side effects of drugs such as Kanamycin, which is nephrotoxic, can cause accumulation in the proximal tubules of the kidneys, reduce the glomerular filtration rate, and impact creatinine levels. Another side effect that can arise during MDR-TB treatment is a decrease in appetite, which leads to decreased nutritional intake, reflected in low albumin levels. This study aims to describe the levels of ureum, uric acid, creatinine, and albumin in patients with MDR-TB undergoing treatment at Ario Wirawan Lung Hospital (RSPAW) Salatiga. This study is descriptive qualitative with a cross-sectional approach. Secondary data were collected from the medical record installation from January to December 2023. This study involved 28 respondents, of which 92.86% had normal ureum levels, 71.43% had normal uric acid levels, 96.43% had normal creatinine levels, and 78.57% had normal albumin levels. A small proportion of respondents had elevated ureum or uric acid levels, with some variation in the combination of abnormal creatinine and albumin levels. The conclusion of this study is that although there were patients with abnormal ureum, uric acid, creatinine, or albumin levels, MDR-TB treatment generally did not significantly affect ureum, uric acid, creatinine, and albumin levels in the majority of patients. However, regular monitoring of renal function and nutritional status is still required to detect and manage adverse effects that may arise during long-term treatment.Multi Drug Resistant Tuberculosis (TB-MDR) adalah jenis tuberkulosis yang resisten terhadap dua obat antituberkulosis (OAT) lini pertama, yaitu Isoniazid dan Rifampisin. Pengobatan TB-MDR melibatkan kombinasi OAT lini pertama dan lini kedua, yang dilakukan dalam jangka waktu lama. Penggunaan obat dalam waktu lama ini dapat menyebabkan efek samping yang berdampak pada berbagai organ tubuh, terutama ginjal. Salah satu indikasi adanya gangguan fungsi ginjal adalah peningkatan kadar ureum, asam urat, kreatinin dan albumin dalam darah. Selain itu, efek samping dari obat seperti Kanamisin yang bersifat nefrotoksik dapat menyebabkan penumpukan pada tubulus proksimal ginjal, menurunkan laju filtrasi glomerulus, dan berdampak pada kadar kreatinin. Efek samping lain yang dapat timbul selama pengobatan TB-MDR adalah penurunan nafsu makan, yang menyebabkan penurunan asupan gizi, tercermin dalam kadar albumin yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar ureum, asam urat, kreatinin, dan albumin pada pasien TB-MDR yang menjalani pengobatan di Rumah Sakit Paru Ario Wirawan (RSPAW) Salatiga. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data sekunder diambil dari instalasi rekam medis periode Januari hingga Desember 2023. Penelitian ini melibatkan 28 responden, di mana 92,86% memiliki kadar ureum normal, 71,43% memiliki kadar asam urat normal, 96,43% memiliki kadar kreatinin normal, dan 78,57% memiliki kadar albumin normal. Sebagian kecil responden mengalami peningkatan kadar ureum atau asam urat, dengan beberapa variasi kombinasi kadar kreatinin dan albumin yang abnormal. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat pasien dengan kadar ureum, asam urat, kreatinin, atau albumin yang abnormal, pengobatan TB-MDR secara umum tidak secara signifikan mempengaruhi kadar ureum, asam urat, kreatinin, dan albumin pada mayoritas pasien. Namun, pemantauan rutin terhadap fungsi ginjal dan status gizi tetap diperlukan untuk mendeteksi dan mengelola efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan jangka panjang

    UPAYA PENCEGAHAN STUNTING MELALUI E-KLAS BAPAK PEDULI STUNTING

    No full text
    Indonesia menghadapi tantangan gizi yang kompleks yang dikenal dengan triple beban, meliputi gizi kurang, defisiensi mikronutrein, dan gizi lebih. Stunting atau gizi buruk pada balita menjadi salah satu isu kritis yang menuntut solusi inovatif dan partisipasi aktif dari semua pihak, termasuk bapak dalam keluarga. Stunting tidak hanya mencerminkan masalah gizi, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor-faktor lingkungan dan sanitasi yang kurang memadai. Peneliti telah mengembangkan sebuah inovasi melalui E-kelas Bapak Peduli Stunting dirancang khusus untuk melibatkan para bapak sebagai agen perubahan dalam upaya pencegahan stunting. Tujuan penelitian ini mengetahui efektifitas  E-kelas bapak peduli stunting dengan pendekatan sanitasi dan lingkungan terhadap upaya pencegahan stunting pada balita. Metode penelitian quasy experimental dengan pretest posttest with control group design, terdiri dari 2 kelompok. Populasi yaitu Bapak yang memiliki balita usia 2-36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Baturaden 2 Kabupaten Banyumas, dengan jumlah sampel 33 responden setiap kelompok. Intervensi e-kelas bapak peduli stunting dengan kelas WA selama 3 minggu. Analisis Bivariate mengunakan Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh E-Klass bapak peduli stunting terhadap pengetahuan bapak (p=0,02), dan perilaku bapak (p0,001). Kegiatan E-Klass bapak peduli stunting dengan pendekatan sanitasi dan lingkungan selama 3 minggu efektif sebagai upaya pencegahan balita stunting

    PENGARUH PENDAMPINGAN KESEHATAN WUS TERHADAP PERILAKU WUS DALAM PEMERIKSAAN IVA

    Get PDF
    Kasus kanker leher rahim menepati urutan kedua setelah kanker payudara yaitu sebanyak 36.633 kasus atau 9,2 % dari total kasus kanker di Indonesia. Cara sederhana mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin yaitu dengan melakukan IVA. Saat ini cakupan deteksi dini kanker leher rahim di Indonesia melalui pap smear dan IVA masih sangat rendah(sekitar 5%). Di Kabupaten Temanggung cakupan pemeriksaan IVA 5,6% dan di Kecamatan Bejen 13,6% dari sasaran 1012Tujuan Umum:Untuk mengetahui pengaruh pendampingan kesehatan WUS terhadap pemeriksaan IVA di Desa Prangkokan Kecamatan Bejen Kabupaten Temanggung. Jenis penelitian ini adalah Quasy Eksperimen dengan rancangan yang digunakan yaitu One Group Pre Test-Post Test Design. jumlah sampel sebesar 40 orang. Pada saat kegiatan sosialisasi tanggal 04 Oktober 2023 sesuai kriteria inklusi. Dalam penelitian ini d menggunakan uji Wilcoxon.Hasil penelitian ini adalah: Perilaku pemeriksaan IVA sebelum di lakukan pendampingan kesehatan WUS masih rendah yaitu 12,5% dari 40 responden. Perilaku pemeriksaan IVA sesudah di lakukan pendampingan kesehatan WUS meningkat menjadi 80% dari 40 responden. Ada pengaruh yang signifikan pendampingan kesehatan WUS terhadap pemeriksaan IVA yaitu adanya peningkatan 27 responden dalam pemeriksaan IVA.Diharapkan responden yang belum pernah melakukan pemeriksaan IVA agar segara mungkin melakukan pemeriksaan IVA untuk mendeteksi resiko kanker leher rahim. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam penelitian selanjutnya dan dikembangkan oleh peneliti lain dengan menggunakan variable yang berbeda serta analisi yang lebih mendalam. 

    Rancang Bangun Alat Bantu Fiksasi Pemeriksaan Radiografi Lumbal Oblik

    Get PDF
    Background: The oblique lumbar examination has been carried out. The position of object isn't object angle at 45° to the image receptor, but only estimate it. It caused not optimal image of scottie dog sign and spondylolysis (pressure in pars interarticularis). Therefore, an examination aid is needed to make it easier to obtain the position of the oblique lumbar object.Methods: This research design is a RnD study with the ADDIE model which is carried out with five stages, namely analysis, design, development, implementation, and evaluation. The data is carried out by observing, designing, testing, and analyzing whether there are artifacts.Results: An oblique lumbar radiographic examination fixation aid was produced from acrylic material with a thickness of 5 mm. Acrylic is shaped like a right-angled triangular prism building which has a longer base measuring 50 cm, width 42 cm, and height 25 cm. A rectangular base with a length of 50 cm is pressed against the patient's body so that the supporting part of the angled triangle that supports the patient's lumbar region or the patient's body does not shift during an oblique lumbar radiography examination. This tool has a mass dimension of 2.5kg.Conclusion: The design of the oblique lumbar radiographic examination fixation tool resembles a right-angled triangular prism with one side tilted at a 45 degree angle to adjust the position of the object so that it can obtain a good view of the Scottie dog sign to show part of the pars interarticularis

    Evaluasi Pemeriksaan MRI Brain dengan Klinis Vertigo di Rumah Sakit Otak dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi

    Get PDF
    Background: Vertigo is a symptom that arises as a result of disturbances in the balance of the vestibular system or disorders of the central nervous system. A radiological examination that can detect clinical vertigo is an MRI examination. There is a difference in the MRI Brain examination protocol for clinical vertigo between theory and the field, namely the addition of the 3D CISS protocol. The aim of this research is to determine the role of adding 3D CISS to MRI Brain examinations in clinical vertigo.Methods: This research is qualitative descriptive research, use 10 patients, and do in January to November 2023. Data was collected by observation, conducting interviews and questionnaires. This research use 13 sequences, namely Axial T2 TSE, DWI, Axial T2 TSE Dark Fluid, T2 SWI, Sagittal T1 TSE, Sagittal T2 TSE FS, Axial T1 TSE, Coronal T2 TSE, Coronal T1 TSE, Axial T1 TSE, Coronal, Sagittal + Contrast with cuts at the upper border of the vertex and the lower border of the cerebellum and T2 3D CISS axial isotropic sequences for the cuts used, namely at the level of the sponge, showing the vestibulocochlear cranial nerve (VIII).Results: The results of the assessment on the T2 3D CISS Axial Isotropic sequence showed that anatomical detail was clearly visible as much as 75% and the spatial resolution was clearly visible as much as 75%.Conclusions: Brain MRI examination with clinical vertigo provides information that helps in understanding the causes of vertigo, allowing for a more accurate and effective treatment approach

    2,323

    full texts

    2,705

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Beranda Jurnal Online Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang (POLTEKKES E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇