Jurnal Perikanan UNRAM (Universitas Mataram)
Not a member yet
805 research outputs found
Sort by
ECONOMIC FISH LANDED AT THE NUSANTARA FISHERY PORT (PPN) AWANG BAY
Shrimp is one of the important export commodities from the Indonesian fishery sector due to the considerable contribution to the economy. Rendemen on frozen shrimp processing can affect the financial aspect of the company. The purpose of this research is to know the flow of frozen shrimp processing, shrimp soaked with different time and size, and the quality of the raw material and the final product. Frozen raw shrimp processing process includes Raw Material Acceptance, Washing I, Weighing I, Cutting Head, Washing II, Weighing II, Initial Sorting, Final Sorting, Weighing III, Peeling and Intestinal Disposal, Washing III, Weighing IV, soaked, Weighing V, Laundering IV, Preparation, Freezing, VI Weighing, Glazing, Packaging, Metal Detection, Flap and Storage. shrimp soaked with different time and size obtained by different increase result for size 41/50 has a small increase percentage compared to size 61/70 and 71/90 which have big increase. The quality of peeled and deveined peeled shrimp products based on organoleptic test of fresh shrimp and finished product has met the standard. The quality of sensory shrimp raw shrimp PND with size 41/50, 61/70, 71/90 with soaked time of 2 and 4 hours still received by panelists based on the parameters of appearance, odor, taste and texture. Shrimp quality based on microbiology (ALT, E. coli, Salmonella, and V.chollerae) and chemistry (antibiotics) have met the standard.Udang merupakan salah satu komoditas ekspor penting dari sektor perikanan Indonesia karena kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian. Rendemen pada pengolahan udang beku dapat mempengaruhi aspek finansial perusahaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui alur proses pengolahan udang beku, perendaman udang dengan waktu dan size yang berbeda, dan mutu bahan baku serta produk akhir. Alur proses pengolahan udang mentah beku meliputi Penerimaan Bahan Baku, Pencucian I, Penimbangan I, Pemotongan Kepala, Pencucian II, Penimbangan II, Sortasi Awal, Sortasi akhir, Penimbangan III, Pengupasan Kulit dan Pembuangan Usus, Pencucian III, Penimbangan IV, Perendaman, Penimbangan V, Pencucian IV, Penyusunan, Pembekuan, Penimbangan VI, Glazing, Pengemasan, Pendeteksian Logam, Pengepakkan dan Penyimpanan. Perendaman udang dengan waktu dan size yang berbeda diperoleh hasil kenaikan yang berbeda untuk size 41/50 memiliki persentase kenaikan yang kecil di bandingkan size 61/70 dan 71/90 yang memiliki kenaikan yang besar. Mutu produk udang kupas mentah beku PND (Peeled and Deveined) berdasarkan uji organoleptik udang segar dan produk akhir telah memenuhi standar. Mutu sensori udang kupas mentah beku PND dengan size 41/50, 61/70, 71/90 dengan waktu perendaman 2 yang di sukai oleh panelis. Mutu udang berdasarkan berdasarkan mikrobiologi (ALT, E.coli, Salmonella, dan V.chollerae) dan kimia (antibiotik) telah memenuhi standar.
 
STUDI MORFOANATOMI GONAD DAN FEKUNDITAS IKAN NILEM (Osteochilus vittatus) DENGAN PAKAN SUPLEMENTASI TEPUNG SPIRULINA
Nilem fish (Osteochilus vittatus) is a fish native to eastern Indonesia. People in general like nilem fish due to many factors. The demand for nilem fish increases every year. This increase in demand must be accompanied by an increase in reproductive performance so that the stock of nilem fish is always maintained. Reproduction is the ability of an individual to produce offspring. There are several factors that greatly influence reproductive success, including environmental factors and food. Food content that is high in protein can improve fish reproductive performance. Spirulina platensis is a type of blue green algae that can live in fresh and brackish waters. The content of macromolecules and micromolecules in spirulina is very high. The protein contained in spirulina ranges from 55-65%, 5-7% fat, while the micromolecules contain 6-13% amino acids, 5% minerals. This research was conducted using a completely randomized design method with four treatments and four replications. The results of this research are that the addition of spirulina flour has a good effect on the morphoanatomical response of nilem fish. Giving spirulina flour had a real effect on GSI, HSI and fish weight, while fish length, fecundity and VSI had no real effect. The optimum dose in this study was P2 30g spirulina flour in 1 kg fish feed. Based on this research, feeding spirulina supplementation can increase the reproductive response of nilem fishIkan Nilem (Osteochilus vittatus) merupakan ikan asli Indonesia wilayah timur. Masyarakat secara umum menggemari ikan nilem karena banyak faktor. Peningkatan permintaan ikan nilem setiap tahun mengalami peningkatan. Peningkatan permintaan ini harus dibarengi dengan peningkatan performa reproduksi agar stok ikan nilem selalu terjaga Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan. Terdapat beberapa faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan reproduksi diantarnya faktor lingkungan dan makanan. Kandungan makanan yang tinggi protein dapat meningkatkan kinerja reproduksi ikan. Spirulina platensis merupakan jenis alga biru hijau yang dapat hidup di perairan tawar dan payau. Kandungan makromolekul dan mikromolekul pada spirulina sangat tinggi. Protein yang terkandung pada spirulina berkisar 55-65%, 5-7% lemak sedangkan untuk mikromolekul terkandung 6-13% asam amino, 5% mineral. Penelitian ini dilakukan dengan metode rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Hasil dari penelitian ini adalah penambahan tepung spirulina memberikan pengaruh baik pada respon morfoanatomi ikan nilem. Pemberian tepung spirulina memberikan pengaruh nyata pada GSI, HSI dan bobot ikan, sedang pada panjang ikan, fekunditas dan VSI tidak berpengaruh nyata. Dosis optimum pada penelitian ini adalah P2 30gr tepung spirulina pada 1 kg pakan ikan. Berdasarkan penelitian ini pemberian pakan spulementasi spirulina dapat meningkatkan respon reproduksi ikan nilem.
 
BUSINESS DEVELOPMENT STRATEGY OF FISH MILLING (CASE STUDY OF ASIAH MILLING BUSINESS IN BENGKULU CITY)
Asiah Fish Milling Business, established in 2005, processes mackerel, snakehead fish, and parang-parang fish from the Pulau Baai Morning Market into quality groundfish. Although initially stable, this business faces challenges in growth and profits, especially because the marketing reach is limited in Bengkulu City. In addition, the availability of raw materials, price fluctuations, changes in market demand, competition, and shifts in consumption patterns also affect sales. This study aims to analyze the development strategy of Asiah's fish milling business in Bengkulu City. The research method uses SWOT and QSPM analysis. The study results are an aggressive strategy; this business has strengths that can be used to create profitable opportunities, with S-O (Strength-Opportunity) recommendations, namely increasing efficiency and quality with easily obtained supporting tools and optimizing capital for expansion and innovation. The use of efficient tools facilitates production and reduces waste, while capital management allows investment in technology and product development. Business expansion will increase production capacity and expand the market, supporting sustainable growth and business competitiveness.Usaha Penggilingan Asiah, yang berdiri sejak 2005, mengolah ikan tenggiri, gabus, dan parang-parang dari Pasar Pagi Pulau Baai menjadi ikan giling berkualitas. Meski awalnya stabil, usaha ini menghadapi tantangan dalam pertumbuhan dan keuntungan, terutama karena jangkauan pemasaran terbatas di Kota Bengkulu. Selain itu, ketersediaan bahan baku, fluktuasi harga, perubahan permintaan pasar, serta persaingan dan pergeseran pola konsumsi turut mempengaruhi penjualan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan usaha penggilingan ikan Asiah Di Kota Bengkulu. Metode penelitian menggunakan analisis SWOT dan QSPM. Hasil kajian yang dihasilkan adalah strategi agresif, usaha ini mempunyai kekuatan yang dapat digunakan untuk menciptakan peluang yang menguntungkan, dengan rekomendasi S-O (Strength-Opportunity) yaitu meningkatkan efisiensi dan kualitas dengan alat pendukung yang mudah diperoleh, serta mengoptimalkan modal untuk ekspansi dan inovasi. Penggunaan alat yang efisien memperlancar produksi dan mengurangi pemborosan, sementara pengelolaan modal memungkinkan investasi dalam teknologi dan pengembangan produk. Ekspansi usaha akan meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar, mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan daya saing usaha
PENENTUAN STATUS KUALITAS AIR SITU CISANTI DENGAN METODE STORET
Situ Cisanti has the main function which is, being utilized by the surrounding community for various activities such as plantations, fisheries and tourism activities. The many activities in Situ Cisanti have an impact on the decline in water quality in the waters of Situ Cisanti. The water quality in Situ Cisanti must meet water quality standards because Situ Cisanti is the zero point of the Citarum River so that it has a direct impact on fish farming activities and drinking water sources along the Citarum River. Determination of water quality status in a body of water can be done by several methods, one of which is the STORET Method. Through the STORET Method, the water quality status of Situ Cisanti can be determined. The method used is the survey method. Determination of sampling points is determined based on considerations of the zoning of the water body consisting of inlets, the middle of the waters and outlets. Data analysis is carried out by comparing it with water quality standards and scoring it. Based on the results, the water quality status of Situ Cisanti is categorized as "lightly to moderately polluted" with a score between -10 to -11 for class 1 water quality standards and is categorized as lightly polluted with a score of -10 for class 2 quality standards. So it can be concluded that it does not meet the quality standards set by Government Regulation Number 22 of 2021 for raw water for drinking water and fisheries activities. Situ Cisanti memiliki fungsi utama yaitu dimanfaatkaan oleh masyarakat sekitar untuk berbagai aktivitas seperti perkebunan, perikanan dan kegiatan wisata. Banyaknya aktivitas tersebut berdampak pada penurunan kualitas air yang ada di perairan Situ Cisanti. Kualitas air Situ Cisanti harus memenuhi standar dikarenakan Situ Cisanti merupakan titik nol dari Sungai Citarum yang dapat berdampak secara langsung pada kegiatan budidaya ikan maupun sumber air minum sepanjang aliran Sungai Citarum. Penentuan status kualitas air pada suatu perairan dapat dilakukan dengan beberapa metode salah satunya dengan Metode STORET. Sampling dilakukan dengan menggunakan metode survei. Penentuan titik sampling ditentukan berdasarkan pertimbangan zonasi badan perairan yang terdiri atas inlet, bagian tengah perairan, dan outlet. Analisa data dilakukan dengan cara membandingkan dengan standar kualitas air dan diberi skoring. Berdasarkan hasil didapatkan status kualitas air Situ Cisanti dikategorikan ”Tercemar ringan hingga sedang” dengan skor antara -10 sampai -11 untuk standar kualitas air kelas 1 dan dikategorikan tercemar ringan dengan skor -10 untuk standar kualitas kelas 2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 untuk baku air minum dan kegiatan perikana
KORELASI USIA DAN MASA KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS PADA PROSES PENGUPASAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI MINIPLANT HARIYANTO LABUHAN MARINGGAI, LAMPUNG TIMUR
The purpose of this study was to analyze the influence of age and length of service on employee productivity in the crab peeling process. The product observed was peeled crab meat as a raw material for canned crab canning. The practical method used was observation of the crab peeling process flow, as well as observation of the influence of age and length of service on employee work productivity by also observing the yield produced. The results showed that the correlation between age and length of service in peeling had no correlation with productivity in crab peeling. The proportion of meat included jumbo meat of 4.5%, claw meat of 6.4%, flower 9.9%, and special 6.4%. The yield produced from crab peeling was 37.78%.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh dari faktor usia dan masa kerja terhadap produktivitas karyawan pada proses pengupasan rajungan. Produk yang diamati adalah daging rajungan kupas sebagai bahan baku pengalengan rajungan kaleng. Metode praktik yang digunakan adalah pengamatan alur proses pengupasan rajungan, serta pengamatan pengaruh usia dan masa kerja terhadap produktivitas kerja karyawan dengan mengamati juga rendemen yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi usia dan masa kerja pada pengupasan tidak memiliki korelasi terhadap produktivitas pada pengupasan rajungan. Proporsi daging meliputi daging jumbo sebesar 4,5%, daging capit 6,4%, flower 9,9%, dan spesial 6,4%. Rendemen yang dihasilkan dari pengupasan rajungan sebesar 37,78%
HUBUNGAN EKOLOGIS ANTARA MANGROVE DAN KEPITING PADA HUTAN MANGROVE DI DESA KETAPANG INDAH KECAMATAN SINGKIL UTARA KABUPATEN ACEH SINGKIL
Mangrove forests are one of the important ecosystems in coastal areas. The existence of mangrove crabs is greatly affected by the condition of the surrounding mangrove ecosystem. The objectives of the study were to (1) analyze the level of mangrove and crab diversity; (2) analyze mangrove and crab density; (3) analyze the distribution pattern of mangrove and crab communities; (4) analyze the ecological relationship between mangroves and crabs. Mangrove sampling research method with purposive sampling method. Mangrove crab sampling using random sampling method. The results of the study showed that mangrove diversity found 4 species namely; Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, and Sonneratia alba, crab diversity there are 3 species namely; Scylla serrata, Scylla olivacea, and Scylla paramamosin. Mangrove density was relatively high and ranging from 4000-4466,67 ind/ha and crab density ranging from 3,00-3,67 ind/m2. The distribution of mangroves and crabs as a whole has a uniform distribution. Environmental factors that have the most influence on crab density are temperature and substrate factors. The temperature at the study site ranged from 28,47-28,77°C and the substrate at the study site was clay or sandy clay.Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem penting di kawasan pesisir. Keberadaan kepiting bakau sangat dipengaruhi oleh kondisi ekosistem mangrove yang ada di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalis tingkat keanekaragaman mangrove dan kepiting; (2) menganalisis kerapatan mangrove dan kepatan kepiting; (3) menganalisis pola distribusi mangrove dan kepiting; (4) menganalisis hubungan ekologis mangrove dan kepiting. Metode penelitian pengambilan sampel mangrove dengan metode purposive sampling. Pengambilan sampel kepiting bakau dengan menggunakan metode random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman mangrove ditemukan 4 spesies yaitu; Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, dan Sonneratia alba, keanekaragaman kepiting ada 3 spesies yaitu; Scylla serrata, Scylla olivacea, dan Scylla paramamosin. Kerapatan mangrove tergolong tinggi berkisar antara 4000-4466,67 ind/ha dan kepadatan kepiting berkisar antara 3,00-3,67 ind/m2. Distribusi mangrove dan kepiting secara keseluruhan memiliki distribusi tersebar rata. Faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap kepadan kepiting adalah faktor suhu dan substrat. Suhu dilokasi penelitian berkisar antara 28,47-28,77°C dan substrat pada lokasi penelitian adalah lempung atau lempung liat berpasir
Komposisi Jenis dan Indeks Keanekaragaman Ikan Kerapu (Serranidae) yang di Daratkan Pada Tempat Pelelangan Ikan Lewoleba
Lembata Regency marine waters have a high level of biota diversity. The purpose of the study was to determine the species composition and diversity index of grouper (Serranidae). Data analysis was carried out by calculating the index value of species diversity, species evenness and species dominance. The results showed that the species composition landed at Lewoleba Fish Auction Site (TPI) was dominated by Cephalopholis boenak species at 10%, followed by Variola louti, Epinephelus ongus, Epinephelus fasciatus, and Cephalopholis miniata at 9%, then followed by Plectropomus leopardus, Epinephelus coeruleopunctatus, and Anyperodun leucogrammicus at 8%, followed by Plectropomus oligacanthus, Plectropomus areolatus, and Epinephelus macrospilos at 7%, followed by Cephalopholis sonnerati at 6%, and the last was Epinephelus undulosus at 3%. The diversity index (H') varied from 2.452 to 2.548. Based on the index value, the diversity index category is moderate (1 < H' < 3). The diversity index (E) varied from 0.956 to 0.993. Based on the index value, the evenness index category is high or evenly distributed. The dominance index (E) varies from 0.080 to 0.093. Based on the index value, the dominance index category is low or almost no dominance.Perairan laut Kabupaten Lembata memiliki tingkat keanekaragaman biota yang tinggi. Tujuan penelitian yakni untuk mengetahui komposisi jenis dan indeks keanekaragaman ikan kerapu (Serranidae). Analisis data dilakukan dengan menghitung nilai indeks keanekaragaman jenis, kemerataan jenis dan dominansi jenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi spesies yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lewoleba didominasi oleh spesies Cephalopholis boenak sebesar 10%, diikuti oleh Variola louti, Epinephelus ongus, Epinephelus fasciatus, dan Cephalopholis miniata sebesar 9%, kemudian disusul oleh Plectropomus leopardus, Epinephelus coeruleopunctatus, dan Anyperodun leucogrammicus sebesar 8%, diikuti oleh Plectropomus oligacanthus, Plectropomus areolatus, dan Epinephelus macrospilos sebesar 7%, disusul oleh Cephalopholis sonnerati sebesar 6%, dan yang terakhir adalah Epinephelus undulosus sebesar 3%. Indeks keanekaragaman (H’) bervariasi dari 2,452 sampai 2,548. Berdasarkan nilai indeks tersebut maka kategori indeks keanekaragaman sedang (1 < H’ <3). Indeks kemerartaan/keseragaman (E) bervariasi dari 0,956 sampai 0,993. Berdasarkan nilai indeks tersebut maka kategori indeks kemerataan tinggi atau merata. Indeks dominansi (E) bervariasi dari 0,080 sampai 0,093. Berdasarkan nilai indeks tersebut maka kategori indeks dominansi rendah atau hampir tidak ada yang mendominans
Hubungan Kerapatan Mangrove Dengan Kepadatan Kepiting Bakau (Scylla spp.) Pada Kawasan Mangrove Pantai Kelapa Desa Tungkal I Tanjung Jabung Barat
This research was motivated by the ecological importance of mangrove ecosystems as natural habitats for mud crabs (Scylla spp.) and the suspected influence of mangrove density on the population of associated biota in the Mangrove Ecotourism Area of Pantai Kelapa, Tungkal I Village, West Tanjung Jabung. The main objectives of this study were to identify the types and density of mangroves, determine the species and density of mud crabs, analyze the relationship between mangrove density and mud crab density, and assess sediment composition. A descriptive analytical method was employed, using both primary and secondary data collection. The results revealed four species of mangroves (Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora mucronata, and Nypa fruticans) with total tree-level densities ranging from 366.66 to 766 individuals per hectare. Two species of mud crabs were identified (Scylla serrata and Scylla tranquebarica), with densities ranging from 200 to 566 individuals per hectare. The highest mud crab density was recorded at station 3, which also had the highest mangrove density. A simple linear regression analysis showed an R² value of 0.3226, indicating a weak correlation. These findings suggest that mangrove density has a limited and statistically insignificant influence on the density of mud crabs in the study area.Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya ekologi ekosistem mangrove sebagai habitat alami bagi kepiting bakau (Scylla spp.) dan adanya pengaruh kerapatan mangrove dengan populasi biota asosiasi di Kawasan Ekowisata Mangrove Pantai Kelapa, Desa Tungkal I, Tanjung Jabung Barat. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis dan kerapatan mangrove, menentukan spesies dan kerapatan kepiting bakau, menganalisis hubungan antara kerapatan mangrove dan kerapatan kepiting bakau, dan menganalisis fraksi sedimen. Metode yang digunakan ialah analisis deskriptif yang digunakan untuk pengumpulan data, pengumpulan data menggunakan data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat spesies mangrove (Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora mucronata, dan Nypa fruticans) dengan total kerapatan tingkat pohon berkisar antara 366,66 hingga 766 individu per hektar. Dua spesies kepiting bakau diidentifikasi (Scylla serrata dan Scylla tranquebarica), dengan kepadatan berkisar antara 200 hingga 566 individu per hektar. Kepadatan kepiting bakau tertinggi ditemukan pada stasiun 3, yang juga memiliki kepadatan mangrove tertinggi. Analisis regresi linier sederhana menunjukkan nilai R² sebesar 0,3226, yang menunjukkan korelasi lemah. Temuan ini menunjukkan bahwa kepadatan mangrove memiliki pengaruh yang terbatas dan tidak signifikan secara statistik terhadap kepadatan kepiting bakau di wilayah penelitian
Analisis Kontaminasi Logam Berat Pb, Cr, Cd dan Tingkat Keamanan Pangan Ikan Air Tawar Konsumsi di Pasar Tradisional Kota Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah
Fish is a favorite food source that contains amino acids, omega-3 fatty acids, vitamins, selenium and calcium that can maintain the immune system. On the other hand, fish can also absorb and accumulate heavy metals such as Pb, Cr and Cd which can cause toxic effects. Heavy metal contamination in consumed fish has become a global issue especially in developing countries including Indonesia. In 2020, Banyumas Regency (Purwokerto) was the center and largest contributor to freshwater fish production in Central Java Province, whose production reached 3.6 tons or 31% of the total production with a total value of 181.9 billion. For this reason, it is necessary to conduct research related to Pb, Cr, Cd contamination and the level of food safety of consumed freshwater fish sold in the traditional market of Purwokerto city. This study aims to determine the food safety level of freshwater fish consumed in traditional markets in Purwokerto city from contamination by heavy metals Pb, Cd, and Cr. The methods used were a survey method, heavy metal content analysis using AAS, and safety level analysis using EDI, THQ, HI, and TR. The results showed that the concentration of Pb Cd, Cr in pomfret, tilapia and catfish in the Wage, Manis and Pon markets compared to the quality standard is still below so that these concentrations are still in the safe category for consumption. The results of the risk analysis show that the values of EDI, THQ, HI and TR in pomfret, tilapia and catfish in the Wage (PW), Manis (PM) and Pon (PP) markets are still below the threshold or standard both nationally and internationally so that it can be categorized as safe or does not pose a risk to human health.Ikan merupakan sumber pangan favorit yang mengandung asam amino, asam lemak omega-3,vitamin, selenium dan kalsium yang dapat menjaga sistem kekebalan tubuh. Di sisi lain ikanjuga dapat menyerap dan mengakumulasi logam berat seperti Pb, Cr dan Cd yang dapatmenyebabkan efek toksik. Kontaminasi logam berat pada ikan konsumsi telah menjadi isuglobal terutama di negara berkembang termasuk di Indonesia. Pada tahun 2020 KabupatenBanyumas (Purwokerto) merupakan sentra dan penyumbang terbesar produksi ikan air tawardi Provinsi Jawa Tengah yang produksinya mencapai 3,6 ton atau 31% dari total produksidengan total nilai sebesar 181, 9 miliar. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian terkaitkontaminasi Pb, Cr, Cd dan tingkat keamanan pangan ikan air tawar konsumsi yang dijualdipasar tradisional kota Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkatkeamanan pangan ikan air tawar konsumsi di pasar tradisional kota Purwokerto darikontaminasi logam berat Pb, Cd dan Cr. Metode yang digunakan adalah metode survey,analisis kandungan logam berat menggunakan AAS dan analisis tingkat keamananmenggunakan EDI, THQ, HI dan TR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi Pb Cd,Cr pada ikan bawal, nila dan lele di pasar Wage, Manis dan Pon dibandingkan standar bakumutu masih berada dibawahnya sehingga dengan demikian konsentrasi ini masih dalamkatergori aman untuk dikonsumsi. Hasil analisis resiko menunjukkan bahwa nilai EDI, THQ,HI dan TR pada ikan bawal, nila dan lele di pasar wage (PW), pasar manis (PM) dan pasar pon(PP) masih berada dibawah ambang batas atau strandar baik nasional maupun internasionalsehingga dapat dikategorikan aman atau tidak menimbulkan resiko terhadap kesehatanmanusia
FEASIBILITY ANALYSIS OF FISH HANDLING PRACTICES IN THE SABILULUNGAN MODERN FISH MARKET
In 2018 the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries built the Sabilulungan modern fish market in Bandung Regency. This modern fish market was built the main aim of eliminating the public’s image of fish markets as dirty, muddy, smelly, and dirty. This research was conducted to determine the appropriateness of fish handling methods in modern fish markets. Analysis of the feasibility of fish handling methods is carried out by referring to the fish handling practice implementation checklist regulated by the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries for supplier units. The assessment is modified with the Guttman scale and the finalo result will conclude the feasibility of the treatment method in the form of a percentage. The research result stated that the method of fish handling in modern fish market sabilulungan was not feasible with a feasibility value of 40.4%. It is recommended that modern fish market sabilulungan immediately create a management standard operating procedure, complete a documentation system, be firm in developing traders, appoint a special officer to be responsible for quality, complete and recognize facilities and infrastructure according to requirement, provide counseling regarding the principles of hygienic sanitation and training on good fish handling methods.In 2018 the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries built the Sabilulungan modern fish market in Bandung Regency. This modern fish market was built the main aim of eliminating the public’s image of fish markets as dirty, muddy, smelly, and dirty. This research was conducted to determine the appropriateness of fish handling methods in modern fish markets. Analysis of the feasibility of fish handling methods is carried out by referring to the fish handling practice implementation checklist regulated by the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries for supplier units. The assessment is modified with the Guttman scale and the finalo result will conclude the feasibility of the treatment method in the form of a percentage. The research result stated that the method of fish handling in modern fish market sabilulungan was not feasible with a feasibility value of 40.4%. It is recommended that modern fish market sabilulungan immediately create a management standard operating procedure, complete a documentation system, be firm in developing traders, appoint a special officer to be responsible for quality, complete and recognize facilities and infrastructure according to requirement, provide counseling regarding the principles of hygienic sanitation and training on good fish handling methods