Jurnal Perikanan UNRAM (Universitas Mataram)
Not a member yet
    805 research outputs found

    PENGARUH KONSENTRASI ZOOSPORA TERHADAP PREVELENSI INFEKSI Saprolegnia spp. PADA lKAN NILA Oreochromis niloticus

    No full text
    Penelitian  ini bertujuan  untuk mengetahui  pengaruh  konsentrasi  zoospora  Saprolegnia spp. terhadap  prevalensi infeksi Saprolegnia  spp. dan tingkat  kelangsungan   hidup ikan Nila (0.niloticus). Penelitian  dilaksanakan   pada bulan Agustus  sampai  September  2014 di Laboratorium   Mikrobiologi  Fakultas  Pertanian  dan Laboratorium   Bioekologi  Perairan  Program  Studi Budidaya  Perairan,  Universitas  Mataram.  Bagian  punggung  Benih  ikan Nila (berat rata-rata + SD = 9,9 + 1,2 g /ekor; n = 5) digores  menggunakan  skalpel kemudian   10 ekor ikan dimasukkan  ke dalam media 10 L air yang  telah  diinokulasi   dengan  zoospora  Saprolegnia  dengan  konsentrasi   berbeda  yaitu  0 sel/mL (kontrol),  102 se/mL, 103 sel/mL, 104 sel/mL,dan 105 sel/mL. Hewan uji dipelihara selama 14 hari dengan pemberian pakan secara ad libitum dan dilakukan  pergantian  air setiap tiga hari sebanyak  30% setiap tiga hari tanpa penambahan zoospora.  Hewan  uji yang mati selama  percobaan  diamati  secara mikroskopis   yang dilanjutkan  dengan  uji Postulat Koch  untuk  memastikan   isolat jamur  Saprolegnia yang  tumbuh.  Hasil  penelitian   menunjukkan   bahwa  perbedaan konsentrasi   zoospora  memberikan  pengaruh  yang berbeda  nyata (p<0,05)  terhadap  prevalensi   infeksi Saprolegnia pada Ikan Nila (0.niloticus) dimana  semakin  tinggi  konsentrasi  zoospora  maka rata-rata  tingkat  prevalensi  infeksi akan semakin  tinggi.  Prevalensi  infeksi Saprolegnia yang mencapai  minimal  50% diperoleh  pada konsentrasi  zoospora  105 sel/mLyaitu   73,2%. Tingkat  kelangsungan   hidup Ikan Nila selama  14 hari percobaan  menunjukkan   tidak berbeda  nyata terhadap  kontrol (p>0,05).  Parameter  kualitas air yang diukur  selama  14  hari percobaan  yaitu suhu 27, 1-28,5 0C, pH = 8, dan DO = 4 - 4,2 mgIL menunjukkan  dalam batas yang  dapat  ditolerir  oleh hewan  uji. Hasil penelitian   ini dapat  dijadikan  sebagai  informasi  dasar  untuk pengujian   lethal  dosis  (LD50%)  dan pengembangan  metode penanggulangan   penyakit  Saprolegnosis   seperti penggunaan  bakteri  kitinolitik  atau bahan alami anti jarnu

    Pengaruh Pemberian Probiotik EM4 dengan Dosis Berbeda terhadap Kelangsungan Hidup Larva Ikan Badut (Amphiprion percula)

    Full text link
    Ikan badut (Amphiprion percula) merupakan ikan hias air laut bernilai ekonomi tinggi. Kendala pada budidaya ikan badut adalah rendahnya kelangsungan hidup larva. EM4 (Effective Microorganisme 4) merupakan jenis probiotik komersial yang dapat memperbaiki kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik EM4 dengan dosis berbeda terhadap kelangsungan hidup larva ikan badut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember 2012 di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol Bali. Larva yang digunakan sebagai hewan uji yaitu larva berumur 2 hari. Rancangan percobaan  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu dosis probiotik 4 mg/l (P1), 8 mg/l (P2), 12 mg/l (P3), 16 mg/l (P4), tanpa probiotik/kontrol (P5) dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa, probiotik EM4 dengan dosis berbeda tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap kelangsungan hidup dan panjang akhir larva namun berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap  berat akhir larva. Dosis probiotik 8 mg/l menghasilkan nilai rata-rata panjang akhir dan berat akhir akhir tertinggi (0,017 g)

    Pengaruh Jenis dan Lama Perendaman Bibit dengan Menggunakan Air Kelapa (Cocos nucifera) terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii

    Full text link
    Eucheuma cottonii merupakan alga yang banyak mengandung hidrokoloid yakni karaginan yang berguna dalam berbagai industri. Untuk mendapatkan rumput laut Eucheuma cottonii berkualitas baik maka upaya yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan bahan alami berupa air kelapa karena mengandung hormon pertumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis air kelapa dan lama perendaman serta interaksinya terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor (faktorial). Faktor pertama adalah perendaman dengan jenis air kelapa yakni air kelapa muda dan air kelapa tua; faktor kedua adalah lama perendaman yakni 0, 5, 10, 15 dan 20 menit. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April-Juli 2012 di Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok stasiun Gerupuk, Dusun Gerupuk, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan di Laboratorium Perikanan, Program Studi Budidaya Perairan, Universitas Mataram. Data dianalisis menggunakan analisis keragaman pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis air kelapa dan lama perendaman serta interaksinya tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii. Rata-rata parameter pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan air kelapa tua dengan lama perendaman 20 menit cenderung memberikan laju pertumbuhan rumput laut Echeuma cottonii yang lebih tinggi

    Pengaruh Pakan yang Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Ikan Badut (Amphiprion ocellaris)

    Full text link
    Ikan badut (Amphiprion ocellaris) merupakan salah satu jenis ikan hias air laut yang banyak diminati pasar luar negeri, karena bentuknya yang eksotis dan unik. Selama ini pemenuhan kebutuhan pasar dilakukan melalui tangkapan di alam. Tingginya permintaan pasar terhadap ikan badut menyebabkan eksploitasi menjadi tidak terkendali. Melalui usaha budidaya, diharapkan dapat menjaga kelestarian ikan badut di alam. Salah satu permasalahan dalam budidaya ikan badut adalah menentukan jenis pakan yang baik untuk menunjang pertumbuhan dan sintasannya. Penelitian dilakukan selama 35 hari menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakukan yang digunakan adalah 4 jenis pakan berbeda yaitu pellet, cacing darah, cacing sutra, dan kombinasi (cacing darah dan cacing sutra) dengan masing-masing 5 kali ulangan. Analisis data menggunakan ANOVA (p<0,05) dan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan Uji BNT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan pakan kombinasi memberikan pertumbuhan panjang mutlak yang paling baik (0,71cm), kemudian diikuti oleh pellet (0,6cm), tubifex (0,53cm), dan cacing darah (0,48cm). Pertumbuhan berat mutlak ikan badut dengan pemberian pakan tubifex, kombinasi, pellet, dan cacing darah berturut-turut adalah 0,94g; 0,52g; 0,48g; dan 0,38g. Sintasan ikan badut dengan pemberian pakan tubifex adalah 88%, cacing darah 88%, kombinasi 84%, dan pellet 80%

    PENGARUH KEPADATAN INOKULUM TERHADAP PERTUMBUHAN POPULASI DAN BIOMASSA Spirulina Sp.

    No full text
    Spirulina sp. merupakan salah satu pakan alami yang potensial untuk larva udang dan ikan karena mempunyai nilai gizi tinggi antara lain protein 63-68 %. karbohidrat 18-20 %, dan lemak 2-3%. Kandungan protein yang tinggi ini menyebabkan Spirulinna sp. dipilih sebagai pakan yang dapat menekan besarnya kematian larva. Pertumbuhan  populasi Spirulinna sp. dapat dipengaruhi oleh kepadatan inokulum yang dapat mempengaruhi biomassa. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui kepadatan inokulum yang menghasilkan pertumbuhan populasi  dan biomassa Spirulinna sp. paling tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 14 Maret sampai 4 April 2013 di Laboratorium Budidaya Perairan Universitas Mataram. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu kepadatan inokulum yang terdiri dari empat aras yaitu: 5.000, 10.000, 15.000 dan 20.000 sel/ml masing-masing diulang sebanyak 5 kali. Pengamatan jumlah sel Spirulinna sp. dilakukan setiap hari selama 10 hari masa kultur, kemudian dihitung pertumbuhan populasi dan biomassanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan populasi awal yang berbeda menghasilkan pertumbuhan populasi berbeda pula namun tidak menghasilkan pertumbuhan biomassa yang berbeda. Perlakuan dengan kepadatan populasi awal 5.000 sel/ml menghasilkan pertumbuhan populasi tertinggi yaitu 3.98668 sel/ml

    712

    full texts

    805

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Perikanan UNRAM (Universitas Mataram)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇