Jurnal Perikanan UNRAM (Universitas Mataram)
Not a member yet
805 research outputs found
Sort by
Evaluasi Pemijahan Induk Ikan Baung (Mystus nemurus) Yang Diberi Pakan Keong Mas (Pomacea canaliculata)
This study aims to evaluate the effects of feeding golden apple snails (Pomacea canaliculata) on the growth and gonad development of prospective broodstock of Asian Redtail Catfish (Mystus nemurus). The background of the research is based on the declining population of Asian Redtail Catfish in the wild due to overexploitation, necessitating effective aquaculture efforts with attention to broodstock nutrition. Golden apple snails were chosen as an alternative feed due to their high protein and nutrient content, as well as their abundant availability and cost-effectiveness. The research method was experimental, comparing two treatment groups: the first group was fed golden apple snails, and the second group was given commercial pellets as a control. The observed parameters included egg diameter, fecundity, fertilization rate (FR), hatching rate (HR), survival rate (SR), and water quality. The fish were reared for three months in aquaculture ponds with periodic water quality monitoring. The results showed that feeding golden apple snails had a significantly positive impact on the reproductive performance of Asian Redtail Catfish. The snail-fed group exhibited higher fecundity (averaging 130,678 eggs) compared to the pellet-fed group (91,025 eggs). Additionally, the snail-fed group had superior FR (92%), HR (87%), and SR (79%) compared to the pellet-fed group (FR 88%, HR 81%, SR 76%). The egg diameter from snail-fed broodstock was larger (2.01 ± 0.14 mm) than that of the pellet-fed group (1.61 ± 0.04 mm), indicating better egg quality. Based on these findings, it was concluded that golden apple snails are effective as an alternative feed for enhancing the reproductive productivity of Asian Redtail Catfish. The nutrients in the snails, particularly protein, fats, and essential amino acids, play a crucial role in supporting gonad development and egg quality. This study recommends the use of golden apple snails in Asian Redtail Catfish aquaculture, with the suggestion that further research be conducted to determine the optimal dosage and feeding strategy. The implementation of these findings is expected to support sustainable Asian Redtail Catfish farming and improve the availability of high-quality fry.Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian pakan keong mas (Pomacea canaliculata) terhadap pertumbuhan dan perkembangan gonad calon induk ikan baung (Mystus nemurus). Latar belakang penelitian didasari oleh menurunnya populasi ikan baung di alam akibat eksploitasi berlebihan, sehingga diperlukan upaya budidaya yang efektif dengan memperhatikan aspek nutrisi induk. Keong mas dipilih sebagai pakan alternatif karena kandungan protein dan nutrisinya yang tinggi, serta ketersediaannya yang melimpah dan ekonomis. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dengan membandingkan dua kelompok perlakuan: kelompok pertama diberi pakan keong mas dan kelompok kedua diberi pelet komersial sebagai kontrol. Parameter yang diamati meliputi diameter telur, fekunditas, Fertilization Rate (FR), Hatching Rate (HR), Survival Rate (SR) dan kualias air. Pemeliharaan dilakukan selama tiga bulan di kolam budidaya dengan pengontrolan kualitas air secara berkala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian keong mas memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kinerja reproduksi ikan baung. Kelompok yang diberi keong mas menghasilkan fekunditas lebih tinggi (rata-rata 130.678 butir telur) dibandingkan pelet (91.025 butir). Selain itu, parameter FR (92%), HR (87%), dan SR (79%) pada kelompok keong mas juga lebih unggul daripada kelompok pelet (FR 88%, HR 81%, SR 76%). Diameter telur yang dihasilkan oleh induk yang diberi keong mas lebih besar (2,01 ± 0,14 mm) dibandingkan pelet (1,61 ± 0,04 mm), menunjukkan kualitas telur yang lebih baik. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa keong mas efektif sebagai pakan alternatif untuk meningkatkan produktivitas reproduksi ikan baung. Nutrisi dalam keong mas, terutama protein, lemak, dan asam amino esensial, berperan penting dalam mendukung perkembangan gonad dan kualitas telur. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan keong mas dalam budidaya ikan baung, dengan catatan perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menentukan dosis optimal dan strategi pemberian pakan yang tepat. Implementasi hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung budidaya ikan baung yang berkelanjutan dan meningkatkan ketersediaan benih berkualitas
REVIEW: COMPARATIVE SYSTEM ANALYSIS OF OYSTER (Crassostrea sp) BREEDING IN JAPAN AND INDONESIA
Oysters (Crassostrea sp.) are high-value aquaculture commodities with significant economic and ecological potential. Japan and Indonesia are both maritime countries with vast marine resources, yet they differ considerably in their oyster farming systems. This study aims to conduct a comparative analysis of oyster cultivation systems in the two countries, focusing on farming methods, technology, environmental management, policy support, and productivity. A qualitative descriptive approach was employed through a literature review of various scientific sources and secondary data published over the past ten years. The results show that Japan has developed a modern and sustainable farming system, utilizing automation, real-time water quality monitoring, and strong, integrated policy support. In contrast, Indonesia still relies on traditional farming methods, with limited access to technology and weak environmental management, while policy implementation remains suboptimal. This comparison is essential as a foundation for evaluating and formulating strategic development plans for oyster aquaculture in Indonesia. A collaborative effort between the government, academics, and industry stakeholders is needed to strengthen the transition toward an efficient, adaptive, and sustainable oyster farming system in the future.
Tiram (Crassostrea sp.) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi dan ekologis tinggi yang berpotensi besar untuk dikembangkan dalam sektor akuakultur. Jepang dan Indonesia merupakan negara dengan potensi perairan laut yang baik, namun memiliki perbedaan signifikan dalam penerapan sistem budidaya tiram. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif sistem pembesaran tiram di kedua negara berdasarkan aspek metode budidaya, teknologi, manajemen lingkungan, dukungan kebijakan, dan produktivitas. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi literatur terhadap berbagai sumber ilmiah dan data sekunder dalam rentang 10 tahun terakhir. Hasil menunjukkan bahwa Jepang telah mengembangkan sistem budidaya yang modern dan berkelanjutan, dengan penggunaan teknologi otomatis, sistem monitoring kualitas air real-time, serta dukungan kebijakan yang kuat dan terintegrasi. Sebaliknya, Indonesia masih menerapkan sistem budidaya tradisional dengan keterbatasan teknologi dan manajemen lingkungan, serta implementasi kebijakan yang belum optimal. Perbandingan ini penting sebagai dasar evaluasi dan penyusunan strategi pengembangan budidaya tiram di Indonesia. Diperlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha untuk memperkuat sistem budidaya yang efisien, adaptif, dan berkelanjutan di masa depan
THE ADDITION OF SURIMI INDIAN MACKEREL (Rastrelliger kanagurta) TO THE SENSORY AND CHEMICAL CHARACTERISTICS OF MANTOU
This study aims to determine the most preferred percentage of indian mackerel surimi addition to mantou based on panelist evaluations. The research was conducted from December 2024 to March 2025 using an experimental method with four treatments (0%, 20%, 30%, and 40%) and 20 panelist as the retest. Panelist acceptance was assessed using a hedonic test and Bayes analysis. The hedonic test data were analyzed using the Friedman test. The most preferred mantou sample was further analyzed for its nutritional content through proximate analysis. The results showed no significant differences among treatments in terms of panelist preference. However, the control mantou (0%) and the mantou with 40% Indian mackerel surimi addition had the highest preference scores. The 40% treatment received the highest mean score for appearance (7.90), while the A (0%) control sample scored highest for aroma (8.10) and taste (8.00). Both treatments had the same texture score (7.80). The highest alternative value in the Bayes test was obtained by treatment D (40%) which amounted to 8.03. Proximate analysis revealed that the addition of mackerel surimi tended to increase the nutritional content of mantou, except for carbohydrates. The , 40% surimi mantou had 39.35% moisture, 1.13% ash, 5.17% fat, 10.49% protein, and 43.86% carbohydrates. Meanwhile, the control mantou contained 31.15% moisture, 0.98% ash, 4.57% fat, 8.28% protein, and 55.02% carbohydrates.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan persentase penambahan surimi ikan kembung pada mantou yang paling disukai panelis. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2024 hingga Maret 2025 menggunakan metode eksperimental dan terdiri atas empat perlakuan (0%, 20%, 30% dan 40%) dan 20 orang panelis sebagai ulangan. Penerimaan panelis dievaluasi menggunakan uji hedonik dan uji Bayes. Data hasil uji hedonik diolah menggunakan uji Friedman. Mantou yang paling disukai kemudian dianalisis kandungan gizinya melalui uji proksimat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata antar perlakuan terhadap tingkat kesukaan panelis. Akan tetapi, mantou kontrol 0% (A) dan mantou dengan penambahan surimi ikan kembung 40% (D) memiliki nilai kesukaan tertinggi. Perlakuan 40% memiliki nilai rata-rata tertinggi untuk kenampakan (7,90), sedangkan mantou kontrol A (0%) tertinggi pada aroma (8,10) dan rasa (8,00). Nilai tekstur pada kedua perlakuan adalah sama (7,80). Nilai alternatif pada uji Bayes tertinggi didapatkan oleh perlakuan D (40%) yakni sebesar 8,03. Hasil uji proksimat menunjukkan bahwa penambahan surimi ikan kembung cenderung meningkatkan kandungan gizi mantou, kecuali pada parameter karbohidrat. Mantou dengan penambahan surimi 40% (D) memiliki kadar air 39,35%; kadar abu 1,13%; kadar lemak 5,17%; kadar protein 10,49% dan kadar karbohidrat 43,86%. Sementara itu, mantou kontrol 0% (A) memiliki kadar air 31,15%; kadar abu 0,98%; kadar lemak 4,57%; kadar protein 8,28%; dan kadar karbohidrat 55,02%
Analisis Peningkatan Produktifitas Udang Vaname Melalui SIMORIKA di Desa Sukadana Lombok Utara
This study aims to analyze the effect of the implementation of the Water Quality Monitoring and Control System (SIMORIKA) on increasing the productivity of Vaname shrimp cultivation in Sukadana Village, North Lombok Regency. SIMORIKA is a technology-based innovation that allows farmers to monitor water quality in real-time, so that cultivation decisions can be made quickly and accurately. The research method used is a quantitative approach with a pre-experimental design using a one-group pretest-posttest model. The results showed that after the implementation of SIMORIKA, there was a significant increase in Vaname shrimp productivity, as measured by the survival rate (SR), harvest weight, and feed efficiency. These findings indicate that monitoring technology such as SIMORIKA has great potential in supporting the sustainability and efficiency of the aquaculture sector.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan Sistem Monitoring danKontrol Kualitas Air (SIMORIKA) terhadap peningkatan produktivitas budidaya udangVaname di Desa Sukadana, Kabupaten Lombok Utara. SIMORIKA merupakan inovasiberbasis teknologi yang memungkinkan petambak melakukan pemantauan kualitas air secarareal-time, sehingga keputusan budidaya dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Metodepenelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimenmenggunakan model one-group pretest-posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelahpenerapan SIMORIKA, terjadi peningkatan signifikan pada produktivitas udang Vaname, yangdiukur dari tingkat kelangsungan hidup (SR), bobot panen, dan efisiensi pakan. Temuan inimenunjukkan bahwa teknologi monitoring seperti SIMORIKA memiliki potensi besar dalammendukung keberlanjutan dan efisiensi sektor perikanan budidaya
OPTIMIZATION OF INTEGRATED MULTI-TROPHIC AQUACULTURE (IMTA) CULTIVATION IN AQUARIA: A REVIEW OF PRODUCTIVITY, ECOSYSTEM BALANCE, AND ENVIRONMENTAL SUSTAINABILITY
This study aimed to evaluate the effectiveness of an aquarium-based Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) system compared to a monoculture system. The research was conducted from November to December 2024 at the Aquaculture Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Padjadjaran. The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments and three replications, involving combinations of guppy fish (Poecilia reticulata), Egeria densa aquatic plants, Ramshorn snails (Planorbella duryi), and Orange Rili shrimp (Neocaridina davidi). Parameters observed included water quality (pH, DO, nitrate, phosphate, turbidity, temperature), organism growth, benefit-cost ratio (BCR), and aesthetic value using a 1–5 scale. The results showed that Treatment E (combining fish, plants, snails, and shrimp) provided the best performance, with the most stable water quality, highest organism growth, highest BCR, and an average aesthetic score of 4.89. The IMTA system was shown to improve resource efficiency, reduce biological waste, and enhance the visual appeal of aquarium-based aquaculture. These findings support the application of aquarium-scale IMTA as a sustainable aquaculture model that is ecologically, economically, and aesthetically adaptive.This study aimed to evaluate the effectiveness of an aquarium-based Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) system compared to a monoculture system. The research was conducted from November to December 2024 at the Aquaculture Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Padjadjaran. The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments and three replications, involving combinations of guppy fish (Poecilia reticulata), Egeria densa aquatic plants, Ramshorn snails (Planorbella duryi), and Orange Rili shrimp (Neocaridina davidi). Parameters observed included water quality (pH, DO, nitrate, phosphate, turbidity, temperature), organism growth, benefit-cost ratio (BCR), and aesthetic value using a 1–5 scale. The results showed that Treatment E (combining fish, plants, snails, and shrimp) provided the best performance, with the most stable water quality, highest organism growth, highest BCR, and an average aesthetic score of 4.89. The IMTA system was shown to improve resource efficiency, reduce biological waste, and enhance the visual appeal of aquarium-based aquaculture. These findings support the application of aquarium-scale IMTA as a sustainable aquaculture model that is ecologically, economically, and aesthetically adaptive
Evaluasi Potensi Tepung Tubifex sebagai Pengganti Tepung Ikan dalam Pakan Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
The high cost and limited availability of fishmeal in aquaculture feed formulations have prompted the search for sustainable and affordable alternative protein sources. This study aimed to evaluate the effects of substituting fishmeal with silk worm (Tubifex sp.) meal on the growth performance, feed utilization, and survival rate of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) fry. A completely randomized design (CRD) was used with four dietary treatments: P1 (control, 0% Tubifex), P2 (15%), P3 (25%), and P4 (35%), each with three replications. Fish were fed twice daily for 30 days, and growth parameters were measured weekly. Results showed that the inclusion of Tubifex meal significantly improved the final weight, specific growth rate (SGR), average daily gain (ADG), and feed efficiency (FE), particularly in P3 and P4. The highest SGR (2.28%/day), ADG (0.016 g/day), and FE (61.93%) were recorded in the P4 group. Survival rate also improved, reaching 82.22% in P4 compared to 51.11% in the control. Water quality parameters remained within optimal ranges, indicating no adverse environmental impact from Tubifex inclusion. The findings suggest that Tubifex meal is a viable protein source that can replace fishmeal by up to 35% in tilapia fry diets. Its application offers nutritional, economic, and ecological benefits, making it a promising component in sustainable aquafeed development.Tingginya biaya dan keterbatasan ketersediaan tepung ikan dalam formulasi pakan budidaya mendorong pencarian sumber protein alternatif yang berkelanjutan dan terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh substitusi tepung ikan dengan tepung cacing sutra (Tubifex sp.) terhadap pertumbuhan, efisiensi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan pakan: P1 (kontrol, 0% Tubifex), P2 (15%), P3 (25%), dan P4 (35%), masing-masing dengan tiga ulangan. Ikan diberi pakan dua kali sehari selama 30 hari, dan parameter pertumbuhan diukur setiap minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung Tubifex secara signifikan meningkatkan bobot akhir, laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertambahan bobot harian rata-rata (ADG), dan efisiensi pakan (FE), terutama pada perlakuan P3 dan P4. Nilai tertinggi SGR (2,28%/hari), ADG (0,016 g/hari), dan FE (61,93%) ditemukan pada P4. Tingkat kelangsungan hidup juga meningkat, dengan nilai tertinggi pada P4 (82,22%) dibandingkan kontrol (51,11%). Selama pemeliharaan, parameter kualitas air tetap berada dalam kisaran optimal, yang menunjukkan bahwa penggunaan tepung Tubifex tidak berdampak negatif terhadap lingkungan budidaya. Temuan ini menunjukkan bahwa tepung Tubifex merupakan sumber protein yang layak digunakan sebagai pengganti sebagian tepung ikan hingga 35% dalam pakan benih ikan nila. Penggunaannya memberikan manfaat dari sisi nutrisi, ekonomi, dan ekologi, sehingga berpotensi menjadi komponen penting dalam pengembangan pakan budidaya yang berkelanjutan
STUDY OF CORAL REEF FISH IN RELATION TO LIVE CORAL REEF COVER IN THE TUING MARINE PROTECTED AREA, BANGKA, INDONESIA
Coral reefs play an important role as marine habitat, but are threatened by climate change and human activities. The Tuing Marine Conservation Area, which still has a relatively good coral reef ecosystem, needs to be evaluated to ensure the effectiveness of conservation and support sustainable management. This research evaluates the condition of coral reefs, coral fish biomass and the relationship between coral reefs and coral reef fish in the Tuing Marine Conservation Area located in Tuing Hamlet, Mapur Village, Bangka Regency. Data collection was carried out in March 2024 at three coral reef locations using the underwater photo transect method to observe the percentage of coral cover and the visual census and visual census methods to observe coral reef fish. The average live coral cover is 60.21%, included in the good category. The density of coral fish is 4,905 individuals per hectare with a total of 10 – 14 species. Reef fish biomass is 65.51 kg per hectare. The relationship between coral reefs and coral fish shows that the better the condition of the coral reef, the higher the number of species and biomass of coral fish. These findings highlight the importance of preserving coral reef ecosystems to support biodiversity and sustain fisheries. Conservation efforts should focus on reducing anthropogenic activities, increasing public awareness, and implementing effective management and rehabilitation strategiesTerumbu karang berperan penting sebagai habitat laut, tetapi terancam oleh perubahan iklim dan aktivitas manusia. Kawasan Konservasi Laut Tuing, yang masih memiliki ekosistem terumbu karang relatif baik, perlu dievaluasi untuk memastikan efektivitas konservasi dan mendukung pengelolaan berkelanjutan. Penelitian ini mengevaluasi kondisi terumbu karang, biomassa ikan karang dan hubungan terumbu karang dengan ikan karang di Kawasan Konservasi Laut Tuing yang terletak di Dusun Tuing, Desa Mapur, Kabupaten Bangka. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret 2024 di tiga lokasi terumbu karang dengan menggunakan metode transek foto bawah air untuk mengamati persentase tutupan karang dan metode sensus visual dan sensus visual untuk mengamati ikan terumbu karang. Rata-rata tutupan karang hidup sebesar 60,21% termasuk dalam kategori baik. Kepadatan ikan karang 4.905 individu per hektar dengan jumlah 10 – 14 jenis. Biomassa ikan karang sebesar 65,51 kg per hektar. Hubungan antara terumbu karang dengan ikan karang menunjukkan bahwa semakin baik kondisi terumbu karang maka semakin tinggi jumlah spesies dan biomassa ikan karang. Temuan ini menyoroti pentingnya melestarikan ekosistem terumbu karang untuk mendukung keanekaragaman hayati dan mempertahankan perikanan. Upaya konservasi harus fokus pada pengurangan kegiatan antropogenik, peningkatan kesadaran masyarakat, dan penerapan strategi pengelolaan dan rehabilitasi yang efekti
SELECTIVITY AND ENVIRONMENTAL FRIENDLINESS OF PURSE SEINE FISHING GEAR IN WATERS KUPANG BAY – EAST NUSA TENGGARA
THE EFFECT OF FERMENTED BRAN TIME ON IMPROVING WATER QUALITY AND GROWTH OF VANNAME SHRIMP (Litopenaeus vannamei)
Vanname shrimp is one of the commodity products that have high economic value in Indonesia and abroad. This study aims to determine the right time to give rice bran fermentation in improving the quality and growth of vannamei shrimp. The study used an experimental method with 4 treatments that were repeated as many as 3 replicates. The treatments tested were P1 giving bran fermentation on day 0 before stocking, P2 giving bran fermentation on day 10 after stocking, P3 giving bran fermentation on day 20 after stocking, and P4 giving bran fermentation on day 30 after stocking. The results of the treatment showed a significant effect on absolute length growth, absolute weight growth, and daily growth rate. Meanwhile, survival and feed conversion ratio did not have significant differences, as well as water quality. In general, water quality was not affected by the treatments given. The highest absolute length growth was produced in the P3 of 4.1 ± 0.01cm, while the lowest absolute length growth was obtained in the P1 with a result of 3.6 ± 0.0. The highest absolute weight growth was obtained in the P3 with the results of 2.61 ± 0.01gr, while the lowest absolute weight growth was produced in the P1 of 2.13 ± 0.03gr. Similarly, the highest daily growth rate was produced in the P3 with the results of 3.6 ± 0.0.
Keywords: Vanname shrimp, fermentation, rice bran, water quality, growthUdang vanname merupakan salah satu komoditas produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi di Indonesia dan luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk penentuan waktu yang tepat pemberian fermentasi dedak padi dalam meningkatkan kualitas dan pertumbuhan dan udang vannamei serta. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan 4 perlakukan yang diulang sebanyak 3 ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu P1 pemberian fermentasi dedak pada hari 0 sebelum tebar, P2 pemberian fermentasi dedak pada hari ke- 10 setelah tebar, P3 yaitu pemberian fermentasi dedak pada hari ke- 20 setelah tebar, dan P4 yaitu pemberian fermentasi dedak pada hari ke-30 setelah tebar. Hasil dari perlakuan tersebut menunjukkan adanya berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan bobot mutlak, dan laju pertumbuhan harian. Sedangkan pada kelangsungan hidup dan rasio konversi pakan tidak memiliki perbedaan yang signifikan, begitu pula dengan kualitas air, kualitas air. Secara umum kualitas air tidak dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan. Pertumbuhan panjang mutlak tertinggi dihasilkan pada perlakuan P3 sebesar 4,1±0,01cm, sedangkan pertumbuhan panjang mutlak terendah diperoleh pada P1 dengan hasil 3,6±0,0. Pertumbuhan bobot mutlak tertinggi diperoleh pada P3 dengan hasil 2,61± 0,01gr, sedangkan pertumbuhan bobot mutlak yang paling rendah dihasilkan pada P1 sebesar 2,13±0,03gr. Demikian pula laju pertumbuhan harian tertinggi dihasilkan pada P3 yakni sebesar 5,69%, sedangkan laju pertumbuhan harian terendah dihasikan pada P1 yakni 5,28%.
Kata kunci: Udang vanname, fermentasi, dedak padi, kualitas air, pertumbuha
PLANKTON AND WATER QUALITY ANALYSIS ON THE PRODUCTION PERFORMANCE OF WHITE SHRIMP (LITOPENAEUS VANNAMEI)
The abundance, diversity, and dominance of phytoplankton affect water quality which can directly affect the success of cultivation. This study was conducted to analyze the diversity of species and dynamics of plankton abundance in shrimp (Litopenaeus vannamei) cultivation in intensive white shrimp ponds in Sumenep, Madura. Observations of plankton, water quality, and white shrimp production were carried out in four ponds for ± 2 months. Data analysis was carried out on water quality data, plankton community structure and white shrimp cultivation production performance. Water quality data and production performance were analyzed descriptively qualitatively while plankton community structure data (biological index) were analyzed descriptively quantitatively. The results of the identification of zooplankton types obtained from the samples amounted to 2 classes, consisting of 7 genera of protozoa and 1 genus of Rotifera. The most abundant zooplankton is the Protozoa Class with 7 genera. The highest plankton abundance is from the Genus Chlorophyta (74.67% ± 4.49%), then the second highest is from the Genus Cyanophyta (18.01% ± 3.40%). The results of the diversity index analysis (H’) in pond 5 were 2.246 indicating high diversity, while ponds 6,7, and 8 showed moderate diversity. The uniformity index showed that pond 5 had a high uniformity index with a value of 0.66 while ponds 6,7, and 8 had moderate uniformity. The dominance index analysis showed that in pond 5 with a value of 0.978 there were dominant species, while ponds 6, 7, 8 did not have dominant species. Water quality observations showed that there were nitrate parameters that exceeded the optimum standard. The performance of white shrimp cultivation showed better results in pond 5 indicated by ADG of 0.35 g/day, ABW 14.9 g, FCR 1.6 and SR 71%.Kelimpahan, keanekaragaman, dan dominasi fitoplankton berpengaruh terhadap kualitas air yang secara langsung dapat mempengaruhi keberhasilan budidaya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis keanekaragaman jenis dan dinamika kelimpahan plankton pada budidaya udang (Litopenaeus vannamei) pada tambak udang vaname sistem intensif di Sumenep, Madura. Pengamatan plankton, kualitas air, dan produksi udang vaname dilakukan pada empat petak selama ± 2 bulan. Analisis data dilakukan terhadap data kualitas air, struktur komunitas plankton dan kinerja produksi budidaya udang vaname. Data kualitas air dan kinerja produksi dianalisis secara deskriptif kualitatif sedangkan data struktur komunitas plankton (Indeks biologi) dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Hasil identifikasi jenis zooplankton yang didapat dari sampel berjumlah 2 kelas yaitu terdiri dari protozoa sebanyak 7 genus dan Rotifera sebanyak 1 genus. Zooplankton yang paling banyak jumlahnya adalah Class protozoa sebanyak 7 genus. Kelimpahan plankton tertinggi adalah dari Genus Chlorophyta (74.67% ± 4,49%), selanjutnya tertinggi kedua dari Genus Cyanophyta (18,01% ± 3.40%). Hasil analisis indeks keanekaragaman (H’) pada petak 5 sebesar 2,246 menunjukkan keanekaragaman tinggi, sedangkan pada petak 6,7, dan 8 menunjukkan keanekaragaman sedang. Indeks keseragaman menunjukkan bahwa petak 5 memiliki indeks keseragaman tinggi degan nilai 0,66 sedangkan petak 6,7, dan 8 memiliki keseragaman sedang. Analisis indeks dominasi menunjukkan pada petak 5 dengan nilai 0,978 terdapat spesies yang mendominasi, sedangkan petak 6, 7, 8 tidak terdapat spesies yang mendominasi. Pengamatan kualitas air menunjukkan terdapat parameter nitrat yang melebihi standar optimum. Kinerja budidaya udang vaname menunjukkan hasil yang lebih baik pada petak 5 ditunjukkan dengan ADG sebesar 0,35 g/hari, ABW 14,9 g, FCR 1,6 dan SR 71%