Berkala Arkeologi (E-Journal)
Not a member yet
819 research outputs found
Sort by
CANDI GUNUNG GANGSIR AND THE CHARACTER OF THE EARLY EAST JAVANESE ARCHITECTURE
In this contribution I would like to draw some attention to a period which is widely considered to be a black hole or a white spot, in any case "a blank in Indonesian archaeology" (Soekmono 1969:3). It needs no explanation that I am alluding to the period of the tenth until the thirteenth century A.D
DATA SEMENTARA BANGUNAN KOMPLEKS PENDAPA KRATON RATU BAKA
Dalam rangka pemugaran kompleks Pendapa Kraton Ratu Baka, perlu diadakan pengamatan serta penelitian secara khusus pada setiap gejala serta data yang muncul. Pengamatan serta penelitian tersebut dilakukan sebelum maupun selama pemugaran berlangsung. Secara keseluruhan, kompleks pendapa tersebut terletak di bagian tenggara kompleks kekunaan Ratu Baka. Pemugaran kompleks Pendapa Kraton Ratu Baka yang dilakukan oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala DIY telah berlangsung sejak tahun 1979 hingga saat ini. Pada kesempatan ini, penulis diberi kesempatan sebagai staf proyek, sehingga dapat melakukan pengamatan dan penelitian secara arkeologis selama pemugaran berlangsung. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada Drs. Th. Aq. Sunarto selaku Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala sekaligus Pemimpin Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala D.l.Y. yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk ikut aktif dalam kegiatan pemugaran. Tambahan data yang berupa data bangunan tersebut diharapkan akan dapat memperjelas peranan kompleks kekuanaan Kraton Ratu Baka di masa silam, dan dapat memperlebar jangkuan interpretasi arkeologi Klasik, khususnya yang terletak di kawasan tersebut
PRASASTI SINGKAT DARI EMPAT BUAH MAKAM ISLAM DAN SEBUAH GUA DI DAERAH TUBAN
Antara tanggal 19-28 September 1981 saya mendapat kesempatan mengunjungi beberapa obyek sejarah dan purbakala di daerah Kabupaten Tuban. Obyek itu berupa arca-arca purba agama Hindu, prasasti, gua dan beberapa buah makam Islam. Sebuah benda purbakala yang menarik perhatian yaitu prasasti batu di desa Bandungreja, Kec. Plumpan , Kab. Tuban. Prasasti itu berjumlah dua buah dan terletak kira-kira 40 meter di sebelah utara aliran Bengawan Sala. Keduanya bertarikh 1277 Saka dan menyebut perkataan hakuti Tuban. Karena itu prasasti Bandungreja saya sebut prasasti Tuban I dan Tuban II. Uraian selengkapnya telah dibuat di dalam karangan saya berjudul 'Sedikit Tentang Nama Kota Tuban dan Lamongan' sewaktu diselenggarakan pekan ceramah Kegiatan Ilmiah dalam Rangka Sumpah Pemuda Dari Lustrum VI Fakultas Sastra Dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tanggal 24-25 Oktober 1980.
 
AKULTURASI DI KRATON KASEPUHAN DAN MESJID PANJUNAN, CIREBON
Pendukung kebudayaan adalah manusia. Sejak kelahirannya dan dalam proses sosialisasi, manusia mendapatkan berbagai pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dan dipelajari dari lingkungan keluarga pada lingkup kecil dan masyarakat pada lingkup besar, mendasari dan mendorong tingkah lakunya dalam mempertahankan hidup. Sebab manusia tidak bertindak hanya karena adanya dorongan untuk hidup saja, tetapi juga karena suatu desakan baru yang berasal dari budi manusia dan menjadi dasar keseluruhan hidupnya yang dinamakan kebudayaan. Sehingga suatu masyarakat ketika berhadapan dan berinteraksi dengan masyarakat lain dengan kebudayaan yang berlainan, kebudayaan baru tadi tidak langsung diterima apa adanya. Tetapi dinilai dan diseleksi mana yang sesuai dengan kebudayaannya sendiri. Budi manusia yang menilai benda dan kejadian yang beraneka ragam di sekitarhya kemudian memllihnya untuk dijadikan tujuan maupun isi kelakuan budayanya (Sutan Takdir Alisyahbana, tanpa angka tahun: 4 dan 7).
 
SEBARAN SITUS PRA SRIWIJAYA DI RAWA PASANG SURUT: KAJIAN ARKEOLOGI RUANG DI KAWASAN KARANGAGUNG TENGAH, SUMATERA SELATAN
Archaeological research can not be separated from the three dimensions of archeology: form, space and time. Spatial dimension is essential in archeology that covers all phases of archaeological research (theory, method, practice). Collection, analysis, interpretation and presentation of archaeological data should be actively and creatively covered in the dimension of space, was realized in the form of a map. In the development of the map are integrated with other graphical data and databases, known as Geographic Information System. Study of spatial Archaeology in Karangagung Tengah conducted to determine the distribution pattern of the site and what factors influence the formation of the pattern. Archaeological sites scattered in the edges of tidal rivers with access to the Lalan River and Sembilang River which empties into the Strait of Bangka. Distribution of these sites mapped to the benefit of further research and reference to delineate the Karangagung Tengah zoning for conservation purposes
VARIASI GENETIK LOCI STR CODIS (THO1,TPOX) MANUSIA GILIMANUK (PULAU BALI)
It is assumed that Mongoloid’s migration came from western and northern part of Indonesia in various waves of migration. The migrant population then mixed with initial inhabitants, which are Australomelanesoid. The wave of migration moved further to the eastern Indonesia and mixed with migrant that entered from east (Papua). Some researches show that the concentration of mixture (hybridization) of migration was around Wallace’s line. Gilimanuk is one of prehistoric site that yields Neolithic human remains. It is assumed that Gilimanuk can give worthy information about human variation at that time. The aim of the research is to describe the human genetic variation at site of Gilimanuk. The material is DNA (deoxyribonucleic acid) has been extracted from many piece of bone of Gilimanuk’s human remains. We used STR (short tandem repeat) two loci (THO1 and TPOX) to gain human genetic variation. The result show all of sample yields band with different allele. This evidence confirms that they have a genetic affinity is not the same, or their genes from several population