Berkala Arkeologi (E-Journal)
Not a member yet
    819 research outputs found

    COVER BERKALA ARKEOLOGI VOLUME 6 NO. 2 SEPTEMBER 1985

    No full text

    BHATTARA NARAPATI

    No full text
    Sejarah Majapahit setelah meninggalnya raja Hayam Wuruk sekitar tahun 1389, diwarnai dengan bermacam-macam peristiwa pertikaian di kalangan keluarga kerajaan. Pertikaian tersebut bersumber pada masalah perebutan tahta pemerintahan di antara para penguasa daerah (raja vassal) yang sebagian besar merupakan kerabat raja. Pertikaian ini mencapai puncaknya pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana alias Bhre Hyang Wicesa melawan Bhre Wirabhumi. Peperangan yang lazim disebut dengan nama perang Paregreg berakhir dengan hancurnya keraton timur serta terbunuhnya Bhre Wirabhumi pada tahun 1406 M. (Pararaton: 31, 5-15, Groeneveldt: 37). Kejadian ini ternyata belum mengakhiri pertikaian yang telah berlangsung lama tersebut karena pada tahun 1433 M, Bhre Narapati juga dibunuh atas tuduhan telah menghilangkan nyawa Bhre Wirabhumi. Banyaknya pertentangan dan peperangan ternyata makin memperlemah kewibawaan kerajaan Majapahit. Akhirnya pada tahun 1489 -1513-an kerajaan ini mendapat serangan dari kerajaan Daha yang ternyata juga merupakan keluarga Majapahit. Serangan ini berakibat pindahnya pusat pemerintahan Majapahit ke Daha, meskipun tidak secara keseluruhan. (Noorduyn 1978: 271)

    PERGESERAN LOKASI PEMUKIMAN ORANG CINA DI KOTA BANTEN DARI ABAD XVI - XIX (BERDASARKAN PENGAMATAN PETA KUNA KOTA BANTEN)

    No full text
    Bekas lbukota Kerajaan Banten saat ini terletak di Kalurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Propinsi Jawa Barat. Kota Banten terletak di tepi Laut Jawa dan berada pada sebuah teluk yang bernama Teluk Banten. Tepatnya kota Banten terletak di antara dua muara sungai, yaitu muara sungai Cibanten lama di sebelah timur dan muara anak sungai Cibanten lama di sebelah barat kota. Kota Banten berfungsi sebagai lbukota kerajaan Banten dari tahun 1552 hingga 1813

    PENDEKATAN LINGKUNGAN DALAM REKONSTRUKSI PERTUMBUHAN PEMUKIMAN TROWULAN KUNA: SUATU PEMIKIRAN INDUKTIF

    No full text
    Para ilmuwan yang bergerak di bidang arkeologi pada umumnya sependapat bahwa situs Trowulan adalah lokasi pusat pemerintahan kerajaan Majapahit pada kurang lebih abad ke - 14 Masehi. Nagarakrtagama menggambarkan bahwa pertengahan abad ke - 14 merupakan masa kemasan peradaban dan kejayaan kerajaan Majapahit (Pigeaud, 1962, IV). Sedikit atau banyak kondisi yang tercipta tersebut berkaitan dengan situasi pemerintahan yang berpusat di pemukiman kuna Trowulan

    TINJAUAN ARCA MEGALITIK TINGGIHARI DAN SEKITARNYA

    No full text
    Situs megalitik, Tinggihari terletak di Kabupaten Lahat (Sumatera Selatan). Daerah ini biasa disebut dengan dataran tinggi Pasemah. Peninggalan tradisi megalitik Tinggihari khususnya dan Pasemah pada umumnya sudah terkenal sejak puluhan tahun yang lalu. Para arkeolog Belanda banyak menulis tentang peninggalan ini, antara lain. Tombrink (1827).Ulmann(1850), Westenenk (1921), Van der Hoop (1932), dan lainlain. Walaupuri demikian problema tentang peninggalan ini tetap masih belum terpeeahkan dan perdebatan-perqebatan terjadi tanpa berkesudahan. Untuk pengungkapan latar belakang peninggatan ini masih perlu dilakukan penelitian sistematis, baik survei maupun ekskavasi. Dengan demikian data artefaktual maupun non artefaktual secara horisontal maupun vertikal dapat terekam, sebagai bahan pengungkapan. Daerah Pasemah saat ini menjadi lebih terkenal, karena adanya reneana pemugaran situs Tinggihari sebagai taman purbakala (archaeological-park) (Sukendar 1984)

    KEMUNGKINAN PRASASTI SEBAGAI SUMBER DATA IKONOLOGI

    No full text
    Jika telah disepakati bahwa Ikonologi adalah ilmu pengetahuan mengenai ikon, yaitu area pemujaan, maka perlu diperinci lebih lanjut, hal-hal apa saja di sekitar area pemujaan atau pemujaan area yang dapat diketahui dari prasasti. Dari tinjauan menyeluruh atas prasasti-prasasti Indonesiacakan terlihat bahwa keterangan-keterangan tertentu dapat dihubungkan, secara langsung ataupun tidak, dengan pemujaan area. Karena area pada dasarnya mewakili pengertian "dewata" yang dilambangkannya, maka segala keterangan yang bersangkut-paut dengan dewata ini pun dapat digolongkan ke dalam data ikonologi. Data tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pertama, yang menyangkut konsep kedewataan, dan kedua, yang menyangkut peribadatan. Di bawah ini adalah suatu pembahasan, yang karena terbatasnya tempat, memusatkan perhatian pada konsep kedewataan, dan khususnya dilihat pada prasasti-prasasti Jawa Kuna Hindu. &nbsp

    COVER BERKALA ARKEOLOGI VOL. 1 NO. 1 (1980)

    No full text

    BATU TABUNG BERPRASASTI DI CANDI GUNUNG SARI (JAWA TENGAH) DAN NAMA MATA ANGIN DALAM BAHASA JAWA KUNO

    No full text
    This article presents an architectural and epigraphical study of several objects recovered from the Central Javanese temple site of Gunung Sari. The site has yielded unique cylindrical stone objects, some of which bear short inscriptions in Old Javanese language indicating the directions of space. Based on architectural arguments, we conclude that the temple was a Åšaiva monument. The cylindrical objects were most likely placed originally in the floor of the platform of the temple, where they covered foundation deposits placed during the construction of the temple in connection with the ritual preparation of the ground plan. Although objects exactly identical in shape have thus far not been discovered in Java, objects that had different shapes but similar ritual functions can be identified at other more or less contemporary sites in the region. Some of these bear inscriptions. The inscriptions of Candi Gunung Sari are, however, unique in that they offer by far the oldest (nearly) complete system of eight directions of space expressed in Javanese terms

    COVER VOL. 34 NO. 1 (2014)

    No full text

    ASTROLOGI SEBAGAI ILMU BANTU EPIGRAFI: SEBUAH PEMIKIRAN

    No full text
    Of the thousands of inscriptions, both stones and metals, there is only small number known as dated. Other parts are damaged, worn, or missing for various reasons. Generally, inscription contains elements of the date, month, and year in the Saka dates. With a particular method, Saka dates can be converted to AD dates. Even through the knowledge of astronomy, the element of hours can be interpreted. These four elements, namely the date, month, year, and hour are absolutely necessary in the analysis of astrology. Originally astrology is used to predict human life. However, with the development of science, it can also predict the non-human aspects, such as the important events in the history of the world. Through incisive analysis, knowledge of astronomy and astrology is very useful for epigraphy, although the time was far behind. There are several types of astrology it is commonly known, the West Astrology or Greek Astrology and East Astrology of India and China. Actually, almost all major civilizations in the world knew astrology. But among the many traditions, currently only popular Western Astrology, Chinese Astrology, Indian Astrology. Since a few years ago the West began to introduce Archaeology Metaphysics, one of them through the analysis of astrology

    0

    full texts

    819

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berkala Arkeologi (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇