Berkala Arkeologi (E-Journal)
Not a member yet
819 research outputs found
Sort by
PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP BENDA CAGAR BUDAYA SANGIRAN: STUDI KASUS DI DESA KRIKILAN
Sangiran site in the world of science, especially in the issue of early human evolution is important, there is no doubt. Findings ranging from the right lower jaw (mandible) found by Von Koenigsvald in 1934 to Sugimin's pithecantrophus skull found on October 8, 1993, present evidence that the Sangiran dome is the world's happiest hominid site. Unfortunately, most of the human fossil findings at this site do not come from the results of research by researchers. But the findings of local residents whose activities are far from practical have more opportunities than a formal study
BEBERAPA TEMUAN PRASASTI BARU DI INDONESIA
In the context of my retirement as an epigraphy officer from the Balai Arkeologi Yogyakarta, I will briefly review some of the findings of new inscriptions in Kalimantan, Sumbawa, Sumatra and Java. However, I need to explain that two of the findings, namely in Kalimantan, have long been discovered and researched by experts, but until now they have not been completed. The findings are actually quite a lot, but on this good occasion and time (subha diwasa), I will only briefly review some of the findings
KALANG, TINJAUAN HISTORIS-ANTROPOLOGIS
The terms of “kalang†substantially mentioned in Old Javanese inscriptions. It’s meaning oftenly associated with professions in the timber producing or carpentry. It’s definition drawn from the existence of "wong Kalang" in the past, it refers to a group of people living on the edge of the forest in several places in Java, as woodcutters or lumberjack. This article will try to discuss the meaning of kalang, through historical-anthropological studies. Accordingly, kalang is not only seen from the definition, instead the study tends to draw a historical frame of kalang as a group of people who continuosly lived from time to time. Hence, these problems cannot be discussed in detail, but some important aspects will be addressed
POLA PERGANTIAN DAN TIPE KEPEMIMPINAN RAJA DI KERAJAAN SUNDA (SUATU TELAAH PENDAHULUAN)
This article describes a study of monarchy changing pattern and type of leadership in the Kingdom of Sunda. Sunda as an ancient kingdom in West Java from the beginning of 8th CE until the end of 16th CE, is presumably having received historical recognition in connection with the historiography of ancient kingdoms in Indonesia. While the name Pajajaran or Pakuan Pajajaran, was originally thought to be the name of a kingdom, it’s interpretation has changed as the capital of the Sunda Kingdom. Through the interpretation of existing textual sources, which include a number of inscriptions, foreign records (Chinese, Portuguese), as well as ancient local texts, it is known that the capital of Kingdom of Sunda throughout its history has experienced several shifting
PENELITIAN ARKEOLOGI DALAM KONTEKS PENGEMBANGAN SUMBERDAYA ARKEOLOGI
Upaya mengungkapkan dan menjelaskan manusia serta kebudayaan dalam rentang dan proses masa lampau ke masa kini, melalui tinggalan- tinggalan bendawinya, adalah tantangan yang dihadapi bidang arkeologi di setiap negara. Namun dalam dinamika interaksi antar dan lintas sektoral saat ini, tentu saja tantangan sektor arkeologi juga semakin berkembang. Dunia arkeologi berada dalam proses tarik-ulur konflik kepentingan antar sektor. Sementara itu,dalam negara-negara dunia ke 3 terdapat kecenderungan konflik-konflik seperti tersebut di atas berorientasi ekonomik
THEISME DALAM BHAGAVADGITA
Bhagavadgita sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Veda. Upanishad, Buddhis. Bhagavadgita, Samkhya dan Yoga, serta ajaran-ajaran lainnya yang berpengaruh pada masa itu (Bhandarkar 1913:27; Dasgupta 1952:549-550; Radhakrtshnan 1929:525). Bhagavadgita pun dianggap telah bersintesa dengan agama Bhagavata, bahkan ajaran Bhagavadgita identik dengan doktrin Bhagavata sehingga pada suatu saat Bhagavadgita disebut sebagai Hartgita (Radhakrtshnan 1929: 527)
PEMUKIMAN KUNO DI DAERAH TEPI SUNGAI BATANGHARI PADA MASA MELAYU
Daerah belahan timur pulau Sumatera merupakan tanah aluvial muda yang sebagian besar masih berupa rawa-rawa. Di daerah ini banyak terdapat sungai besar yang mengalir menuju selat Malaka dan selat Karimata, Di antara sungai-sungai besar yang mengalir di daerah tersebut adalah sungai Batanghari dan sungai Musi dengan anak sungainya. Di tepi sungai-sungai ini banyak ditemukan situs arkeologi yang menunjukkan bahwa di daerah ini telah dimukimi sejak lama. Manusia di daerah tepian sungai bermukim di tanggul-tanggul alam yang daerahnya cukup tinggi dan · tidak terkena banjir. Pada saat ini yang kita temukan adalah banyaknya perkampungan di tepian sungai. Perkampungan ini berpola memanjang rnengikuti alur sungai. Di- bagian betakang dari perkampungan ini masih terdapat rawa yang disebut "rawa belakang" ( back swamp)
PENGARUH TANTRAYANA DI KAWASAN NUSANTARA
Data-data arkeologis yang sampai di tangan kita cenderung untuk mendukung (suatu) anggapan bahwa agama memainkan peranan penting dalam kebudayaan. Walaupun demikian, peranan agama yang besar pengaruhnya terhadap kebudayaan, tetap belum bisa dirumuskan secara jelas di dalam dunia penelitian, terutama mengenai bentuk ajaran agama yang dimaksud. Untuk dapat mengungkapkan bentuk ajaran serta mengetahui peranan yang digerakkannya, jelas memerlukan suatu penelitian panjang, menyeluruh, dan sukar. Salah satu faktor yang menghambat penelitian agama ialah kelangkaan sumber tertulis
SEDIKIT GAMBARAN TENTANG ANALISA POLLEN DALAM PENELITIAN ARKEOLOGI INDONESIA
Perkembangan penelitian arkeologi ternyata tidak pernah lepas dari berbagai disiplin ilmu, yang kesemuanya bertujuan untuk mempercepat pemecahan masalah arkeologi yang ada. Penggunaan ilmu lain termasuk pengembangan teknik modern dalam arkeologi, meliputi juga konsep dari lingkungan ilmu-ilmu eksakta.Analisa pollen merupakan salah satu kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan multidisipliner dalam penelitian arkeologi. Kegiatan ini adalah usaha yang menyangkut penerapan ilmu dari lingkungan biologi-geologi kearah arkeologi. Penerapan analisa pollen di negara-negara maju sudah lebih dahulu dikerjakan. Dengan pengembangan analisa pollen dalam penelitian arkeologi di Indonesia, akan membuat penelitian arkeologi setapak lebih maju dan diharapkan sesuai dengan negara maju yang lain