Berkala Arkeologi (E-Journal)
Not a member yet
819 research outputs found
Sort by
TOKOH BHIMA DALAM ARKEOLOGI KLASIK
Tokoh Bhima memang dapat ditinjau dari bermacam-macam segi. Lebih-lebih tanya-jawab antara Bhima dan Dewaruci merupakan sumber kawruh kasampurnan (ilmu kesempurnaan) bagi orang Jawa. Sekarang ini Ibu Sumarti Suprayitno menguraikan tokoh Bhima dalam kaitannya dengan masyarakat sastra dan budaya Jawa. Uraian atau ceramah ini sangat menarik karena tokoh Bhima memang sudah dikenal sejak jaman dahulu, khususnya dalam sastra Jawa Kuno, baik di dalam wiracarita Mahabharata maupun di dalam cerita Nawaruci. Demikian pula lbu Sumarti Suprayitno telah berhasil membanding cerita Bhima-Dewaruci dengan motif yang sama dalam Wanaparwa, saat Markandeya mengunjungi Pandawa di hutan dan memberi berbagai wejangan kepada mereka. Markandeya menceritakan pengalamannya ketika ia masuk ke dalam perut seorang anak kecil yang duduk di atas dahan pohon beringin dan kemudian mengeluarkannya melalui mulutnya dan menyatakan bahwa ia sebenarnya adalah dewa Narayana atau Wisnu. Di dalam perut anak kecil tersebut Markandeya dapat melihat seluruh alam semesta
ALAT-ALAT BATU PACITAN: MOBILITAS BUDAYA PRASEJARAH
Dalam kerangka periode prasejarah di Indonesia, masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana dengan penonjolan tradisi paleolithik telah menempati posisi yang tertua. Masa ini bermula dengan terciptanya hasil-hasil kebudayaan manusia pertama sekitar 700.000 tahun yang lalu, kemudian berakhir pada awal Kala Holosen, sekitar 10.000 tahun silam. Dari jangka waktu itu, berbagai alat untuk mengeksploitasi lingkungan telah menjadi bukti tentang eksistensi pendukung kebudayaan Kala Plestosen di Indonesia. Betapapun sangat sederhananya, alat-alat ini telah memberikan gambaran tentang perilaku manusia Plestosen di Indonesia, terutama tentang hubungan timbal-balik yang erat antara lingkungan hidup manusia, teknologi dan sistem-sistem sosial. Tiap-tiap gejala ini harus diperhatikan secara seksama, sehingga dapat diketabui hubungan fungsionalnya.
 
SINGA DALAM KESENIAN HINDU DI JAWA TENGAH
Di Jawa Tengah banyak peninggalan-penii:lggalan arkeologi baik yang berupa bangunan, area maupun artefak yang lain. Artefak-artefak tersebut dibuat oleh masyarakat pendukungnya untuk rnernenuhi kebutuhan hidupnya berupa kebutuhan rokhani atau kebutuhan jasrnani. Artefak sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan rokhani tentu saja dalarn hal pembuatannya baik yang menyangkut penentuan bentuk maupun pemilihan dekorasinya akan terikat oleh adanya aturan-aturan tertentu yang berhubungan dengan masalah keagamaan. Meskipun demikian suatu kebebasan dalam diri si seniman ada sampai pada batas-batas tertentu.
 
HIASAN KEMUNCAK BANGUNAN
Apabila kita berkunjung ke kota-kota di Indonesia pertama-tama yang menarik perhatian kita adalah bentuk-bentuk bangunan rumah penduduk. Berdasarkan macam-macam bentuk atap rumah, masing-masing diberi nama menurut gayanya sendiri, di Jawa misalnya ada yang dinamakan atap joglo, atap limasan, tajug, kampung dan sebagainya. Di Minangkabau rumah gadang mempunyai bentuk atap khusus yang berbeda dengan bangunan meunasah dari Aceh. Tegasnya nenek moyang Indonesia telah mewariskan kepada kita beraneka macam bentuk atap rumah, masing-masing dengan ciri khusus, dan kesemuanya memiliki keindahan tersendiri. Bentuk atap bangunan rumah kampung yang di Jawa merupakan bangunan rumah yang paling sederhana misalnya, mempunyai keindahan tersendiri di tengah-tengah alam Indonesia yang indah permai. Cobalah pembaca sekali-sekali mengamati pondok rakyat di kaki Gunung Merapi, Semeru atau Tangkubanperahu di pagi hari, sungguh menakjubkan! Rumah beratap kampung di selasela rindangnya rumpurl bambu atau pepohonan di lereng bukit yang hijau dengan tiang-tiang gantungan sangkar burung membeii kesan kedamaian dan kebahagiaan penghuninya lebih-lebih ditingkah suara, kokok ayam atau kambing yang mengembik, sungguh mempesona