Berkala Arkeologi (E-Journal)
Not a member yet
819 research outputs found
Sort by
NILAI SUFISTIK PADA INSKRIPSI PINTU MAKAM SUNAN KUDUS
This paper described the cultural product of the people of the past in terms of the culture of art in writing. In addition, the teachings contained in the kind of literature have sufistic values that have a great influence on the development of Islam, especially in Java. This article is intended to reveal the value contained in the inscription on the door of the tomb of Sunan Kudus, which does not yet know the meaning of the content of the value implied in it
LANDSEKAP PERTAMANAN: KAJIAN ATAS DATA TEKSTUAL
The use of textual data can be considered as evidence of cultural testimony in accordance with the events and circumstances of that time. Textual data in the form of inscriptions as a source of written history can also be considered as a reflection of social facts that come from ideas (cognition) and collective behavior of a group of people with a certain cultural background. In-depth exploration and study of the contents of the inscription will enrich both epigraphic knowledge itself and ancient Indonesian history
HYANG IWAK
For Javanese people, the empirical realm is considered closely related to the metemperis realm (the supernatural). It is their view that reality is not divided into separate and unrelated fields, but that reality is seen as a whole. Even clearly, Franz Magnis Suseno said that in essence the Javanese do not differentiate between religious attitudes, and social interactions are at the same time an attitude towards nature, as well as attitudes towards nature at the same time have social relevance
KUMPULAN ARTEFAK EMAS DARI SITUS WONOBOYO
Barangkali antara penemuan barang-barang purbakala yang tergolong terbesar saat ini adalah temuan artefak-artefak emas di situs Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah. Temuan yang berjumlah sekitar 30 kg tersebut sungguh menakjubkan karena bukan saja oleh banyaknya barang akan tetapi juga oleh terungkapnya informasi baru akan beberapa aspek budaya masyarakat Jawa Kuna yaltu aspek-aspek teknologi dan aspek-aspek sosiologl dalam pengertian khusus. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat secara umum berkenaan dengan temuan tersebut adalah berkisar tentang fungsi, milik siapa, dan berasal dari tahun berapa. Makalah ini akan mengungkap beberapa aspek budaya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
POLA ADAPTASI PITHECANTHROPUS ERECTUS TERHADAP KONDISI ALAM KALA PLESTOSEN DI JAWA: SUATU KAJIAN PALEOGEOGRAFI DAN ARTEFAK PALEOLITIK
Keterkaitan Paleogeografi kala plestosen di pulau Jawa dengan pola adaptasi Pithecanthropus erectus, khususnya pada beberapa endapan kala Plestosen yang mengandung fosil manusia purba dan sebaran artefak paleolitik merupakan bahasan dalam tulisan ini. Paleogeografi merupakan studi tentang terjadinya permukaan bumi pada masa lampau, terutama kaitannya dengan perubahan bentuk daratan bersamaan dengan munculnya manusia pertama kali yaitu Kala Plestosen (Sartono, 1980, 128 - 129)
ANALISIS SISA GAJAH DARI KECAMATAN TAMBAN, KABUPATEN BATOLA (KALIMANTAN SELATAN): SUATU PENGUMUMAN
Dalam tahun 1987 Pusat Penelitian Arkeologi NasioÂnal diminta untuk mengoreksi suatu temuan yang baru dilakukan oleh Bidang Permuseuman Sejarah dan PurbaÂkala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan KebuÂdayaan Propinsi Kalimantan Selatan. Penemuan tersebut dituangkan dalam sebuah laporan yang dilengkapi dengan beberapa buah foto dan denah lokasi penemuan. Di daÂlam laporan itu diinformasikan bahwa berdasarkan ukurÂan tulang yang besar-besar, tim yang bersangkutan meÂnyatakan bahwa sisa-sisa binatang fosil yang ditemukan itu berasal dari suatu individu yang disebut sebagai goÂrila. Setelah dilakukan pengamatan terhadap foto-foto yang dilampirkan, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengidentifikasikan sebagai salah satu individu Bangsa Proboscidea (Bangsa berbelalai atau gajah)
BENTUK-BENTUK GERABAH KUBUR PETI BATU SOKOLIMAN: HUBUNGANNYA DENGAN TAHAP PENGUBURAN
Kompleks kubur peti batu di Gunung Kidul tersebut telah diteliti oleh J.L. Moens pada tahun 1934, kemudian dilanjutkan oleh van der Hoop pada tahun berikutnya. Kompleks kubur peti batu tersebut antara lain terdapat di Kajar, Sokoliman, dan Bleberan. Pada kubur peti batu di Kajar ditemukan 35 individu bertumpukan pada kedalaman 80 cm dengan bekal kubur berupa beberapa alat dari besi, antara lain arit. Temuan lain berupa cincin perunggu, sebuah mangkuk terakota berbentuk tempurung, dan ratusan mutisalah. Pada salah satu kerangka ditemukan sebilah pedang besi yang telah patah, dipegang di tangan kiri, sedangkan pada pedang itu sendiri masih melekat bekas-bekas tenunan kasar. Kubur peti batu yang di temukan di Bleberan berisi tiga rangka manusia bertumpukan dalam posisi terlentang dengan kepala di sebelah utara. Tiga buah benda besi terletak di atas dada rangka yang paling atas. Cincin tembaga, pisau besi, dan beberapa manik -manik tersebar di antara rangka-rangka tersebut (R.P. Soejono, 1984)
PERTANGGALAN RELATIF SITUS GUNUNGWINGKO (STUDI PENDAHULUAN)
Situs Gunungwingko berupa dua deret bukit pasir. Deretan pertama terletak di sebelah utara, sedangkan deretan kedua terletak di sebelah selatannya. Deretan bukit pasir pertama selanjutnya disebut B 1, sedangkan deretan bukit pasir kedua disebut B2. Penelitian di B1 telah dilakukan sebanyak 7 kelompok, yaitu B1 A-G dan penelitian di B2 telah dilakukan sebanyak 5 kelompok, yaitu 82 H-L
PEMBUATAN GERABAH TRADISIONAL DI PULAU BAWEAN: TINJAUAN TENTANG ASAL DAN HUBUNGAN SIMBIOTIK DENGAN BEBERAPA DAERAH DI INDONESIA
Pembuatan gerabah di pulau Bawean merupakan salah satu bentuk budaya tradisional yang masih hidup hingga saat ini. Secara umum dapat diperkirakan bahwa pengaruh hubungan antarsuku dengan daerah-daerah di luar pulau mengakibatkan perubahan teknik pembuatan gerabah di daerah itu. Teknik pembuatan gerabah dapat juga tidak mengalami perubahan, walaupun hubungan dengan daerah lain sudah berlangsung sejak lama dan intensif. Untuk mengungkapkan ada tidaknya perubahan-perubahan itu, perlu diadakan perbandingan teknik pembuatan gerabah dengan daerah-daerah yang sering mengadakan kontak dengan Bawean. Dengan demikian akan dapat diketahui sifat hubungan yang terjalin antara Bawean dengan beberapa daerah tersebut di atas
PEMUJAAN HARITI DI TROWULAN
Dalam kesempatan ini akan dibicarakan mengenai pemujaan Hariti di kawasan Trowulan. Pendekatan masalah ini tentu saja didukung dengan data arkeologis berupa arca Hariti koleksi museum Trowulan dan koleksi museum Mojokerto dalam perbandingan. Hal ini menarik untuk dikemukakan karena selama ini karya-karya ilmiah arkeologis tentang pemujaan pantheon dewa masih terbatas pada dewa-dewa yang mempunyai kedudukan tinggi (mayor deities), sedangkan untuk dewa-dewa rendah (minor deities) masih sedikit dibicarakan