Berkala Arkeologi (E-Journal)
Not a member yet
819 research outputs found
Sort by
DESCRIPTION ON THE MEGALITHIC TRADITION OF INDONESIA
Megalithic remains are widely distributed over nearly all the regions of Indonesia, among others in Sumatra, Nias, Java, Bali, Sulawesi, Sumba, Sumbawa, Aores, Sabu etc. There are various forms of megalithic remains which have their own characteristics in certain areas. For instance, the megalithic remains in Nias are known as osa-osa (seats) and dane-dane (tables). Lampung is known for its dolmen. In West Java the stepped terrace are wellknown, while there are kalamba in Central Sulawesi and sarcophagi in Bali. Megalithic remains exhibit wider range of forms as more and more are discovered in various parts of Indonesia
SITUS PRINGGOLOYO, SEBUAH DATA PENINGGALAN MEGALITIK DI DAERAH WEDI, KLATEN, JAWA TENGAH
Pringgoloyo atau sering disebut Pringgolayan merupakan sebutan bagi sebuah tempat dan bukan merupakau nama dukuh ataupun kampung. Sebutan tersebut didasarkan pada temuan susunan batu berbentuk setengah lingkaran yang dikeramatkan oleh penduduk di sekitarnya. Selanjutnya nama Pringgolayan dalam tulisan ini digunakan untuk menyebut sebuah situs megalitik. Secara administratif situs Pringgoloyo terletak di dukuh Sukorejo, kelurahan Sukorejo. kecamatan Wedi, kabupaten Klaten, tepatnya 6 kilometer di sebelah Selatan kota Klaten. Belum diketahui alasan penyebutan situs tersebut sebagai Pringgoloyo atau Pringgolayan
POSISI STRATIGRAFI DAN TEKNOLOGI ALAT SERPIH SANGIRAN
Persoalan alat paleolitik dan manusia purba, masih merupakan persoalan menarik dalam hakekat sejarah perkembangan manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan kaitannya selama Kala Plestosen, yaitu suatu periode kehidupan antara dua juta hingga 10.000 tahun silam. Oleh sifatnya yang tahan terhadap kekuatan destruktif alam, alat-alat batu yang sederhana tersebut telah dianggap bukti tentang eksistensi manusia saat itu. Bukti-bukti kehidupan tersebut ditemukan kembali dalam endapan Plestosen yang terbentuk, antara lain endapan-endapan teras sungai purba. Asal-usul manusia menjadi begitu kontroversiil selama berabad-abad, dan meliputi masa yang sangat gelap. Penemuan sisa-sisa Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois di Desa Trinil pada tahun 1890 dan 1891, merupakan penemuan yang sempat menggemparkan dunia pengetahuan, dan hingga pertengahan abad 20 telah menjadi suatu legenda.
 
KUBUR-TUMPANG DI KOMPLEKS MAKAM KRT. PANJI CAKRAKUSUMA DI SANGKAPURA (PULAU BAWEAN): SUATU UNSUR BUDAYA ISLAM DI INDONESIA
Kubur-Tumpang adalah suatu makam Islam yang di dalam suatu liang-lahat dikebumikan lebih dari satu jenazah. Penguburan dilakukan secara bersusun tumpang-tindih dan pada susunan paling bawah harus dikebumikan jenazah seorang yang paling ahli dalam penghayatan dan pengamalan terhadap isi Al-Qur'an (Al-Hadits, diriwayatkan oleh Annasaa'ii dan Tirmidzii dengan argumentasi paling benar). Kemungkinan proses ini terjadi karena banyaknya korban yang mati dalam suatu peperangan atau karena banyaknya kematian akibat suatu wabah penyakit yang sangat ganas. Selain itu kubur-tumpang mungkin merupakan pelaksanaan dalam menunaikan nadzar, washiyat maupun amanat. Istilah kubur-tumpang pertama kali muncul di Indonesia sekitar tahun 1970-an yang dilontarkan oleh Prof. Dr. Hamka untuk menerapkan hukum Islam tentang penguburan yang bersumber pada Al-Qur'an dan Al-Hadits sunnah Rasulullah Muhammad SAW sebagai belligrandi (penengah) atas sengketa tanah pemakaman akibat adanya penggusuran tanah-tanah tersebut di Jakarta ketika itu
TINJAUAN TENTANG BELIUNG PERSEGI DARI LUMAJANG
Di sekitar tahun 1982, tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta/ Proyek Penelitian Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan penelitian di situs perbentengan Biting, Lumajang, Jawa Timur. Pada waktu itu tim mendapat informasi dari Moelyono BA, Kepala Seksi Kebudayaan, Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Lumajang yang ikut serta dalam penelitian tersebut tentang adanya koleksi beberapa beliung di instansinya. Tertarik pada informasi ini, penulis bersama Moelyono, Widya Sarsono, clan Ngadimin (anggota tim) menyempatkan diri meninjau koleksi tersebut. Dalam peninjauan tersebut, kelompok kecil ini mengadakan perekaman (deskripsi, pengukuran, dan pemotretan) terhadap masing-masing koleksi
MASA DEPAN ARKEOLOGI BAWAH AIR DI INDONESIA
Perkembangan arkeologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari kehidupan masa silam berdasarkan benda-benda yang ditinggalkan, telah mengalami kemajuan pesat sejak abad 19. Bermula dari minat yang menimbulkan pengkoleksian benda-benda arkeologis, yang berakhir dengan usaha untuk mengungkap beberapa aspek yang mellputi benda tadi, antara lain jenis, fungsi, periode dan sebagainya. Langkah seperti ini mulai terlihat jelas pacrd tahun 1836, ketika J .C Thomsen~ kurator dari Museum Nasional Copenhagen, memperkenalkan Sistem Tiga. iaman (Three Ages ·system) bagi benda-benda hasil koleksinya. Klasifikasi tersebut didasarkan pada bahan dasar, yaitu batu, perunggu dan. besi (Soejono, 1976: 4). Kemudian disusul dengan langkah berikutnya yang lebih terarah, sehingga dalam waktu singkat, Ilmu Arkeologi telah mengalami proses pematangan. Konsekwensi logis dari proses tadi adalah tuntutan metode kerja yang sistematis bagi ilmu ini, seperti yang dinyatakan oleh Fagan sebagai berikut: ''We have talked of Archaeology as a discipline,_a label diliberately chosen because it fits well. The methods of archaeological research imply disicipline--accurate recording. precise excavation, using scientific methode, and detail analysis in the laboratory (Fagan, 1975:7
BEBERAPA CATATAN DARI: LOKAKARYA SPAFA TENTANG PEMUGARAN PENINGGALAN SEJARAH DAN PURBAKALA
Pada tahun 1980 yang lalu, benempat di Jogjakarta SPAFA (SEAMEO Project in Archaeology and Fine Arts) telah menyelenggarakan Lokakarya Tentang Teknik Pemugaran Peninggalan Sejarah dan Purbakala (Workshop on The Technique of Restoration of Monuments) sebagai suatu kerja sama antara SPAFA Sub-Center For Restoration and Preservation of Ancient Monuments dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (cq. Direktorat Jenderal Kebudayaan) melalui Proyek Pemugaran Candi Borobudur. Lokakarya ini dihadiri oleh ahli-ahli purbakala dan arsitek dari negara-negara anggota SEAMEO, yang dalam tugasnya sehari-hari bertanggung jawab atas pemugaran terhadap peninggalan sejarah dan purbakala di negaranya masing-masing. Di samping itu hadir pula Prof. Dr. A. J. Bernet Kempers, ahli purbakala dari Negeri Belanda yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang amat luas mengenai kepurbakalaan di Indonesia, bahkan pernah menjadi Kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Ahli purbakala lainnya ialah dari Sri Langka: Roland Silva dan dari Indonesia antara lain hadir Prof. Dr. R. Soekmono sebagai Direktur Sub-Center For Restoration and Preservation of Ancient Monuments dan sebagai Pemimpin Proyek Pemugaran Candi Borobudur. Di samping itu sebagai utusan Indonesia adalah Drs. Uka Tjandrasasmita, Direktur Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala dan ahli-ahli purbakala lainnya. Lokakarya tersebut di atas disertai juga pengamatan ke Candi Borobudur, Jawa Timur dan Bali untuk menyaksikan pemugaran yang sedang berlangsung di Indonesia.
 
STUDI ARKEOMETALURGI DALAM DISIPLIN ARKEOLOGI
Di dalam usaha merekonstruksi kehidupan masa lampau, tugas kita bukan semata-mata menguraikan serangkaian peristiwa yang abstrak dan terlepas-lepas. Masa lampau yang akan kita susun kembali terdiri dari kehidupan perorangan yang tergabung dan membentuk suatu peristiwa. Kehidupan masa lampau sangat kompleks; untuk menyusunnya kembali kita hanya punya data arkeologi yang kurang lengkap sebab data tersebut sampai ke tangan kita sudah, mengalami proses pemindahan yang bermacam-macam. Proses pemindahan kebudayaan ini kemudian melahirkan studi "taphonomy" (Gifford.1981). Jangkauan ilmu arkeologi seperti telah disebut telah menyebabkan ilmu arkeologi dalam perkembangannya memerlukan kerja sama dengan ilmu lain. Salah satu yang menjadi pokok pembicaraan dalam makalah ini adalah metalurgi.