Berkala Arkeologi (E-Journal)
Not a member yet
819 research outputs found
Sort by
PROSEDUR PENYIAPAN DATA KOMPUTER DALAM ANALISIS TEKNOLOGI ALAT BATU
Peran aktif komputer di dalam dunia penelitian arkeologi telah cukup tinggi. Keberhasilan "otak elektronis" tersebut telah terealisasikan pada beberapa hal, baik itu penanganan tahap rencana penelitian, pengolahan data, atau pun penyajian data. Beberapa hasil yang dapat disebut di sini antar lain: keakuratan komputer dalam penyusunan program rencana penelitian (Khandelwal, 1977), komputer sebagai penyimpan data atau bank data (Harkantiningsih, 1985), komputer berperan dalam pemlotan peta persebaran situs (Chadwick, 1978; Doran dan Hodson, 1975) komputer sebagai pengolah data (gerabah) dan penyajian hasil penelitian (laporan) (Soegondho, 1985)
KEBUDAYAAN BATU BESAR DI NIAS SELATAN
Tulisan ini didasarkan atas hasil survei Antropologi Museum ke Nias Selatan pada tahun 1980. Pada waktu itu penulis bersama-sama dengan Drs. Sulaiman Yusuf, Dra. Suwati Kartiwa, Drs. M. Yamin Data, dan Drs. I Made Seraya melakukan survei Antropologi di Nias Selatan selama satu setengah bulan. Survei ini dipimpin dan dibimbing oleh Prof. Dr. A. A. Gerbrands. Kami ditempatkan di lima desa yang ada di Nias Selatan dan Tengah
TEMUAN DUA KAPAK PERUNGGU DARI TUBAN
Temuan benda-benda perunggu di Indonesia umumnya terdiri dari kapak, nekara, bejana, beberapa jenis senjata, area berbentuk manusia dan hewan serta perhiasan-perhiasan yang berupa hiasan telinga, gelang, cincin dan sebagaihya. Benda-benda itu ditemukan secara tersebar di beberapa daerah di Indonesia
SEDIKIT URAIAN TENTANG PERGANTIAN TAHTA (KERAJAAN INDONESIA KUNA DARI ABAD 4 - 11 M)
itu pergantian tahta merupakan masalah yang pelik di dalam sistim pemerintahan yang bersifat kerajaan. Alur pengganti yang berhak naik tahta seakan-akan telah ditentukan oleh kodrat dari yang Maha kuasa. Manusia tinggal menuruti dan melaksanakan koderat terebut. Dalam pemerintahan yang bersifat kerajaan silsilah merupakan pegangan pokok. Sebab silsilah inilah yang menentukan kedudukan seseorang. Tinggi rendahnya pangkat serta titel yang disandang berdasar letaknya di dalam silsilah. Mereka yang masih dekat dengan raja mendapat titel yang tinggi sebaliknya mereka yang sudah jauh dengan raja mendapat titel yang rendah.
 
Preliminary study on Semedo’s bone artifacts, Tegal, Central Java: Kajian awal artefak tulang Situs Semedo di Tegal, Jawa Tengah
Bone artifacts as a cultural product of the hominins are rarely found in Pleistocene Sites in Indonesia. Among a few Pleistocene sites yielding bone artifacts, Semedo in Central Java provides it along with numerous fossils, including Homo erectus and stone artifacts. This is why the studies on the bone artifacts from Semedo are important. This paper tries to present the study results on three specimens of bone artifacts based on a morphological approach. The study shows that the three specimens are convincingly identified as culturally modified bone fragments. It is inferred from the fracture morphology and the grinding marks on the specimens. Some striations are also visible from the specimens, indicating the possible function of the fragments as tools. However, due to its secondary deposits and postdepositional transportation, it isn't easy to correlate chronologically with artifacts from other sites, despite technological character similarities. Nevertheless, this paper could provide more information on Pleistocene bone artifacts from the Indonesian archipelago
Preface Volume 42 No. 1 May 2022 : Pengantar Volume 42 No. 1 Mei 2022
Pengantar Volume 42 No. 1 Mei 20
ENVIRONMENTAL INFLUENCE IN SELECTING WONOSARI BASIN AS SETTLEMENT IN EARLY HISTORY PERIOD: TINJAUAN AWAL PENGARUH LINGKUNGAN DALAM PEMILIHAN CEKUNGAN WONOSARI SEBAGAI LOKASI HUNIAN
Abstract
Wonosari Basin is a plateau area and has been inhabited by humans continuously. This research goal is to determine the environmental factors that considered by humans to settle in Wonosari Basin in proto-history until Hindu-Buddhist period. Data used in this study are proto-history and Hindu-Buddhist sites distribution in Wonosari Basin. Analysis is conducted by spatial approach through map overlaying between sites distribution and environmental variable such as water source, slope, soil, and rock formation. This study shows that Wonosari Basin has been selected by human to settle because it has greater water source compared to other landform area in Gunung Sewu. In addition, Wonosari Basin has large flat area which simplify accessibility to utilize natural resource.
Abstrak
Cekungan Wonosari merupakan bentuk lahan dataran tinggi yang dihuni oleh manusia secara berkelanjutan. Kajian ini bertujuan untuk mengungkap faktor lingkungan yang dipertimbangan oleh manusia di Cekungan Wonosari pada masa proto-sejarah hingga masa hindu-buddha. Data yang digunakan berupa sebaran situs masa proto-sejarah dan Hindu - Buddha di Cekungan Wonosari. Analisis dilakukan secara spasial dengan cara melakukan overlay antara peta sebaran situs dengan variabel lingkungan berupa sumber daya air, lereng, jenis tanah, dan batuan. Hasil dari kajian menggambarkan bahwa Cekungan Wonosari dipilih menjadi lokasi hunian karena memiliki potensi air yang lebih besar dibanding bentuk lahan lain di Kawasan Gunung Sewu. Selain itu, Cekungan Wonosari memiliki area datar yang luas sehingga mempermudah aksesibilitas untuk pemanfaatan sumber daya alam
APPLICATION OF PHOTOGRAMMETRY TECHNIQUES IN RECONSTRUCTING THE CARVING ON STONE INSCRIPTIONS: PENGGUNAAN TEKNIK FOTOGRAMETRI DALAM REKONSTRUKSI PAHATAN PADA BATU PRASASTI
Abstract
This research discusses and applies photogrammetry techniques to determine the depth of the script carvings on some worn-out stone inscriptions so images of scripts can be more readable. Inscriptions are the backbone of ancient Indonesian historical writings. Unfortunately the significance of many such ancient inscriptions can not yet be used optimally since many inscriptions are found in a state of having poor legibility, and this due both to natural as well as human factors. To this day, photogrammetry techniques have not been widely used by Indonesian researchers in order to help analyze existing cultural heritage objects, especially stone inscriptions. In addition to previous photogrammetric techniques reviews, this article also brings forward my experiment on the photogrammetric techniques, especially those directly related to the stone inscriptions. The reconstruction was not intended to interpret the meaning of the scripts, but rather to give epigraphists a new insight into other ways of clarifying worn-out scripts.
Abstrak
Penelitian ini membahas dan menguji teknik fotogrametri untuk mengetahui kedalaman pahatan pada batu prasasti sehingga rekonstruksi dapat dilakukan guna memperjelas bekas pahatan aksara yang ada. Diharapkan akan dapat memunculkan gambar pahatan dengan lebih jelas sehingga pada akhirnya pahatan tersebut dapat dibaca. Prasasti adalah tulang punggung penulisan sejarah kuna Indonesia. Arti penting prasasti ini belum dapat digunakan dengan maksimal karena banyak prasasti yang ditemukan dalam keadaan aus pahatannya, baik karena kerusakan yang disebabkan oleh faktor alam maupun manusia. Teknik Fotogrametri belum banyak digunakan oleh peneliti dari Indonesia untuk membantu menganalisis benda cagar budaya yang ada terutama prasasti. Selain mengulas beberapa teknik fotogrametri dikemukan pula percobaan teknik fotogrametri yang telah dilakukan khususnya yang berhubungan langsung dengan prasasti. Rekonstruksi yang dilakukan tidak dimaksudkan untuk membaca dan mengartikan hasil pembacaan aksara prasasti, akan tetapi lebih kepada memberi pandangan baru dan potensi penggunaan teknik fotogrametri bagi para ahli epigrafi tentang cara lain dalam memperjelas bekas pahatan yang telah aus