Buletin Pos dan Telekomunikasi / Bulletin of Posts and Telecommunication
Not a member yet
209 research outputs found
Sort by
Analisis Efektivitas Perangkat pada Program Desa Broadband Terpadu [Analysis of Device Effectiveness in Integrated Broadband Village Program]
Pemerintah berkomitmen mendukung pertumbuhan e-commerce dan ekonomi digital di Indonesia untuk mencapai visi Indonesia 2020 sebagai negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Secara fundamental diperlukan dukungan konektivitas nasional dari tingkat pusat sampai ke tingkat lokal, salah satunya melalui program KPU/USO yaitu program DBT (Desa Broadband Terpadu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas perangkat pada program DBT phase 1 dan keterkaitannya dengan konektivitas, dengan menggunakan metode analisis kepentingan kinerja dan uji statistik Chi square. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa efektivitas perangkat meliputi variabel kondisi, fungsi, pemeliharaan dan pemanfaatan rata-rata adalah 84,5 persen. Dengan nilai efektivitas tersebut diketahui bahwa keseluruhan variabel kondisi perangkat, fungsi dan pemanfaatannya tidak mempengaruhi konektivitas. *****The Indonesian government has a strong commitment in supporting the growth of e-commerce and Digital Economy in Indonesia to attain Indonesia’s vision by 2020 as the largest digital economy nation in Southeast Asia. Fundamentally, the national connectivity supports from central level to local level are needed, where one of them comes from Integrated Broadband Village program. This research determines the effectiveness of devices in the DBT program and its correlation to the connectivity, by using importance-performance analysis method and Chi-square statistical test. It is known from the result that the effectiveness of devices, including condition, function, maintenance, and utilization variables, achieves 84.5 percent on average. The value shows that all mentioned variables have insignificant correlations to the connectivity
Kajian teknologi High Altitude Platform (HAP) [Study of High Altitude Platform (HAP) technology]
High Altitude Platform (HAP) merupakan solusi alternatif untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur terestrial maupun satelit. HAP merupakan pesawat ataupun balon udara yang ditempatkan pada ketinggian 20-50 km di atas permukaan bumi. Kelebihan yang utama dari HAP adalah kemudahan dalam penempatan, fleksibilitas, biaya operasionalnya rendah, delay propagasi rendah, sudut elevasi lebar, cakupan yang luas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi HAP untuk komunikasi pita lebar dan perkembangannya di Indonesia. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan mengolah data literatur yang didapat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat potensi teknologi HAP untuk komunikasi pita lebar dengan lebar pita 2x300 MHz di band 27,9-28,2 GHz dan 31-31,3 GHz. Namun, belum ada peraturan yang mengatur alokasi frekuensi untuk HAP secara khusus di Indonesia.*****High Altitude Platform (HAP) has been developed as an alternative solution in order to overcome limitation of terrestrial and satellite communication system. HAP is an aircraft or balloon situated on 20-50 km above the earth. Main advantages of HAP are flexibility in deployment, low propagation delay, wide elevation angle and broad coverage. The research is conducted to gather HAP potential for broadband communication and its development in Indonesia. Analysis is conducted by descriptive analysis from literature study gather. The research result shows that in Indonesia, there is potential of HAP technology for broadband communication with 2x300 MHz bandwidth within 27,9-28,2 GHz and 31-31,3 GHz. Yet, there are no specific regulations managing frequency allocation for HAP in Indonesia
Studi Pengukuran Digital Divide di Indonesia
Pengukuran digital divide di suatu daerah sangat penting untuk mengetahui daerah mana saja yang perlu dibangun TIK nya. Jika tidak, dikhawatirkan akan terjadi kesalahan sasaran prioritas daerah yang benar-benar membutuhkan akses teknologi informasi dan komunikasi. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu dilakukan pengukuran digital divide tiap daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai indeks digital divide di tiap propinsi di Indonesia serta menentukan prioritas pembangunan yang menitikberatkan pada peningkatan TIK di masing-masing propinsi. Data penelitian berupa data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan Direktorat Pengendalian Penyelenggara dan Perangkat Pos dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Infomatika. Populasi dalam penelitian terdiri dari 33 propinsi di Indonesia. Teknik pengukuran digital divide menggunakan teknik infostate yang diadopsi dari penelitian George Sciadas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks digital divide di propinsi di Indonesia paling besar dimiliki oleh propinsi Papua. Nilai kesenjangan digital paling rendah terhadap propinsi DKI Jakarta adalah propinsi D.I Yogyakarta. Prioritas pembangunan ICT di daerah sebaiknya dari propinsi dengan nilai indeks infostate paling kecil yaitu propinsi Papua, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tengah
Variable step closed-loop power control with space diversity for low elevation angle High Altitude Platforms communication channel [Langkah variabel kontrol daya tertutup dengan keragaman ruang untuk sudut elevasi rendah pada kanal komunikasi HAPs]
This paper proposes variable step closed loop power control algorithm combined with space diversity to improve the performance of High Altitude Platforms (HAPs) communication at low elevation angle using Code Division Multiple Access (CDMA). In this contribution, we first develop HAPs channel model which is derived from experimental measurement. From our experiment, we found HAPs channel characteristic can be modeled as a Ricean distribution because the presence of line of sight path. Different elevation angle resulting different K factor value. This value is then used in Signal to Interference Ratio (SIR) based closed loop power control evaluation. The variable step algorithm is simulated under various elevation angles with different speed of mobile user. The performance is presented in terms of user elevation angle, user speed, step size and space diversity order. We found that the performance of variable step closed-loop power control less effective at low elevation angle. However our simulation shows that space diversity is able to improve the performance of closed loop power control for HAPs channel at low elevation angle.*****Kajian ini mengusulkan suatu algoritma kontrol daya langkah variabel loop tertutup dikombinasikan dengan keragaman ruang untuk meningkatkan kinerja komunikasi High Altitude Platforms(HAPs) pada sudut elevasi rendah menggunakan Code Division Multiple Access (CDMA). Kami berkontribusi untuk mengembangkan model kanal HAPs yang berasal dari pengukuran eksperimental sebelumnya. Dari percobaan tersebut, kami menemukan karakteristik kanal HAPs yang dapat dimodelkan sebagai distribusi Ricean karena kehadiran jalur tanpa penghalang. Eksperimen menunjukkan bahwa perbedaan sudut elevasi menghasilkan perbedaan nilai factor K. Nilai ini kemudian digunakan dalam Signal to Interference Ratio (SIR) berbasiskan evaluasi kontrol daya loop tertutup. Algoritma langkah variabel disimulasikan dibawah sudut elevasi yang berbeda dengan kecepatan yang berbeda dari pengguna vobile. Kinerja tersebut disajikan dalam hal sudut elevasi pengguna, kecepatan pengguna, ukuran langkah dan ketertiban ruang keanekaragaman. Kami menemukan bahwa kinerja langkah variabel kontrol daya loop tertutup kurang efektif pada sudut elevasi rendah. Namun simulasi kami menunjukkan bahwa ruang keragaman mampu meningkatkan kinerja kontrol daya loop tertutup untuk kanal HAPs di sudut elevasi rendah.
Studi kepuasan pelanggan terhadap kualitas layanan pitalebar pada jaringan bergerak seluler [The study of subscriber satisfaction on quality of broadband service on cellular mobile network]
Teknologi telekomunikasi seluler terus berevolusi. Dimulai dari teknologi seluler generasi pertama (1G) yang berbasis teknologi analog, kini kita dapat menikmat layanan pitalebar nirkabel berbasis teknologi seluler generasi keempat (4G). Studi ini dilakukan untuk mengukur kepuasan pelanggan terhadap kualitas layanan pitalebar pada jaringan bergerak (mobile) baik kualitas layanan yang bersifat teknis maupun non-teknis, dengan cara menyebarkan kuesioner kepada pelanggan 3G dan 4G di 12 lokasi survei. Analisis dilakukan dengan menggunakan indeks kepuasan konsumen dan analisis kepentingan dan kinerja. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada umumnya pelanggan puas dengan kualitas layanan data yang diberikan oleh pihak penyedia layanan. Namun demikian, masih diperlukan perbaikan-perbaikan mengingat indeks kepuasan konsumen lebih mendekati batas bawah dari kategori puas tersebut. Berdasarkan hasil analisis kepentingan dan kinerja terhadap diketahui bahwa pada skala 5(lima), rata-rata tingkat kepentingan dan kinerja untuk semua parameter kualitas layanan berturut-turut sebesar 4,04 dan 3,43. Terdapat dua parameter masuk kuadran tingkatkan kinerja, empat parameter berada di kuadran pertahankan kinerja, dua parameter memiliki kinerja yang dianggap berlebihan dan sisanya yaitu dua parameter masuk dalam kategori prioritas rendah. Penyedia layanan harus memprioritaskan perbaikan pada parameter-parameter yang masuk dalam kategori tingkatkan kinerja, yaitu kehandalan jaringan dan kecepatan perbaikan jaringan ketika jaringan mengalami gangguan.*****Mobile telecommunications technology continues to evolve. Starting from the first-generation mobile technology (1G), we are now able to enjoy wireless broadband service based on fourth-generation cellular technology (4G). This study was conducted to measure customer satisfaction against quality of service (QoS) parameters of broadband on mobile networks, including technical QoS as well as non-technical QoS. Data collection was done by distributing questionnaires to customers of 3G and 4G in 12 survey locations. Analyses were performed using customer satisfaction index (CSI) and importance and performance analysis (IPA). The results show that, overall, customers are satisfied with the quality of service from the service providers. However, improvements are still required given that the customer satisfaction index is closer to the lower limit of the satisfying category. Based on the importance and performance analysis it is known that on a scale of 5, the average level of importance and performance for all quality of service parameters are 4.04 and 3.43 respectively. There are two parameters included in the category of concentrate here, four parameters categorized as keep up the good work, two parameters considered as possible overkill and the remaining two parameters are categorized as low priority. Service providers should prioritize improvements on parameters that are included in the category of contcentrate here, namely network reliability and promptness in repairing impaired network
Determinan literasi digital mahasiswa: kasus Universitas Sriwijaya [Determinants of students digital literacy: the case of Sriwijaya University]
Artikel ini bertujuan menganalisis kontribusi kesenjangan digital terhadap tingkat literasi digital di kalangan mahasiswa Universitas Sriwijaya. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa FISIP Universitas Sriwijaya yang berjumlah 3.414 orang. Sampel penelitian ditetapkan secara purposif sebanyak 200 orang dan dipilih dengan metode simple random sampling. Seratus responden dipilih dari kelompok digital native di Kampus Palembang dan 100 orang lagi dipilih dari Kampus Indralaya. Data dikumpulkan dengan wawancara terstruktur berpedoman pada kuesioner yang telah disiapkan. Data dianalisis dengan SPSS dan menggunakan tabulasi silang (chi-square dan uji Somers). Hasilnya, kesenjangan digital di kalangan mahasiswa Universitas Sriwijaya berbentuk perbedaan kepemilikan, biaya komunikasi, dan usia pertama kali mengoperasikan perangkat TIK (laptop, tablet, dan handphone). Hampir tidak ada perbedaan dalam tiga situs website yang paling sering dikunjungi, tiga tempat favorit mengakses internet, intensitas penggunaan, dan pola pemanfaatan perangkat TIK. Tingkat literasi digital mahasiswa FISIP Universitas Sriwijaya adalah ‘Tinggi’ dan ‘Sangat tinggi’. Ia tidak berhubungan dengan jenis kelamin, program studi, kepemilikan dan intensitas penggunaan TIK, keanggotaan dalam grup online, dan biaya komunikasi yang dikeluarkan. Secara statistik, literasi digital dipengaruhi usia pertama kali menggunakan perangkat TIK. Tetapi hubungan keduanya bersifat negatif dan tidak signifikan.*****This article aims to analyze the contribution of the digital divide to digital literacy among students in Sriwijaya University (SU), by using quantitative approach. Research population was 3,414 students at Faculty of Social and Political Sciences, SU. Research sample consists of 200 students chosen purposively by using simple random sampling method. A hundred students were selected from digital native in Palembang Campus, while the other 100 were from Indralaya Campus. Data were collected by a structured interview based on questionnaire and were analyzed using SPSS and cross tabulation (chi-square and Somers test). The results show that the digital divide among students in SU occurs in the forms of differences of ICT devices ownership, communication costs, and the age when the respondent used ICT devices (laptops, tablets, and mobile phones) for the first time. There is no difference between respondents in the aspects of three most frequently-visited websites, three favorite places in accessing the Internet, and the intensity and usage pattern of ICT devices. We also found that the digital literacy of SU students are in the level of 'high' and 'very high'. However, it does not relate to gender, discipline, ownership and usage intensity of ICT devices, membership in online groups, and communication costs. Statistically, digital literacy is influenced by the age when a respondent used an ICT device for the first time. In contrast, this relationship is negative and insignificant
Perencanaan dan analisis kehandalan sistem komunikasi radio microwave tampak pandang pada pita frekuensi 12750-13250 MHz [Planning and analysis of the reliability of line of sight microwave radio communication system on 12750-13250 MHz band]
Propagasi gelombang radio dapat diartikan sebagai proses perambatan gelombang radio dari pemancar ke penerima. Gelombang ini akan merambat melalui udara bebas menuju antena penerima dan mengalami redaman di sepanjang lintansannya, redaman perangkat dan saluran transmisi, sehingga ketika sampai di antena penerima, energi sinyal sudah sangat lemah. Line of sight (LOS) merupakan salah satu jenis propagasi di mana diantara stasiun pengirim dan stasiun penerima tidak terdapat penghalang. Kendala geografis dan kelengkungan bumi menyebabkan adanya keterbatasan untuk transmisi line of sight, namun masalah ini secara umum dapat dikurangi melalui perencanaan, perhitungan dan penggunaan teknologi tambahan. Dalam perencanaan sistem komunikasi radio, kinerja LOS perlu direncanakan cadangan daya akibat fluktuasi sinyal serta analisis kehandalannya. Sistem radio gelombang mikro digital antar titik yang menggunakan frekuensi 13 GHz dengan modulasi 16 QAM, bit rate 140 MBps,dan noise figure 0,7 dB memerlukan daya pancar -4,488 dBm, fading margin sebesar 85,51 dB dan kehandalannya sebesar 99,9999999%.*****Radio wave propagation can be defined as the process of propagation of radio waves from the transmitter to the receiver. These waves will propagate through free air towards the receiver antena with experienced curbs along the tracks, so when it arrive at the receiver antena, the signal energy is very slow. Line of sight (LOS) is one kind of propagation where no obstacles found between the transmitter and the receiver station. Geographical constraints and the curvature of the earth bring limitations to the line of sight transmission, but this problem can generally be reduced through planning, calculation and use of additional technologies. In a radio communication system planning, LOS performance needs to be planned caused by signal fluctuations and reliability. Digital microwave point to point radio systems using 13 GHz of spectrum, 16 QAM of modulation, 140 MBps of bit rate, 0,7 dB of noise figure requires -4,488 dBm of transmit power, 85,51 dB of fading margin, and 99.99999999 % of reliability