Buletin Pos dan Telekomunikasi / Bulletin of Posts and Telecommunication
Not a member yet
209 research outputs found
Sort by
Perbandingan Biaya Jaringan dan Kelayakan Teknologi LTE pada Frekuensi 900 MHz, 1800 MHz, 2100 MHz, & 2300 MHz untuk Mendukung Rencana Pita Lebar di Indonesia
AbstrakPenelitian ini bertujuan membandingkan besarnya biaya penyelenggaraan teknologi LTE pada pita frekuensi 900 MHz, 1800 MHz, 2100 MHz, dan 2300 MHz. Selain itu, dilakukan cost benefit analysis untuk melihat kelayakan bisnis teknologi LTE pada frekuensi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melakukan perhitungan link budget dan capacity dimensioning untuk memperoleh jumlah infrastruktur yang dibutuhkan, serta melakukan perhitungan biaya dan pendapatan untuk dilakukan cost benefit analysis (CBA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiayaan operasional terbesar pada pembangunan jaringan LTE adalah BHP, kemudian disusul dengan harga sewa site. Biaya terbesar ada pada penggunaan pita frekuensi 2100 MHz dikarenakan BHP pita tersebut paling tinggi dibanding dengan frekuensi lainnya. Dari keempat frekuensi tersebut, frekuensi 2300 MHz paling layak digunakan, karena nilai BHP yang paling rendah dibanding frekuensi yang lain. Berdasarkan hasil perhitungan, pembangunan jaringan LTE pada keempat frekuensi tersebut layak dilakukan, dengan internal rate of return (IRR) terbesar pada pita frekuensi 2300 MHz. AbstractThis study aims to compare the cost of developing LTE technology at 900 MHz, 1800 MHz, 2100 MHz, and 2300 MHz frequencies. In addition, cost-benefit analysis is carried out to find the feasibility of LTE technology business at those frequencies. This study uses a quantitative approach by conducting link budget and capacity dimensioning to obtain the number of cellular infrastructures. This study identifies and calculates cost and revenue for conducting cost-benefit analysis (CBA). The result shows that the most significant operational cost of LTE network development is BHP frequency (frequency license fee,) followed by site leasing cost. The most significant cost of LTE planning development from those frequencies is at 2100 MHz, because the frequency license fee of that frequency is the most expensive one among the other frequencies. The frequency of 2300 MHz is the most feasible frequency to use, since the frequency 2300 MHz license fee is the cheapest one among the other frequencies. According to the calculation result, LTE development at those frequencies is feasible, with the largest internal rate of return (IRR) is in the frequency of 2300 MHz
Analisis Propagasi Gelombang Radio HF Mode Angkasa untuk Kegiatan Patroli Laut Bea Cukai
AbstrakMakalah ini membahas tentang hasil analisis propagasi gelombang radio pada spektrum HF (High Frequency; 3–30 MHz) menggunakan mode angkasa (skywave propagation) yang ditujukan untuk mendapatkan rekomendasi frekuensi kerja (fc) bagi kegiatan patroli laut Bea Cukai. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 5 rekomendasi rentang frekuensi kerja, yakni 2,170–2,194 MHz, 4,000–4,063 MHz, 8,100–8,815 MHz, 12,230–13,200 MHz, dan 16,360–17,410 MHz. Rentang frekuensi 2,170–2,194 MHz diperuntukkan bagi penggunaan malam hari, baik untuk komunikasi antara Pangkalan Sarana Operasi (PSO) dengan kapal patroli maupun komunikasi antar-PSO. Rentang frekuensi 4,000–4,063 MHz diperuntukkan bagi komunikasi antara PSO dengan kapal patroli pada siang hari serta untuk komunikasi antar-PSO di malam hari. Rentang frekuensi 8,100–8,815 MHz hanya diperuntukkan bagi komunikasi antara PSO dengan kapal patroli pada siang hari. Sedangkan frekuensi 12,230–13,200 MHz dan 16,360–17,410 MHz diperuntukkan bagi komunikasi antar-PSO dengan jarak antara 1.000 km hingga 2.000 km dan jarak lebih dari 2.000 km pada siang hari. Frekuensi yang telah diperoleh dapat diterapkan untuk kegiatan operasional dengan menggunakan manajemen frekuensi yang bersifat manual atau dengan menggunakan sistem Automatic Link Establishment (ALE). Abstract This paper discusses the results of radio wave propagation analysis in HF spectrum (High Frequency; 3–30 MHz) using skywave propagation mode aimed to obtain recommendations for working frequency (fc) for operational activities of Customs and Excise (DJBC) Marine Patrol. The result shows that there are 5 working frequency range recommendations, i.e. 2.170–2.194 MHz, 4.000–4.063 MHz, 8.100–8.815 MHz, 12.230–13.200 MHz, and 16.360–17.410 MHz. Frequency range of 2.170–2.194 MHz is intended for night operation, both for communication between Operation Facility Base (PSO) and Patrol Boats and communication between each PSO. Frequency range of 4.000–4.063 MHz is intended for communication between PSO and Patrol Boats during daytime and for communication between PSOs at nighttime. The frequency range of 8.100– 8.815 MHz is only intended for communication between PSO and patrol boats in daytime, while the frequency ranges of 12.230–13.200 MHz and 16.360– 17.410 MHz are for communication between PSOs within 1,000—2,000 km and daytime communication with distance more than 2,000 km. The frequency obtained then can be used for operational communication activities, whether by manual frequency management methods or automatic methods such as Automatic Link Establishment (ALE) system.
Creating Competitive Advantage in the Turbulent Business Environment: Lesson Learned from Indonesia Telecommunication Industry
Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran mengenai keunggulan bersaing penyelenggara telekomunikasi dan mengeksplorasi bagaimana menciptakankeunggulan bersaing yang superior dalam lingkungan bisnis yang bergejolak.Penelitian melibatkan pimpinan unit bisnis penyelenggara telekomunikasi di Indonesia sebagai responden penelitian dengan metode descriptive survey dan explanatory survey menggunakan Partial Least Square-Path Modelling (PLS-PM). Dari analisis deskriptif, diperoleh bahwa keunggulan bersaing penyelenggara telekomunikasi di Indonesia termasuk dalam kategori baik dan lebih banyak dibangun melalui efisiensi produk, terutama efisiensi yang lebih tinggi dalam menghasilkan produk atau layanan.Namun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan respon pasar memiliki kontribusi yang lebih dominan dalam menciptakan keunggulan bersaing yang superior pada lingkungan bisnis yang bergejolak. Untuk mengatasi masalah ini, penyelenggara telekomunikasi di Indonesia perlu meningkatkan kemampuannya,terutama dalam menciptakan respon yang lebih cepat untuk memasuki pasar-pasar baru serta menghasilkan produk atau layanan dengan biaya yang lebih rendah. This study aims to describe the competitive advantage of the telecommunications provider and explore how to create a superior competitive advantage in the turbulent business environment. The study involved many leaders of business units of telecommunications operators in Indonesia as research respondents. The research uses descriptive survey and explanatory survey using Partial Least Square-Path Modeling (PLS-PM). From the descriptive analysis, it is found that the competitive advantage of telecommunications operators in Indonesia belongs to the excellent category, and was built more through product cost-efficiency, especially higher efficiency in producing products or services. However, the results of the study show that market responsiveness turned out to have a more dominant contribution in creating a superior competitive advantage in a turbulent business environment. Thus, the competitive advantage is still not optimal. To solve this problem, the telecommunications provider in Indonesia needs to increase the ability to quickly enter new markets and produce products or services at a lower cost
Perencanaan dan Analisis Fronthaul Microwave Menggunakan Spektrum Frekuensi 71 Ghz untuk Radio Access Network dengan Metode Drive Test 4G LTE
Di Indonesia, tidak semua daerah telah terintegrasi oleh jaringan 4G LTE dengan baik, sehingga memerlukan perencanaan 4G LTE yang tepat. Penelitian ini melakukan perancangan penambahan eNodeB baru dengan metode fronthaul microwave 4G LTE, dengan tujuan untuk memperbaiki bad coverage pada suatu area melalui peningkatan coverage dan kapasitas jaringan. Link fronthaul menggunakan frekuensi 71 GHz, penempatannya dengan menggunakan metode drive test untuk mencari bad coverage di Purwokerto Utara, Purwokerto Barat, dan Purwokerto Selatan. Hasil dari penentuan daerah bad coverage kemudian dibuat site hop berdasarkan site existing terdekat dengan daerah bad coverage tersebut. Dari hasil simulasi menggunakan Atoll 3.3.0, rata-rata kenaikan RSRP setelah ditambahkan fronthaul RSRP-nya, -91,7 dBm, naik 20%, dan CINR sebesar 13,95 dB, kenaikan sebesar 12%. Sedangkan untuk throughput, mengalami kenaikan setelah ditambahkan fronthaul, rata-rata menjadi 90,75 Mbps, dari 52,12 Mbps, naik 72%. Untuk simulasi link fronthaul microwave 71 GHz, level daya terima saat tidak terjadi hujan, sebesar rata-rata RSL -27,52 dBm, dan pada saat hujan, RSL turun, -58,17 dBm, dari ambang batas minimum -48 dBm. Untuk keandalan sistem, mendapat annual multipath availability pada 6 hop sebesar 99,999%, akan tetapi pada annual rain, availability rata-rata sebesar 99,90%. In Indonesia, not all regions have been integrated by the 4G LTE network, so it needs the optimal 4G LTE Planning. In this study, we plan the new eNodeB with fronthaul microwave 4G LTE method to solve the bad coverage problem in certain area by increasing coverage and capacity network with this method. The fronthaul links uses 71 GHz frequency and the placement of this link uses the drive test method to look for bad coverage in the North Purwokerto, West Purwokerto, and South Purwokerto. The results of the bad coverage were then used as a hopping site based on the site closest to the area's bad coverage. From the simulation results using Atoll 3.3.0, the average RSRP increases after fronthaul RSRP added, -91.7 dBm, up 20%, and CINR by 13.95 dB, rose by 12%. While for throughput, increased after adding fronthaul, on average to 90.75 Mbps, from 52.12 Mbps, up 72%. For the 71 GHz fronthaul microwave link simulation, the level of receiving power when there is no rain, RSL -27.52 dBm on average, and when it rains, RSL drops, -58.17 dBm, from the minimum threshold of -48 dBm. For system feasibility, the availability of annual multipath at six hops is 99.999%, but on average annual rainfall, availability is 99.90%.
Indonesia 5G Channel Model Under Foliage Effect
Abstract The performance of communications is determined by the channel, therefore knowledge of channel model of a country is important. This paper proposes (i) the fifth telecommunication generation (5G) Indonesia channel model and (ii) a framework to derive the channel model of any locations in Indonesia. We consider operating frequency of 3.3 GHz with bandwidth of 40 MHz with real-field parameters of several cities in Indonesia. We also present a theoretical outage performance evaluated for the proposed Indonesia 5G channel model validated by block error rate (BLER) performances of cyclic-prefix orthogonal frequency division multiplexing (CP-OFDM) numerology zero with 5G complex binary phase shift keying (C-BPSK) and Polar coding scheme. Sub-optimal Polar codes are used in this research, where better performances are expected in the future. We found that the Indonesia 5G channel model has 17 paths for the case of without foliage effect and has less than 15 paths for the case of with foliage effect. The results show that foliage attenuation causes performance degradations indicated by smaller number of paths and worse theoretical outage performances. The obtained outage performances from the proposed Indonesia 5G channel model in this paper are expected to be a reference for 5G implementations in Indonesia. Abstrak Kinerja sistem komunikasi ditentukan oleh kanal, sehingga pengetahuan model kanal suatu negara menjadi penting. Makalah ini mengusulkan (i) model kanal telekomunikasi generasi ke-lima (5G) Indonesia dan (ii) kerangka kerja untuk menghitung model kanal di lokasi lain di Indonesia. Model kanal dalam makalah ini diciptakan untuk bandwidth 40 MHz pada frekuensi 3,3 GHz dengan parameter riil lapangan. Makalah ini juga menampilkan teori outage performance yang diperoleh dari model kanal 5G Indonesia, kemudian memvalidasi teori outage performance tersebut menggunakan block error rate (BLER) pada cyclic-prefix orthogonal frequency division multiplexing (CP-OFDM) numerology zero dengan complex binary phase shift keying (C-BPSK) standard 5G dan Polar coding. Semua hasil numerik diperoleh dari simulasi komputer menggunakan parameter riil lapangan untuk alam Indonesia. Makalah ini menemukan bahwa kanal 5G Indonesia dapat dimodelkan power delay profile (PDP) dengan 17 path untuk kanal tanpa efek dedaunan dan kurang dari 15 path untuk kanal dengan dedaunan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa redaman daun menyebabkan penurunan kinerja, yang ditandai dengan penurunan jumlah path dan memburuknya outage performance. Kurva outage performance yang diperoleh dari model kanal 5G Indonesia diharapkan menjadi referensi untuk implementasi sistem 5G di Indonesia dalam pengembangan 5G di Indonesia secara optimal, terutama untuk lokasi yang memiliki dedaunan lebat
Analisis Perencanaan Transmisi Microwave Link antara Semarang-Magelang untuk Radio Access Long Term Evolution (LTE)
Abstrak Teknologi telekomunikasi yang banyak dimanfaatkan untuk berkomunikasi di era internet saat ini adalah teknologi Long Term Evolution (LTE). Dalam menyelenggarakan layanan LTE, diperlukan suatu penghubung antara jaringan akses dengan core yang biasa dikenal dengan istilah backhaul. Salah satu backhaul yang biasa digunakan untuk menyambungkan suatu link komunikasi ini adalah backhaul microwave. Penerapan dari link microwave ini biasa digunakan untuk komunikasi line of sight (LOS). Oleh karena itu, perencanaan link microwave ini tidak mudah karena akan ada banyak faktor yang mempengaruhi link komunikasi ini, diantaranya: penghalang, fading, atenuasi, noise maupun jarak. Pada penelitian ini akan dilakukan perencanaan link microwave antara Kota Semarang dengan Kota Magelang dengan 3 skenario. Skenario pertama dilakukan dengan komunikasi langsung singlehop, skenario kedua dengan memanfaatkan repeater aktif, dan skenario ketiga dilakukan dengan repeater pasif. Hasil akhir menunjukan bahwa skenario yang paling sesuai untuk diimplementasi pada link microwave Semarang-Magelang ini adalah skenario kedua. Penggunaan repeater aktif yang memantulkan dan menguatkan sinyal site Tx menuju site Rx ini mampu menjadi solusi untuk lintasan link yang terdapat obstacle dan berjarak sangat jauh. Penggunaan skenario 2 dalam penelitian ini menunjukan kekuatan signal di site Semarang dan Magelang adalah masing-masing -54,67 dBm dan -48,66 dBm. Kekuatan sinyal ini berada di atas Rx threshold pada kedua site, yaitu -67,50 dBm. Abstract Telecommunication technology that is widely used to communicate in the internet era today is Long Term Evolution (LTE) technology. In carrying out LTE services, the link is needed between the access network and the core or commonly known as backhaul. One of the backhaul widely used to connect a communication link is a microwave backhaul. The application of a microwave link uses extensively for the line of sight (LOS) communication. Therefore, this microwave link planning is not easy because there will be many factors that influenced the communication link, include barriers, fading, attenuation, noise, and distance. In this research, microwave link planning will be carried out between the Semarang City and the Magelang City using three scenarios. The first scenario conducted by using single-hop or direct communication, the second scenario using an active repeater, then the third scenario using the passive repeater. The last result shows that the most suitable scene to be applied in the Semarang-Magelang microwave link is the second scenario. Using active repeater, which reflecting and amplifying the Tx site signal towards the Rx site, is considered to be a solution for the link trajectory, which contained high obstacle and great distance. Using the second scenario from this research, showing that the signal power at Semarang and Magelang site is -54,67 dBm and -48,66 dBm. These signals are above both of Rx threshold site, that is -67,50 dBm.