Buletin Pos dan Telekomunikasi / Bulletin of Posts and Telecommunication
Not a member yet
209 research outputs found
Sort by
Analisis Perbandingan Kinerja Pengkodean Kanal Non-Return-to-Zero (NRZ) dan Return-to-Zero (RZ) pada Rancangan Jaringan Long-haul Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM)
Abstrak Perkembangan jangkauan dan penggunaan internet mendorong pengembangan penyediaan layanan dengan transmisi data yang cepat dan kapasitas yang besar seperti layanan berbasis serat optik. Jaringan long-haul DWDM sebagai teknologi multipleksing sangat mendukung proses transmisi optik jarak jauh. Performa media transmisi long-haul DWDM membutuhkan teknik pengkodean kanal yang dapat diimplementasikan pada sisi pengirim agar diperoleh sistem yang efisien dalam hal bandwidth transmisi. Dalam komunikasi serat optik terdapat beberapa jenis teknik pengkodean kanal yang umum digunakan seperti non-return-to-zero (NRZ) dan return-to-zero (RZ). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja rancangan sistem dengan variasi teknik pengkodean dengan memberikan variasi daya pancar laser sebesar 0, 2, 4, 6, dan 8 dBm dan variasi jarak sebesar 200, 400, 600, 800, dan 1000 km. Rancangan sistem menggunakan modulasi eksternal dan NRZ atau RZ pada sisi transmitter, serat optik dan penguat EDFA pada media transmisi, dan detektor optik pada sisi receiver. Berdasarkan hasil penelitian, tidak semua kanal sesuai dengan hasil Q-factor dan BER berdasarkan standar ITU-T, namun jenis pengkodean kanal NRZ lebih baik digunakan pada jenis jaringan long-haul DWDM. Abstract The increasing of coverage area and demand for internet services are both drive the development of providing services with high bitrate transmission and gigantic capacity, such as fiber optic communication. Long-haul DWDM network as a multiplexing technology is very supportive in the long-distance optical transmission link requiring channel coding which can be implemented in transmitter. There are various types of channel coding used in optical fiber communication, such as non-return-to-zero and return-to-zero. The aims of this work are to compare the system performance with different channel coding in long-haul link using variations of optical power launch with value 0, 2, 4, 6, and 8 dBm and variations of length of link with value 200, 400, 600, 800, and 1000 km. The design system uses external modulation and NRZ or RZ on the transmitter, optical Fiber with EDFA amplifier on the optical transmission, and optical detector on the receiver. Based on the results, there are several channels with the Q-factor and BER that do not meet the ITU standards. In addition, the NRZ channel coding is better used in the long-haul DWDM link
Indonesian Non-GSO Satellites: Current Operations and Future Predictions
Operasi satelit di Indonesia yang dikenal luas adalah tentang operasi satelit-satelit di orbit geostasioner (GSO) untuk misi telekomunikasi. Namun, dalam dekade terakhir ini, operasi satelit-satelit non-GSO di Indonesia meningkat dengan pesat. Sehingga, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui mengapa peningkatan tersebut terjadi dan mendapatkan gambaran tentang masa depan operasi satelit non-GSO di Indonesia. Untuk tujuan tersebut, dilakukan ulasan atas operasi satelit non-GSO yang lalu dan saat ini. Analisis dilakukan pada karakteristik misi, pemilik/operator, dan spesifikasi dari satelit-satelit tersebut. Selain itu, dilakukan kajian pustaka tentang tren global dan lingkungan strategis yang menentukannya. Hasil studi menyimpulkan bahwa penyebab pertumbuhan satelit non-GSO di Indonesia adalah bertambahnya penggunaan aplikasi penginderaan jauh, aplikasi M2M, dan pengembangan satelit oleh LAPAN. Di masa depan, diperkirakan naiknya penggunaan satelit non-GSO untuk penginderaan jauh akan disebabkan oleh faktor yang sama. Namun, untuk telekomunikasi, akan lebih didorong oleh beroperasinya konstelasi satelit global baru. Peningkatan penggunaan satelit non-GSO untuk penginderaan jauh tidak berakibat banyak pada kebutuhan frekuensi dan stasiun Bumi. Sementara, kenaikan penggunaan satelit non-GSO untuk telekomunikasi akan memerlukan tambahan alokasi frekuensi dan stasiun Bumi yang cukup banyak. Indonesian satellite operations are mainly known for the operation of geostationary orbit (GSO) satellites for telecommunication missions. In the last decade, however, the activities of non-GSO satellites in Indonesia are significantly increasing. Therefore, the objectives of this research are to find out the cause of the growth and to predict the future operation of non-GSO satellites in Indonesia. For such purpose, review on the operation of non-GSO satellites in the past and now was done. Analysis on the characteristics of their missions, owners/operators, and technical characteristics of the satellites were done. Literature studies on the global trends and their defining strategic environments were also done to complete the insight. The study shows that increase in the use of non-GSO satellites is caused by the growth in remote sensing application, M2M application, and development of LAPAN’s satellites. In the future, the growth of non-GSO remote sensing satellite is predicted to be caused by the same reason. The increase in the use of non-GSO telecommunication satellites, however, will be affected more by the new global trend. The increase in non-GSO remote sensing satellites does not affect significantly on the needs of frequency and ground stations. The increase in the non-GSO telecommunication satellites, however, needs significant additional frequency allocations and ground stations
Perhitungan Jarak Paparan Radiasi Base Transceiver Station pada Frekuensi 900 MHz, 1800 MHz, dan 2100 MHz Berdasarkan Standar World Health Organization
Abstrak Teknologi telekomunikasi yang banyak dimanfaatkan untuk berkomunikasi di era internet saat ini adalah teknologi Long Term Evolution (LTE). Dalam menyelenggarakan layanan LTE, diperlukan suatu penghubung antara jaringan akses dengan core yang biasa dikenal dengan istilah backhaul. Salah satu backhaul yang biasa digunakan untuk menyambungkan suatu link komunikasi ini adalah backhaul microwave. Penerapan dari link microwave ini biasa digunakan untuk komunikasi line of sight (LOS). Oleh karena itu, perencanaan link microwave ini tidak mudah karena akan ada banyak faktor yang mempengaruhi link komunikasi ini, diantaranya: penghalang, fading, atenuasi, noise maupun jarak. Pada penelitian ini akan dilakukan perencanaan link microwave antara Kota Semarang dengan Kota Magelang dengan 3 skenario. Skenario pertama dilakukan dengan komunikasi langsung singlehop, skenario kedua dengan memanfaatkan repeater aktif, dan skenario ketiga dilakukan dengan repeater pasif. Hasil akhir menunjukan bahwa skenario yang paling sesuai untuk diimplementasi pada link microwave Semarang-Magelang ini adalah skenario kedua. Penggunaan repeater aktif yang memantulkan dan menguatkan sinyal site Tx menuju site Rx ini mampu menjadi solusi untuk lintasan link yang terdapat obstacle dan berjarak sangat jauh. Penggunaan skenario 2 dalam penelitian ini menunjukan kekuatan signal di site Semarang dan Magelang adalah masing-masing -54,67 dBm dan -48,66 dBm. Kekuatan sinyal ini berada di atas Rx threshold pada kedua site, yaitu -67,50 dBm. Abstract Exposure to electromagnetic wave radiation from Base Transceiver Station can cause a negative impact on human health, can cause headache, brain tumors, cancer, and fetal disorders in pregnant women. In addition, to minimize the adverse effects of electromagnetic radiation exposure on the human body, the construction of Base Transceiver Station must comply with regulations regarding the safe distance of Base Transceiver Station from residential areas, such as electromagnetic field regulations that have been implemented in South Korea. From the results of mathematical calculations in accordance with World Heatlh Organization standards and electromagnetic field regulations in South Korea, it can be seen that the minimum safe distance of Base Transceiver Station to residential areas is influenced by the frequency, gain, and power of the Base Transceiver Station. This can be seen in the results od the classification of the radiation zone base on electric fields, with the use of 30 dBm power and 20 dBi gain with a frequency of 900 MHz for the Class 2 zone distance, which is 14.317 m from BTS, for 1800 MHz frequency is 7.668 m from BTS, and for 2100 MHz frequency is 2.702 m from BTS. As for the use of 43 dBm power and 20 dBi gain with a frequency of 900 MHz for the Class 2 zone distance, which is 39.86 m from BTS, for the 1800 MHz frequency is 19.939 m from BTS, and for 2100 MHz frequency is 13.638 m from the BTS
Kajian Potensi Jaringan Pos sebagai Sarana Distribusi Komoditas
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan strategi dalam pengelolaan jaringan pos, yaitu Kantor Pos sebagai sarana distribusi komoditas. Tujuannya menentukan faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap jaringan pos. Penelitian dengan melakukan kajian literatur. Metode yang digunakan untuk mendapatkan strategi dengan analisis SWOT. Strategi dengan mempertimbangkan faktor eksternal dan internal tersebut; perlu ditindak lanjuti dengan a). Mengupayakan SDM yang memiliki kualifikasi bidang pos dan teknologi (IT), b). Pemangkasan jarak pada sistem jaringan sangat diperlukan saat ini untuk menghadapi pesaing terutama yang berbasis aplikasi, dan dapat mengurangi biaya, c). Meningkatkan model kemitraan, Agen Pos. Abstract This study aims to obtain a strategy in the management of the postal network, namely the Post Office as a means of commodity distribution. The aim is to determine internal and external factors that affect the postal network. Research by conducting a literature review. The method used to obtain a strategy with a SWOT analysis. Strategy by considering the external and internal factors; need to be followed up with a). Seeking human resources who have qualifications in the field of post and technology (IT), b). Trimming the distance on the network system is needed at this time to deal with competitors, especially those based on applications, besides that it will be able to reduce costs, c). Enhancing partnership models, Postal Agents