Buletin Pos dan Telekomunikasi / Bulletin of Posts and Telecommunication
Not a member yet
209 research outputs found
Sort by
Persepsi dan Harapan Pengguna terhadap Kualitas Layanan Data pada Smartphone di Jakarta
Jakarta sebagai ibukota negara dapat menjadi barometer perkembangan teknologi layanan data di Indonesia. Berdasarkan data Yayasasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) masih banyak keluhan pengguna yang muncul pada kualitas layanan data. Studi ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan harapan pengguna terhadap kualitas layanan data seluler smartphone di Jakarta. Dengan menggunakan Importance Performance Analysis, studi ini menemukan bahwa tingkat kesesuaian antara persepsi dan harapan pengguna terhadap kualitas layanan data smartphone di Jakarta baru mencapai tahap sedang dengan indeks kesesuaian kinerja-kepentingan 69%. Belum tingginya persepsi pengguna mempengaruhi harapan yang mereka berikan terhadap kinerja kualitas layanan data.
Studi Kesiapan Direktorat Standardisasi Dalam Menerapkan SNI ISO/IEC 17065
ISO / IEC Guide 17065 : 2012 adalah pedoman internasional yang berisi kriteria untuk lembaga yang melaksanakan sistem sertifikasi produk, proses dan jasa. Pedoman ini menjamin suatu lembaga sertifikasi melaksanakan sistem sertifikasi secara konsisten dan dapat diandalkan sehingga memudahkan penerimaannya di forum nasional dan internasional. Sebagai suatu lembaga sertifikasi, Direktorat Standardisasi dituntut untuk mengelola kegiatannya secara profesional merujuk kepada standar atau best practice yang ada. Studi ini bertujuan untuk melihat Bagaimana kesiapan Direktorat Standardisasi Perangkat Pos dan Informatika dalam menerapkan SNI ISO / IEC 17065 : 2012. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei dengan menggunakan teknik analisis kesenjangan untuk melihat kondisi saat ini dengan kondisi yang diinginkan. Studi ini menghasilkan nilai kesenjangan antara kondisi Direktorat Standardisasi saat ini dengan kriteria yang dipersyaratkan oleh SNI ISO / IEC 17065, selain itu diberikan alternatif bentuk organisasi dari Direktorat Standardisasi yang lebih mendukung dalam penerapan SNI ISO / IEC 17065
Proyeksi Pertumbuhan Jumlah Pelanggan Radio Trunking Terrestrial Dengan Analisis Runtun Waktu
Sistem komunikasi radio trunking merupakan sistem komunikasi radio yang dibuat untuk menyempurnakan kekurangan yang dimiliki sistem konvensional dengan cara mengembangkan sistem yang memungkinkan sebuah frekuensi dapat digunakan secara bersama-sama. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan proyeksi jumlah pelanggan layanan radio trunking dari penyelenggara jaringan dan atau jasa telekomunikasi, tidak termasuk telekomunikasi khusus. Proyeksi pertumbuhan pelanggan diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai prospek bisnis layanan radio trunking dimasa mendatang, dan dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menata kembali frekuensi untuk keperluan radio trunking. Berdasarkan analisis runtun waktu yang dilakukan, baik secara moderat maupun optimis, proyeksi pertumbuhan jumlah pelanggan cenderung positif,. Antara tahun 2013 sampai dengan 2017, secara moderat diproyeksikan jumlah pelanggan berturut-turut sebanyak 13.286, 13.725, 14.039, 14.226, 14.287. Sedangkan proyeksi secara optimis dan pesimis pada tahun 2017 masing-masing 22.565 dan 6.010 orang
Analisis Model Bisnis Penyelenggaraan Televisi Digital Free-to-Air di Indonesia
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 22 tahun 2010 merupakan dasar hukum dalam dilaksanakannya penyiaran digital free-to-air di Indonesia. Di dalam peraturan menteri tersebut, diatur mengenai pembagian peyelenggaraan televisi digital yang menjadi acuan model bisnis penyelenggaraan televisi digital. Dengan adanya Putusan Mahkamah Agung Nomor 38 P/HUM/2012, maka dasar hukum penyelenggaraan televisi digital menjadi hilang. Terkait dengan hal itu, studi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kelayakan model bisnis televisi digital free-to-air di Indonesia. Dengan menggunakan analisis kualitatif studi ini melihat bahwa model bisnis televisi digital saat ini perlu pendefinisian secara tegas tentang pengelolaan infrastruktur, pengelolaan iklan serta valuasi konten. Studi ini juga mengusulkan model bisnis baru yang komprehensif menjabarkan definisi dan hubungan masing-masing elemen dalam migrasi televisi digital saat ini
Analisis Quality of Experience Layanan Telekomunikasi Seluler Masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe
Kewajiban Pelayanan Universal (KPU) mensyaratkan seluruh operator jaringan telekomunikasi dan penyedia layanan untuk berkontribusi menyediakan fasilitas dan infrastruktur telekomunikasi universal. Performansi layanan telekomunikasi khususnya seluler perlu dikaji karena posisinya cukup penting dalam arus pertukaran informasi apalagi di daerah perbatasan yang rentan terhadap kesenjangan informasi. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian deskriptif survei ini dilakukan untuk mengkaji kualitas layanan telekomunikasi seluler dari sudut pandang pengguna (quality of experience) masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe. QoE yang dapat diterima tentunya memunculkan kepuasan konsumen dalam menggunakan layanan telekomunikasi seluler yang pada akhirnya dapat mempengaruhi loyalitas konsumen terhadap penggunaan produk operator telekomunikasi seluler tertentu dan secara tidak langsung mendorong keberlanjutan aksesibilitas informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 5 layanan yang diukur, 4 layanan dinilai “Baik” oleh responden yaitu panggilan suara, video, SMS, dan MMS, sedangkan komunikasi data/Internet dinilai “Cukup Baik”. Adapun parameter layanan dengan nilai QoE paling rendah adalah service failure (dropped call), service non-access (blocked call), blockiness (pending), dan upload time yang pada umumnya terkait dengan kapasitas kanal jaringan. Oleh karena itu, peningkatan ketersediaan infrastruktur menjadi penting sebagai solusi permasalahan tersebut
Deskripsi Kualitas Layanan Jasa Akses Internet di Indonesia dari Sudut Pandang Penyelenggara
Akses internet di Indonesia dinilai oleh banyak pihak masih tergolong lambat. Padahal dengan semakin luasnya layanan akses internet yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan semakin pentingnya akses internet berkecepatan tinggi, kualitas layanan (Quality of Services/QoS) jasa akses internet di Indonesia menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Kualitas layanan dapat dilihat dari sudut pandang pengguna berdasarkan kualitas layanan yang dirasakan (Quality of Experience) maupun dari sudut pandang penyelenggara berdasarkan kualitas layanan yang disediakan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, penyelenggara jasa akses internet (internet service providers) wajib memenuhi standar pelayanan yang ditetapkan pemerintah dan melaporkan kinerja operasi penyelenggaraan secara periodik kepada pemerintah. Standar pelayanan minimum terkait penyelenggaraan jasa akses internet saat ini masih dalam proses penyusunan. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk memberikan gambaran atau indikasi kualitas layanan jasa akses internet yang existing disediakan oleh penyelenggara jasa. Penelitian deskriptif ini dilakukan dengan sumber data laporan kinerja operasi penyelenggara, didukung dengan hasil wawancara mendalam terhadap asosiasi pelaku usaha dan perbandingan dengan beberapa standar internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kinerja layanan, kemampuan providers dalam menyediakan layanan cukup baik, kelemahan utama terletak pada waktu aktivasi pelanggan baru untuk wilayah luar Jakarta. Sementara dalam hal kinerja jaringan, kualitas yang tersedia masih beragam, aspek yang masih dirasakan kurang utamanya pada kehandalan (availability) dan utilisasi bandwidth
Analisis Migrasi Radio Trunking Analog ke Radio Trunking Digital di Indonesia
Dalam Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi di Indonesia pada catatan kaki INS9 dan INS13 disebutkan bahwa alokasi pada pita-pita frekuensi yang digunakan untuk teknologi trunking direncanakan dimigrasi ke sistem komunikasi trunking digital pada waktu yang akan ditentukan oleh pemerintah. Terkait dengan hal itu, studi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kelayakan migrasi dari sistem trunking analog ke sistem trunking digital dan hal-hal yang terkait dengannya. Dengan menggunakan analisis biaya dan manfaat (Cost-Benefit Analysis) studi ini melihat bahwa migrasi hanya dapat dilakukan jika umur masing-masing lisensi dari operator telah berakhir, atau dengan kata lain pemerintah dapat mendorong transisi ke digital dengan menerbitkan lisensi baru yaitu lisensi trunking digital
Kesiapan Operator Seluler dalam Mengimplementasikan Teknologi Long Term Evolution (LTE)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kesiapan operator seluler dalam mengimplementasikan teknologi Long Term Evolution (LTE). Model penelitian dengan menggunakan mengadopsi teknik Net Readiness Framwork. Adapun kriteria pengukurannya terdiri dari Leadership, Governance, Competencies dan Technology. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada operator seluler di Indonesia dan melakukan wawancara kepada regulator. Kajian ini menggunakan teknik analisis data kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Axis, PT. HCPT dan PT. Telkomsel mempunyai tingkat kesiapan LTE Visionary yang berarti perusahaan sangat antusias dalam perubahan dan lebih dahulu mengambil resiko untuk mengimplementasikan LTE dalam organisasinya yang merupakan bagian yang tak terpisahkan proses bisnis perusahaan. PT. Indosat dan PT. XL mempunyai nilai kesiapan LTE leader yang berarti perusahaan mampu mengadaptasi perubahan dan menginspirasi organsiasi lain dalam penerapan LTE. PT. Smartfren pada tingkat kesiapan LTE savvy yang berarti operator seluler memahami sebab dan efek dari perubahan dari munculnya LTE terhadap organisasi, namun belum melakukan adaptasi
Analisis Kelayakan Penggunaan OpenBTS di Daerah Bencana di Indonesia
Akses terhadap telekomunikasi merupakan hak setiap orang dan setiap daerah tidak terkecuali masyarakat yang terkena bencana di daerah bencana. Terbatasnya akses telekomunikasi di daerah bencana menjadi masalah khusus dalam penanggulangan bencana itu sendiri. Keberadaan OpenBTS bisa menjadi suatu solusi keterbatasan telekomunikasi di daerah bencana karena sifatnya yang mobile, fast deployment, compact, dan low-cost budgeting. OpenBTS bisa digunakan oleh operator dan non-operator telekomunikasi. Jika OpenBTS diselenggarakan oleh non-operator telekomunikasi maka perlu ada beberapa penyesuaian dalam hal regulasi karena berpotensi berbenturan dengan regulasi yang sudah ada. Keputusan Menteri Perhubungan No.21 tahun 2001 pasal 5 dan 6 walau belum secara tegas mengijinkan pennyelenggaraan OpenBTS tetapi memberikan peluang OpenBTS untuk diselenggarakan di daerah bencana dimana infrastruktur telekomunikasi yang ada rusak dan belum pulih
Minat masyarakat terhadap layanan Near Field Communication (NFC) komersial di Indonesia
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan diberbagai aspek, tak terkecuali dalam metode pembayaran, yaitu dengan munculnya sistem pembayaran uang elektronik. Keberadaan uang elektronik ini sejalan dengan program kerja Bank Indonesia untuk menciptakan Less Cash Society (LCS). Untuk mewujudkan LCS, Bank Indonesia bekerjasama dengan Kementerian komunikasi dan informatika. yang memiliki peran dan kewajiban untuk menetapkan standar TIK yang digunakan dalam penggunaan uang elektronik, mengkoordinasikan seluruh kegiatan pengembangan transaksi dengan menggunakan elektronik serta melakukan monitoring, sosialisasi, pembinaan dan evaluasi penggunaan uang elektronik. Layanan NFC komersial hadir sebagai alternatif bagi penyelenggaraan sistem uang elektronik. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai minat masyarakat dan variabel-variabel yang mempengaruhi minat terhadap layanan NFC komersial tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90% responden berminat terhadap layanan ini. Inovativeness dan relative advantage memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap minat, sedangkan variabel image dan compatibility memiliki korelasi positif terhadap minat, tetapi pengaruhnya tidak signifikan