UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat
Not a member yet
25534 research outputs found
Sort by
Fikih Difabel: Analisis Hukum Menceraikan Pasangan yang Menjadi Difabel
Studies on the rights of persons with disabilities in the private sphere need attention. This is because several regulations legitimize discrimination against persons with disabilities. In a divorce, for example, a normal couple can divorce their partner on the grounds of disability, which they fear will interfere with their rights and obligations in the household. This article examines the law on divorcing couples who become disabled holistically, from laws, regulations, and fiqh. This article is normative research by examining laws from the perspective of norms. This article is literature research by examining sources from the available texts. This article uses an ushul fiqh approach that emphasizes the reinterpretation of story verses as a basis for ijtihad. This article finds that divorce should not be based solely on the cause of the spouse is disabled. This means that divorce must be based on a more substantive element: a broken marriage. Broken marriages are not always born from the cause of a partner who becomes disabled. Many cases show that even though the couple is still normal, they are ignorant of their obligations in the household.
Kajian mengenai hak-hak difabel dalam ranah privat perlu mendapat perhatian lebih. Pasalnya, beberapa peraturan justru melegitimasi diskriminasi atas difabel. Dalam perceraian misalnya, pasangan yang normal dapat menceraikan pasangannya dengan alasan difabel yang dikhawatirkan akan mengganggu hak dan kewajibannya dalam rumah tangga. Artikel ini mengkaji hukum menceraikan pasangan yang menjadi difabel secara holistik, baik dari peraturan perundang-undangan dan fikih. Artikel ini merupakan penelitian normatif dengan mengkaji hukum-hukum dari perspektif norma. Artikel ini merupakan penelitian pustaka dengan mengkaji sumber-sumber literatur yang berasal dari teks-teks yang tersedia. Artikel ini menggunakan pendekatan ushul fikih yang menekankan pada reinterpretasi ayat-ayat kisah sebagai landasan ijtihad. Artikel ini menemukan bahwa perceraian tidak boleh dilandaskan pada sebab pasangan menjadi difabel semata. Artinya, perceraian harus didasarkan pada unsur yang lebih substantif, yaitu broken marriage. Perkawinan yang rusak tidak selalu lahir dari sebab pasangan yang menjadi difabel. Banyak kasus menunjukkan bahwa meskipun pasangan masih normal, mereka abai terhadap kewajibannya dalam rumah tangga
Fiqih bagi Penyandang Disabilitas: Telaah Hukum Islam terhadap Konsep Ahliyyah dan Maslahah
Islamic law’s attention to people with mental disabilities has not been well formulated. This is due to the complexity of the discourse and development of mental disabilities today while the concept of disability formulated by previous scholars is still very simple. The question is, how is the formulation of Islamic law friendly to people with mental disabilities today? A fresh formulation is needed to accommodate those with mental disabilities. Two ushūlī concepts, namely the concept of Ahliyyah and the concept of Maslahah, can be the framework and method of istinbāth in determining the rules of Islamic law for persons with mental disabilities. They must be viewed in terms of capability (ahliyyah) so as not to deprive them of their rights as human beings, but these rights must also not exceed the limits that are contrary to maslahah, so assistance and support are needed in making decisions in Islamic law for them.
Perhatian bagi penyandang disabilitas mental ini terabaikan dibandingkan kelompok penyandang disabilitas fisik. Hukum Islam bagi penyandang disabilitas fisik sudah terumuskan dengan baik namun tidak demikian dengan hukum bagi disabilitas mental. Hal ini dikarenakan kompleksitas diskursus dan perkembangan disabilitas mental masa kini sementara konsep disabilitas yang dirumuskan oleh para ulama terdahulu masih sangat sederhana. Pertanyaannya adalah, bagaimana rumusan hukum Islam yang ramah bagi para penyandang disabilitas mental saat ini? Perlu rumusan segar agar dapat mengakomodir mereka yang mengalami disabilitas mental. Dua konsep ushūlī yakni konsep Ahliyyah serta konsep Maslahah dapat menjadi kerangka besar dan metode istinbāth dalam menentukan aturan-aturan hukum Islam bagi penyandang disabilitas mental. Hasilnya mereka harus dipandang dari sisi kecakapan (ahliyyah) supaya tidak menghilangkan hak mereka sebagai manusia, akan tetapi hak tersebut juga tidak boleh melampaui batas yang justru bertentangan dengan maslahah, maka dibutuhkan pendampingan dan dukungan dalam pengambilan keputusan dalam hukum Islam bagi mereka
Representasi Dan Identitas Perempuan Minangkabau Dalam Fotografi Masa Kolonial Tahun 1900-1942
Artikel ini menjelaskan bagaimana representasi dan identitas perempuan Minangkabau dalam periode kolonial tahun 1900-1942 melalui analisis fotografi. Tulisan ini mengkaji bagaimana fotografi sebagai medium visual tidak hanya merekam tetapi juga membentuk persepsi dan representasi tentang perempuan Minangkabau oleh masyarakat kolonial dan bumiputera. Melalui tinjauan terhadap koleksi foto-foto yang diambil oleh fotografer kolonial, artikel ini akan menyoroti berbagai aspek kehidupan perempuan, termasuk modernitas, gaya hidup, peran sosial, adat istiadat, dan dinamika keseharian mereka dalam konteks budaya Minangkabau. Penulisan ini menggunakan metode sejarah, terutama didasarkan pada sumber-sumber sezaman seperti surat kabar, majalah, foto, serta beberapa kajian sebelumnya yang telah dilakukan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa fotografi masa kolonial memberikan wawasan berharga tentang interaksi sosial, status gender, dan adaptasi budaya di tengah pengaruh kolonialisme, serta membuka diskusi tentang representasi visual dan narasi historis perempuan Minangkabau dalam arsip kolonial.
[This article explains the representation and identity of Minangkabau women in the colonial period 1900-1942 through photographic analysis. This writing examines how photography as a visual medium not only records but also shapes perceptions and representations of Minangkabau women by colonial and native communities. Through a review of a collection of photographs taken by colonial photographers, this article highlight various aspects of women\u27s lives, including their modernity, lifestyle, social roles, customs and daily dynamics in the context of Minangkabau culture. This writing uses historical methods, mainly based on contemporary sources such as newspapers, magazines, photographs, as well as several previous studies on the related issues. The results of this study show that colonial period photography provides valuable insight into social interactions, gender status, and cultural adaptation in colonial period. It a opens discussions about the visual representation and historical narratives of Minangkabau women in colonial archives.]
Tafsir Aplikatif: Poligami dalam Perspektif Ulama Klasik dan Kontemporer
Polygamy has never been discussed, it can be seen from various perspectives, from a socio-cultural perspective to a theological-interpretive perspective. This article focuses on how ulama, from the past to the present, discuss polygamy. This research method is a library research using data analysis techniques. The aim of this research is to find out how they interpret the QS. al-Nisa\u27 [4]: 3 which textually mentions the issue of polygamy from the perspective of classical and contemporary scholars. This research uses primary data sources and secondary data sources. The results of the research conclude that in the Islamic view, polygamy is permissible if it meets the conditions that are clear in the Koran, namely, being able to act fairly. Fairness referred to here includes several parts, namely: fairness in the distribution of time, fairness in living, fairness in housing and fairness in child expenses. There are two views of ulama, namely classical ulama and contemporary ulama, they argue about polygamy in Q.s An-nisa verse 3 as follows. First, classical ulama Zhahiriyah, Ibn al-Shabbagh, al-Umran, al-Qasim ibn Ibrahim, and some Shia groups allow polygamy with a maximum limit of 9 wives. Second, the views of contemporary ulama, according to Muhammmad Abduh and Qasim Amin, tolerate the practice of polygamy in emergency conditions. The emergency in question, among other things, is: the wife is infertile so she cannot give birth to offspring, the wife suffers from a permanent disease which causes the wife to be unable to carry out her obligations as a wife.
Keyword: Al-quran, Polygamy, Contemporary Ulama, Classical Ulam
Kajian Desain Inklusif “Grey Room” untuk Siswa dengan ADHD: Studi Kasus SD Tamansari 1 Yogyakarta
Inclusion rooms for students with Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) in schools are urgently needed to overcome and reduce symptoms of hyperactivity. This study aims to examine the inclusive design of the Grey Room, so that a reference can be obtained for designing appropriate private spaces for children with ADHD at school. This research method uses a comparative qualitative method between the Grey Room with the criteria of several theories regarding the design of the Grey Room for children with ADHD by taking a case study at SD Tamansari 1 Yogyakarta. It was found that the Grey Room is a combination of seclusion room and resource room. The Grey Room is designed with reference to some of the criteria for a seclusion room but is also used as a resource room. There are differences between the criteria, design and utilization so that a deeper study is needed regarding the Grey Room.
Ruang inklusi untuk siswa dengan Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) di sekolah sangat dibutuhkan untuk mengatasi dan mengurangi gejala hiperaktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah desain inklusif Grey Room, sehingga bisa didapatkan acuan untuk merancang ruang privat yang tepat untuk anak dengan ADHD di sekolah. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif komparatif antara Grey Room dengan kriteria dari beberapa teori mengenai desain Grey Room untuk anak dengan ADHD dengan mengambil studi kasus pada SD Tamansari 1 Yogyakarta. Didapatkan bahwa Grey Room merupakan kombinasi antara seclusion room dan resource room. Grey Room didesain dengan mengacu pada sebagian kriteria seclusion room tetapi dimanfaatkan juga sebagai resource room. Terdapat perbedaan antara kriteria, desain dan pemanfaatan sehingga diperlukan telaah yang lebih dalam mengenai Grey Room
ANALISIS PERSPEKTIF ALIRAN IDEALISME DAN REALISME TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM
Idealisme menekankan pentingnya pengembangan moral dan spiritual sebagai tujuan utama pendidikan. Menurut pandangan ini, pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mengasah intelektualitas, tetapi juga harus membentuk karakter yang mulia, menanamkan nilai-nilai etis, dan mempersiapkan individu untuk kehidupan yang lebih tinggi, baik secara spiritual maupun moral. Sebaliknya, realisme berfokus pada penanaman pengetahuan yang berakar pada realitas dunia fisik. Aliran ini menekankan pentingnya mempelajari dunia nyata dan fakta-fakta empiris sebagai dasar pendidikan, dengan tujuan menghasilkan individu yang mampu memahami, mengelola, dan berkontribusi secara langsung dalam kehidupan sosial dan material. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perbedaan mendasar antara idealisme dan realisme dalam konteks pendidikan Islam serta dampaknya terhadap pembentukan kurikulum dan praktik pendidikan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, penelitian ini menelaah berbagai karya ilmiah dan dokumen yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran idealisme lebih mengarah pada pendidikan yang bersifat transendental dan etis, di mana pembentukan moral dan spiritual menjadi inti. Sementara itu, realisme lebih menekankan pada fakta empiris dan keterampilan praktis. Kombinasi keduanya menawarkan pendekatan pendidikan Islam yang lebih holistik, yang mampu mengintegrasikan aspek spiritual, moral, dan material dalam proses pembelajaran, sehingga menghasilkan individu yang seimbang dalam berbagai dimensi kehidupannya
Caregiver’s Mental Health of Children with Learning Disabilities: A Scoping Review
he caregivers face their own challenges in dealing with children with learning disabilities that may impact their own mental and physical health. Recently, there has not been much discussion about caregivers’ mental health. This review aims to capture the caregiver’s mental health of children with learning disabilities during a crisis and understand several factors related to it. A scoping review method was used to review literature published across seven databases between 2020 and 2023. Fifteen articles were included in this study. The result highlights three important issues related to the mental health of caregivers. First, caregivers experienced several mental health problems such as worry, fear, changes in mood and behavior, depression, and anxiety. Second, support is needed to help caregivers cope with daily problems. Third, demographic characteristics contribute to the mental health quality of caregivers. Strengthening supporting programs for caregivers to promote their mental health should be considered.
Pengasuh yang memiliki anak dengan gangguan belajar menghadapi tantangannya sendiri dan hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik mereka. Belakangan ini, belum banyak diskusi mengenai kesehatan mental pengasuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesehatan mental pengasuh yang memiliki anak dengan gangguan belajar di masa krisis serta memahami beberapa faktor yang terkait dengan kesehatan mental pengasuh. Metode tinjauan ruang lingkup digunakan untuk meriviu artikel yang terbit di tujuh database antara tahun 2020 hingga 2022. Lima belas artikel digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menyoroti tiga isu penting terkait kesehatan mental pengasuh. Pertama, pengasuh dapat mengalami beberapa masalah kesehatan mental seperti kekhawatiran, ketakutan, perubahan mood dan perilaku, depresi, serta kecemasan. Kedua, diperlukan dukungan untuk membantu pengasuh dalam mengatasi masalah sehari-hari. Ketiga, karakteristik demografi berkontribusi terhadap kualitas kesehatan mental pengasuh. Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya dukungan yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas kesehatan mental pada pengasuh
Perempuan dan Pendidikan Islam dalam Novel "\u27Asrul Al-Hub"
Abstrak
Penelitian ini fokus pada bagaimana peran perempuan dalam pendidikan Islam pada novel ’Aṣrul Al-Ḥub karya Najib Mahfuz. Hal yang menjadi titik berat artikel ini bahwa diperlukan pengamatan khusus terkait peran perempuan dalam pendidikan Islam, karena seperti digambarkan dalam Novel ’Aṣrul Al-Ḥub, peran perempuan sangat dominan dan konsisten dalam pendidikan Islam. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak dan catat dengan mencermati data primer berupa dialog yang ada dalam novel ’Aṣrul Al-Ḥub karya Najib Mahfuz tentang bagaimana pendidikan Islam disampaikan oleh tokoh-tokoh perempuan. Penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh perempuan, yaitu ibu Izzat (Sitta ‘Ain) dan Sayyidah, secara konsisten mengajarkan pendidikan Islam melalui tiga strategi yaitu pemahaman, pembiasaan dan keteladanan. Sedang tiap kategori tersebut terdapat metode-metode pendidikan, misalnya pada kategori pemahaman terdapat metode diskusi, metode ‘Ibrah dan Maū’iẓah, metode penanaman motivasi, dan metode demontrasi. Sedang pada kategori pembiasaan terdapat metode kepekaan sosial dan tidak dendam/pemaaf, selanjutnya pada keteladanan terdapat optimisme dan konsistensi/kesabaran.
Kata Kunci: Perempuan, Pendidikan Islam, ’Aṣrul Al-Ḥub.
[This research focuses on the method of delivering Islamic education in the novel \u27Aṣrul Al-Ḥub by Najib Mahfuz. The point of this article is that special observation is needed regarding the role of women in Islamic education, bearing in mind that in the Novel \u27Aṣrul Al-Ḥub, women dominate and are consistent in teaching Islamic education. The data collection method in this study uses the observing and note-taking method to collect primary data in the form of dialogue in the novel \u27Aṣrul Al-Ḥub by Najib Mahfuz which contains information about how Islamic education conveyed by female characters. This research shows that female figures, namely Sitta \u27Ain and her daughter in law Sayyidah, consistently teach Islamic education through three categories, namely understanding, habituation and modelling. In each of these categories there are educational methods, for example in the understanding category there are discussion methods: \u27Ibrah and Maū\u27iẓah, instilling motivation, and demonstration . While in the habituation category there are ways: social sensitivity and forgiveness, then in modelling there are optimism and consistency/patience.]
Keyword: Women, Islamic Education, \u27Aṣrul Al-Ḥub
“Personal Is Political” Kekerasan Seksual: Baseline Study Untuk Rekomendasi Kebijakan
Abstrak
Fenomena kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi marak terjadi meskipun dalam beberapa sebab tidak terpublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana relasi kuasa dan normalisasi kekerasan seksual di Perguruan Tinggi, serta seberapa jauh “Personal is Political” menjadi fenomena kekerasan seksual di pendidikan tinggi. Penelitian ini juga menyajikan rekomendasi kebijakan bagi lembaga dalam penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan metode angket dan wawancara secara FGD kepada penyintas maupun civitas akademika lainnya. Hasil dari baseline study menunjukkan bahwa bentuk kekerasan seksual yang terjadi meliputi fisik, verbal, KGBO. Pelaku kekerasan seksual mulai dari mahasiwa, tendik hingga dosen. Personal is Political diindikasikan melalui normalisasi kekerasan seksual bahkan menyalahkan korban. Relasi kuasa (Dosen-Mahasiswa, Senior-Junior, Pegawai-Mahasiswa) menambah lemahnya posisi korban untuk mendapatkan keadilan. Pelaku memanfaatkan otoritas yang ia miliki untuk memanipulasi korban sedemikian rupa sehingga korban sangat takut untuk melawan. Rekomendasi yang ditawarkan meliputi perubahan kebijakan, aksi kolektif, gerakan sosial.
Kata Kunci : Kekerasan Seksual, Perguruan Tinggi, Personal is Political, Power Relations
[The phenomenon of sexual violence occurring in universities is widespread, although for several reasons it is not publicized. This research aims to examine the extent of power relations and the normalization of sexual violence in higher education, as well as the extent to which "Personal is Political" has become a phenomenon of sexual violence in higher education. This research also presents policy recommendations for institutions in handling sexual violence in higher education. This research was conducted using questionnaires and FGD interviews with survivors and other academics. The results of the baseline study show that the forms of sexual violence that occurred included physical, verbal, KGBO. Perpetrators of sexual violence range from students, staff to lecturers. Personal is Political is indicated through the normalization of sexual violence and even blaming the victim. Power relations (Lecturer-Student, Senior-Junior, Employee-Student) increase the weakness of the victim\u27s position in obtaining justice. The perpetrator uses the authority he has to manipulate the victim in such a way that the victim is too afraid to fight back. The recommendations offered include policy changes, collective action, social movements.
Keywords: Sexual Violence, Higher Education, Personal is Political, Power Relation
MENEKAN ANGKA PERKAWINAN ANAK: Sinergi Peranan Pemerintah dan Ormas Keagamaan
The rate of child marriage in the Special Region of Yogyakarta is quite high with 715 cases in 2021. Meanwhile, Yogyakarta City had the highest rate of child marriage with 228 cases. The negative impact of child marriage is not only in terms of health but also mental (psychological) and economic. This research looks at the role of each institution and specifically highlights women\u27s religious institutions in responding to the phenomenon of child marriage. This research uses a qualitative approach with structuralist functional theory as an analytical tool. Primary data sources were obtained through in-depth interviews and secondary data through notes, news, and other documentation. Data analysis techniques through reduction, presentation, analysis, and conclusion. The results are the role in overcoming child marriage in Yogyakarta is carried out by the Women\u27s Empowerment and Child Protection and Family Planning Service (DP3AP2AKB) KUA, Religious Courts, Puspaga, UPT PPA, PKK who synergize in carrying out prevention through socialization programs, administratively carrying out records and the process of providing dispensations, and psychological assistance to both children and parents. Women\u27s religious organizations are carrying out massive outreach programs in the community. Fatayat and Aisyiyah have unique programs according to the characteristics of their respective organizations