UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat
Not a member yet
    25534 research outputs found

    PENDAMPINGAN PIRT DONAT SINGKONG UNTUK KOMUNITAS IBU-IBU DI KAMPUNG CAHAYA, JAKARTA

    Full text link
    In 2023, community service activities in Kampung Cahaya faced challenges in producing cassava donuts. Specifically, the donuts were not durable, lacked a distribution permit (P-IRT number), and were being marketed in a limited manner. To address these issues, it is essential to develop more standardized product innovations that are both feasible for production and suitable for sale. The proposed solution is to obtain a P-IRT permit for the women of Kampung Cahaya Village to standardize their cassava donut products. This initiative aims to assist these women in meeting product standards by using packaging labels that comply with regulatory requirements and ensuring that their production facilities meet all necessary inspection criteria. The implementation of this community service project involves two main stages: (1) Development of the knowledge and skills of women regarding effective processing systems and standards for frozen cassava donuts, and (2) Training on food safety and product permitting. The outcomes of these community service activities have led to improvements in the standardization of donut products, including the use of compliant packaging labels and enhancements in production techniques and facilities to meet established standards. ============================================================== Hasil kegiatan pengabdian masyarakat pada tahun 2023 pembuatan produk donat singkong di Kampung Cahaya terdapat kendala yaitu produk donat yang tidak tahan lama dan belum memiliki izin edar (nomor P-IRT) serta masih dipasarkan secara terbatas. Untuk itu diperlukan inovasi produk yang lebih terstandar untuk layak diproduksi dan layak dijual. Solusi yang ditawarkan adalah pembuata izin P-IRT donat singkong untuk Ibu-Ibu di Kampung Cahaya. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pendampingan kepada Ibu-Ibu di Kampung Cahaya dalam standarisasi produk donat singkong dengan penggunaan label kemasan yang telah memenuhi kriteria label serta hasil pemeriksaan sarana produksi yang telah memenuhi standar persyaratan yang ditetapkan. Pelaksanaan abdimas pendampingan pengurusan P-IRT di Kampung Cahaya dilakukan dalam 2 tahap utama, yaitu (1) Pengembangan kualitas dan wawasan SDM Ibu-Ibu mengenai sistem dan standar pengolahan produk donat singkong frozen yang baik, (2) pelatihan keamanan pangan dan izin produk. Hasil pelaksanaan kegiatan Abdimas pendampingan pengurusan P-IRT memberikan perubahan standarisasi produk donat dengan penggunaan label kemasan yang telah memenuhi kriteria label dan perubahan teknik sertal sarana produksi yang telah memenuhi standar persyaratan yang ditetapkan

    Pengaruh IOT terhadap Kemudahan Akses Penyebaran Agama Islam di Era Globalisasi

    Full text link
    In the era of globalization, Internet of Things (IoT) technology has changed the way information is disseminated and accessed, including in the context of spreading Islam. This study aims to analyze how IoT affects the ease of access and dissemination of Islamic religious information. The research methodology involves data from interviews. The results of the study indicate that IoT expands the reach of da\u27wah through various digital platforms, such as smartphone applications, smart speakers, and social media connected to IoT devices. In addition, IoT technology facilitates more personal and real-time interactions between preachers and congregations, increasing participation and involvement in religious activities. However, this study also found challenges such as data security risks and dependence on technology. By understanding the influence of IoT, it is hoped that da\u27wah efforts can be more effective and efficient in conveying Islamic teachings to the wider community. This study concludes that IoT has great potential to support the spread of Islam in the era of globalization, but it requires proper management and strategies to minimize existing risks.   [ Dalam era globalisasi, teknologi Internet of Things (IoT) telah mengubah cara informasi disebarkan dan diakses, termasuk dalam konteks penyebaran agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana IoT mempengaruhi kemudahan akses dan penyebaran informasi agama Islam. Metodologi penelitian melibatkan data dari wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IoT memperluas jangkauan dakwah melalui berbagai platform digital, seperti aplikasi smartphone, smart speakers, dan media sosial yang terhubung dengan perangkat IoT. Selain itu, teknologi IoT memfasilitasi interaksi yang lebih personal dan real-time antara pendakwah dan jamaah, meningkatkan partisipasi dan keterlibatan dalam kegiatan keagamaan. Namun, penelitian ini juga menemukan tantangan seperti risiko keamanan data dan ketergantungan pada teknologi. Dengan memahami pengaruh IoT, diharapkan upaya dakwah dapat lebih efektif dan efisien dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat luas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa IoT memiliki potensi besar untuk mendukung penyebaran agama Islam di era globalisasi, namun perlu pengelolaan dan strategi yang tepat untuk meminimalkan risiko yang ada.

    Ethnobotany of Pace (Morinda Citrifolia) as Identity Flora in Pacitan Regency East Java

    Full text link
    Ethnobotany study in Pacitan on pace (Morinda citrifolia) as identity flora is very important to be done as knowledge for Pacitan community. This study aims to study and reveal the potential of pace (Morinda citrifolia) as identity flora of Pacitan. This study was conducted descriptively with combination of survey methods and document studies. The results of study show that the form of utilization of pace (Morinda citrifolia) as identity flora of Pacitan that is currently being carried out and running is as batik pattern known as batik pace and the name of contemporary creative dance, there are pace batik dance and mbabar pace. Ethnobotanical research of pace (Morinda citrifolia) in Pacitan has broad practical implications for cultural preservation, strengthening local identity and developing the creative economy through batik and dance. [Kajian etnobotani di Pacitan tentang pace (Morinda citrifolia) sebagai flora identitas sangat penting dilakukan sebagai pengetahuan bagi masyarakat Pacitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengungkap potensi pace (Morinda citrifolia) sebagai flora identitas Pacitan. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan kombinasi metode survei dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bentuk pemanfaatan pace (Morinda citrifolia) sebagai flora identitas Pacitan yang saat ini sudah dilakukan dan berjalan adalah sebagai motif batik yang dikenal dengan batik pace dan nama tari kreasi kontemporer yaitu tari batik pace dan mbabar pace. Penelitian etnobotani tanaman pace (Morinda citrifolia) di Pacitan memiliki implikasi praktis yang luas bagi pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, dan pengembangan ekonomi kreatif melalui batik dan tari.

    Toothbrushing Behavior and Handgrip Strength among Children with Intellectual Disabilities: a Cross-Sectional Study

    No full text
    Children with intellectual disabilities have cognitive limitations, fine motor impairments and low conceptual understanding, which hinder their ability to perform self-care activities independently, including brushing their teeth. Limited fine motor skills can affect their ability to grip and control a toothbrush, making hand grip strength a relevant variable in efforts to enhance the independence of children with intellectual disabilities in brushing their teeth. The aim of this study is to analyze the relationship between toothbrushing behavior and hand grip strength in children with intellectual disabilities. This study employs an observational analytic design with a cross-sectional approach. The sample selection was conducted using purposive sampling, resulting in 38 respondents. Toothbrushing behavior has a significant relationship with hand grip strength in children with intellectual disabilities. Variables such as frequency, duration and brushing time (morning and night) consistently influence grip type, strength control, independence, grip duration, stability and grip precision. Repeated toothbrushing with a specific pattern can improve fine motor strength and support children\u27s independence and quality of life. Anak disabilitas intelektual memiliki keterbatasan kognitif, ketidakmampuan motorik halus dan rendahnya pemahaman konseptual sehingga menghambat melaksanakan kegiatan kebersihan diri secara mandiri, termasuk menyikat gigi. Kemampuan motorik halus yang terbatas, dapat mempengaruhi kemampuan anak menggenggam dan mengontrol sikat gigi maka kekuatan genggaman tangan menjadi variabel yang relevan dalam upaya meningkatkan kemandirian anak disabilitas intelektual menyikat gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan perilaku menyikat gigi dengan kekuatan genggaman tangan pada anak disabilitas intelektual. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan metode cross-sectional. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan didapatkan 38 responden. Perilaku menyikat gigi memiliki hubungan signifikan dengan kekuatan genggaman tangan anak disabilitas intelektual. Variabel frekuensi, durasi dan waktu menyikat gigi (pagi dan malam) secara konsisten mempengaruhi jenis genggaman, kontrol kekuatan, kemampuan mandiri, durasi genggaman, stabilitas dan presisi genggaman. Pengulangan menyikat gigi dengan pola tertentu akan meningkatkan kekuatan motorik halus anak dan mendukung kemandirian dan kualitas hidup

    Deconstruction Of Gender Issue: Women’s Position In Rights On Religious Texts

    No full text
    Abstrak Artikel ini menunjukkan bahwa teks suci agama banyak ditemui penjelasan tentang persamaan posisi dan hak  baik untuk laki-laki dan  perempuan. Namun, fakta dilapangan tidak sesuai dengan prinsip keadilan, kesetaraan, dan persamaan dimata hukum sebagai akibat dari penafsiran yang bias. Artikel  ini merespons kekosongan dalam literatur sebelumnya yang terkesan adanya pembodohan terhadap perempuan baik dalam ranah privat maupun publik, dan bertujuan menghapus kekeliruan dalam memahami teks-teks suci dengan upaya pembacaan ulang teks agama. Artikel ini menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida dalam membaca ulang teks. Penulis ingin menunjukkan bahwa menggunakan dekonstuksi Derrida mampu mempengaruhi gaya berpikir seseorang ketika memahami suatu makna dalam menemukan konteks tetapi tidak berakhir dan terus berkelanjutan. Kemudian, dekonstruksi teks tersebut dapat menenetapankan hukum dari pendapat fuqaha yang memenuhi kebutuhan dan dinamika masyarakat. Perlu membangun pemahaman di masyarakat dengan ajaran fiqh dalam teks yang harus ditafsirkan dengan realitas sosial (fiqh al waqi’). Pemahaman fiqh ini mengejawantahkanbudaya di masyarakat dan menghilangkan kesan bahwa fiqh lebih cenderung lahir dari relasi kuasa patriarki. Kata Kunci: Dekonstruksi, Fikih Gender, Posisi dan Hak-hak Perempuan, Teks-teks Keagamaan [This article provides many explanations about the equal positions and rights of men and women. However, in fact, this reality is not alway based on the principles of justice and equality in the eyes of the law as a result of biased interpretation.  This study responds to a Lacuna in the previous literature that tends to emphasize the seeming dumbing down of women in both the private and public spheres. This article aims to erase the misunderstanding of sacred texts, by attempting to re-read religious texts. This article  uses Jacques Derrida\u27s deconstruction theory in re-reading the text. The author wants to show that using Derrida\u27s deconstruction is able to influence one\u27s thinking style when understanding a meaning in finding a context but not ending and continuing. Then, the deconstruction of the text can establish the law of the fuqaha opinion that meets the needs and dynamics of society. It is necessary to build  understanding in society with the teachings of fiqh in the text that must be interpreted with social reality (fiqh al-waqi\u27). This understanding of fiqh embodies the culture in society and eliminates the impression that fiqh is more likely to be born from patriarchal power relations. Keywords: Deconstruction, Gender Fiqh, Women\u27s Position and Rights, Religious Texts.

    Tahlilan dalam Budaya Islam: Antara Tradisi Keagamaan dan Transformasi Sosial-Ekonomi

    No full text
    Tahlilan is a tradition that has been embedded in the culture of the Indonesian Muslim community and is often considered an obligation in commemorating death. For some people, tahlilan is not only a religious activity, but also reflects the social dynamics of community interaction. In addition to its religious value, tahlilan tradition can also bring socio-economic impacts, especially for families who have financial limitations. The literature review research method was chosen in this study with the aim of analyzing the tahlilan tradition as an Islamic socio-cultural phenomenon that affects the lives of Indonesian people in religious, social and economic essence. By utilizing literature review, this research is able to explore the meaning of tahlilan in the religious traditions that develop in Indonesian society and examine the transformation of socio-economic pressures that affect tahlilan events. The results show that tahlilan can reflect the social dynamics of Indonesian society, but the socio-economic pressures that arise in holding tahlilan traditions often make sincerity in worship a little marginalized by a sense of obligation that is more cultural. However, with the advancement of economic lifestyles, in big cities tahlilan events have diminished. Although for some people, tahlilan has become an economic pressure due to the expense, it does not prevent them from carrying out this tradition

    SOCIAL LEARNING IN THE DEVELOPMENT OF BIOMONITORING MODULE OF THE GAJAHWONG RIVER YOGYAKARTA

    No full text
    Abstract - Community-based river health monitoring requires a biomonitoring module that is easy to understand and can be practically used by the public. This study developed a biomonitoring module using a social learning approach with the aim of involving the community and gaining deeper insights into the ideal module for the general public. The method used includes the stages of Sharing, Constructing, Integrating, Applying, Reflecting, and Evaluation. The participants in this social learning activity were 30 individuals from various sectors. The results show that the social learning-based biomonitoring module was developed in a systematic process. Important feedback from the sharing and integrating stages was compiled and applied to form the module. Reflection and evaluation results indicate that the participants\u27 average rating was in the good category (3.8). Several indicators received very good scores (4.0), particularly in timeliness and ease of use   Keyword: Biomonitoring, River Health, Module, Social Learning, Rivers.   Abstrak - Pemantauan kesehatan sungai berbasis masyarakat memerlukan sebuah modul biomonitoring yang dapat dipahami dan digunakan secara praktis di maryarakat. Penelitian ini menyusun modul biomonitoring dengan pendekatan sosial learning dengan tujuan unuk melibatkan masyarakat dan memperoleh insight yang lebih mendalam mengenai modul yang ideal dipakai oleh masyarakat awam. Metode yang digunakan adalah social learning meliputi Sharing, Constructing, Integrating, Applying, Reflecting, dan Evaluation. Partisipan yang mengikuti kegiatan social learning ini adalah 30 orang dari berbagai elemen. Hasilnya, modul biomonitoring berdasarkan sosial learning dapat tersusun dalam tahapan yang sistematis. Masukan yang penting pada saat sharing dan integrating kemudian disusun dan diaplikasikan menjadi sebuah modul. Hasil refleksi dan evaluasi menunjukkan skor rata-rata penilaian peserta berada pada kategori baik (3.8). Beberepa indikator mendapatkan nilai sangat baik (4.0), yakni pada kemutakhian dan kemudahan pengguaan.   Kata kunci: Biomonitoring, Kesehatan Sungai, .Module, Sosical Learning, Sungai.  

    Peran Nilai Dalihan Na Tolu terhadap Berdirinya Gereja HKBP Purwokerto dari Perspektif Teori Solidaritas Sosial Emile Durkheim

    No full text
    Penelitian ini menganalisis peran nilai Dalihan Na Tolu dalam pendirian Gereja HKBP Purwokerto dengan menggunakan perspektif teori solidaritas sosial Emile Durkheim. Penelitian ini menyoroti bagaimana sistem kekerabatan Batak Toba, yaitu Dalihan Na Tolu memfasilitasi pembentukan rasa kebersamaan dan solidaritas di antara anggota jemaat Gereja HKBP Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif ini adalah penelitian yang memiliki sifat deskriptif karena peneliti harus mendeskripsikan keadaan sosial. Pengumpulan data dari penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi dan wawancara. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Temuan ini menegaskan bahwa peran nilai Dalihan Na Tolu seperti menjaga rasa hormat dan tata krama; meningkatkan tanggung jawab sosial; menjaga keharmonisan dalam masyarakat; dan mempererat persaudaraan atau kohesi sosial dalam menjalani kehidupan tentu sejalan dengan prinsip solidaritas sosial Emile Durkheim, secara khusus solidaritas mekanik di mana kesamaan latar belakang, kepercayaan, dan nilai-nilai budaya menciptakan ikatan sosial yang kuat dalam mendirikan Gereja HKBP Purwokerto

    Gender Equality Representation in the Movie Avatar the Last Airbender

    Full text link
    The film industry is often considered as a mere entertainment medium, but the reality is that today\u27s films are a communication medium that contains many representations of real-world life portraits, one of which is the topic of gender equality. Gender equality and the feminist movement have always had a place in the world of film, but there is still a stigma that women who only rely on their appearance or physique will be more dominantly displayed than women with good acting skills in the entertainment world. As the largest animation company in the world, Disney also released a film that also voiced gender equality through the film Avatar the Last Airbender through scenes and Katara characters in the film. The purpose of this study is to determine and understand the representation of the message of gender equality contained in the film Avatar the Last Airbender based on the scalpel approach of Roland Bartes\u27 semiotic theory with 3 elements of meaning, namely denotation, connotation and myth. This study found that in the film Avatar the Last Airbender through dialogues and images there is a message about equality represented by the character Katara both in terms of connotation, denotation and myth. Katara as a female character in the film emphasizes the character of a woman who is brave, intelligent and does not want to be underestimated. Seen through the character of Katara in the scene leading to the practice of voicing and representing the importance of gender equality to be voiced in community life. [Industri perfilman sering dianggap sebagai media hiburan semata, namun realitanya saat ini film merupakan media komunikasi yang memuat banyak representasi potret kehidupan dunia nyata salah satunya topik mengenai kesetaraan gender. Kesetaraan gender dan gerakan feminisme selalu mendapat tempat didunia perfilman namun masih ada stigma bahwa perempuan hanya mengandalkan rupa atau fisik akan lebih dominan sering ditampilkan dibandingkan perempuan yang kemampuan aktingnya baik dalam dunia hiburan. Sebagai perusahaan animasi terbesar di dunia Disney juga merilis film yang ikut menyuarakan mengenai kesetaraan gender melalui film Avatar the Last Airbender melalui adegan-adegan dan tokoh Katara dalam film know know. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami representasi pesan kesetaraan gender yang terdapat pada film Avatar the Last Airbender berdasarkan pendekatan pisau bedah teori semiotika Roland Bartes dengan 3 elemen makna yaitu denotasi, konotasi dan mitos. Penelitian ini menemukan bahwa dalam film Avatar the Last Airbender melalui dialog-dialog serta gambar adanya pesan mengenai kesetaraan yang diwakili oleh tokoh Katara baik secara konotasi, denotasi dan mitos. Katara sebagai tokoh perempuan dalam film menonjolkan karakter perempuan yang berani, cerdas serta tidak ingin dipandang sebelah mata. Terlihat melalui tokoh katara dalam adegan mengarah kepada praktik pada aksi menyuarakan serta merepresentasikan akan pentingnya kesetaraan gender untuk disuarakan dalam kehidupan bermasyarakat.

    PENATAAN LAYOUT INTEGRATED FARMING KEBUN BUAH EDUWISATA BENDOSARI

    Full text link
    Bendosari orchard, which has been transformed into an edu-tourim orchard, is the result of a collaboration between the orchard manager and UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. To complement the educational program in the orchard, integrated farming is made which aims to create an efficient and environmentally friendly agricultural system, and can provide more economic and social benefits for the local community. The creation of a layout for integrated farming in this edu-tourism orchard applies a descriptive method with a sustainable design orientation. Some key aspects of the design include site analysis, precedent study, sustainable principles implementation study, concept, and design creation. The design that will be used as a reference for this development considers aspects of space, circulation aspects, aspects of vegetation and commodities, as well as facilities that accommodate integrated farming systems and edu-tourism aspect. In this integrated farming system, fish pond areas, sheep farms (sheep pens, sheep feed areas, fertilizer making areas, feeding areas as tourist facilities) and of course the existing plantation areas are also designed. There are many advantages and benefits that can be obtained from the implementation of this system, especially when combined with educational activities. ======================================== Kebun buah Bendosari yang bertansformasi menjadi kebun eduwisata adalah hasil dari kerjasama pengelola kebun dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk melengkapi program edukasi dalam kebun, dilakukan pembuatan integrated farming yang bertujuan untuk menciptakan sistem pertanian yang efisien dan ramah lingkungan, serta dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih bagi masyarakat setempat. Pembuatan layout untuk integrated farming pada kebun buah eduwisata ini menerapkan metode deskriptif dengan berorientasi pada desain yang berkelanjutan. Beberapa aspek kunci dalam perancangan tersebut seperti analisis tapak, studi preseden, studi implementasi prinsip berkelanjutan, konsep, dan pembuatan desain. Desain yang akan digunakan sebagai acuan pembangunan ini mempertimbangkan aspek ruang, aspek sirkulasi, aspek vegetasi dan komoditasnya, serta fasilitas yang mengakomodir sistem integrated farming serta eduwisatanya. Pada sistem integrated farming ini juga didesain area kolam ikan, peternakan domba (kandang domba, area pakan domba, area pembuatan pupuk, area feeding sebagai sarana wisata) dan tentu saja area perkebunan yang memang sudah ada. Banyak keuntungan dan manfaat yang bisa didapatkan dari penerapan sistem ini, terlebih lagi jika dipadukan dengan kegiatan eduwisata

    763

    full texts

    25,534

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇