UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat
Not a member yet
25534 research outputs found
Sort by
SOSIALISASI PARENTING: STRATEGI DAN PERSIAPAN MEMILIH SEKOLAH KE JENJANG SELANJUTNYA: RA PERMATA HATI, PAGENTAN, KECAMATAN SINGOSARI
Parenting socialization is a strategic step in supporting optimal early childhood development, especially in the aspects of physical, emotional, focus ability, and social interaction. This activity aims to increase parents\u27 understanding of their roles and responsibilities in educating children in the home environment. The socialization program was held at Permata Hati Kindergarten, Pagentan, Singosari, Malang, involving 58 participants consisting of 55 women and 3 men, aged between 25 and 45 years. The materials presented included guidance on choosing the right school, effective communication techniques, emotional management, educational games that train children\u27s focus and motor skills, and learning strategies that are fun and in accordance with the child\u27s developmental stage. Through this activity, parents gained knowledge to choose educational institutions that match their children\u27s interests and potential, manage emotions positively, monitor children\u27s growth and development holistically, and strengthen the synergy between the role of family and school institutions in creating a conducive and supportive learning environment for children
Konsep Jihad dan Militerisme Islam di Masa Kontemporer: Analisis Historis dan Sosiologis
Penelitian ini menganalisis konsep jihad dan militerisme Islam dalam konteks era kontemporer dengan pendekatan historis dan sosiologis. Jihad, yang kerap dipersempit menjadi “perang suci,” memiliki makna yang lebih luas mencakup perjuangan spiritual, moral, dan sosial. Sementara itu, militerisme Islam tidak dapat dilepaskan dari dimensi teologis, historis, dan sosiopolitik. Di masa kontemporer, kedua konsep ini mengalami transformasi dan apropriasi, baik oleh kelompok reformis yang menekankan perdamaian, maupun oleh kelompok militan yang memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan narasi radikal. Penelitian ini menyoroti bagaimana faktor-faktor global, seperti kolonialisme, modernitas, dan globalisasi, memengaruhi perubahan pemahaman tentang jihad, termasuk penggunaan media digital untuk propaganda kekerasan. Namun, di sisi lain, institusi sosial seperti organisasi keagamaan, pendidikan, dan media massa juga memainkan peran penting dalam mempromosikan narasi jihad yang damai dan konstruktif. Melalui eksplorasi hubungan antara dinamika lokal dan global, penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang evolusi konsep jihad dan militerisme Islam serta dampaknya pada komunitas Muslim dan geopolitik global. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih inklusif dalam memahami konsep jihad, yang dapat digunakan sebagai dasar kebijakan untuk mengatasi tantangan radikalisasi dan kekerasan di era kontemporer
Meta-Analisis Manajemen Bank Wakaf: Strategi dalam Menjawab Isu-Isu Kontemporer
Bank wakaf merupakan salah satu inovasi dalam pengelolaan wakaf produktif yang ditujukan untuk memperkuat peran sosial-ekonomi umat Islam. Namun, dalam praktiknya, pengelolaan bank wakaf menghadapi berbagai tantangan, antara lain rendahnya literasi masyarakat, keterbatasan regulasi, isu transparansi dan akuntabilitas, serta tuntutan digitalisasi di era ekonomi modern. Artikel ini menggunakan pendekatan meta-analisis untuk mengkaji strategi manajemen bank wakaf dalam menjawab isu-isu kontemporer. Sumbersumber literatur yang dianalisis meliputi artikel jurnal, buku, serta dokumen kebijakan terkait manajemen wakaf dalam rentang sepuluh tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang paling efektif meliputi penerapan prinsip good governance, pemanfaatan teknologi digital, integrasi dengan sistem keuangan syariah modern, serta peningkatan literasi wakaf di masyarakat. Jadi, manajemen bank wakaf tidak hanya berfungsi sebagai pengelola aset keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam pembangunan berkelanjutan umat Islam
Spiritualitas dan Kemanusiaan: Membaca Kisah Nabi Ibrahim dalam QS. As-Saffat Ayat 100–107 melalui Hermeneutika Wilhelm Dilthey
Kisah nabi Ibrahim yang menerima perintah untuk menyerahkannya dalam QS. As-Saffat ayat 100–107 merupakan narasi keagamaan yang menyimpan kedalaman makna spiritual, historis, dan psikologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika Wilhelm Dilthey untuk memahami dinamika batin dan simbolik dalam kisah tersebut melalui tiga konsep utama: Erlebnis (pengalaman), Ausdruck (ekspresi), dan Verstehen (pemahaman). Dengan pendekatan ini, kisah tidak hanya dimaknai sebagai ketaatan terhadap perintah Ilahi, namun juga sebagai pengalaman eksistensial yang sarat emosi dan refleksi. Erlebnis merepresentasikan pergolakan batin nabi Ibrahim dan anak-anaknya dalam menghadapi perintah yang menguji keimanan dan kemanusiaan. Ausdruck tampak dalam dialog dan tindakan simbolik yang mencerminkan ekspresi spiritual serta menjadi titik balik nilai-nilai keagamaan yang lebih manusiawi. sementara Verstehen digunakan untuk menggali makna secara intersubjektif melalui empati dan refleksi mendalam terhadap tokoh. Dengan demikian, pendekatan ini memungkinkan kisah tersebut dibaca bukan hanya sebagai peristiwa keimanan, namun juga sebagai refleksi etika, budaya, dan kemanusiaan.
Kisah Nabi Ibrahim yang menerima perintah untuk mengorbankan putranya dalam Surat As-Saffat, ayat 100-107, merupakan narasi keagamaan yang kaya akan kedalaman spiritual, historis, dan psikologis. Kajian ini menggunakan pendekatan hermeneutik Wilhelm Dilthey untuk mengeksplorasi dinamika batin dan simbolik kisah tersebut melalui tiga konsep utama: Erlebnis (pengalaman hidup), Ausdruck (ekspresi), dan Verstehen (pemahaman). Melalui pendekatan ini, kisah tersebut dimaknai bukan sekadar sebagai tindakan ketaatan kepada perintah Tuhan, melainkan juga sebagai pengalaman eksistensial yang sarat dengan emosi dan refleksi. Erlebnis merepresentasikan gejolak batin Nabi Ibrahim dan putranya saat mereka menghadapi perintah yang menguji iman dan kemanusiaan. Ausdruck tampak jelas dalam dialog dan tindakan simbolik yang mengekspresikan sentimen spiritual dan menandai titik balik menuju nilai-nilai keagamaan yang lebih berpusat pada manusia. Sementara itu, Verstehen digunakan untuk mengungkap makna secara intersubjektif melalui empati dan refleksi mendalam terhadap tokoh-tokoh yang terlibat. Dengan demikian, pendekatan ini memungkinkan narasi dibaca tidak hanya sebagai peristiwa keimanan, tetapi juga sebagai refleksi tentang etika, budaya, dan kemanusiaan.
 
From Victim To Perpetrator: Comparing The Shift Of Rape Narrative Focus In Audrie & Daisy (2016) And Photocopier (2021)
Abstrak
Meski berbeda latar belakang - Amerika dan Indonesia - seperti sosio-kultural, dan tingkat pendidikan, namun pelaku pelecehan dalam Audrie & Daisy (2016) dan Photocopier (2021) patut ditelusuri lebih lanjut dengan asumsi bahwa teks dunia pertama berbeda dengan teks dunia ketiga dalam kaitannya dengan wacana perempuan sebagai subjek dan agen. Mengungkap bagaimana pergeseran fokus naratif dalam representasi pelaku kekerasan seksual dari korban menjadi pelaku sehingga eksistensi pelaku sebenarnya tidak menjadi “tidak teridentifikasi.” Kajian kualitatif ini mengidentifikasi narasi pemerkosaan melalui wacana dalam konstelasi relasi gender antara pelaku seksual dengan korban atau penyintas. Membandingkan konstruksi wacana pelaku dalam narasi pemerkosaan dengan teori representasi Stuart Hall yang mengkaji narasi dan wacana film, representasi sosiokultural, dan representasi pelaku kekerasan seksual. Di Indonesia, pelaku laki-laki, dengan segala keistimewaan dan statusnya, menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan perempuan yang menjadi penyintas. Pelaku yang tidak dihukum menempatkannya dalam hierarki lebih tinggi di Amerika. Nilai-nilai otonomi individu yang dijunjung tinggi dalam budaya Amerika menempatkan laki-laki pada posisi hegemonik, sedangkan di Indonesia, dengan nilai-nilai keterlekatan sosialnya, narasinya terlihat kuat dalam mengorbankan perempuan demi kepentingan kelompok. Wacana yang dapat diidentifikasi tidak hanya memberikan kekuatan narasi terhadap pemerkosa tetapi juga rasa tidak terkutuk atau simpati dari pembaca.
Kata Kunci: Pemerkosaan, Pelaku, Studi Banding, Amerika, Indonesia, Narasi
[Although the backgrounds are different - America and Indonesia - such as sociocultural and education levels, the perpetrators of sexual harassment in Audrie & Daisy (2016) and Photocopier (2021) are worth exploring further, with the assumption that first-world texts are different from third-world texts with the discourse of women as subjects and agents. How the shift in narrative focus in the representation of perpetrators of sexual violence from victims to perpetrators, so that the existence of the perpetrators does not become "unidentified is a critical point of view of this study." This qualitative study identifies rape narratives through discourse in the constellation of gender relations between sexual perpetrators and victims or survivors. Comparing the construction of the perpetrator\u27s discourse in the rape narrative with Stuart Hall\u27s theory of representation that examines film narratives and discourses, representations of sociocultural and sexual perpetrators. In Indonesia, male perpetrators, with all their privileges and status, occupy a higher position than female survivors. Perpetrators who are not punished are placed in a higher hierarchy in America. The values of individual autonomy that are upheld in American culture place men in a hegemonic position, while in Indonesia, with its values of social attachment, the narrative is seen as strong in sacrificing women for the benefit of the group. Identifiable discourses not only provide narrative power to rapists but also a sense of not being condemned or sympathetic by the reader.
Keywords: Rape, Perpetrator, Comparative Study, America, Indonesia, Narrative.
Inclusion of Children with Disabilities in Early Childhood Education: Parents’ Perceptions in Rural Areas of Mudzi District, Zimbabwe
This study examined parents’ perceptions in Mudzi District, Zimbabwe, regarding the inclusion of children with disabilities in early childhood education. Inclusive education is a fundamental right ensuring equal learning for all, yet children with disabilities still face discrimination, stigma, and infrastructural barriers. This qualitative research used structured interviews with 12 parents: 4 parents of children with disabilities and 8 parents of children without disabilities selected through snowball sampling. The findings showed many parents were concerned about teachers’ ability to manage inclusive classrooms effectively. They also felt disappointed by the lack of attention to their children’s needs and the limited learning resources. Economic challenges and cultural beliefs linking disability with misfortune further hinder acceptance. The study underscores the need for improved teacher training, awareness campaigns, and coordinated efforts to support inclusive practices.
Penelitian ini mengkaji persepsi orang tua di Distrik Mudzi, Zimbabwe, mengenai inklusi anak penyandang disabilitas dalam pendidikan anak usia dini. Pendidikan inklusif diakui secara global sebagai hak mendasar yang memberi kesempatan belajar setara bagi semua anak. Namun, anak penyandang disabilitas sering menghadapi diskriminasi, sikap negatif, dan hambatan infrastruktur yang membatasi akses. Penelitian kualitatif ini menggunakan wawancara terstruktur dengan 12 orang tua: 4 orang tua anak penyandang disabilitas dan 8 orang tua anak tanpa disabilitas yang dipilih melalui snowball sampling. Temuan menunjukkan banyak orang tua khawatir pada kemampuan guru mengelola kelas inklusif secara efektif. Mereka juga kecewa atas kurangnya perhatian terhadap kebutuhan anak dan terbatasnya sumber belajar. Tantangan ekonomi dan keyakinan budaya yang mengaitkan disabilitas dengan kemalangan turut menghambat penerimaan. Penelitian ini menekankan perlunya peningkatan pelatihan guru, kampanye penyadaran, dan upaya terkoordinasi untuk mendukung praktik inklusif
Partisipasi Penyandang Disabilitas dalam Pengembangan Desa Wisata Berbasis Kearifan Lokal di Bengkala, Buleleng, Bali
This study examines the participation of persons with disabilities in the development of Bengkala Tourism Village based on local wisdom. The main focus of the research includes an analysis of the village’s conditions and potential, the level of participation, the fulfillment of basic needs, and tourist satisfaction. The study employed a mixed-methods approach, with respondents comprising 35 deaf-mute persons with disabilities and 40 tourists. In addition, the informants included deaf-mute persons with disabilities, local community members, and relevant stakeholders. The findings indicate that persons with disabilities have active participation, particularly in preserving local cultural heritage. However, not all of their basic needs have been optimally fulfilled. Based on frequency analysis, the level of tourist satisfaction is relatively high, although statistically it is not significantly influenced by either the participation or the fulfillment of basic needs of persons with disabilities.
Penelitian ini membahas partisipasi penyandang disabilitas dalam pengembangan desa wisata Bengkala berbasis kearifan lokal. Fokus utama dalam penelitian mencakup analisis kondisi dan potensi desa, tingkat partisipasi, keterpenuhan kebutuhan dasar, serta kepuasan wisatawan. Metode yang digunakan adalah mixed method, dengan responden penyandang disabilitas tuli-bisu sebanyak 35 orang dan wisatawan sebanyak 40 orang. Selain itu, informan dalam penelitian ini meliputi penyandang disabilitas tuli-bisu, masyarakat lokal, dan pemangku kepentingan terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki partisipasi aktif, terutama dalam pelestarian budaya lokal. Meskipun demikian, belum semua kebutuhan dasar mereka dapat terpenuhi secara optimal. Berdasarkan hasil frekuensi tingkat kepuasan wisatawan relatif tinggi, namun secara statistik tidak dipengaruhi secara signifikan oleh partisipasi maupun kebutuhan dasar penyandang disabilitas
SOCIALIZATION OF COCONUT SHELL LIQUID SMOKE AS A DEODORANT OF FOUR-LEGGED LIVESTOCK MANURE IN LOBANG, KARANGANYAR
This study aims to address the issue of unpleasant odors from cattle manure in Dusun Lobang, Karanganyar, Central Java, by applying liquid smoke derived from coconut shells. The primary problem identified is the ammonia odor that disrupts community comfort. The methods employed include observation, socialization, and practical training in liquid smoke production, followed by direct application to livestock shelters. The results indicate that liquid smoke effectively reduces unpleasant odors gradually, with 80% of residents demonstrating understanding and enthusiasm towards the technique. The benefits of this research include improved environmental quality and enhanced knowledge among farmers about waste management. The study\u27s limitations include the gradual reduction of odor and the simplicity of the smoke production technology. Recommendations for future research include long-term studies and the development of more efficient production tools, as well as policy support for implementing similar technologies in other regions.
=============================================
Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah bau tidak sedap yang dihasilkan dari kotoran ternak sapi di Dusun Lobang, Karanganyar, Jawa Tengah, melalui pengaplikasian asap cair dari tempurung kelapa. Masalah utama yang diidentifikasi adalah bau amonia yang mengganggu kenyamanan masyarakat. Metode yang digunakan meliputi observasi, sosialisasi, dan praktik pembuatan asap cair, serta penyemprotan langsung ke kandang ternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair efektif mengurangi bau tidak sedap secara bertahap, dengan tingkat pemahaman dan antusiasme warga mencapai 80%. Manfaat dari penelitian ini mencakup peningkatan kualitas lingkungan dan pengetahuan peternak tentang pengelolaan limbah. Keterbatasan penelitian meliputi variabilitas bau yang memerlukan waktu untuk menghilang dan teknologi alat pengolah yang masih sederhana. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah kajian jangka panjang dan pengembangan alat yang lebih efisien, serta dukungan kebijakan untuk penerapan teknologi serupa di daerah lain
PENYIRAM TANAMAN OTOMATIS DENGAN SOLAR PANEL UNTUK MENDUKUNG ENERGI HIJAU BAGI PETANI DI DESA JUMPUT KECAMATAN SUKOSEWU KABUPATEN BOJONEGORO
Drought in agricultural lands in Jumput Village, Sukosewu District, Bojonegoro Regency, often occurs due to the lack of sufficient water sources, leading to crop failure. Green energy is now becoming a promising solution to address challenges in agriculture, energy, and the environment. One innovation introduced is an automatic plant watering system powered by solar panels and equipped with soil moisture sensors. To address these issues, a Community Service Program (PKM) was conducted. The PKM method involved several stages, starting with the socialization of the automatic watering technology. Next, technical training was carried out, involving both theoretical and practical sessions where farmers learned to operate the equipment. The evaluation method used pre-test and post-test questionnaires to measure the participants\u27 improvements in knowledge, skills, and confidence. The evaluation results showed significant improvements, with a T-test statistic of 2.33 (p = 0.044) for knowledge and confidence and 4.71 (p = 0.0011) for skills and satisfaction. Participants expressed hope for similar training in the future. Ongoing training and technical support are recommended to ensure effective technology implementation and to increase agricultural productivity in the area.
====================================================
Kekeringan lahan pertanian di Desa Jumput, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro sering terjadi karena tidak adanya sumber air yang cukup memadai. Dampak kekeringan yang terjadi adalah gagal panen. Energi hijau kini menjadi solusi menjanjikan untuk menghadapi tantangan pertanian, energi, dan lingkungan. Salah satu inovasi yang dikenalkan adalah alat penyiram tanaman otomatis berbasis solar panel dan dilengkapi sensor kelembaban tanah. Untuk menjawab beberapa permasalahan terjadi, di lakukan program pengabdian Masyarakat (PKM). Metode PKM dilakukan dengan beberapa tahapan, pertama adalah sosialisasi mengenai teknologi alat penyiram otomatis. Selanjutnya, dilakukan pelatihan teknis yang melibatkan teori dan praktik langsung, di mana petani belajar mengoperasikan alat tersebut. Metode evaluasi dilakukan dengan kuisioner pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan, dengan uji T-statistik sebesar 2.33 (p = 0.044) untuk pengetahuan dan kepercayaan diri, serta 4.71 (p = 0.0011) untuk keterampilan dan kepuasan. Peserta mengungkapkan harapan agar pelatihan serupa diadakan di masa depan. Disarankan pelatihan berkelanjutan dan pendampingan teknis untuk mendukung implementasi teknologi yang efektif, guna meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah tersebut
Intervening at the Margins: Preschool Teachers’ Perception of Disability Intervention in Rural Areas
This study employed a quantitative descriptive survey design to examine preschool teachers’ perceptions of interventions for children with disabilities in rural areas of Banten, Indonesia. Data were collected from 62 preschool teachers using a 25-item questionnaire covering five domains: understanding of disability, early identification, intervention planning, classroom implementation, and evaluation. Descriptive statistical analysis was used to interpret the data. The findings indicate that teachers generally hold positive attitudes toward inclusive education and recognise the importance of differentiated learning approaches. However, notable gaps remain in teachers’ practical competence and confidence, particularly in developing Individual Learning Plans and implementing interventions independently in classroom settings. Professional collaboration was also perceived as limited due to insufficient guidance and access to specialist support. These findings highlight the need for targeted professional development to strengthen teachers’ capacity to implement inclusive practices effectively, especially in rural contexts where access to training and support remains constrained.
Penelitian ini menggunakan desain survei kuantitatif deskriptif untuk mengkaji persepsi guru PAUD terhadap intervensi bagi anak dengan disabilitas di wilayah pedesaan Banten. Data dikumpulkan dari 62 guru PAUD melalui kuesioner berisi 25 butir yang mencakup lima aspek: pemahaman tentang anak dengan disabilitas, identifikasi dini, perencanaan intervensi, pelaksanaan di kelas, dan evaluasi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru umumnya memiliki sikap positif terhadap pendidikan inklusif dan memahami pentingnya pembelajaran yang beragam. Namun, masih terdapat kesenjangan pada kompetensi praktis dan kepercayaan diri, khususnya dalam penyusunan rencana pembelajaran individual dan pelaksanaan intervensi di kelas. Selain itu, kolaborasi profesional masih terbatas akibat kurangnya bimbingan dan akses terhadap dukungan. Temuan ini menegaskan perlunya pelatihan profesional yang lebih terarah untuk memperkuat kapasitas guru dalam menerapkan praktik pendidikan inklusif secara efektif, terutama di wilayah pedesaan