UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat
Not a member yet
25534 research outputs found
Sort by
Ketangguhan Lembaga dalam Membangun Human Capital Halal di Madura Menggunakan Metode Institusional Development Framework (IDF)
Salah satu permasalahan utama pengembangan halal adalah kualitas sumber daya manusia. Beberapa pendekatan meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada organisasi adalah human capital. Karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengukur ketangguhan lembaga pada program peningkatan sumber daya manusia. Metode penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan Institutional Development Framework. Objek penelitian ini adalah lembaga yang fokus pada pengembangan halal di Indonesia. Objek penelitian ini dibatasi pada Kementerian Agama. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, kuesioner dengan mengisi matriks IDF, Indeks IDF, grafik sasaran prioritas dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menemukan nilai indeks ketahanan lembaga pada sumber daya kelembagaan dan manajemen, sumber daya manusia, sumber daya eksternal kelembagaan, sumber daya keuangan dan indikator program pengembangan human capital. Hasil tersebut menggambarkan perangkat organisasi yang komprehensif dari sisi manajemen, sumber daya manusia, kepemimpinan, keuangan dan program pengembangan human capital. Implikasi penelitian ini bermanfaat bagi lembaga terkait dalam menyusun program dan kebijakan dalam pengembangan sumber daya manusia halal pada masa yang akan datang, karena output penelitian ini adalah indeks ketahanan lembaga yang dapat dijadikan dasar evaluasi program pengembangan human capital.
Kata Kunci : Ketangguhan Lembaga, Human Capital, Institutional Development Framework, ID
Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Faktor Penyebab Dan Upaya Pencegahannya Berdasarkan Perspektif Sistem Ekologi
Abstrak
Keberagaman yang ada di dalam keluarga menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi perempuan atau istri sebagai salah satu kelompok yang rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Perilaku kekerasan tersebut terjadi bukan hanya disebabkan karena faktor individu saja, melainkan juga lingkungan yang lebih luas lagi. Melalui artikel ini, penulis bertujuan untuk melakukan kajian berkaitan dengan faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga dan upaya pencegahan berdasarkan perspektif sistem ekologi. Metode penelitian pada artikel ini menggunakan studi literatur dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi pada berbagai artikel dalam jurnal ilmiah bereputasi nasional dan internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai konteks lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan pada istri dalam rumah tangga. Pada konteks ini, lingkungan dikategorikan menjadi microsystem, mesosystem, exosystem, macrosystem, dan chronosystem. Selain faktor lingkungan, individu juga memiliki pengaruh dalam proses interaksi dengan berbagai lingkungan tersebut yang menjadi faktor risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Dengan berlandaskan faktor penyebab, upaya pencegahan juga dapat dilakukan selaras dengan program pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak yang telah dilaksanakan sebelumnya di Indonesia. Sehingga, kekurangan yang ada dalam pelaksanaan layanan dapat direspon khususnya dengan menggunakan perspektif sistem ekologi. Dengan demikian, kasus kekerasan dalam rumah tangga juga diharapkan dapat diminimalisir.
Kata Kunci: Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Faktor Penyebab, Upaya Pencegahan, Perspektif Sistem Ekologi.
[The diversity that exists in the family is a challenge for women or wife as one of the groups who are vulnerable to experiencing domestic violence. This violent behavior occurs not only due to individual factors, but also the wider environment. Through this article, the author aims to conduct a study related to the factors causing domestic violence and prevention efforts based on the perspective of the ecological system. The research method in this article uses a literature study by applying inclusion and exclusion criteria to various articles in national and international reputable scientific journals. The results show that various environmental contexts can influence the occurrence of domestic violence. In this context, the environment is categorized into microsystems, mesosystems, exosystems, macrosystems, and chronosystems. In addition to environmental factors, individuals also have an influence in the process of interaction with these various environments which are risk factors for domestic violence. Based on the causal factors, prevention efforts can also be carried out in line with the integrated service center program for empowering women and children that has been implemented previously in Indonesia. Thus, the shortcomings that exist in the implementation of services can be addressed, especially by using an ecological system perspective. Thus, cases of domestic violence are also expected to be minimized.]
Keywords: Domestic Violence, Causative Factors, Prevention Efforts, Ecological System Perspective
MEMBANGUN KEADILAN GENDER MELALUI EPISTEMOLOGI IRFAN
Patriarki, sebuah sistem yang telah mengakar kuat dalam masyarakat. Dampak dari sistem tersebut adalah berbagai bentuk ketidakadilan diantaranya marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan dan beban kerja. Artikel ini membahas tentang kesadaran yang membentuk budaya patriarki, dan menawarkan sebuah epistemolgi dalam menyelesaikan persoalan ketidakadilan gender. Dalam membahas tentang kesadaran menggunakan Filsafat dan Irfan/ Tasawuf. Pada dasarnya budaya patriarki lahir dari kesadaran distingtif dualistik yang melihat others dalam pandangan antagonistik karena menganggap bukan bagian darinya. Untuk menyelesaikan problem tersebut dibutuhkan kesadaran meditatif yang melihat segalanya bagian darinya, yang juga terdapat unsur etis yaitu menolong sesama makhluk, bukan hanya berhenti pada empati tetapi juga bergerak untuk menolong makhluk lain dari problem yang dihadapi. Dan kesadaran meditatif ini merupakan dasar dari epistemologi Irfa
Melampaui Ritual: Tribuana Manggala Bhakti sebagai Ruang Perjumpaan Lintas Agama di Kulon Progo
Interreligious dialogue is still often characterised as a form of dialogue that is ideally organised formally and represented by religious leaders, elites, and government officials. Dialogue, which tends to be rigid and limit access to most of the community, is a challenge in the context of interreligious dialogue in presenting a more inclusive space that allows for broader community involvement. This research aims to explore interreligious relations through the Tribuana Manggala Bhakti tradition in the Jatimulyo Village community, Kulon Progo, Yogyakarta Special Region. A qualitative research method with a case study approach was used as a tool for obtaining data in the field. The subjects in this study amounted to four people who came from among residents, interfaith youth, religious leaders, and community leaders. The results of the study show that the Tribuana Manggala Bhakti tradition has transformed its meaning from a symbol of Buddhist tradition to a social symbol of society in general, so that it goes beyond its functions as a ritual. The shift in meaning in the tradition is due to several factors, namely: the support of the village government, having local wisdom values that are relevant to community life, and the emergence of enthusiasm and community participation in the success of the event. The challenges currently faced are related to the participation of the village youth, who are gradually decreasing in their participation to maintain and be involved, so that in the future, the tradition requires the role of youth on an ongoing basis in an effort to maintain that the space for interfaith encounters still exists in Jatimulyo Village.
[Dialog lintas agama masih sering dipahami sebagai suatu cara yang idealnya dilakukan secara formal dan diwakili oleh para pemuka agama dan pejabat pemerintah. Dialog yang cenderung kaku dan membatasi akses sebagian besar masyarakat, menjadi tantangan tersendiri pada konteks dialog lintas agama dalam menghadirkan ruang yang lebih inklusif serta memungkinkan keterlibatan masyarakat secara luas. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana tradisi Tribuana Manggala Bhakti muncul dan bertransformasi menjadi kegiatan serta ruang perjumpaan lintas agama masyasrakat Desa Jatimulyo. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan sebagai alat dalam mendapatkan data di lapangan. Subjek dalam penelitian ini berjumlah empat orang yang berasal dari kalangan warga, pemuda lintas agama, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Hasil studi menunjukkan bahwa tradisi Tribuana Manggala Bhakti mengalami pergeseran makna, dari simbol tradisi warga agama Buddha ke simbol sosial masyarakat secara umum. Bergesernya makna dalam tradisi tersebut dikarenakan beberapa faktor yakni: adanya dukungan dari kalangan pemerintah desa, memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan masyarakat, dan munculnya antusias serta keikutsertaan masyarakat dalam menyukseskan acara tersebut. Adapun tantangan yang saat ini dihadapi terkait denganadalah soal keikutsertaan para pemuda desa yang lambat laun mengalami penurunan dalam partisipasinya untuk merawat dan terlibat, sehingga kedepannya tradisi tersebut memerlukan peran pemuda secara berkelanjutan dalam upaya menjaga agar ruang perjumpaan lintas agama masih tetap ada di Desa Jatimulyo
Women, Ecology And Children: A Study Of Ecofeminism In Indonesian Children\u27s Literature
Abstrak
Sastra diyakini memiliki peran dalam membentuk persepsi anak-anak tentang dunia, namun sayangnya cerita-cerita yang terkandung di dalamnya memiliki banyak bias gender. Penelitian ini menggunakan analisis wacana Theo van Leeuwen untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana perempuan dan alam mengalami eksklusi dari hubungan mereka dengan subjek lain. Beberapa praktik eksklusi yang disajikan antara lain: misogini/seksis, stereotip dan hubungan tidak setara lainnya yang dalam konteks ini digunakan untuk melihat hubungan antara gender dan alam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan dan alam memiliki hubungan penting yang ditunjukkan melalui penggunaan metafora, latar alam, keberadaan tumbuhan dan hewan yang muncul langsung dalam cerita. Di bagian lain, alam dan perempuan tampaknya terpinggirkan karena keduanya digambarkan secara minor dan terus menerus diangkat sebagai objek. Di sisi lain, ada juga cerita yang dianalisis menunjukkan adanya simbolisme mutualisme antara alam dan perempuan dalam melawan dominasi patriarki.
Kata Kunci: Ekofeminisme, Sastra Anak, Perempuan, Ekologi
[Literature is believed to play a role in shaping children\u27s perceptions of the world. Unfortunately, many stories contain significant gender bias. This study uses Theo van Leeuwen\u27s discourse analysis to examine how women and nature experience exclusion from their relationships with other subjects. Several exclusion practices include misogyny/sexism, stereotypes, and unequal relationships, which in this context are used to explore the connection between gender and nature. The findings of this research indicate that women and nature share a significant relationship, as demonstrated through the use of metaphors, natural settings, and the presence of plants and animals that appear directly in the stories. In other part, nature and women seem marginalized as both are portrayed in minor roles and continuously presented as objects. On the other hand, stories are analyzed that reveal a mutual symbolism between nature and women in resisting patriarchal domination.]
Keywords: Ecofeminism, Children\u27s Literature, Women, Ecology
Konstruksi Kesalehan, Posisi dan Agensi Perempuan dalam Wacana Keagamaan
Konstruksi kesalehan pada perempuan dalam wacana agama Islam kerap dikaitkan dengan simbol keagamaan serupa memakai jilbab untuk menutupi aurat. Dalam posisinya, perempuan juga dilekatkan dengan peran-peran domestik, seperti mengurus rumah dan anak, dan taat pada suami sebagai wujud ketaatan pada Allah Swt. Konstruksi ini kemudian diyakini oleh perempuan bahwa pembagian peran tersebut adalah kodratnya, yang kemudian menciptakan hegemoni tentang kesalehan. Sementara itu, Saba Mahmood (2005) dalam analisisnya tentang agensi kesalehan di Mesir menemukan, kesalehan bisa dimaknai sebagai sebuah kapasitas untuk menginterpretasi ajaran agama sebagai petunjuk bagi kehidupan sehari-hari, dengan tetap menegakkan ketaatan pada Allah Swt. Namun dalam konteks Indonesia, saat ini kita dihadapkan dengan kelompok-kelompok konservatif dan tekstualis, yang meskipun cenderung minoritas, memiliki jaringan yang kuat dalam menyebarluaskan doktrinasi ajaran yang mengukuhkan konstruksi kesalehan yang hegemonik. Oleh karena itu, kontra narasi dan gerakan serupa yang Mahmood temukan di Mesir, yang mampu memberikan analisis kritis pada perempuan terhadap ajaran agama, penting untuk dibangun di Indonesia.
Abstract
Women’s piety in Islamic discourse is often associated with religious symbols such as the use of the hijab to cover aurat. Women are also associated with domestic roles such as taking care of the house and children, and obeying their husbands as a form of obedience to Allah Swt. Women then believe that the division of labour is in their nature, which then creates a hegemonic construction of piety. Meanwhile, Saba Mahmood (2005) from her research in Egypt found that piety can be interpreted as the ability to interpret religious teachings as instructions for daily life, while maintaining obedience to Allah Swt. However, in the Indonesian context, we are currently facing conservative and textualist groups that, although they are usually in the minority, have strong networks in the dissemination of doctrinal teachings that reinforce the hegemonic construction of piety. Therefore, it is important to develop the counter-narratives and similar movements that Mahmood found in Egypt in Indonesia, which can provide women with a critical analysis of religious teachings.
Contributing Factors to the Progress of Inclusive Education Implementation in Indonesia
Indonesia made its commitment clear to obtain education for all its citizen without discrimination. However, the research-to-practice gap remains in terms of the implementation of inclusive education in the country. Therefore, this scoping review aimed to describe the current progress of the country’s inclusive education implementation efforts through the previous literature. A total of 20 articles were included in this review. The findings showed that an increasing number of studies report on Indonesia’s progress in the implementation of inclusive education in terms of inclusive, innovative, and integrated learning programs, improvement of teachers’ competence, collaboration efforts, society’s respect towards persons with special needs and disabilities, and several challenges serve as a room for improvement. Factors contributing to the gradual progress of the country’s inclusive education implementation are teacher competence and awareness about inclusive education, good government support, multi-sectoral collaboration and coordination, profound legal support, and student-focused strategies
MONITORING KUALITAS AIR SECARA KOLABORATIF DI SUNGAI BOYONG, YOGYAKARTA
Biotilik is an uncomplicated method to monitor the stream quality and can be handled communally with the help of information technology. However, involving community in a monitoring, especially those based on applications, is a challenge that requires a comprehensive approach. Therefore, this research was conducted to measure how deep the community can be involved and the significancy of the community services. A collaborative approach has been done, starts with activity planning, mobile app developing, introducing the app to the community, until doing some collaborative regular monitoring activities through biomonitoring workshops. The communities involved in this study include KPLS, Waterforum Kalijogo, and the Entomology Study Group. The results show that mobile applications are successfully created and adopted by the community, although there are some community members who have difficulty accessing them, especially senior citizens. Biomonitoring workshops were conducted several times along with measurements of community knowledge and skills before and after the workshop. The result shows that the change in knowledge was not statistically significant because the public was already familiar with biomonitoring. Changes in skills occurred in this study because the community conducted biomonitoring workshops for some time and was assisted by mobile applications.
=======================================
Metode biotilik adalah metode pemantauan kualitas air yang sederhana dan dapat dilakukan secara komunal dengan bantuan teknologi informasi. Walaupun begitu, pelibatan masyarakat dalam pemantauan air secara komunal apalagi yang berbasis pemanfaatan aplikasi merupakan tantangan yang membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Untuk itu penelitian ini dilakukan untuk mengukur seberapa besar masyarakat dapat terlibat dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan pemantauan kualitas sungai dan bagaimana dampak yang dihasilkan oleh kegiatan tersebut. Pendekatan kolaboratif yang dimulai dengan perencanaan kegiatan, perancangan aplikasi mobile untuk membantu pemantauan kualias air, pengenalan aplikasi, sampai kepada kegiatan pemantauan secara berkala. Komunitas yang terlibat berasal dari Komunitas Pecinta Lingkungan dan Sungai (KPLS), Waterforum Kalijogo, dan Kelompok Studi Entomologi. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi mobile yang dibangun dapat diadopsi oleh masyarakat, meskipun ada beberapa yang kesulitan mengaksesnya terutama warga senior. Selanjutnya, workshop biomonitoring dilakukan beberapa kali bersamaan dengan pengukuran terhadap pengetahuan dan keterampilan masyarakat sebelum dan sesudah workshop. Hasilnya, perubahan pengetahuan tidak signifikan secara statistik karena masyarakat sudah cukup mengenal biomonitoring. Perubahan keterampilan terjadi di dalam penelitian ini karena masyarakat melakukan workshop biomonitoring dalam beberapa waktu dan dibantu dengan aplikasi mobile
Perbedaan dalam Kebersamaan: Pembacaan Doa Pasca Meninggal Lintas Iman di Desa Cisantana Kabupaten Kuningan Jawa Barat
The paper explores the practice of religious moderation in Cisantana village, Kuningan, West Java through the practice of interfaith post-death prayers. This research highlights a series of funeral events starting from the announcement of the news of death to post-death prayers. Qualitative methods were used in this study to gain an in-depth and comprehensive understanding. This research design refers to ethnographic research that allows researchers to participate and directly observe the phenomenon. Research data in addition to participatory observation was also collected through in-depth interviews with the community. While the data analysis technique used is content analysis technique. The findings of this research are: (1) interfaith prayer began because of the diversity of religions that exist in one family as well as ancestral heritage; (2) the phenomenon of interfaith prayer is an effort of the Cisantana hamlet community in maintaining harmony in the midst of diversity; (3) the phenomenon of interfaith prayer is a manifestation of a high sense of brotherhood and a form of implementation of the 3 main Sundanese teachings namely silih asah (learning from each other), silih asih (caring for each other), silih asuh (loving each other).[Tulisan mengeksplorasi praktik moderasi beragama masyarakat desa Cisantana, Kuningan, Jawa Barat melalui praktik doa pasca meninggal lintas iman. Penelitian ini menyoroti serangkaian acara pemakaman mulai dari pengumuman berita meninggal hingga doa pasca meninggal. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam dan komprehensif. Desain penelitian ini mengacu pada penelitian etnografi yang memungkinkan peneliti untuk berpartisipasi dan mengamati secara langsung fenomena tersebut. Data penelitian selain melalui observasi partisipatif juga dihimpun melalui wawancara mendalam kepada masyarakat. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis isi (content analysis). Temuan penelitian ini berupa: (1) doa lintas iman bermula karena keragaman agama yang ada dalam satu keluarga sekaligus merupakan warisan leluhur; (2) fenomena doa lintas iman merupakan upaya masyarakat dusun Cisantana dalam merawat kerukunan di tengah keragaman; (3) fenomena doa lintas iman merupakan perwujudan dari tingginya rasa persaudaraan dan bentuk implementasi dari 3 pokok ajaran Sunda yaitu silih asah (saling belajar), silih asih (saling peduli), silih asuh (saling menyayangi).
Redefining Jihad, Hijrah, and Caliph in Mohja Kahf’s The Girl in the Tangerine Scarf
Abstract
Historically, Orientalism has perceived Islam in reductionist views for centuries. To resist this basic view, it is crucial to investigate Mohja Kahf’s The Girl in the Tangerine Scarf (2005), which redefines Islam and Islamic terms, such as Jihad, Hijrah, and Caliph in more positive insights. Kahf’s text questions orientalists, which tend to misrepresent Muslims in a limited way, such as Jihad associated with terrorism and killing others instead of fighting against worldly desires. To contest these negative misrepresentations of the Muslim world, in her novel, Kahf uses Islamic sacred texts, such as Surah At-Taubah (Repentance) and Al-A’raf (The Heights), to redefine Islam as a religion, which promotes Salam (peace) and tolerance in the world instead of violence as misrepresented in Western liberalism. By engaging with postcolonial and Islamic studies, this paper investigates how Kahf uses the Quran and hadiths in her novel to reject imperialist perspectives. Thus, Kahf’s novel explores the Islamic sacred texts to inspire people how to live in a modern society by appreciating different people regardless of their different races and faiths and practicing tolerance to establish a more global civilized society.
Keyword: US-Muslimah’s fiction, Quran and Hadiths, Jihad , Hijrah, Caliph and leader, Tolerance
[Secara historis, Orientalisme telah memandang Islam dalam pandangan reduksionis selama berabad-abad. Untuk menolak pandangan dasar ini, penting untuk menyelidiki The Girl in the Tangerine Scarf (2005) karya Mohja Kahf, yang mendefinisikan ulang Islam dan istilah-istilah Islam, seperti Jihad, Hijrah, dan Khalifah dalam wawasan yang lebih positif. Teks Kahfi mempertanyakan para orientalis yang cenderung memberikan gambaran keliru tentang umat Islam secara terbatas, seperti Jihad yang dikaitkan dengan terorisme dan membunuh orang lain alih-alih berperang melawan keinginan duniawi. Untuk melawan kesalahpahaman negatif tentang dunia Muslim, dalam novelnya, Kahfi menggunakan teks suci Islam, seperti Surah At-Taubah (Pertobatan) dan Al-A\u27raf (Ketinggian), untuk mendefinisikan kembali Islam sebagai agama yang mengedepankan Salam ( perdamaian) dan toleransi di dunia dibandingkan kekerasan seperti yang disalahartikan dalam liberalisme Barat. Dengan terlibat dalam studi pascakolonial dan Islam, makalah ini menyelidiki bagaimana Kahf menggunakan Al-Quran dan hadis dalam novelnya untuk menolak perspektif imperialis. Oleh karena itu, novel Kahfi mengeksplorasi kitab-kitab suci Islam untuk menginspirasi masyarakat bagaimana hidup dalam masyarakat modern dengan menghargai orang yang berbeda tanpa membedakan ras dan keyakinannya serta mengamalkan toleransi untuk mewujudkan masyarakat beradab yang lebih global.
Kata Kunci: Fiksi AS-Muslimah, Quran and Hadits, Jihad, Hijrah, Khalifah, Tolerance.