UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat
Not a member yet
    25534 research outputs found

    Examining The Inclusion of Persons with Visual Impairment in The Formal Employment Sector in Uganda

    Full text link
    This article examines the inclusion of persons with visual impairments (PwVIs) in the formal employment sector in Uganda. It examines their experiences while searching for jobs, the attitudes of employers towards their employment, and their working conditions. The article is based on research on access to and retention of PwVIs in formal employment in Uganda. The research was examined within the theoretical perspectives of disability as a social model and human rights issues. A qualitative research design using a phenomenological approach was applied to obtain information through interviews. Ten employees with visual impairment in the formal employment sector were possessively selected. Results indicated that employers did not have enough knowledge and specialized manpower to employ PwVI. They also lacked reasonable accommodation provisions for employees with visual impairment. In addition, employers had negative attitudes towards PwVI, which led to discrimination, exploitation, abuse, and humiliation. Artikel ini meneliti inklusifitas bagi penyandang disabilitas netra di sektor ketenagakerjaan formal di Uganda. Artikel ini meneliti pengalaman mereka saat mencari pekerjaan, sikap penyedia kerja terhadap pekerjaan mereka, dan kondisi kerja mereka. Artikel ini didasarkan pada penelitian tentang akses dan retensi penyandang disabilitas netra di sektor ketenagakerjaan formal di Uganda. Penelitian ini diperiksa dalam perspektif teoritis tentang disabilitas sebagai model sosial dan isu-isu hak asasi manusia. Desain penelitian kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologis diterapkan untuk mendapatkan informasi melalui wawancara. Sepuluh karyawan dengan disabilitas netra di sektor ketenagakerjaan formal dipilih secara positif. Hasil menunjukkan bahwa penyedia kerja tidak memiliki pengetahuan terkait ketenagakerjaan disabilitas yang cukup untuk mempekerjakan Penyandang disabilitas netra. Mereka juga tidak memiliki ketentuan akomodasi yang layak untuk karyawan dengan disabilitas netra. Selain itu, penyedia kerja memiliki sikap negatif terhadap penyandang disabilitas netra, yang mengarah pada diskriminasi, eksploitasi, penyalahgunaan, dan penghinaan

    Front Matters: Cover, Masthead, Table of Contents, Editorial

    No full text

    Women\u27s Resilience Regarding Otang Tengka Tradition In Besuki Village, East Java

    Full text link
    Otang tengka is a Madurese ethnic tradition synonymous with the role of married women in giving and receiving donations from groceries to those with special needs, such as for births, marriages, and even funerals. In practice, this tradition imposes economic demands as there is an obligation to participate in donation activities, mainly when the community\u27s financial condition is middle to lower. This study aims to identify the forms of resilience developed by women who play essential roles in carrying out traditions, especially in Besuki Village, Besuki District, Situbondo Regency, East Java – the focus of this research. Bonnie Benard\u27s resilience theory examines the various forms of women\u27s resilience. This study adopts qualitative research methods, utilizing observation and interviews for data collection. The findings indicate several forms of resilience developed by married women, including engaging in trade as a form of autonomy, negotiating as a problem-solving strategy, managing family finances as an expression of purpose and future orientation, and socializing as a manifestation of a sense of humor. [ Otang tengka merupakan tradisi etnis Madura yang identik dengan peran perempuan yang sudah menikah dalam proses pemberian dan penerimaan sumbangan berupa sembako kepada pihak yang memiliki hajat berupa kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Pada praktiknya, tradisi ini memberikan tuntutan secara ekonomi karena adanya kewajiban mengikuti kegiatan sumbang-menyumbang sementara kondisi ekonomi masyarakat adalah menengah ke bawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk resiliensi yang dikembangkan oleh perempuan selaku aktor penting dalam pelaksanaan tradisi terutama di Desa Besuki, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur sebagai lokasi penelitiannya. Teori resiliensi dari Bonie Benard digunakan untuk melihat bentuk-bentuk dari resiliensi perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa bentuk resiliensi yang dikembangkan oleh perempuan yang sudah menikah, yaitu berdagang sebagai bentuk autonomi, negosiasi sebagai bentuk problem solving, pengelola keuangan keluarga sebagai bentuk sense of purpose and future, dan bersosialisasi sebagai bentuk sense of humor.

    The Construction Of Gender Equality In The Webcomic "Hingga Usai Usia"

    Full text link
    AbstractTingginya angka ketimpangan gender di Indonesia menunjukan pembangunan gender yang belum optimal, sehingga perlu adanya informasi mengenai kesetaraan gender yang menarik dan bisa diakses semua kalangan dengan mudah. Salah satunya melalui ruang kreatif digital yaitu bentuk web komik. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi kesetaraan gender dalam web komik “Hingga Usai Usia” yang membahas aspek-aspek kesetaraan gender. Dengan metode kualitatif dan pendekatan semiotika Roland Barthes, hasil kajian menunjukkan enam konstruksi kesetaraan gender yang ada di web komik tersebut, yaitu; konsensual, keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan anak, berbagi peran, maskulinitas positif, keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan, dan partisipasi perempuan di ranah publik. Namun, konstruksi berbagi peran merupakan aspek yang dominan digambarkan karena web komik ini menceritakan kehidupan pasangan suami istri. Kata Kunci: Kesetaraan Gender, Web Komik, Semiotika [The high rate of gender inequality in Indonesia indicates suboptimal gender development. Therefore, there is a need for accessible and interesting information on gender equality, primarily through digital creative spaces such as webcomics. Thus, this research aims to uncover the construction of gender equality in the webcomic "Hingga Usai Usia," which discusses various aspects of gender equality. By using qualitative methods and Roland Barthes\u27 semiotic approach, the findings reveal six constructions of gender equality within the webcomic: consensus, male involvement in childcare, role-sharing, positive masculinity, female involvement in decision-making, and women\u27s participation in the public sphere. However, the role-sharing construction emerges as the dominant aspect portrayed in the webcomic, which narrates the lives of married couples.] Keyword: Gender Equality, Web Comics, Semioti

    Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama Melalui Kearifan Lokal di Desa Kandangtepus Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang

    Full text link
    The dynamics of social change and globalization present challenges for heterogeneous communities to maintain harmony and respect religious differences. Religious pluralism is a solid foundation in shaping local identity and character. Religious moderation is relevant in the context of a plural and multicultural society. Religious moderation emphasizes a middle, balanced, and tolerant attitude. One area in Indonesia that reflects diversity is Kandangtepus village, Senduro, Lumajang, East Java. Kandangtepus Village is home to various religious communities living in harmony and practicing tolerance and respect for diversity. This research aims to describe and explore the local wisdom of the Kandangtepus community in maintaining religious harmony and analyzing the values ​​of moderation. The method used is qualitative research of the phenomenological type or research that discusses a phenomenon in a living environment. The research results show that the value of religious moderation in local wisdom in Kandangtepus consists of tawasuth, tasamuh, i\u27tidal, muwathohah and anti-violence. Tawassuth means taking the middle path, tasamuh implies an attitude of tolerance towards differences, i\u27tidal means being objective, and muwathohah is defined as love of one\u27s country. Some of the local wisdom in Kandangtepus village includes: ater-ater, village alms, village salvation and ruwatan. Based on evidence of the phenomenon of local wisdom practices in Kandangtepus village, the value of religious moderation in Kandangtepus village is declining. Even though the community has begun not to contribute to existing local wisdom, the form of tasamuh or tolerance of the Kandangtepus village community is still maintained, as evidenced by several local wisdoms that still exist, such as: ater-ater, ruwatan and village alms.[Dinamika perubahan sosial dan arus globalisasi memunculkan tantangan bagi komunitas heterogen untuk menjaga harmoni dan menghargai perbedaan agama. Pluralisme agama menjadi landasan yang kokoh dalam membentuk identitas dan karakter lokal. Moderasi beragama relevan dalam konteks masyarakat yang plural dan multikultural. Moderasi beragama menekankan pada sikap tengah, seimbang dan toleran. Salah satu daerah di Indonesia yang mencerminkan keberagaman adalah desa Kandangtepus, Senduro, Lumajang, Jawa Timur. Desa Kandangtepus menjadi rumah bagi beragam komunitas agama yang hidup berdampingan dalam harmoni dan mengamalkan prinsip toleransi serta menghargai keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengeksplorasi kearifan lokal masyarakat Kandangtepus dalam memelihara kerukunan beragama serta menganalisis nilai-nilai moderasi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif jenis fenomenologi atau penelitian yang membahas sebuah fenomena dalam suatu lingkungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai moderasi beragama dalam kearifan lokal di Kandangtepus terdiri dari tawasuth, tasamuh,  i\u27tidal, muwathohah dan anti kekerasan. Tawassuth artinya mengambil jalan tengah, tasamuh berarti sikap toleransi terhadap perbedaan, i’tidal artinya bersikap objektif dan muwathohah diartikan sebagai cinta tanah air. Beberapa kearifan lokal di desa Kandangtepus antara lain: ater-ater, sedekah desa, selamatan desa dan ruwatan. Selain itu, berdasarkan bukti fenomena praktik kearifan lokal di desa Kandangtepus, nilai moderasi beragama di desa Kandangtepus  mulai menurun. Meskipun masyarakat sudah mulai tidak turut andil pada kearifan lokal yang ada, namun bentuk tasamuh atau toleransi masyarakat desa Kandangtepus masih terjaga, terbukti dari beberapa kearifan lokal yang masih eksis seperti: ater-ater, ruwatan dan sedekah bumi desa.

    GERAKAN KOMUNITAS ALUE DEAH TEUNGOH (ADT) BANDA ACEH MENGUBAH SAMPAH SASET MENJADI KEMASAN BERHARGA

    Full text link
    This research aims to reveal good practices in sachet waste management in Alue Deah Teungoh Village, Meuraxa District, Banda Aceh City. Waste management there began with Banda Aceh City government program in collaboration with the Higashimatsushima City, Japan, related to the Community-Based Reconstruction Acceleration Program by creating a Village Garden program. To support this program, a new program was created, namely a WCP (Waste Collecting Point) based waste sorting program. Currently this program has shown positive results. This type of research is field research with a qualitative approach, using observation, interview and documentation data collection techniques. The findings show that waste management carried out in Alue Deah Teungoh Village focuses more on sachet waste. The research results show that the management of sachet waste has had many positive impacts felt by the commnity includingthe name of Alue Deah Tengoh Village has become known to many people because of the creative achievements made by the Alue Deah Teungoh community in managing waste. Sachet waste management can increase the economic income of the community, especially mothers who join the community. Then, the village environment becomes clean and the sachet waste that is recycled becomes a valuable item. ========================================= Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan praktik baik pengelolaan sampah saset di Desa Alue Deah Teungoh Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh. Pengelolaan sampah yang ada di sana berawal dari adanya program pemerintah Kota Banda Aceh yang bekerjasama dengan pemerintah Kota Higashimatsushima Jepang, terkait Program Percepatan Rekonstruksi Berbasis Masyarakat dengan menciptakan program Village Garden. Untuk mendukung program tersebut maka dibuatlah program baru yaitu program pemilahan sampah berbasis WCP (Waste Collecting Point) saat ini program tersebut telah menunjukkan hasil yang positif. Jenis Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif, menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil temuan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang dilakukan di Desa Alue Deah Teungoh lebih berfokus pada sampah saset. Hasil penelitian menunjukkan dari pengelolaan sampah saset ini banyak dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat antara lain nama Desa Alue Deah Tengoh jadi banyak dikenal orang karena prestasi kreatif yang dilakukan komunitas Alue Deah Teungoh dalam mengelola sampah. Pengelolaan sampah saset dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat terutama ibu-ibu yang bergabung di komunitas. Selanjutnya, lingkungan desa menjadi bersih dan sampah saset yang di daur ulang menjadi barang yang bernilai

    Yusuf al-Qaradawi: Memposisikan Sunnah Ghairu Tasyriiyah

    No full text
    This paper discusses the Sunnah of Ghayru Tasyriiyah which wa pioneered by sheikh Mahmud Syaltut which was later developed by Yusuf al-Qardhawi. This research is focused on answering the position of Sunnah Ghayru Tasyriiyah according to Yusuf al-Qardhwai. The research method used is literature where the source is obtained from books, journals, dictionaries and so on. This research is descriptive in nature and intends to explain or explain the position of Sunnah Ghayru tasyriiyahn according to Yusuf al-Qardhwi. Yusuf al-Qardhawi shows that the position of Sunnah Ghayru Tasyriiyah is sunnah which is not prescribed as obligatory sunnah and does not change it, but if it is in the form of an act the sunnah is only permisibble. On the other hand, apart from not being obligated and having been given to the people of the Sunnah, Ghayru Tasyriiyah is also not considered a permissible act according to the Shari’a, it is only permitted rationally in the form of the Sunnah actions it is only recommended, and if the form of orders and prohibitions only applies to sunnah and hadith related to the worldly.  &nbsp

    HARMONISASI LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI

    Full text link
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang analisis filosofis terhadap harmonisasi lingkungan pendidikan Islam dalam menghadapi globlalisasi. Era globalisasi semakin membawa perubahan dalam pendidikan, di mana semakin tidak ada batas dalam sistem global, sehingga pendidikan harus dapat mengharmoinisasikan perubahan sosial yang terjadi dalam lingkungannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi literatur dengan analsis data deskriptif analitis. Dari penelitian tersebut, dapat dihasilkan sebuah kesimpulan bahwa globalisasi pendidikan membawa dampak adanya kesenjangan sosial di dalam dunia pendidikan,  institusi pendidikan bukan merupakan entitas yang tetap dan tidak berubah, sehingga harus dianalogikan sebagai siklus pendidikan, Untuk mewujudkan kelestarian harmonisasi lingkungan pendidikan maka dibutuhkan konsep perbaikan secara terus menerus lembaga pendidikan guna mengantisipasi perubahan lingkungan pendidikan yang begitu cepat

    Learning Accommodation for Slow Learners in Inclusive Elementary Schools

    Full text link
    Abstract Teachers should understand slow learners to reduce behavioral problems. Thus, this study aims to identify forms of practical action taken by teachers to help with learning problems faced by slow learners. The method used is research and development to develop a questionnaire about teacher actions in overcoming learning problems faced by slow learners. The subjects of this study were 40 regular elementary school teachers in the Special Region of Yogyakarta. Furthermore, the data analysis technique used is quantitative with percentages. The results of the study show that regular elementary school teachers have taken tactical action to provide solutions to the learning problems of slow learners. Most teachers help students by maximizing student potential, meaning that they support all efforts students can make to learn. However, teachers have not utilized learning resources and media to bridge the metacognitive learning of slow learners. . Consequently, teachers need training on effective learning media for the development of students\u27 metacognition

    Tradisi Batimung dalam Tinjauan Sosiologi Hukum Islam: Studi di desa Pematang Limau, Seruyan Hilir, kabupaten Seruyan

    Full text link
    This study discusses the batimung tradition in Pematang Limau village, Seruyan Hilir sub-district, Seruyan regency. The batimung tradition is a steam bath originating from the Banjar tribe, carried out by steaming the body using traditional concoctions of spices and leaves that have a fragrant aroma. This tradition is carried out within a period of 1 to 3 days before the wedding reception. Both the groom and the bride are involved in this tradition, which is carried out in a closed room to keep the steam from disappearing quickly. This study aims to determine the implementation and find cultural values ​​in the batimung tradition in Pematang Limau village, Seruyan Hilir sub-district, Seruyan regency. This study is a field research using qualitative methods. The author collects data from informants and compares information from various informants and documentation in Pematang Lima village, then reviews it from a legal sociology perspective. The results of the study indicate that the batimung tradition includes cleansing and purification rituals as preparation for facing important moments. In addition, there are also prayers given to the bride and groom. The values ​​contained in the batimung tradition include cooperation between the two families, respect for tradition, mental and spiritual preparation for the bride and groom. These values ​​are in line with the principles of Islamic law on marriage, which emphasize the importance of cleanliness, mental and spiritual readiness before entering married life. [Penelitian ini membahas tentang tradisi batimung di desa Pematang Limau, kecamatan Seruyan Hilir, kabupaten Seruyan. Tradisi batimung merupakan mandi uap yang berasal dari suku Banjar, dilakukan dengan menguapi tubuh menggunakan ramuan tradisional dari rempah-rempah dan daun-daunan yang memiliki aroma harum. Tradisi ini dilaksanakan dalam rentang waktu 1 hingga 3 hari sebelum acara resepsi pernikahan. Baik mempelai laki-laki maupun perempuan terlibat dalam tradisi ini, yang dilakukan di dalam ruangan tertutup untuk menjaga agar uap tidak cepat hilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan dan menemukan nilai-nilai kebudayaan dalam tradisi batimung di desa Pematang Limau, kecamatan Seruyan Hilir, kabupaten Seruyan. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan yang menggunakan metode kualitatif. Penulis mengumpulkan data dari narasumber dan membandingkan informasi dari berbagai narasumber dan dokumentasi yang ada di desa Pematang Lima, kemudian meninjaunya dengan perspektif sosiologi hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi batimung mencakup ritual pembersihan dan penyucian sebagai persiapan untuk menghadapi momen penting. Selain itu, terdapat juga doa-doa yang diberikan kepada kedua mempelai. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi batimung meliputi kerjasama antara kedua keluarga, penghargaan terhadap tradisi, persiapan mental dan spiritual bagi kedua mempelai. Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip-prinsip hukum Islam tentang pernikahan, yang menekankan pentingnya kebersihan, kesiapan mental dan spiritual sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

    763

    full texts

    25,534

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇