UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat
Not a member yet
25534 research outputs found
Sort by
Rethinking Gender In Islamic Law
In the study of feminist hermeneutics, gender construction in Islamic law tries to bridge the gap between the dominant patriarchal norms in interpreting traditional Islamic law and modern society regarding gender equality for social justice. By exploring the classical literature and contemporary Islamic legal text, this study focuses on the problems of gender construction through the lens of feminist hermeneutics in Islamic law. The pattern in this feminist hermeneutic approach not only expands but also deepens the understanding of paradigmatic changes in gender construction in the framework of Islamic law. This perspective introduces a new idea for exploring gender construction within the legal framework. This approach challenges the dominant patriarchal interpretation of Islamic law, particularly women\u27s roles and rights. This social change can be perceived in an inclusive view more responsive to gender issues.[
Dalam kajian lensa hermeneutika feminis, konstruksi gender dalam hukum Islam berupaya menjembatani kesenjangan antara norma-norma dominan patriarki dalam interpretasi hukum Islam tradisional dan tuntutan masyarakat modern dalam kesetaraan gender demi keadilan sosial. Dengan menggali sumber pustaka teks-teks hukum Islam klasik dan kontemporer maupun literatur akademik yang relevan, paper ini mengulas lebih lanjut permasalahan kostruksi gender dalam kacamata hermeneutika feminis pada hukum Islam. Pola kajian dalam pendekatan hermeneutika feminis ini tidak hanya memperluas tetapi memperdalam pemahaman perubahan paradigmatik konstruksi gender dalam kerangka hukum Islam. Penerapan perspektif ini membuka wilayah baru bagi eksplorasi konstruksi gender dalam kerangka hukum tersebut. Pendekatan ini menantang fondasi interpretasi patriarkal yang dominan dalam hukum Islam, khususnya terkait peran dan hak-hak perempuan. Perubahan sosial terlihat dalam pandangan inklusif yang lebih responsif terhadap isu gender.
Implementing Personal Hygiene Practices in a Pesantren: The Contribution of Pesantren Bina Insani
Personal Hygiene is a step taken by a person or group of people to maintain their personal hygiene to avoid various diseases. The implementation of personal hygiene can help prevent disease-causing germs or viruses that can harm the health of the body. This is the background of the importance of implementing personal hygiene in everyday life, especially for individuals living together, such as in a pondok pesantren. The community stigma about the pondok pesantren is often identified with a slum, dirty and poorly maintained environment. The participation of institutional administrators and individual students is the main key that must be held firmly. Institutional administrators oversee making and supervising policy regulations related to cleanliness and health in the pondok pesantren. Meanwhile, santri plays a role in maintaining personal hygiene. This study aims to determine the role and steps of Pondok Pesantren Bina Insani in implementing Personal Hygiene pesantren and to find out how the Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mechanism for students to prevent infectious diseases. The research method used is descriptive qualitative. Data sources were obtained from literature review, observation, in-depth interviews, open questionnaires, and documentation. The results of this study indicate that Pondok Pesantren Bina Insani already has a structured system and rules related to the implementation of personal hygiene in the pesantren environment, Pondok Pesantren Bina Insani students generally understand well what personal hygiene is and have tried to implement it in their daily lives.[Kebersihan diri merupakan suatu langkah yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menjaga kebersihan diri agar terhindar dari berbagai penyakit. Penerapan kebersihan diri dapat membantu mencegah kuman atau virus penyebab penyakit yang dapat membahayakan kesehatan tubuh. Hal inilah yang melatarbelakangi pentingnya penerapan Personal Hygiene sadalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan tempat tinggal individu, seperti di Pondok Pesantren. Stigma masyarakat terhadap lingkungan Pondok Pesantren sering diidentikkan dengan lingkungan yang kumuh, kotor dan kurang terawat. Partisipasi pengurus lembaga dan individu mahasiswa menjadi kunci utama yang harus dipegang teguh. Pengurus lembaga mengawasi pembuatan dan pengawasan peraturan kebijakan terkait kebersihan dan kesehatan di lingkungan Pondok Pesantren. Sedangkan santri berperan dalam menjaga kebersihan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dan langkah Pondok Pesantren Bina Insani dalam melaksanakan Personal Hygiene Lingkungan Pesantren dan mengetahui bagaimana mekanisme Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) santri dalam mencegah penyakit menular. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari kajian pustaka, observasi, wawancara mendalam, angket terbuka, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Bina Insani sudah mempunyai sistem dan aturan yang terstruktur terkait dengan penerapan Personal Hygiene di lingkungan pesantren, santri Pondok Pesantren Bina Insani secara umum sudah memahami dengan baik apa itu Personal Hygiene dan sudah mencoba menerapkannya di lingkungan pesantren mereka. kehidupan sehari-hari.
Potensi Pendidikan Interreligius Meminimalkan Hate Speech di Media Sosial
Social media provides benefits for users to express language, but it can also be misused to express hatred, or what is called hate speech. It turns out that certain social media users also carry out hate speech regarding political campaigns in Indonesia. To prevent competitors from winning, certain supporters carry out strategies in the form of hate speech. Of course, hate speech is part of what disrupts the order of human life in the Indonesian context. Therefore, hate speech should be minimized based on the role of education, specifically interreligious education. This is religious education with an interreligious approach from collaborative efforts of religions that emphasize ethics. This research aims to analyze the potential of interreligious education in minimizing hate speech on social media. This research used a qualitative method by utilizing previous research and observing user’s behavior in social media content. We discovered that interreligious education has the potential as a collaborative approach in minimizing hate speech and maximizing love speech, as well as rethinking the function of social media. Essentially, interreligious education with its many settings, including in school and virtual space, supports the implementation of religious moderation. Social media users and religious communities are given the education to prioritize virtues and communicate in an informative, persuasive, and charitable way.
[Media sosial memang menyediakan manfaat bagi para pengguna untuk mengekspresikan bahasa, tetapi juga bisa disalahgunakan dengan maksud mengujarkan kebencian atau yang disebut dengan hate speech. Ternyata, para pengguna media sosial tertentu turut melakukan hate speech terkait kampanye politik di Indonesia. Untuk mencegah pesaing dapat menang, pendukung tertentu melakukan strategi dalam bentuk hate speech. Tentu saja, hate speech merupakan bagian yang mengganggu tatanan kehidupan manusia dalam konteks Indonesia. Maka dari itu, hate speech seyogianya diminimalkan berdasarkan peran pendidikan, secara khusus pendidikan interreligius. Ini adalah pendidikan agama dengan pendekatan interreligius dari usaha kolaborasi agama-agama yang menekankan etika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pendidikan interreligius dalam meminimalkan hate speech di media sosial. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan memanfaatkan penelitian terdahulu dan observasi terhadap perilaku pengguna dalam konten media sosial. Peneliti menemukan bahwa pendidikan interreligius memiliki potensi sebagai pendekatan kolaboratif yang berperan meminimalkan hate speech dan memaksimalkan love speech, serta memikirkan kembali fungsi media sosial. Secara esensial, pendidikan interreligius dengan setting yang bervariasi, seperti di sekolah dan dunia virtual, mendukung pelaksanaan moderasi beragama. Para pengguna media sosial dan umat beragama diberi edukasi untuk mengedepankan kebajikan dan berkomunikasi yang informatif, persuasif, dan karitatif.
EDUKASI DAN PENDAMPINGAN PRAKTIKUM PENGHANTAR PANAS BAGI ANAK-ANAK KOMUNITAS SATOE ATAP SEMARANG UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM
The need for appropriate methods in linking theory with the real world of everyday life so that students can understand the material provided by educators. The method commonly used to relate everyday phenomena to existing theories and to increase students\u27 understanding is practicum. From the results of the visit to the Satoe Atap community, during the lesson no one had brought material about physics, especially heat transfer. Based on this background, one solution to foster understanding, interest and creativity in the children of the Satoe Atap community in learning physics is through practicums using simple tools and materials. Learning natural sciences in the field of physics, especially heat-conducting materials at the Satoe Atap Community through a practical method which is divided into three posts (practice of expanding solid objects, practice of conducting heat in solid objects, and practice of conducting heat in liquid objects) has proven to be effective and its benefits can be seen by participants because they were able to increase their understanding of concepts related to the material provided.
======================================
Perlunya metode yang tepat dalam mengaitkan teori dengan dunia nyata sehari-hari dalam kehidupan agar peserta didik dapat memahami materi yang diberikan oleh pendidik. Metode yang biasa digunakan dalam mengaitkan fenomena sehari-hari yaitu dengan teori yang ada serta mampu meningkatkan pemahaman peserta didik adalah dengan praktikum. Dari hasil kunjungan ke komunitas Satoe Atap, bahwa selama pembelajaran belum ada yang pernah membawakan materi tentang fisika khususnya perpindahan panas. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka salah satu solusi untuk menumbuhkan pemahaman, minat, dan kreativitas diri anak-anak komunitas Satoe Atap dalam pembelajaran fisika yaitu melalui praktikum menggunakan alat dan bahan sederhana. Pembelajaran ilmu pengetahuan alam di bidang fisika khususnya materi penghantar panas pada Komunitas Satoe Atap melalui metode praktikum yang terbagi menjadi tiga pos (praktik pemuaian benda padat, praktik penghantar panas pada benda padat, dan praktik penghantar panas pada benda cair) terbukti efektif dan terlihat manfaatnya oleh peserta karena mampu meningkatkan pemahaman konsep terkait materi yang diberikan
PENDAMPINGAN SERTIFIKASI HALAL KERUPUK RAMBAK KULIT DUSUN CEGOKAN DESA WONOLELO KABUPATEN BANTUL
Assistance for halal certification for Micro Small Businesses of Wonolelo Bantul leather rambak crackers has been carried out in order to support the acceleration of halal product guarantees as mandated by Law No. 33 of 2014. Micro and small business actors (MSEs) are the largest producers of food and beverage products that are subject to mandatory halal because of the increasing number of MSE commodities. The assistance method is carried out by providing socialization and education carried out in groups and individually, followed by discussion and interpretation of the identification results during the assistance process. The results of the assistance obtained that10 business actors in Cegokan, Wonolelo Bantul who were assisted to obtain halal certificates generally met the criteria for halal product processes in accordance with the provisions of the SJPH (Halal Product Guarantee System). Business actors have understood and followed the provisions in applying for halal certification. However, rambak cracker products still have difficulty getting raw materials from halal-certified slaughterhouses. The supply of raw materials is temporarily obtained from collectors, making it relatively difficult to follow the principle of tracebelity
Menyoal Ketimpangan Relasi Kuasa dan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren: Sebuah Tinjauan Kritis
Fenomena kekerasan seksual yang terjadi di kalangan pesantren menjadi perhatian banyak pihak, karena sejatinya pesantren merupakan lembaga yang dianggap aman untuk belajar para santri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor ketimpangan relasi kuasa dan persepsi santri terhadap pencegahan kekerasan seksual di pesantren. Penelitian ini menggunakan mix method dengan pendekatan kuantitatif dalam pengambilan data survei dan pendekatan kualitatif dalam menganalisis data dari responden melalui observasi, wawancara dan studi pustaka dari berbagai sumber tertulis dan media online. Hasilnya yaitu, pertama, perilaku kekerasan seksual khususnya di pesantren merupakan dampak dari ketimpangan relasi kuasa. Kedua, upaya pencegahan kekerasan seksual di pesantren dilakukan dengan monitoring dari pesantren, mau’idzoh atau nasehat kyai, aturan resmi tentang batasan antara laki-laki dengan perempuan, dan kajian kitab kuning tentang pendidikan seksual dan pemahaman gender melalui kitab ‘Uqūdu al-Lujain, Qurratul ‘Uyūn, Fathul Izār, dan fikih wanita. Ketiga, kasus kekerasan seksual yang dilakukan oknum pesantren melalui doktrinnya, dapat menurunkan tingkat kepercayaan sehingga perlu tindakan pencegahan dengan kerjasama yang terintegrasi dan penegakan hukum yang seimbang.
[ The phenomenon of sexual violence in Islamic boarding schools (pesantren) has become everybody’s concern lately. This institution should be considered safe place for santri to live and learn.This study aims to determine the influence of inequality factors on power relations in sexual violence and to know students\u27 perceptions of the prevention of sexual violence in pesantren. This study uses a mixed-method with a quantitative approach in taking survey data and a qualitative approach in analyzing data from respondents through observation, interviews and literature studies from various written sources and online media. The results are, first, sexual violence in pesantren predominantly stems from disparities in power relation. Second, Prevention strategies within pesantren encompass close monitoring, mau\u27idzoh (advice) guidance from kyai, establishment of clear boundaries between genders, and incorporating sex education and gender awareness through Kitab Kuning texts through the book of \u27Uqū du al-Lujain, Qurratul \u27Uyūn, Fathul Izār, and fikih women. Third, cases of sexual violence committed by pesantren through their doctrines can reduce trust so that preventive measures are needed with integral cooperation and balanced law enforcement.
Praktik dan Hambatan Pemenuhan Hak Pilih Penyandang Disabilitas Mental dalam Pemilu: Studi di Bali dan DI Yogyakarta
Pada prinsipnya, keberadaan KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) adalah dalam rangka agar peserta dan pemilih dalam pemilihan umum mendapatkan akses terhadap keadilan pemilu, termasuk bagi penyandang disabilitas mental. Penyandang disabilitas mental adalah kelompok yang paling rentan mendapatkan diskriminasi dan berbagai jenis pelanggaran hak lainnya, terutama dalam hal hak dipilih dan memilih dalam pemilihan umum. Penelitian ini secara spesifik akan melihat realitas perlindungan hak pilih oleh KPU dan pengawasan yang dilakukan oleh Bawaslu terhadap penyandang disabilitas mental dalam rangkaian proses Pemilu. Selanjutnya, juga akan dianalisis bagaimana hambatan dalam mengimplementasi kewenangan yang dimiliki oleh dua lembaga tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis empirik, di mana data utama yang akan digunakan adalah data primer yang berasal dari pengambilan data lapangan langsung. Dalam rangka menyempitkan objek penelitian, maka objek penelitian adalah Bawaslu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bawaslu Provinsi Bali dalam menyelenggarakan proses pemilu tahun 2024. Kedua lokasi ini dipilih karena merepresentasikan dua kutub gerakan masyarakat sipil yang berbeda, utamanya dalam isu disabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aspek kuantitas memang terjadi peningkatan partisipasi pemilih disabilitas mental. Namun, pelaksanaan putusan MK oleh penyelenggara pemilu ini juga masih menemui berbagai hambatan, baik administrasi, sarana prasarana, maupun pelayanan
PEMBERDAYAAN ORANG MUDA KATOLIK PAROKI MUTING, KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE DALAM BIDANG PASTORAL-KATEKESE DENGAN MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS
The Catholic Youth (OMK) Empowerment Program in the pastoral-catechetical field, using the shared Christian Praxis (SCP) model, departs from the problem that young people are often used as pastoral objects of the church and not the subjects or pastoral actors themselves. We implemented this program as a workshop for four days using seminar methods, guided practice, simulation, evaluation, reflection, and follow-up. The target participants were 49 Catholic youths representing each station of the Muting Parish. The techniques for data collection are using questionnaires, observation, and documentation studies as portfolios of participants\u27 work and also parish reports. The results: first, implementing SCP model catechesis training activities for OMK. Second, improving the quality of human resources (OMK) in terms of pastoral catechesis knowledge and skills, especially using the SCP model. Third, the formation of a work program and road map for parish-level catechesis themes for one year. The findings from this activity, especially the catechesis themes, which result from a social analysis by the activity participants, are very contextual and useful for the development of pastoral-catechetical programs in the parish. We hope the programs developed based on this theme mapping can answer the needs and problems of life of people in stations and parish.
===========================================
Program pemberdayaan Orang Muda Katolik (OMK) dalam bidang pastoral-katekese dengan model shared christian praxis (SCP) ini berangkat dari permasalahan bahwa kaum muda sering kali dijadikan objek pastoral gereja dan bukan subjek atau pelaku pastoral itu sendiri. Program ini dilaksanakan dalam bentuk workshop selama 4 (empat) hari dengan metode seminar, praktik terbimbing, simulasi, evaluasi, refleksi dan tindak lanjut. Peserta sasaran adalah pengurus organisasi dan aktivis Orang Muda Katolik perwakilan dari setiap stasi berjumlah 49 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi dan studi dokumentasi berupa portofolio karya peserta dan juga laporan paroki. Hasil dari program ini adalah; pertama, terlaksananya kegiatan pelatihan katekese model SCP bagi OMK. Kedua, peningkatan kualitas SDM (OMK) dalam hal pengetahuan dan keterampilan pastoral katekese khususnya dengan model SCP. Ketiga, terbentuknya program kerja serta road map tema katekese tingkat paroki untuk satu tahun. Hasil temuan dari kegiatan ini khususnya tema-tema katekese yang merupakan buah-buah pemikiran dan analisis sosial oleh peserta kegiatan sangat kontekstual dan bermanfaat bagi pengembangan program-program pastoral-katekese di tingkat paroki maupun stasi. Program-program yang dikembangkan berdasarkan pemetaan tema ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan dan permasalahan hidup umat di stasi maupun paroki
PELATIHAN DAUR ULANG KAIN BEKAS MENJADI KESET: UPAYA PENGEMBANGAN EKONOMI BERKELANJUTAN DI MASYARAKAT DUSUN JENGGLONG DESA TEGALWERU
This study aims to explore the impact of training on recycling used fabrics into doormats as a sustainable economic development strategy in the community of Jengglong Hamlet, Tegalweru Village. Through a participatory approach, this research involved villagers in training on recycling skills and doormat making using used fabrics. Observation and interview methods and documentation analysis used to determine the training process to increase participants\u27 knowledge and skills as well as the economic development of the local community. The results showed that the training successfully improved participants\u27 knowledge and skills in recycling used fabrics into doormats. In addition, this recycling practice has a positive impact on the community\u27s economy by increasing their income through the sale of recycled doormats. The active involvement of residents in the recycling process also has the potential to reduce the negative environmental impact due to textile waste. This research shows that training in recycling used fabrics into doormats can be an effective model in developing sustainable economies at the local community level. The implications of this research can make a positive contribution to sustainable economic development policies at local and regional levels.
========================================
Penelitian ini bertujuan untuk menggali dampak pelatihan daur ulang kain bekas menjadi keset sebagai strategi pengembangan ekonomi berkelanjutan di masyarakat Dusun Jengglong, Desa Tegalweru. Melalui pendekatan partisipatif, penelitian ini melibatkan penduduk desa dalam pelatihan keterampilan daur ulang dan pembuatan keset menggunakan kain bekas. Metode observasi dan wawancara serta analisis dokumentasi digunakan untuk menentukan proses pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta serta pengembangan ekonomi masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mendaur ulang kain bekas menjadi keset. Selain itu, praktik daur ulang ini memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat dengan meningkatkan pendapatan mereka melalui penjualan keset daur ulang. Keterlibatan aktif warga dalam proses daur ulang juga berpotensi mengurangi dampak negatif lingkungan akibat limbah tekstil. Penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan daur ulang kain bekas menjadi keset dapat menjadi model yang efektif dalam mengembangkan ekonomi berkelanjutan di tingkat masyarakat setempat. Implikasi dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap kebijakan pembangunan ekonomi berkelanjutan di tingkat lokal dan regional
KONSEP SAB’ATU AḤRUF DAN RELASINYA DENGAN QIRA’AT SAB’AH: Tinjauan Sosio-Historis
Abstrak
Tulisan ini menjelaskan tentang fenomena sab’atu aḥruf dalam transformasi periwayatan Al-Qur’an serta relasinya dengan qira’at sab’ah. Melalui penelitian berjenis pustaka yang menelusuri data secara kualitatif dengan menggunakan metode analisis-deskriptif dan pendekatan historis-komparatif dalam menggali dan mengupas sumber data primer maupun sekunder. Maka ditemukan hasil bahwa Al-Qur’an yang diturunkan dalam bahasa Arab ada indikasi terkontaminasi dengan dialek atau idiolek suku-suku Arab yang dikenal memiliki naluri kebahasaan yang kuat. Hal itu kemudian dikaitkan dengan hadis-hadis sab’atu aḥruf yang menimbulkan beragam respon pendapat dari para ulama, yang paling kuat mengarah pada maksud tujuh dialek Bangsa Arab yang memiliki kesamaan makna. Keterkaitannya dengan qira’at sab’ah sekedar bagian dari perkembangan makna sab’atu aḥruf yang penuh teka-teki dan ketidakjelasan tujuannya. Terlebih jika dilihat dari potret historis polemiknya bacaan Al-Qur’an yang diwarnai berbagai tragedi perselisihan, qira’at sab’ah merupakan konsep yang dicetuskan oleh Ibnu Mujahid dan diikuti oleh sebagian besar umat Islam hingga akhirnya didobrak oleh Ibnu al-Jazari dengan revitalisasi arkân al-qirâ’ât.
Kata Kunci: hadis, ahruf, sab’ah, qira’at, perselisihan
Abstract
This article explains the phenomenon of sab\u27atu aḥruf in the transformation of the narration of the Qur\u27an and its relationship with qira\u27at sab\u27ah. Through library-type research that explores data qualitatively using descriptive-analytical methods and historical-comparative approaches in exploring and analyzing primary and secondary data sources. So it was found that the Al-Qur\u27an which was revealed in Arabic had indications of being contaminated with the dialects or idiolects of Arab tribes who were known to have strong linguistic instincts. This was then linked to the hadiths of Sab\u27atu Aḥruf which gave rise to various opinions from the ulama, the strongest of which was towards the meaning of the seven Arab dialects which have the same meaning. Its connection with qira\u27at sab\u27ah is only part of the development of the meaning of sab\u27atu aḥruf which is full of enigmas and unclear objectives. Moreover, if we look at the historical portrait of the polemic of the reading of the Qur\u27an which was colored by various tragedies of dispute, qira\u27at sab\u27ah is a concept that was coined by Ibn Mujahid and followed by the majority of Muslims until it was finally broken down by Ibn al-Jazari with the revitalization of the arkân al-qirâ\u27ât.
Keywords: hadis, ahruf, qiraat, sab\u27ah, dispute