Jurnal Online Institut Ilmu Kesehatan (IIK)
Not a member yet
369 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN TINDAKAN SUCTION DI RUANG ICU RSUD GAMBIRAN KEDIRI
Latar belakang: Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya suatu persepsi seseorang. ÂSuction merupakan prorsedur pengisapan sekret yang dilakukan dengan cara memasukan selang       kateter suction melalui hidung, mulut, atau selang ETT ( Endo Traceal Tube ). Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan perawat terhadap pelaksanaan tindakan suction di Ruang ICU RSUD Gambiran Kediri. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi menggunakan pendekatan secara cross sectional. Total responden dalam penelitian ini adalah 26 orang yang dipilih menggunakan cara consecutive Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi (SOP) yang telah terstandart dan hasilnya dianalisa dengan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil uji statistik Spearman Rank yang diperoleh nilai r = 0,693, p = 0,000, dapat dinyatakan bahwa nilai α = 0,05, ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat terhadap pelaksanaan tindakan suction di ruang ICU RSUD Gambiran Kediri. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat terhadap pelaksanaan tindakan suction di ruang ICU RSUD Gambiran Kediri. Penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan instrumen lain, seperti pertanyaan terbuka, agar bisa lebih menggali pengetahuan perawat
KEPATUHAN PELAKSANAAN KEGIATAN HAND HYGIENE PADA TENAGA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT X SURABAYA
Latar belakang: Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Perilaku  hand  hygine merupakan salah satu faktor yang mempunyai pengaruh besar terhadap pencegahan terjadinya infeksi nosokomial (INOS) di rumah sakit. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui tingkat kepatuhan pelaksanaan kegiatan hand hygiene terhadap petugas tenaga kesehatan di Rumah Sakit X Surabaya. Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian evaluasi (evaluation study). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini teknik sampling jenuh yaitu mengambil semua anggota populasi menjadi sampel. Hasil: Hasil dari penelitian ini adalah petugas kesehatan di Rumah Sakit X Surabaya belum tepat dan patuh melakukan kegiatan Hand Hygiene. Simpulan dan saran: Tenaga kesehatan belum mematuhi pelaksanaan kegiatan hand hygiene. Sebaiknya dilakukan edukasi kepada tenaga kesehatan terkait pentingnya kegiatan hand hygiene
PERBANDINGAN ANTARA BAHAN KONTROL KOMERSIAL MERK DIASYS-TRULAB N DENGAN SIEMENS-BIORAD LEVEL 1 TERHADAP AKURASI UNTUK PEMERIKSAAN GLUKOSA, KOLESTEROL DAN ASAM URAT
Latar belakang:. Mutu pemeriksaan di laboratorium dipengaruhi oleh penetapan mutu internal dengan penggunaan bahan kontrol. Tujuan: Mengetahui perbedaan akurasi pemeriksaan pengukuran glusosa, asam urat, dan kolesterol menggunakan bahan kontrol komersial merk Diasys-TruLab N dengan merk Siemens-BioRad. Metode: Penelitian ini merupakan studi komparatif dengan membandingkn akurasi bahan kontrol komersial merk Diasys-TruLab sebanyak 280 μL dan merk Siemens-BioRad Level 1 sebanyak 161 μL untuk pengukuran glukosa, asam urat, dan kolesterol. Hasil perhitungan akurasi yang selanjutnya dilanjukan uji T dan uji Man Whitney. Hasil: Perhitungan akurasi bahan kontrol Diasys-TruLab N nomor LOT 20270 memiliki rata-rata akurasi glukosa 97.67%, kolesterol 93.22%, asam urat 93.9% dan Siemens-BioRad Level 1 memiliki rata-rata akurasi glukosa 91.66%, kolesterol 84.43%, asam urat 87.29%. Simpulan dan saran: Pengukuran glukosa, asam urat, dan kolesterol menggunakan Diasys-TruLab memikili akurasi lebih tinggi dibandingkan dengan Siemens-BioRad. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan bahan kontrol dengan level lain untuk mengetahui akurasi lebih lanjut selain bahan kontrol dengan level normal
PENGARUH LAMA PEMANASAN TERHADAP KUALITAS MINYAK GORENG KEMASAN KELAPA SAWIT
Latar belakang: Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas minyak goreng diantaranya adalah kandungan Free Fatty Acid (FFA), warna, serta Cloud point. Semua faktor ini perlu dianalisis untuk mengetahui kualitas minyak goreng kelapa sawit. Adapun penurunan mutu dari minyak goreng kelapa sawit antara lain dapat disebabkan oleh pengaruh lama pemanasan. Tujuan: Mengetahui kualitas minyak goreng terhadap lama pemanasan. Metode: Jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Parameter yang diamati berupa kandungan Asan lemak bebas, warna dan Could Point. Hasil: Pemanasan akan menurunkan kualitas minyak goreng kualitas super setelah pemanasan sampai 15 menit (mendidih) (FFA= 0,1695,Warna = Merah: 1,5-2,0, dan Kuning 15-20, dan Cloud point  (CP) = 6 oC.). Simpulan dan saran: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas minyak goreng menurun setelah pemanasan 15 menit. Perlu dilakukan analisa bilangan iod, bilangan asam, dan bilangan penyabunan untuk mengetahui kualitas minyak goreng yang sesuai dengan standar mutu SNI
DETERMINAN EPIDEMIOLOGIS KEJADIAN ULKUS KAKI DIABETIK PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI RSUD Dr. CHASAN BOESOIRIE DAN DIABETES CENTER TERNATE
Latar belakang: Kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi kronik Diabetes Mellitus (DM) yang paling sering ditemukan. Tujuan: Menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap kejadian ulkus kaki diabetik. Metode: Penelitian observasional-analitik dengan desain case control. Sampel adalah penderita DM yang mengalami ulkus kaki (35 orang) dan penderita DM yang tidak mengalami ulkus kaki sebagai kelompok kontrol (35 orang). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Variabel independen yaitu lama menderita DM, obesitas, kadar gula darah, ketidakpatuhan diet dan latihan fisik (olahraga). Analisis data dilakukan dengan uji regresi logistik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan lama menderita DM OR = 5,06; 95% CI (1,79 <OR <14,31), obesitas OR = 6.30; 95% CI (1,60 <OR <24,78), kadar gula darah tidak terkontrol OR = 40,37; 95% CI (4,96 <OR <328,66), ketidakpatuhan diet OR = 11,76; 95% CI (1,40 <OR <98,85), latihan fisik (olahraga) OR = 10,33; 95% CI (2,99 <OR <35,63). Simpulan dan saran: Lama menderita DM, obesitas, kadar gula darah, ketidakpatuhan diet, dan latihan fisik (olahraga) berpengaruh terhadap kejadian ulkus kaki diabetik. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan upaya intervensi perbaikan faktor risiko dalam upaya menurunkan kejadian ulkus kaki diabetik
TIDAK BEROLAHRAGA, OBESITAS, DAN MEROKOK PEMICU HIPERTENSI PADA LAKI-LAKI USIA 40 TAHUN KE ATAS
Latar Belakang: Hipertensi menjadi faktor penyebab kematian paling tinggi di Indonesia yang menyebabkan kematian pada sekitar 7 juta penduduk. Tujuan: Menganalisis pengaruh antara aktivitas fisik, obesitas, merokok terhadap kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas di Puskesmas Medokan Ayu Surabaya. Metode: Desain penelitian case control study dengan menggunakan 92 sampel (46kasus : 46 kontrol). Pengumpulan data melalui wawancara dengan kuesioner terstruktur dan sekunder catatan medis pasien. Teknik sampling menggunakan consecutive sampling. Analisis data bivariat dengan chi-squered test. Hasil: Hasil analisis bivariat, olahraga tidak ideal p = 0,014 (OR: 4,64; 95% CI: 1,29-17,36), tidak olahraga = 0,000 (OR: 18,06; 95% CI: 4,44-80,25). Kebiasaan merokok p = 0,000, (OR: 6,633; 95% CI: 2,420-17,884). Faktor obesitas tidak terbukti sebagai faktor risiko dengan nilai p = 0,440. Simpulan dan saran: Kurang Olahraga dan kebiasaan merokok berpengaruh terhadap kejadian hipertensi. Faktor obesitas tidak terbukti sebagai faktor risiko kejadian hipertensi pada laki-laki usia 40 tahun ke atas. Penelitian lebih lanjut sebaiknya dibuktikan dengan intervensi terkait faktor risiko hipertensi baik melibatkan hewan coba atau manusia
EFEK SEDUHAN KELOPAK KERING BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL PADA MENCIT PUTIH JANTAN Balb/C HIPERKOLESTEROL
Latar belakang: Rosella merupakan salah satu tanaman yang diketahui mempunyai efek menurunkan kadar kolesterol. Tujuan: Mengetahui efek pemberian seduhan kelopak kering bunga rosella (Hisbiscus Sabdariffa Linn) terhadap penurunan kadar kolesterol pada mencit hiperkolesterol. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain pre-post-test dengan kelompok kontrol. Delapan belas mencit putih jantan galur Balb/C hiperkolesterol dibagi menjadi tiga, kelompok kontrol negatif diberi pakan standar dan minum adlibitum, kelompok eksperimen rosella diberi pakan standar dan minum adlibitum dan seduhan rosella 2x0,45 ml/hari dan kelompok eksperimen simvastatin diberi pakan standart dan minum adlibitum dan simvastatin 0,026 mg/ hari selama 30 hari. Hasil: Pemberian seduhan kelopak kering bunga rosella menurunkan kadar kolesterol dari 161 mg/dl ±6,3 menjadi 119,2 ± 6,6 setelah perlakuan. Pemberian 0,026 mg simvastatin menurunkan kadar kolesterol dari 156,2 mg/dl ± 10,8 menjadi 99,5 mg/dl ±7,9 P=0,000. Simpulan dan Saran: Pemberian seduhan kelopak kering bunga rosella dengan rata-rata 1,37 gram yang dikonsumsi dua kali per hari dapat menurunkan kadar kolesterol mencit hiperkolesterol.  Pemberian seduhan kelopak kering bunga rosella dapat dipertimbangkan sebagai pengobatan alternatif pengganti obat kimia untuk menurunkan kadar kolesterol
EVALUASI SISTEM SURVEILANS CAMPAK DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN BANGKALAN
Latar Belakang: Campak merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD31), disebabkan oleh virus (Morbilivirus) dan berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Tujuan: Menggambarkan pelaksanaan sistem surveilans campak, mengidentifikasi masalah dan memberikan solusi dari permasalahan yang ditemukan. Metode: Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif jenis evaluasi dilakukan di Kabupaten Bangkalan pada bulan Juni 2015. Responden dalam penelitian ini adalah petugas surveilans kabupaten dan puskesmas se-Kabupaten Bangkalan. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil: Kekurangan pelaksanaan sistem surveilans banyak ditemukan dalam komponen input dan proses kegiatan surveilans terutama di tingkat puskesmas. Sebagian besar petugas tidak mendapatkan pelatihan sehingga tidak mampu melakukan analisis dan pengolahan. Hal ini menyebabkan atribut surveilans seperti kualitas, sensitivitas, dan stabilitas data rendah. Simpulan dan saran: Pelaksanaan sistem surveilans campak di Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan belum memenuhi Permenkes No 1116/SK/VII/20113 dan buku Juknis Surveilans Campak (2012). Solusi untuk memperbaiki sistem surveilans adalah dengan memberikan pelatihan bagi seluruh petugas surveilans dan pemenuhan sarana dalam pelaksanaan sistem surveilans campak
PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI KLB DIFTERI DI KECAMATAN GENENG DAN KARANG JATI KABUPATEN NGAWI TAHUN 2015
Latar belakang: Difteri merupakan suatu penyakit menular dan sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa wilayah. Kasus difteri di Jawa Timur merupakan kasus difteri terbanyak di Indonesia. Pada tahun 2015 terjadi tiga kasus difteri klinis di Kabupaten Ngawi. Tujuan: Memastikan adanya KLB dan mencari faktor risiko KLB Difteri tersebut. Metode: Penyelidikan Epidemiologi partisipatif yang dilakukan bersama antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, TIM FETP Unair, dan Puskesmas Setempat.. Hasil: Klasifikasi Difteri kasus Pasien I dan Pasien II adalah Difteri Faring sedangkan kasus Pasien III adalah Difteri Tonsil. Capaian Imunisasi Desa Z sudah baik karena telah UCI dan IDL telah mencapai 95.1%, berbeda dengan Desa X dan Y. Pada tahun 2014, kedua desa tersebut belum UCI dan IDL belum mencapai 90%. Cold cain di kedua Puskesmas telah baik dan sesuai SOP. Permasalahan yang ditemukan di lapangan antara lain Pengambilan swab pada kontak erat masih kurang, Profilaksis tidak berjalan dengan baik dan tidak ada PMO. Simpulan dan saran: Telah terjadi KLB Difteri Di Kecamatan Geneng dan Kecamatan Karang Jati. Faktor risiko utama adalah belum tercapainya UCI dan IDL. Kurangnya pengambilan swab dan hasil pemeriksaan laboratorium yang negatif perlu manjadi bahan evaluasi untuk kegiatan PE selanjutnya
PENENTUAN KADAR BORAKS PADA KURMA (Phoenix dactylifera) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Latar belakang: Kurma merupakan salah satu bahan pangan yang cukup digemari di Indonesia, terlebih saat bulan Dzulhijah (musim haji) dan saat bulan Ramadhan. Di industri biasanya menyimpan kurma pada suhu -30 C selama 1 tahun. Setelah masa pengemasan tersebut, kurma diedarkan ke pasaran. Buah kurma memiliki umur simpan 2 tahun pada suhu kamar 250 C. Kualitas kurma dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan, karena karakteristik pada kurma dapat berbeda setelah ditangan konsumen. Di tangan produsen nakal agar kurma bisa tahan lebih lama mereka menyalahgunakan boraks sebagai pengawet. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar boraks pada kurma dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode: Ekstraksi boraks dari sampel kurma dengan cara disentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 2 menit kemudian diambil bagian supernatannya. Identifikasi boraks dalam supernatan tersebut dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan uji reaksi warna yaitu uji nyala dengan menggunakan asam sulfat dan kurkumin, dan secara kuantitatif menggunakan Spektrofotometer UV-vis. Hasil: Hasil penelitian kadar boraks pada sampel kurma A, B, C, D dan berturut-turut adalah 2,624 µg/gram, 3,574 µg/gram, 2,016 µg/gram, 18,796 µg/gram. Simpulan dan saran: Sampel kurma D mempunyai kadar boraks yang paling besar. Perlu dilakukan penelitian untuk menurunan kadar boraks juga pada sampel kurma