Jurnal Online Institut Ilmu Kesehatan (IIK)
Not a member yet
369 research outputs found
Sort by
PERUBAHAN KEKERASAN EMAIL PADA PERMUKAAN GIGI SETELAH DIRENDAM SOFT DRINK BERKARBONASI
Latar belakang: Email merupakan lapisan gigi yang paling luar, lebih keras dibandingkan dengan lapisan dibawahnya yakni dentin. Kekerasan email adalah suatu sifat fisik yang dimiliki bagian gigi yaitu email yang dapat diukur menggunakan Brinell Hardness dengan satuan Kg/mm2. Soft drink merupakan minuman yang terdiri dari berbagai jenis asam yang menurunkan pH rongga mulut. Tujuan : Mengetahui perubahan kekerasan email pada permukaan gigi setelah direndam soft drink berkarbonasi Metode : Sampel gigi premolar post ekstraksi perawatan orthodonti, kemudian dilakukan perendaman pada soft drink berkarbonasi selama 5 menit, 10 menit dan 15 menit. Setelah itu dilakukan pengukuran kekerasan dengan menggunakan alat Brinell Hardness. Hasil : Uji One Way Anova didapatkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) terdapat perbedaan tingkat kekerasan email pada permukaan gigi antar kelompok perlakuan. Hasil uji LSD terdapat perbedaan yang bermakna. Kesimpulan dan saran: Terdapat perbedaan kekerasan email pada permukaan gigi setelah direndam soft drink berkarbonasi. Perlu adanya DHE (Dental Health Education) tentang efek merugikan mengkonsumsi soft drink berkarbonasi terhadap enamel gigi
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU TIDAK AMAN MAHASISWA PADA SAAT PRAKTIK DI LABORATORIUM PERGURUAN TINGGI X DI JAWA TIMUR
Latar belakang: Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap tenaga kesehatan, termasuk mahasiswa kesehatan yang sedang melakukan praktikum di laboratorium. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, unsafe act  mahasiswa yang tidak melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah praktek di laboratorium yaitu dari 10 mahasiswa yaitu 8 mahasiswa tidak melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah praktek, 1 mahasiswa cuci tangan setelah praktek, 1 mahasiswa cuci tangan sebelum dan sesudah praktek. Metode: Jenis penelitian kuantitatif, pendekatan cross-sectional, populasi dalam penelitian ini adalah  47 mahasiswa. Jumlah sampel sebanyak 32 mahasiswa diambil dengan teknik simple random sampling. Variabel independen yaitu umur, jenis kelamin, pengetahuan dan fasilitas cuci tangan, sedangkan variabel dependen unsafe action cuci tangan, yang  dianalisis menggunakan uji regresion logistics. Hasil: Hasil uji statistik menggunakan regresion logistics  menunjukkan pengetahuan merupakan faktor determinan dengan OR 20.301. Simpulan dan saran: Mahasiswa yang mempunyai pengetahuan kurang, perlu diberikan sosialisasi  untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan K3 dan  unsafe action, sehingga mahasiswa dapat menyadari, memahami dan menerapkan perilaku yang aman
ANALISA KEPUASAN PASIEN DITINJAU DARI MUTU PELAYANAN KESEHATAN SETELAH TERAKREDITASI PARIPURNA VERSI KARS 2012
Latar belakang: Mutu pelayanan kesehatan sangat erat hubungannya dengan kepuasan penerima jasa pelayanan kesehatan dalam hal ini adalah pasien, karena kebanyakan penilaian para pengguna jasa pelayanan kesehatan lebih mementingkan proses pelayanan kesehatan dibandingkan outcome. Atas dasar itu, menjaga mutu sebuah pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen dan komite medik rumah sakit, menjaga reputasi institusinya dan kepercayaan masyarakat sebagai pengguna. Tujuan: Menganalisis pengaruh tingkat kepuasan pasien ditinjau dari mutu pelayanan di RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Metode: Jenis penelitian yang di gunakan adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini sebesar 192 responden dengan 93 responden dari pasien rawat jalan dan 99 responden dari pasien rawat inap. Hasil: Dengan menggunakan analisis regresi logistic dapat di ketahui bahwa ada pengaruh kepuasan pasien di tinjau dari mutu pelayanan. Kesimpulan dan saran: Ada pergeseran dimensi mutu sebelum dan setelah Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung mendapatkan predikat terakreditasi paripurna versi KARS 2012, yaitu variabel yang mempengaruhi pelayanan dari dimensi responsiveness menjadi dimensi empathy
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN KESEHATAN MENTAL PADA LANSIA: STUDI CROSS-SECTIONAL PADA KELOMPOK JANTUNG SEHAT SURYA GROUP KEDIRI
Latar belakang: Prevalensi gangguan kesehatan mental pada lansia cukup tinggi. Oleh karena itu, perlu mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan mental pada lansia sebagai dasar penentuan intervensi untuk menurunkan prevalensi gangguan kesehatan mental. Tujuan: Menganalisis prevalensi gangguan kesehatan mental dan faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan kesehatan mental pada lansia anggota Kelompok Jantung Sehat Surya Group di Kota Kediri. Metode: Pendekatan cross-sectional dilakukan pada anggota Kelompok Jantung Sehat Surya Group di Kota Kediri, sebanyak 40 orang. Variabel bebas meliputi karakteristik responden, fungsi keluarga, kesehatan fisik, hubungan sosial, dan lingkunga sedangkan variabel terikat adalah kesehatan mental. Variabel kesehatan mental dinilai dengan intsrumen WHOQOL-BREF. Analisis statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil: Prevalensi gangguan kesehatan mental pada lansia sebanyak 25%. Variabel yang berhubungan dengan kesehatan mental (p<0.05) adalah jenis kelamin, fungsi keluarga, kesehatan fisik, dan lingkungan. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan antara jenis kelamin, fungsi keluarga, kesehatan fisik, dan lingkungan dengan kesehatan mental. Perlu adanya penentuan gangguan kesehatan mental yang spesifik
PERBEDAAN EFEK PERAWATAN LUKA MENGGUNAKAN GETAH POHON YODIUM (Jatropha multilafida L) DAN POVIDON IODINE 10% DALAM MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA BERSIH PADA MARMUT (Cavia porcellus)
Latar belakang: Kandungan dalam getah pohon yodium (Jatropha multifida L) terdapat flavanoid, lektin dan saponin untuk mempercepat penyembuhan luka. Tujuan: Menganalisis perbedaan efek perawatan luka dengan menggunakan getah pohon yodium dibandingkan dengan povidon iodine 10% dalam mempercepat penyembuhan luka bersih pada marmut. Metode: Desain penelitian ini adalah true experiment dengan post test group only, terdiri dari 21 ekor marmut yang dibagi 3 kelompok perlakuan dengan simple random sampling. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah rata-rata kesembuhan luka pada perlakuan perawatan luka menggunakan getah pohon yodium, povidon iodine 10%, dan kontrol yang hanya dibersihkan menggunakan aquadest dengan menggunakan uji statistik one way anova. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan perawatan luka menggunakan getah pohon yodium, povidon iodine 10% dan kontrol, tetapi perawatan luka menggunakan menggunakan getah pohon yodium dibandingkan dengan povidon iodine 10%, tidak terdapat perbadaan yang signifikan antara perawatan luka menggunakan getah pohon yodium dibandingkan dengan povidon iodine 10%. Simpulan dan saran: Efek perawatan luka bersih menggunakan getah pohon yodium memiliki perbedaan  yang bermakna dibandingkan kelompok kontrol. Penelitian selanjutnya hendaknya dilakukan dengan menggunakan penilaian kesembuhan luka secara mikroskopis
PENGGUNAAN INFUSA DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill.) DAN EKSTRAK DAUN PANDAN (Pandanus amarryllifolius Roxb) SEBAGAI PELURUH KALSIUM BATU GINJAL SECARA IN VITRO
Latar belakang: Infusa daun alpukat (Persea americana Mill.) dan ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb) lama digunakan oleh masyarakat sebagai obat peluruh batu ginjal dalam bentuk rebusan. Tujuan: Mengetahui pengaruh infusa daun alpukat dan ekstrak daun pandan wangi dalam meluruhkan kalsium batu ginjal menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom. Metode: Batu ginjal yang digunakan dihomogenkan kemudian di uji kualitatif kimiawi untuk mengetahui adanya kalsium. Untuk mengetahui adanya flavonoida Infusa daun alpukat dan ekstrak daun pandan wangi dengan menggunakan Wilstatter Test. Batu ginjal dibagi menjadi tujuh kelompok, masing-masing direndam dalam larutan aquades, larutan Calcusol 1,2b/v, infusa daun alpukat 5%b/v, 10%b/v, 15%b/v, 20%b/v, dan 25%b/v sedangkan pada ekstrak daun pandan wangi konsentrasi yang digunakan 0,625% b/v, 1,25% b/v, 2,5% b/v, 5% b/v dan 10% b/v selama ±5 jam dengan suhu ±37°C. Hasil: Analisis kualitatif flavonoid dengan Wilstatter Test menghasilkan warna merah tua yang mengindikasikan adanya senyawa flavonoid. Simpulan dan saran: Infusa daun alpukat dan ekstrak daun pandan wangi positif mengandung flavonoid serta mampu melarutkan kalsium batu ginjal. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara in vivo untuk mengetahui kemampuan infusa daun alpukat dan ekstrak daun pandan wangi dalam melarutkan kalsium batu ginjal
PERBANDINGAN KADAR TOTAL KAROTEN DAN LIKOPEN UBI JALAR CILEMBU (Ipomea batatas Lamk.) SELAMA PROSES PENGOLAHAN
Latar belakang: Ubi Cilembu merupakan salah satu bahan pangan yang kaya karbohidrat, vitamin dan mineral. Ubi yang mengalami proses pengolahan ini tentunya akan mengalami perubahan komposisi ataupun kadar zat gizi di dalamnya. Tujuan: Mengetahui kadar total karoten dan likopen pada Ubi Cilembu selama proses pengolahan. Metode: Ubi Cilembu yang diteliti adalah Ubi Cilembu panggang dan tepung Ubi Cilembu. Kadar total karoten dan likopen Ubi Cilembu olahan pada penelitian ini dibandingkan dengan Ubi Cilembu segar. Analisis data dilakukan dengan one-way ANOVA, dilanjutkan uji LSD pada taraf uji 5%. Hasil: Kadar total karoten pada Ubi Cilembu segar, Ubi Cilembu panggang, dan tepung Ubi Cilembu berturut-turut adalah 1,363 mg/g±0,113; 0,641 mg/g±0,010; dan 0,526 mg/g±0,014. Kadar likopen pada Ubi Cilembu segar, Ubi Cilembu panggang, dan tepung Ubi Cilembu berturut-turut adalah 0,038 mg/g±0,003; 0,020 mg/g±0,000; dan 0,013 mg/g±0,000. Data statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna antar masing-masing sampel dengan taraf signifikan p<0,05. Simpulan dan saran: Kadar total karoten dan likopen Ubi Cilembu mengalami penurunan selama proses pengolahan. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui aktivitas farmakologi pada Ubi Cilembu yang mengalami pengolahan
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN MAKANAN PRELAKTEAL: STUDI CROSS SECTIONAL DI KOTA BOGOR TAHUN 2015
Latar belakang: Pemberian makanan prelakteal merupakan salah satu hal yang berpengaruh terhadap status gizi bayi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan prelakteal perlu diketahui agar dapat ditentukan intervensi dalam penurunan prevalensi pemberian makanan prelakteal. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan prelakteal di Kota Bogor. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study yang dilakukan di Kota Bogor. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 82 ibu bayi. Variabel terikat berupa pemberian makanan prelakteal sedangkan variabel bebas berupa karakteristik ibu dan perilaku terkait menyusui. Analisis yang dilakukan berupa uji univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi square. Hasil: Prevalensi pemberian makanan prelakteal dalam penelitian ini adalah sebesar 34.1%. Variabel yang berhubungan dengan pemberian makanan prelakteal (p<0.05) dalam penelitian ini adalah paritas ibu dan saran tenaga kesehatan terkait pemberian makanan prelakteal. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan paritas ibu dan saran tenaga kesehatan dengan pemberian makanan prelakteal. Perlu adanya penentuan variabel yang paling berpengaruh terhadap pemberian makanan prelakteal
HUBUNGAN PELAYANAN POSYANDU X DENGAN TINGKAT KEPUASAN LANSIA
Latar Belakang: Kepuasan merupakan gambaran harapan seseorang terhadap pelayanan ataupun jasa yang dirasakan apakah sesuai dengan harapan atau tidak. Tingkat kepuasan akan meningkat pada lansia yang mendapat pelayanan yang baik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelayanan Posyandu X dengan tingkat kepuasan lansia di Kabupaten Kediri. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional dengan menggunkan teknik accidental sampling. Sampel penelitian sebanyak 24 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Variabel bebas pada penelitian ini adalah pelayanan posyandu sedangkan variabel terikatnya adalah tingkat kepuasan lansia. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik Korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan pelayanan posyandu X dengan tingkat kepuasan lansia. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pelayanan Posyandu X dinilai sedang yaitu sebesar 73,08%, serta tingkat kepuasan lansia adalah puas yaitu sebesar 61,54%. Dari hasil uji statistik Rank Spearman nilai r = 0,582 dan sig = 0,02 yang menunjukkan terdapat hubungan antara pelayanan Posyandu X dengan tingkat kepuasan lansia di Posyandu X. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan pelayanan Posyandu X dengan tingkat kepuasan lansia di Posyandu X Kabupaten Kediri. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan jumlah sampel yang representatif dengan teknik sampling yang sesuai
PENGARUH HORMON NAPTHALEN ACETIC ACID TERHADAP INISIASI AKAR TANAMAN KANGKUNG AIR (Ipomoea aquatica Forssk.)
Latar belakang: kangkung air merupakan tanaman aquatik yang sangat digemari masyarakat. Banyaknya permintaan akan sayuran kangkung menyebabkan kurangnya pasokan tanaman kangkung air. Alternatif untuk menambah produksi tanaman kangkung air dengan menggunakan Napthalen Acetic Acid (NAA). Sebab NAA dapat menginduksi akar tanaman kangkung air. Tujuan: Mengetahui pengaruh NAA terhadap pertumbuhan akar tanaman kangkung air. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Konsentrasi larutan NAA yang digunakan yaitu 0,1 ppm, 0,2 ppm, 0,4 ppm, 0,6 ppm, dan 1 ppm, dan kontrol yang tidak mengandung NAA. Parameter pengamatan berupa panjang akar dan jumlah akar yang kemudian dianalisis dengan menggunakan SPPS 17. Hasil: konsentrasi NAA dapat menginduksi pembentukan akar tanaman kangkung air. Konsentrasi NAA 0,1 ppm paling baik untuk menginduksi perakaran tanaman kangkung air. Simpulan dan saran: terdapat pengaruh konsentrasi NAA terhadap jumlah dan panjang akar tanaman kangkung air. Perlu penelitian lanjut mengenai hormon auksin jenis lain dan struktur anatomi tanaman kangkung air setelah diinduksi hormon auksin