Jurnal Online Institut Ilmu Kesehatan (IIK)
Not a member yet
369 research outputs found
Sort by
TINJAUAN SISTEM INFORMASI INDEKS PENYAKIT RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TK III 03.06.01 CIREMAI
Latar belakang : Indeks merupakan pembuatan tabulasi sesuai dengan kode yang sudah dibuat dalam kartu indeks. Hasil pengumpulan data dari indeks sebagai bahan untuk penyajian data statistik kesehatan. Tujuan penelitian : Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pelaksanaan sistem informasi indeks penyakit rawat inap di Rumah Sakit TK III 03.06.01 Ciremai. Metode penelitian : Jenis penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Hasil Penelitian : Sistem indeks penyakit di Rumah Sakit Ciremai ini menggunakan SIMRS BasePro.Net yang terdiri dari input, process, dan output. Input dalam sistem indeks penyakit terdiri dari formulir resume medis yang berisikan (nomor rekam medis, alamat, tanggal masuk, tanggal keluar, lama dirawat, dokter yang menangani, diagnosa utama, diagnosa sekunder, diagnosa komplikasi, tindakan, cara pulang, dan golongan pasien). Proses indeks penyakit terdiri dari alur pencatatan indeks penyakit rawat inap dimulai dari ruang rawat inap, assembling, koding, indeks penyakit. Output indeks penyakit di rumah sakit digunakan untuk pelaporan Kesehatan Preventif (Kesprev), Kesehatan Kuratif dan Rehabilitatif (Keskureh) dan laporan RL 4b
PENGARUH EDUKASI MENGGUNAKAN BOOKLET TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DI SALAH SATU KLINIK DAERAH SIDAREJA
Latar belakang: Penyakit hipertensi adalah salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan serius. Pada tahun 2011 Badan Kesehatan Dunia menyebutkan 50%-70% pasien tidak patuh terhadap obat antihipertensi. Rendahnya kepatuhan minum obat akan menyebabkan tekanan darah tidak terkontrol yang dapat meningkatkan risiko komplikasi. Tahun 2015 WHO menyebutkan bahwa penduduk Indonesia dengan usia 18 tahun ke atas akan mengalami hipertensi sebesar 23,8%. Tujuan: Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi melalui booklet terhadap kepatuhan minum obat pasien hipertensi. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan one group pre/post test. Penelitian dilakukan terhadap satu kelompok responden, kemudian diberikan intervensi edukasi media booklet dan diukur kembali. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara berdasarkan kuesioner yang telah valid dan reliabel. Hasil: Hasil uji statistik Wilcoxon menunjukkan  perubahan signifikan terhadap tingkat kepatuhan pasien hipertensi sebelum dan sesudah pemberian edukasi dengan booklet (p<0,05).  Simpulan dan Saran : Pemberian booklet pada pasien hipertensi sebagai edukasi dapat meningkatan kepatuhan minum obat di salah satu klinik di Sidareja. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada kepatuhan pasien Hipertensi dengan cara edukasi yang berbeda dan cakupan area yang lebih luas
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI ACE INHIBITOR LISINOPRIL TERHADAP KEJADIAN BATUK KERING PADA PASIEN HIPERTENSI DI KOMUNITAS GEREJA DI KABUPATEN MALANG
Latar belakang: Lisinopril adalah obat antihipertensi dari golongan obat angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEi) yang dapat memiliki efek samping batuk kering. Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan untuk memberikan menilai resiko pada penggunaan obat golongan ACE inhibitor yang menimbulkan batuk kering pada pasien hipertensi di lingkup gereja. Metode: Desain penelitian ini analitic case control. Kriteria inklusi adalah pasien hipertensi yang menggunakan obat golongan ACE inhibitor >3 bulan, rentang umur 35-60. Subjek terdiri dari 49 pasien yang menggunakan Lisinopril (ACE inhibitor) dan 49 pasien yang tidak menggunakan Lisinopril (Non-ACE inhibitor) yang diambil secara nonprobability sampling pada bulan April-Mei 2020. Alat pengumpulan data menggunakan wawancara terstruktur dan kuesioner. Kejadian batuk kering akibat dievaluasi menggunakan Algoritma Naranjo. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Simpulan dan saran: Hasil menunjukkan penggunaan ACE inhibitor memiliki hubungan yang bermakna pada faktor usia, pekerjaan, dan riwayat merokok. Responden dengan usia 46-50 tahun dan Ibu rumah tangga memiliki resiko kejadian batuk kering lebih kecil 0,8 (p= 0,035, 95%; CI= 0,004-0,817) dan 2,78 (p= 0,016, 95%; CI= 1,51-57,65) kali dibandingkan dengan responden Non ACE inhibitor. Sedangkan responden dengan riwayat tidak merokok memiliki resiko kejadian batuk kering empat kali lebih besar pada pengobatan dengan ACE inhibitor (p= 0,043, 95%; CI= 1,00-8,00)
STRATEGI TINGKATKAN KEWASPADAAN MASYARAKAT TERHADAP PANDEMI COVID-19 DI LEVEL RUKUN TETANGGA (RT)
Latar belakang: Tahun 2020 Indonesia dihadapkan pada pandemi COVID-19. Untuk mensiasati kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh COVID-19, maka dibutuhkan kemandirian masyarakat dalam menghadapi masa pandemi. Oleh karena itu, perlu diadakan suatu kegiatan pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menghadapi pandemi COVID-19. Tujuan: memberikan pengetahuan terkait persebaran dan pencegahan Covid-19 di tingkat RT dan pelatihan cara pembuatan ekstrak jamu dari tanaman toga. Metode: Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan dan training. Penyuluhan secara bertahap, yakni 2 kegiatan dihari yang berbeda, kegiatan pertama memberikan pengetahuan kepada warga seputar penyakit COVID-19 dan di hari berikutnya dilakukan penyuluhan tentang cara menjaga imunitas tubuh dan mempraktikan cara pembuatan ekstrak jamu dari tanaman toga. Juga dilakukan pre dan posttest. Hasil: Pada kriteria kehadiran peserta, 10 dari 12 peserta (83,3%) hadir dalam penyuluhan secara tatap muka di rumah pelaksana kegiatan. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan sudah mencukupi dan sukses dari segi peserta (kehadiran peserta > 75%). Kemudian jika dilihat dari segi peningkatan pengetahuan, terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 51% dengan keefektivan berada pada kategori sangat efektif (keefektivan > 1). Untuk praktik pembuatan jamu, sebanyak 6 peserta dari 12 peserta penyuluhan bisa mempraktikan membuat ekstrak jamu di rumah masing-masing (efektif meningkatkan pemahaman peserta bila dapat mempraktikan mandiri ≥50%).Kesimpulan: kegiatan penyuluhan tentang cara meningkatkan imunitas tubuh saat pandemi Covid-19 berhasil, baik dari segi peserta (adequancy of performance) maupun peningkatan pengetahuan (effectiveness)
PENINGKATAN IMUNITAS TUBUH MELALUI KONSUMSI JAMU DI ERA PANDEMI COVID-19
Pandemi COVID-19 merupakan permasalahan penting yang tengah dihadapi masyarakat saat ini karena memberikan dampak yang besar pada kesehatan individu maupun perekonomian keluarga. Konsumsi jamu tradisional yang merupakan ramuan bahan berupa tanaman herbal diketahui dapat memelihara kesehatan tubuh dan dipercaya oleh masyarakat dapat mencegah agen infeksi. Dengan meningkatnya jumlah pasien terinfeksi virus corona, masyarakat perlu terus dimotivasi untuk memperhatikan kesehatan diri dan keluarga. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hal ini yaitu dengan pemberian edukasi terkait konsumsi jamu. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mendukung program pencegahan COVID-19 melalui peningkatan konsumsi jamu oleh masyarakat di Desa Bandar Lor Kediri. Kegiatan ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu pembuatan dan pembagian jamu ke masyarakat di Desa Bandar Lor, Kediri serta pemberian penyuluhan secara langsung kepada perwakilan masyarakat untuk memberikan pemahaman seputar jamu dengan menerapkan protokol kesehatan. Evaluasi keberhasilan kegiatan ditentukan berdasarkan hasil pengisian kuesioner oleh peserta yang diberikan sebelum dan sesudah sosialisasi. Selama pelaksanaan kegiatan ini, telah dibagikan 2000 botol jamu yang diproduksi secara mandiri kepada masyarakat. Sesuai dengan penilaian kuesioner, kegiatan sosialisasi jamu dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat sebesar 60% mengenai khasiat dan pentingnya jamu sebagai minuman kesehatan untuk mendukung sistem imun tubuh selama pandemi COVID-19. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat meningkatkan wawasan dan memberikan motivasi masyarakat untuk mengkonsumsi jamu di tengah wabah virus coron
MODEL PEMBERDAYAAN POTENSI LOKALITA KONTEMPORER MENUJU KEMANDIRIAN EKONOMI
Kemandiran ekonomi menjadi isu yang sangat penting tidak hanya dalam pembangunan nasional tetapi bahkan menjadi salah satu Agenda Pembangunan Global 2030 (sustainable development goals/SDGs). Selama ini, upaya menuju kemandirian ekonomi antara lain ditempuh melalui program pemberdayaan klasik yang masih bertumpu pada tiga pilar pendekatan enabling, protecting, dan empowering. Sebaliknya pemberdayaan  model kontemporer yang memadukan model pemberdayaan klasik dan model kekinian masih sangat langka. Pengabdian ini bertujuan memberdayakan petani berbasis pendekatan lokalita kontemporer menuju kemandirian ekonomi. Metode kegiatan dalam jangka pendek adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan ibu-ibu PKK melalui edukasi kewirausahaan, yang dipadukan dengan kegiatan backstopping, enabling, empowering dan protecting. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa: (1) setelah diberi edukasi tentang kewirausahaan dan sekaligus dilakukan pendampingan, telah berhasil menumbuhkan dan semangat berwirausaha, dari semula yang tidak mencoba bertanam menjadi mau bertanam dengan menerapkan system pertanian hidroponik. Meskipun hasil dipercobaan pertama masih belum memusakan, namun mereka masih semangat untuk terus bersemangat berhidroponik. (2) sebagai upaya untuk menumbuhkan semangat dalam berhidroponik, maka telah disepakti untuk dilakukan loba pertumbuhan tanaman hidroponik antar RT. Tingginya semangt para ibu-ibu ini penting untuk terus dijaga dan ditumbuhkan. Oleh karena itu, kegiatan yang dilakukan selanjutnya adalah mendampingi mereka sampai berhasil menuju perbaikan ekonomi keluarga bahkan menuju pembentukan badan usaha ekonomi RW
PENERAPAN TEKNOLOGI INOVASI PRODUK BERBAHAN DASAR BAMBU DI BUAT TUSUK SATE DAN DI KEMBANGKAN MENJADI BESEK
Program studi Teknik Industri Universitas Kadiri merupakan Institusi pendidikan dibidang perindustrian baik suatu produk maupun jasa. Untuk Pengabdian masyarakat ini program Studi Teknik Industri berperan serta membantu warga masyarakat dengan memberikan penyuluhan dan pelatihan untuk membuat produk unggulan di dusun dadapan desa Tinalan serta inovasi pengembangan produk supaya bisa dibuat icon desa dan menjadi terkenal produk unggulannya. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk tusuk sate melalui pemeliharaan konsistensi mutu untuk bisa meningkatkan daya saing pada pasar. Bentuk kongrit upaya meningkatkan pelatihan antara lain dengan memberikan inovasi dan pengembangan produk dengan mendatangkan seorang yang ahli membuat besek untuk pelatihannya,Tujuan pengabdian masyarakat yakni Memberikan penyuluhan dan pelatihan pembuatan besek, memberikan pengetahuan menjaga konsistensi suatu produk, menjelaskan cara pengembangan produk, penyuluhan tentang inovasi tusuk sate yang berkualitas. Metode dilakukan dengan Penyuluhan tentang pengembangan produk tusuk sate yang akan dikembangkan mejadi besedan dikembangkan menjadi produk yang mempunyai nilai lebih tinggi dan pelatihan pembuatan besek secara langsung oleh Pelatih dari Pringgodani Art. Hasil dari pengabdian masyarakat ini adalah Setelah diberikan penyuluhankepada warga desasecara langsung, sasaran mampu memahami tentang pentingnya kualitas suatu produk dan bisa meningkatkan kualitas besek dan bisa menambah pendapatan serta untuk memenuhi kehidupan sehari-har
UJI IRITASI GEL LENDIR BEKICOT (Achatina fulica) SECARA HISTOPATOLOGI
Latar Belakang: Lendir bekicot (Acahtina fulica) mengandung glikokonjugat kompleks yaitu glikosaminoglikan dan proteoglikan yang memiliki banyak fungsi diantaranya dapat menyembuhkan luka. Salah satu syarat sediaan topikal yang baik adalah tidak mengiritasi kulit. Sediaan topikal yang mengiritasi kulit justru akan memperparah kondisi pada kulit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji mutu fisik dan efek iritasi dalam sediaan gel dari perbedaan konsentrasi lendir bekicot. Metode: Lendir bekicot diformulasikan dalam bentuk sediaan gel menggunakan gelling agent karbopol 940 dengan perbedaan konsentrasi dari lendir bekicot 10%, 15%, dan 20%. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh mutu fisik sediaan gel dengan perbendaan konsentrasi lendir bekicot. Hasil uji iritasi secara mikroskopis dari skor indeks pada preparat histologi kulit tikus jantan yang diwarnai dengan Hematoxillyn eosin menghasilkan bahwa sediaan gel pada formula 1 dan 2 sedikit mengiritasi serta pada formulasi 3 menghasilkan sediaan gel dengan iritasi sedang. Simpulan: dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbedaan konsentrasi lendir bekicotengan rentang 10 – 20% tidak mempengaruhi hasil uji mutu fisik dan penggunaan lendir bekicot sampai dengan kadar 15% aman digunakan
Pendidikan Kesehatan tentang Penggunaan Antibiotik secara Tepat dan Efektif sebagai Upaya Mengatasi Resistensi Obat
Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat, bahkan berlebihan dan dalam jangka waktu panjang menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Dimana resistensi ini akan menyebabkan tidak terhambatnya pertumbuhan bakteri dengan pemberian antibiotik secara sistemik dengan dosis normal. Tujuan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah memberikan pendidikan kesehatan tentang pengertian, penggunaan, dan akibat dari pemakaian antibiotik yang tidak bijak. Sasaran kegiatan ini adalah mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, dimana mahasiswa sering mengeluh beberapa penyakit ringan akibat dari bakteri seperti diare, sakit gigi, wajah berjerawat dan lain-lain. Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat ini adalah dengan dilakukan pretest, sosialisasi dan posttest. Pretest dengan cara mahasiswa target menjawab pertanyaan di google form tentang pengetahuan awal terkait antibiotik; sosialisasi dengan metode pemberian pendidikan kesehatan (penyuluhan), diskusi dan tanya jawab. Selanjutnya dilakukan posttest dengan menjawab pertanyaan di google form sebagai evaluasi keberhasilan kegiatan. Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa hasil pretest pada tingkat pengetahuan rendah sebesar 60,8%, tingkat pengetahuan sedang sebesar 34,2% dan tingkat pengetahuan tinggi sebesar 6%. Sedangkan pada hasil posttest didapatkan bahwa tingkat pengetahuan rendah sebesar 6,7%, tingkat pengetahuan sedang sebesar 36,6% dan tingkat pengetahuan tinggi sebesar 56,7%. Kesimpulan dari pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat bahwa terdapat perubahan yang signifikan tingkat pengetahuan yang rendah dan tinggi, baik sebelum dan sesudah pendidikan Kesehatan. Hal ini menunjukkan mahasiswa telah memahami penggunaan antibiotik dengan tepat dan efektif
Aplikasi SEDEKA ( Sistem Dokumentasi Kesehatan Masyarakat ) Dalam Rangka Mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)
Latar Belakang : Upaya peningkatan kesehatan dapat dilaksanakan melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dengan pemeriksaan kesehatan secara berkala terutama pada usia lanjut yang rentan terhadap penyakit menular maupun tidak menular. Tujuan : Untuk meningkatkan upaya promotif dan preventif serta pemantauan kesehatan pada lansia di Desa Lerep, Ungaran Kabupaten Semarang dengan melaksanakan pemeriksaan rutin serta monitoring kesehatan sehingga tercipta peningkatan kualitas hidup sehat lansia menggunakan aplikasi SEDEKA. Metode :  Sosialisasi materi tentang penyakit degeneratif dan aplikasi SEDEKA serta pretes postes pada 44 peserta posyandu lansia. Selain itu juga dilaksanakan pengukuran tekanan darah dan kadar gula darah peserta. Nilai pretes dan postes dianalisis untuk mengevaluasi prosentase tingkat pemahaman lansia terhadap materi. Hasil:  Pengamatan yang dilakukan sebelum kegiatan, monitoring dan dokumentasi kesehatan oleh penderita belum dilakukan secara baik, sehingga perlu adanya sistem dokumentasi yang dapat membantu lansia untuk memonitor kesehatannya. Berdasarkan hasil evaluasi pretes dan postes, peserta posyandu lansia memiliki peningkatan pemahaman menjadi “BAIK bahkan “SANGAT BAIK†diikuti peningkatan prosentase nilai pemahaman materi pada materi hipertensi sebanyak 100%, materi diabetes mellitus 27,88% dan hiperkolesterolemia 80,60%. Kesimpulan : Kegiatan sosialisasi ini mampu memberikan efek positif terhadap pemahaman penyakit degeneratif peserta posyandu lansia