Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
892 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DENGAN INTENSITAS PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA LAKI-LAKI DI BANDA ACEH
Merokok merupakan suatu kebiasaan yang memberikan kenikmatan tersendiri bagi perokok, namun di lain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi perokok maupun orang-orang disekitarnya. Banda Aceh adalah salah satu kota yang mayoritas penduduknya memiliki kebiasaan merokok, kebiasaan merokok tersebut bukan hanya didominasi oleh orang dewasa namun juga didominasi oleh remaja. Salah satu faktor yang membuat remaja di Banda Aceh tidak mampu mengatur intensitas perilaku merokoknya adalah rendahnya kontrol diri pada remaja tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan intensitas perilaku merokok pada remaja laki-laki di Banda Aceh. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling. Sampel penelitian berjumlah 329 orang yang terdiri dari remaja laki-laki usia 15-17 tahun dari enam belas Sekolah Menengah Atas Negeri di Banda Aceh. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Kontrol Diri yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan teori Tangney, Baumeister dan Boone (2004) dan tipe perilaku merokok oleh Sitepoe (dalam Sari, Ramdhani & Eliza, 2003).
Hasil analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson menunjukkan koefisien korelasi (r) sebesar -0.819 dengan nilai p = 0.000 (p<0.05). Hal ini diartikan bahwa terdapat hubungan negatif antara kontrol diri dengan intensitas perilaku merokok pada remaja laki-laki di Banda Aceh. Semakin tinggi kontrol diri, maka semakin rendah intensitas perilaku merokok pada remaja laki-laki di Banda Aceh tersebut
EFEKTIVITAS PERMAINAN TRADISIONAL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA ANAK USIA DINI
Keterampilan sosial memiliki peranan penting bagi individu agar menjadi orang yang mempunyai kesadaran sosial dan mudah menyesuaikan diri sehingga dapat diterima secara sosial. Keterampilan sosial harus dikembangkan dan dibina selama proses pendewasaan. Jika dibiarkan tanpa adanya pembinaan yang baik, dapat memungkinkan bagi individu tersebut untuk berperilaku dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan norma masyarakat. Pada dasarnya, anak-anak belajar melalui permainan karena tidak ada cara lain bagi mereka untuk mencapai segala hal yang secara normal harus mereka capai. Bermain merupakan faktor terpenting dalam kegiatan pembelajaran, dimana esensi bermain harus menjadi jiwa dari setiap kegiatan pembelajaran anak usia dini. Bermain secara langsung mempengaruhi seluruh wilayah dan aspek perkembangan anak. Namun sayangnya saat ini pola bermain anak banyak tergeser dari permainan tradisional kepada permainan digital. Penelitian ini dilakukan untuk melihat efektivitas permainan tradisional dalam rangka meningkatkan keterampilan sosial pada anak usia dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif eksperimental. Desain eksperimen yang digunakan adalah Quasi eskperimental (eksperimen semu) jenis non randomized pre-test-post-testcontrol group design. Analisis data yang digunakan adalah analisis non parametrik uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan tradisional dapat meningkatkan keterampilan sosial anak usia dini
Analisis Pengelolaan Obat Pada Tahap Pengadaan Di Instalasi Farmasi RSUD Gambiran Kota Kediri Tahun 2016
Drug management is an important aspect in pharmaceutical services. Drug procurement is one stage in the hospital drug management. The purpose of this study is to obtain an overview and analyze drug procurement in pharmacy department of RSUD Gambiran Kota Kediri period 2016.
This research is a descriptive study with data collection by retrospective based on period 2016 for primary data and for secondary data interview with relevant department drug management on procurement analyzed by Depkes RI and research results before.
The result showed that the drug procurement in RSUD Gambiran Kota Kediri using the financial resources BLUD, DAU and DBHCT with direct method and E-procurement. The results analysis drug procurement shows: percentage of the funds available at the overral required 99,12%, percentage of the allocation drug procurement 16,53%, frequency of the procurement of each drug items 4 times/ year by 94,96%, 16 times/ year by 7,73% and 32 times/ year by 3,22%, and long delays payment to the specified time 22 day.Pengelolaan obat merupakan aspek penting dalam pelayanan kefarmasian.Tahap pengadaan merupakan salah satu tahap dalam pengelolaan obat di rumah sakit.Tujuan penelitian ini adalah memperoleh gambaran dan menganalisis pengelolaan obat tahap pengadaan di instalasi farmasi RSUD Gambiran Kota Kediri tahun 2016.
Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif tahun 2016 untuk data sekunder dan disertai wawancara dengan pihak terkait untuk memperoleh data primer.Pengelolaan obat pada tahap pengadaan dianalisis dengan menggunakan indikator yang ditetapkan Depkes RI dan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap pengadaan obat di RSUD Gambiran Kota Kediri menggunakan sumber dana BLUD (Dadan Layamam Umum Daerah), DAU (Dana Alokasi Umum) dan DBHCT (Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau) dengan metode pengadaan secara penunjukan langsung dan E-procurement. Hasil analisis tahap pengadaan menunjukkan persentase dana yang tersedia dengan keseluruhan dana yang dibutuhkan 99,12%, persentase alokasi dana pengadaan obat 16,53%, persentase jumlah item obat yang diadakan dengan yang direncanakan 76,41%, frekuensi pengadaan tiap item obat 4 kali/ tahun sebesar 94,96%, 16 kali/ tahun sebesar 7,73% dan 32 kali/ tahun sebesar 3,22%, lama tertundanya pembayaran oleh pihak rumah sakit terhadap waktu yang telah ditentukan 22 hari
Analisis Kesesuaian Biaya Riil Terhadap Tarif INA-CBGS Pada Pengobatan Stroke Non Hemoragik Pasien JKN Rawat Inap RSUD Dr. Soehadi Prijonegoro Sragen Tahun 2015
Stroke is one of the degenerative diseases and is also the number one cause of death in Indonesia. Enforcement INA-CBGs (Indonesia Case Based Groups) on the financing of the hospital for stroke patients in need of treatment planning and cost analysis for a costly stroke so that the hospital can make cost savings and is expected to be a solution in controlling health care costs. The purpose of this study was to determine treatment pattern of non-hemorrhagic stroke, correlation between real cost to INA-CBG's cost, and factors affecting the real cost.
This study was an observational research, the data was taken retrospectively from the document of national health insurance claim in January-June 2015 period. The descriptive analysis is used for patient characteristic and real cost, the data analysis was conducted using one sample t-test to compare the real cost and INA-CBG’s tariff, correlational test to find out the factors affecting the real cost.
The results showned that treatment pattern were citicoline (35,31 %), clopidogrel (26,02 %), amlodipin (7,06 %), simvastatin (5,20 %). Analysis using one sample t-test obtained severity I treatment class 3 Rp. 1.066.143,-, severity II treatment class 3 Rp. 766.848,-, dan severity III treatment class 3 Rp. 931.119,-. Factors that affect were secondary diagnosis, severity, treatment class and LOS.Stroke termasuk salah satu penyakit degeneratif dan juga penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Pemberlakuan INA-CBG’s (Indonesia Case Based Groups) pada pembiayaan rumah sakit bagi pasien stroke membutuhkan perencanaan pengobatan dan analisis biaya karena stroke memerlukan biaya yang tinggi sehingga rumah sakit dapat melakukan penghematan biaya dan diharapkan mampu menjadi solusi dalam pengendalian biaya pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengobatan pada pasien stroke non hemoragik, kesesuaian antara biaya rill dengan tarif INA-CBGs dan faktor-faktor yang mempengaruhi biaya riil.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional, data diambil secara retrospektif dari berkas klaim jaminan kesehatan nasional periode Januari-Juni 2015. Analisa deskriptif digunakan untuk karakteristik pasien dan biaya rill, analisis data menggunakan one sample t test untuk membandingkan biaya riil dengan tarif INA-CBGs, uji korelasi untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap biaya riil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengobatan digunakan citicoline (35,31%), clopidogrel (26,02%), amlodipin (7,06%), simvastatin (5,20%). Dari analisis one sample t-test diperoleh pada pasien tingkat keparahan I kelas 3 didapatkan rata-rata selisih biaya sebesar Rp. 1.066.143,-, tingkat keparahan II kelas 3 Rp. 766.848,-, dan tingkat keparahan III kelas 3 Rp. 931.119,-. Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya riil adalah diagnosis sekunder, tingkat keparahan, kelas perawatan dan LOS (Length of Stay)
Pengaruh Perendaman dalam Seduhan Teh Hijau Selama Tiga Hari Pasca Pengasinan terhadap Kadar Kolesterol Kuning Telur
Telur asin merupakan bahan makanan yang disukai oleh masyarakat tetapi mengandung kolesterol yang tinggi. Tingginya kadar kolesterol pada telur asin ini apabila dikonsumsi terus menerus akan memicu penyakit seperti tekanan darah tinggi atau hipertensi, penyakit jantung, dan stroke. Kolesterol di dalam tubuh manusia dapat diturunkan kadarnya dengan mengkonsumsi teh hijau, karena di dalam teh hijau mengandung senyawa tanin dan flavonol.
Metode pembuatan telur asin pada penelitian ini dilakukan dengan memeram telur itik dalam media campuran bata merah dan pasir dengan penambahan bumbu bawang putih kemudian diperam selama 12 hari, selanjutnya direndam ke dalam media seduhan teh hijau dengan variasi konsentrasi (0, 2 dan 4)%, selama 3 hari. Telur asin hasil olahan ditentukan kadar NaClnya dengan metode Argentometri Mohr dan kadar kolesterol dengan metode Spektrofotometriseterusnya dihitung prosentase penurunan kadar kolesterol telur asin olahan terhadap telur itik mentah.
Hasil penelitian menunjukkan besarnya kadar NaCl telur itik mentah, telur asin dalam seduhan teh hijau 3 hari dengan variasi konsentrasi (0%, 2% dan 4%), berturut-turut adalah : 0,668 %; 2,785%; 2,615% dan 2,634%; sedangkan kadar kolesterol berturut-turut sebesar 513,33 mg/100g; 618,33 mg/100g; 386,67 mg/100g dan 362,67 mg/100g. Prosentase penurunan kadar kolesterol terhadap telur itik mentah pada konsentrasi teh hijau (0, 2 dan 4) % adalah 16,98 %; 37,47% dan 41,35%. Analisis Statistik Anova menunjukkan ada perbedaan kadar kolesterol secara nyata pada semua media pengasinan. Perendaman dalam seduhan teh hijau 4% selama 3 hari berperan paling besar dalam menurunkan kadar kolesterol pada telur asin
Integrasi Metode ABC dan Multi Item EOQ with Discount dalam Pengendalian Persediaan Obat Dispensing
Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh apotek, termasuk di apotek XYZ adalah persediaan. Selama ini permintaan obat dispensing oleh dokter, bidan maupun klinik kesehatan di apotek XYZ cukup tinggi, namun hal itu tidak diimbangi dengan manajemen pengendalian persediaan yang baik. Pengelola apotek belum melakukan perhitungan secara khusus untuk mengetahui obat mana yang memerlukan pengawasan secara ketat dalam hal persediaan, berapa ukuran pemesanan yang sebaiknya dilakukan serta kapan waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan kembali sehingga tidak terjadi stock out. Penelitian ini bertujuan membuat model pengendalian persediaan obat yang mampu memberikan kinerja yang lebih baik dalam sistem pengendalian obat di apotek. Secara umum, prosedur pengendalian persediaan obat pada penelitian ini dibagi dalam dua tahap, yaitu: (1) klasifikasi obat dengan metode ABC, dan (2) penentuan jumlah optimum pemesanan obat menggunakan model EOQ multi item dengan diskon kuantitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan sistem pengendalian persediaan yang saat ini dilakukan di apotek, total biaya persediaan per tahun mencapai Rp 1.105.480.000,-. Berdasarkan rancangan sistem persediaan yang dilakukan dalam penelitian ini, total biaya persediaan per tahun mencapai Rp 1.085.780.000,-. Dengan kata lain, rancangan sistem pengendalian persediaan obat dispensing mampu menurunkan total biaya persediaan per tahun sebesar Rp 19.700.000,- atau sekitar 1,78%
Toksisitas Akut Ekstrak Sembukan (Paederia scandens (Lour.) Merr. pada Mencit (Mus musculus L.) Galur Swiss
Sembukan (Paederia scandens (Lour.) Merr. belonging to Rubiaceae family that grows wild, sometimes was used as animal feed and traditional herbal medicine. Therefore, it is important to determine the safety of sembukan when consumed or used as a herbal medicine. This study aimed to determine the potential acute toxicity of the extract of sembukan using Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 423 method which measured the clinical symptoms caused, and histopathologic of liver, kidney, and heart disease due to oral administration.
Fifteen female Swiss Webster mouse weighing 25-35 gram used in this study. The procedure of this study followed the OECD method 423 using an initial dose of 300 mg/kg BW sembukan extract. Histopathological examination was done hematoxylin-eosin staining. The observation of histopathology and clinical toxicity symptoms were analyzed descriptively, while data changes on body weight of animals, organ weights, and the amount of feed intake was analyzed statistically.
The results showed sembukan extract is safe to use. According to the Globally Harmonized System Classification (GHS), the potential for acute oral toxicity of the extract sembukan included in category 5 (not clarified) with LD50 cut-off > 2000-5000 mg/kg BW. Giving the test preparation did not affect body weight, feed intake, clinical symptoms of toxicity,and there was no pathological changes in the heart organ.Sembukan (Paederia scandens (Lour.) Merr. termasuk familia Rubiaceae yang tumbuh liar, dapat dikonsumsi sebagai pakan ternak dan obat herbal tradisional. Oleh karena itu perlu diketahui keamanan penggunaan sembukan. Uji ini bertujuan untuk mengetahui potensi ketoksikan akut dari ekstrak sembukan dengan menggunakan metode Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 423, gejala klinis yang ditimbulkan, serta gambaran histopatologis organ hati, ginjal, dan jantung akibat pemberian oral.
Lima belas ekor mencit betina galur swiss dengan berat 25-35 gram digunakan dalam penelitian ini. Prosedur penelitian mengikuti metode OECD 423 dengan menggunakan dosis awal 300 mg/kg BB ekstrak sembukan. Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Hasil pengamatan histopatologi dan gejala ketoksikan klinis dianalisa secara deskriptif, sedangkan data perubahan BB hewan uji, bobot organ, dan jumlah asupan pakan dianalisis statistik.
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak sembukan aman digunakan. Menurut Globally Harmonized Classification System(GHS),potensi ketoksikan akut oral ekstrak sembukan termasuk dalam kategori 5 (tidak terklarifikasi) dengan LD50 cut off > 2000 – 5000 mg/kg BB. Pemberian sediaan uji tidak mempengaruhi berat badan, asupan pakan, gejala ketoksikan klinis, dan tidak ada perubahan patologi pada organ jantung
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Tapak Dara (Catharantus roseus (L.) G. Don.) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa
Tingkat mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, dapat memicu peningkatan potensi kecelakaan sehingga berakibat terjadinya luka. Luka tersebut jika tidak dirawat dengan benar maka akan sangat rentan mengalami infeksi kulit. Infeksi kulit umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Seiring dengan perkembangan teknologi, tanaman Tapak Dara (Catharantus roseus (L.) G. Don.) sekarang ini mulai diminati sebagai alternatif antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun Tapak Dara (Catharantus roseus (L.) G. Don ) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa dan mengetahui konsentrasi yang mempunyai daya hambat terbesar.
Daun Tapak Dara diperoleh dari Desa Ngumpen, Karangpandan, Jawa Tengah. Daun yang digunakan adalah daun berwarna hijau dan masih segar, tidak terkena hama serta saat tanaman mulai berbunga. Sebanyak 200g serbuk daun Tapak Dara diekstraksi dengan metode perkolasi dengan pelarut etanol 70%. Perkolat kemudian ditambahkan Aquadest steril dan dibuat seri konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Selanjutnya dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa secara difusi. Data diameter daya hambat dianalisis uji Anova 2 arah (Two Way Anova) dan diuji lanjut dengan uji SNK (Student- Newman- Keulis).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun Tapak Dara mempunyai aktivitas antibakteri yang sama terhadap bakteri Staphylococcus aureus maupun Pseudomonas aeruginosa. Ekstrak daun Tapak Dara (Catharantus roseus (L.) G. Don ) padakonsentrasi 100% mempunyai aktivitas antibakteri paling baik terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa dengan diameter zona hambat sebesar 26,67 mm dan 25,67mm
Uji Bakteriologis Susu Kedelai di Mojosongo Surakarta
Susu kedelai merupakan produk olahan dari kedelai yang banyak dikonsumsi masyarakat, terutama bagi yang alergi susu sapi karena tidak mampu mencerna laktosa yang terkandung dalam susu sapi. Pengolahan susu kedelai yang tidak baik dapat menyebabkan munculnya bakteri coliform yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang memberikan gambaran mengenai kualita bakteriologis susu kedelai yang ada di Mojosongo Surakarta, dengan menggunakan tabel Most Probable Number (MPN) dengan ragam 3.3.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari lima sampel yang digunakan, 2 sampel tidak mengandung bakteri coliform dengan nilai MPN 0/100 ml sampel. Ketiga sampel lainnya mengandung coliform dengan nilai MPN berturut-turut 93/100 ml sampel, 43/100 ml sampel dan 93/100 m lsampel. Hal ini disebabkan karena bahan baku (air, kedelai) yang digunakan, prosessing dan sanitasinya kurang baik
Analisis Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronik di RSUD Dr. Moewardi Surakarta
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)merupakan penyakit paru kronik bersifat irreversibel atau reversibel parsial yang banyak diderita oleh masyarakat. Penyakit ini ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran nafas yang tidak sepenuhnya reversible. Salah satu penatalaksaan penyakit paru obstruktif kronik adalah pengobatan dengan antibiotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penggunaan antibiotik penyakit paru obstruktif kronik di RSUD Dr. Moewardi.
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data sekunder penggunaan antibiotik dengan mengamati laporan penggunaan obat antibiotik tiap bulan di Instalasi Farmasi RSUD Dr. Moewardi. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji parametrik (one way ANOVA).
Hasil analisis data menunjukkan antibiotik yang sering digunakan pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik adalah (1) ceftriaxone injeksi 1000 mg, (2) ceftazidimie injeksi 1000 mg, (3) ciprofloxacin tablet 500 mg, (4) gentamycin injeksi 40 mg, (5) azytromycin tablet 500 mg dan (6) cefixime tablet 100 mg. Presentase antibiotik ini pun selalu mengalami peningkatan dan penurunan di tiap triwulannya. Presentasi penggunaan antibiotik tiap triwulannya menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan