Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
    892 research outputs found

    ANALISIS FERRO SULFAT DARI LIMBAH BESI

    Full text link
    Iron Deficieny Anemia (IDA) is one of msjor micronutrient deficiency in Indonesia. IDA is that Indonesian people suffered from 100 million of population. One of the correct ways IDA problems is suplementation with ferrous sulfate. To can use raw material farmacy, it must fulfilquality standart in Indonesia Pharmacope Edition IV.The aims of research is producing, purification and analyses ferrous sulfate from iron waste. Producing of ferrous sulfate is reacting iron waste with acid sulfuric 25% during 2 days. Separated and purification crystal with recrystalyzation then determination with SEM-EDS analysis. The obtain of research shows ferrous sulfate content Fe 54,46%, O 33,55% and S 11,99%. These results show that ferrous sulfate from iron waste fulfil quality standart in Indonesia Pharmacope.Anemia Gizi Besi(AGB) merupakan salah satu masalah gizi utama yang terjadi di Indonesia. AGB diderita penduduk Indonesia sekitar 100 juta jiwa. Salah satu upaya penanganan AGB adalah suplementasi dengan ferro sulfat. Untuk dapat digunakan sebagai bahan sediaanfarmasi harus memenuhi syarat mutu yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Edisi IV. Penelitian ini bertujuan untuk membuat, memurnikan dan mengkarakterisasi ferro sulfat dari limbah besi. Pembuatan dilakukan dengan mereaksikan limbah besi dengan Asam sulfat 25% selama 2 hari. Kristal dipisahkan dan dimurnikan dengan rekristalisasi, kemudian dikarakterisasi dengan analisis SEM. Hasil penelitian menunjukkan ferro sulfat mengandung Fe sebesar 54,46%, O sebesar 33,55% dan S sebesar 11,99%. Hasil ini menunjukkan bahwa ferro sulfat dari limbah besi bengkel bubut memenuhi standar mutu yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia

    Analisa Pengaruh Adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah terhadap Kadar Chrom pada Limbah Batik Pabrik di Kabupaten Pekalongan

    Full text link
    Waste water originating from batik production is one potential source of water pollution. This is because of batik production of waste water containing organic compounds are quite high, contain chemical compounds that contain dangerous and pathogenic microorganisms that can cause disease. Waste is a heavy metal chromium Cr (VI), which is one type of hazardous waste, can be derived from batik industry, metal plating (electroplating), and tannery (leather tanning). The concentration of chromium was done in the waste analysis before and after experiencing batik processing and industrial wastewater in a river after passing around pabrik. Penetapan chromium content visible spectrophotometer method using Difenilkarbazida. At the preliminary examination that pH of treated wastewater does not meet the requirements of waste water quality standard is five, and also chromium levels that still exceed the Central Java Provincial Regulation No. 10 Year 2004 water quality standards and batik textile industrial waste that is 10.1181 mg / L and after passing through two kilometers of the river flow is still too high at 7.6277 mg / L.Air limbah yang berasal dari produksi batik merupakan salah satu sumber pencemaran air yang potensial. Hal ini disebabkan karena air limbah produksi batik mengandung senyawa organik yang cukup tinggi, mengandung senyawa-senyawa kimia yang berbahaya serta mengandung mikroorganisme pathogen yang dapat menyebabkan penyakit. Chrom merupakan Limbah logam berat Cr(VI), yang merupakan salah satu jenis limbah berbahaya, dapat berasal dari industri batik, pelapisan logam (electroplating), dan penyamakan kulit (leather tanning). analisa konsentrasi chrom dilakukan pada limbah batik sebelum dan sesudah mengalami pengolahan pada IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah) suatu industri serta setelah melewati aliran sungai sekitar pabrik. Penetapan kadar Chrom dengan metode Spektrofotometer Visibel menggunakan Difenilkarbazida pada panjang gelombang maksimal hasil scanning yaitu 541 nm. Dari kurva standar larutan chrome pada konsentrasi 2-6 mg/L versus serapan larutan standart Chrome diperoleh persamaan regressi Y = 0,112 x – 0,009 dengan koefisien korelasi (r) = 0,9949. Persamaan ini digunakan pada penetapan kadar Chrome pada air limbah. Pada pemeriksaan pendahuluan diperoleh kadar Chrome pada air limbah sebelum diolah 16,6747 mg/L dan pH nya 14. Setelah diolah pH dari air limbah adalah 5, dan kadar Chrom yang masih melebihi Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004 baku mutu air limbah industri tekstil dan batik yaitu 10,1181 mg/L dan setelah melewati 2 km aliran sungai juga masih tinggi yaitu 7,6277 mg/L

    768

    full texts

    892

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇