Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
892 research outputs found
Sort by
UJI AKTIVITAS ANTIHIPERGLIKEMIK EKSTRAK ETANOL DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L) PADA MENCIT PUTIH YANG DIINDUKSI ALOKSAN
Diabetes mellitus is a chronic disease that caused of decreasing insulin production at Pancreatic β cell or insulin production which not effective. The purpose of this research was proving catappa’s leaves extract (Terminalia catappa L) have an activity to decrease blood glucose levels trough diabetics on effective doses. The prominent goal may achieved was obtaining efficacious natural medicine of anti-diabetes and knowing the effective doses of catappa’s leaves extract (Terminalia catappa L) as anti-diabetes.
This Anti-hyperglycemic research is using mice as many as 30 mice. The activity experiment of anti-diabetes was executed to 6 treatment groups, there are Group I (normal control), Group II negative control (alloxan induced 180 mg/kgBW and aquadest), Group III (alloxan induced and catappa’s leaves extract 75 mg/kgBW), Group IV (alloxan induced and catappa’s leaves extract 150 mg / kgBW), Group V (alloxan induced and catappa’s leaves extract 300 mg/kgBW), and Group VI (positive control that given by alloxan induced and glibenclamide 10mg/kgBW). All of the treatment group was given with that treatment for 14 days and were carried measurement of blood glucose levels on days 0, 3, 10, 17. The leaf extract anti-diabetes activities shown by calculating hypoglycemic capacity of each treatment.
The result of this research showed that the ethanol extract of catappa’s leaves have anti-hyperglycemic activities on mice that alloxan induced. At the doses of ethanol extract of leaves of catappa 300 mg/kgBW have effectively anti-hyperglycemic activities than doses of 150 mg/kgBW and 75 mg/kgBW that was comparable with positive control groupDiabetes melitus adalah penyakit kronik yang disebabkan karena penurunan produksi insulin pada sel β pankreas atau pruduksi insulin yang tidak efektif. Daun ketapang (terminalia catappa l) diduga memiliki aktivitas antihiperglikemik sehingga penelitian bertujuan untuk membuktikan ekstrak daun ketapang (Terminalia catappa L) memiliki aktivitas menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes pada dosis yang efektif. Target khusus yang ingin dicapai adalah memperoleh obat alam berkhasiat antidiabetes dan mengetahui dosis efektif ekstrak daun ketapang (Terminalia catappa L) sebagai antidiabetes.
Penelitian antihiperglikemik menggunakan mencit putih sebanyak 30 ekor. Pengujian aktivitas antidiabetes dilakukan pada 6 kelompok perlakuan yaitu kelompo I (kontrol normal), kelompok II kontrol negatif (induksi aloksan 180 mg/kgBB dan aquadest), kelompok III (induksi aloksan dan ekstrak daun ketapang 75 mg/kgBB), kelompok IV (induksi aloksan dan ekstrak daun ketapang 150 mg/kgBB), kelompok V (induksi aloksan dan ekstrak daun ketapang 300 mg/kgBB), dan kelompok VI kontrol positif (induksi aloksan dan glibenklamid 10mg/kg BB). Semua kelompok perlakuan diberikan perlakuan tersebut selama 14 hari dan dilakukan pengukuran kadar gula darah pada hari ke 0, 3, 10, 17. Aktivitas antidiabetes ekstrak daun ketapang ditunjukkan dengan cara menghitung daya hipoglikemik masing-masing perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun ketapang mempunyai aktivitas antihiperglikemik pada mencit yang diinduksi aloksan. Pada dosis uji ekstrak etanol daun ketapang 300 mg/kg BB mempunyai aktivitas antihiperglikemik yang efektif dibanding dengan dosis 150 mg/kg BB dan 75 mg/kg BB yang sebanding dengan kelompok kontrol positif
HUBUNGAN PELAKSANAAN CLINICAL PATHWAY TERHADAP LAMA RAWAT INAP DAN KEJADIAN FATAL PASIEN SINDROMA KORONER AKUT
Acute Coronary Syndrome (ACS) is a cardiovascular disease that become a major cause of death until 2020. Standard strategy which summarize the treatment of therapy known as clinical pathways is required caused by the high rate of morbidity and mortality of patients with ACS. This study aimed to determine the relationship of the clinical pathways implementation based on the clinical pathway assessment sheet to the length of stay and number of fatal events in patients with acute coronary syndrome (ACS).
This study was a cross sectional study in patients with ACS (NSTEMI/STEMI) treated in ICCU Hospital Dr. Sardjito. The materials used were ACS patient medical records. The tool used is a data collection sheet and clinical pathways assessment sheet. Making retrospective (February - July 2014) and prospective (August - September 2014). The research subjects are 102 patients were divided into 2 groups (49 patients without variation and 53 patients with variations) based on clinical pathways assessment sheet. Variations obtained from the discrepancy amounted to one/more of the therapeutic management of clinical pathways assessment sheet in the first 24 hours of treatment in ICCU. Data analysis includes analysis of long hospitalization relationship to the implementation of clinical pathways in the two groups using the chi-square test and analysis of the relationship number of fatal events (death, heart failure, stroke, and reinfarction) on the implementation of clinical pathways in the two groups using Fisher's exact test.
The results of this study indicate that the implementation of clinical pathways based on clinical pathways assessment sheet there is no relationship to the length of stay and the number of fatal events in patients with ACS (p>0,05) in ICCU Dr. Sardjito due ACS assessment sheet clinical pathways are less informative and general management of therapy within the first 24 hours in accordance with the patient's clinical pathways for ACS.Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan penyakit kardiovaskuler yang utama menyebabkan kematian hingga tahun 2020. Tingginya angka morbiditas dan mortalitas pasien SKA maka diperlukan strategi yang meringkas standar tatalaksana terapi yang dikenal dengan clinical pathway. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan pelaksanaan clinical pathway berdasarkan lembar penilaian clinical pathway terhadap lama rawat inap dan kejadian fatal pada pasien SKA.
Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional pada pasien SKA (NSTEMI/STEMI) yang dirawat di ICCU RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Bahan yang digunakan adalah catatan medik pasien SKA. Alat yang digunakan adalah lembar pengumpul data dan lembar penilaian clinical pathway SKA. Pengambilan data secara retrospektif (Februari – Juli 2014) dan prospektif (Agustus – September 2014). Subyek penelitian berjumlah 102 pasien yang terbagi 2 kelompok (49 pasien tanpa variasi dan 53 pasien variasi) berdasarkan pada lembar penilaian clinical pathway. Variasi diperoleh dari ketidaksesuaian berjumlah satu/lebih dari tatalaksana terapi pada lembar penilaian clinical pathway dalam 24 jam pertama perawatan di ICCU. Analisa data meliputi analisa hubungan lama rawat inap terhadap pelaksanaan clinical pathway pada kedua kelompok menggunakan uji chi-square dan analisa hubungan kejadian fatal (kematian, gagal jantung, stroke, dan reinfark) terhadap pelaksanaan clinical pathway pada kedua kelompok menggunakan uji Fisher Exact Test.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan clinical pathway yang berdasarkan lembar penilaian clinical pathway tidak terdapat hubungan terhadap lama rawat inap dan angka kejadian fatal pada pasien SKA (p>0,05) di ICCU Dr. Sardjito Yogyakarta dikarenakan lembar penilaian clinical pathway SKA kurang informatif dan secara umum tatalaksana terapi dalam 24 jam pertama telah sesuai dengan clinical pathway pasien SKA
Uji Resistensi Vektor Demam Berdarah Dengue terhadap Insektisida yang Digunakan untuk Fogging dan Abatisasi di Kota Solo
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Virus Dengue yang ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vector yang paling utama dan Aedes albopictus yang merupakan vector sekunder. Tahun 2014 sampai pertengahan bulan Desember tercatat penderita DBD di 34 provinsi di Indonesia sebanyak 71.668 orang dan 641 diantaranya meninggal dunia. Sedikitnya 20 dari 51 Kelurahan yang ada di Kota Solo dinyatakan sebagai daerah endemis Demam berdarah diantaranya yang terbanyak adalah di Wilayah Kelurahan Kadipiro, Mojosongo dan Nusukan. Penggunaan insektisida secara terus menerus akan menimbulkan resistensi sehingga perlu dilakukan penelitian tentang uji resistensi insektisida tersebut.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui resistensi vektor DBD terhadap insektisida yang dipakai untuk fogging dan abatisasi di Kota Solo, manfaat penelitian ini adalah agar hasil yang diperoleh bisa dijadikan evaluasi untuk program pengendalian vektor DBD secara tepat.
Penelitian ini menggunakan eksperimental laboratorium. Insektisida yang digunakan adalah insektisida untuk fogging yaitu malathion sedangkan insektisida untuk abatisasi yaitu abate atau temefos. Uji resistensi yang dilakukan menggunakan metode Biokemis .
Hasil dari penelitian ini adalah Larva Ae.aegypti asal daerah lokasi 1 (Kelurahan Mojosongo) dikategorikan rentan karena nilai rerata AV kurang dari nilai cut off positive, sedangkan larva Ae.aegypti asal daerah lokasi 2) dikategorikan rentan dan larva Ae.aegypti asal daerah lokasi 3 (Kelurahan Nusukan ) dikategorikan rentan
Aktivitas Antibakteri Perasan Umbi Bawang Putih (Allium sativum Linn.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi secara in vitro
Demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi merupakan salah satu infeksi global diseluruh dunia dan merupakan masalah kesehatan yang serius di negara-negara berkembang seperti di Asia dan Afrika, termasuk di Indonesia. Tingkat resistensi bakteri Salmonella typhi merupakan salah satu permasalahan serius dibidang kesehatan. Bawang putih (Allium sativum Linn.) yang mengandung senyawa allisin dapat berfungsi sebagai antibakteri dengan spektrum yang luas. Maka dari itu, bawang putih diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan resistensi bakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perasan umbi bawang putih (Allium sativum Linn.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Penelitian ini menggunakan bakteri Salmonella typhi yang diberi perlakuan perasan umbi bawang putih dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%. Metode yang digunakan adalah difusi dengan sumuran pada media agar Mueller-Hinton. Masing-masing konsentrasi perasan bawang putih dimasukkan dalam sumuran agar dan dihitung diameter zona hambat pertumbuhan bakteri. Data yang didapat dianalisis secara deskriptif menggunakan Analisis Varians (ANOVA). Rata-rata diameter zona hambat yang paling tinggi yaitu 45,3 mm pada konsentrasi perasan 100% sedangkan pada konsentrasi 20% diperoleh rata-rata diameterzona hambat paling rendah 27,0 mm. Dengan nilai signifikansi 0,000 yang kurang dari á=0,05 pada hasil uji Anova menunjukkan adanya pengaruh antibakteri dari perasan bawang putih dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa perasan bawang putih memiliki potensi sebagai alternatif pengobatan terhadap infeksi bakteri Salmonella typhi. Melihat adanya potensi tersebut, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui daya hambat perasan bawang putih terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi secara in vivo
PENINGKATAN ADVERSITY QUOTIENT (AQ) MELALUI KEGIATAN KEPRAMUKAAN DAN SELF EFFICACY PADA SISWA SMA SURAKARTA
One of the objectives of national education is establishing a formidable human being and character. Adversity quotient is one of the determinants to achieve that aim. Adversity Quotient is the ability, toughness and high fighting spirit at the time met difficulty. Self-confidence, that is known as self-efficacy, and scouts are capable of supporting the increasing ability of adversity quotient of high school students that are expected to form a human character.
This study aimed to determine the level of adversity quotient, the role of scout and efficacy for the increased of adversity quotient on high school students in Surakarta. It also purposes to see the difference Adversity Quotient (AQ) among students who take with students who do not take the scouting. The respondent in this study are 245 the high school students, taken from high schools and vocational schools in Surakarta. Determination of the sample used random cluster sampling technique. Scale was used to collecting data, consists of self-efficacy scale and adversity quotient scale.
The results showed that there was a significant positive correlation between self-efficacy with adversity quotient, indicated by it’s correlation coefficient (r = 0.789; p = 0.000). The results of different test against a group of students who attend and not atend the scouts showed that there was no difference in adversity quotient between the two groups
Efek Antihiperkolesterolemia Ekstrak Etanol Herba Alfafa (Medicago sativa) Pada Tikus Putih Jantan
Hypercholesterolemia is a disorder characterized by an increased concentration of cholesterol in the blood. Alfalfa (Medicago sativa) is one of the plants that are believed to control blood cholesterol. This study aims to determine antihypercholesterolemia effect of herb alfafa ethanol extract and the effective dose.
Test antihypercholesterolemia ethanol extract of herb alfalfa using male Wistar rats as many as 30 individuals were divided into 6 groups. Group 1 (normal control) was given standard feed. Group 2 (negative control) was given CMC Na 0,5%. Group 3 (positive control) was given Simvastatin. Groups 4, 5 and 6 was given herb alfafa ethanol extract 270, 540 and 1080 mg/kg rat. All treatments are given 7 days orally. Induction hypercholesterolemia with high-fat feed a mixture of standard rat food with lard and egg yolk duck (3:1), as well as fructose 1.8 g/kg rat. Induction was given to all groups for 50 days, except for the normal control. Measurement of total blood cholesterol levels was done on days 0, 51 and 58. Cholesterol levels were obtained calculated % decline further tested with SPSS statistical release 16.
The test results showed a statistically significant difference between the negative control group with the ethanol extract of herb Alfalfa three doses. While the comparison between the positive control with the ethanol extract of the herb alfalfa three doses showed no significant differences. It was provided that the ethanol extract of the herb alfalfa could affected antihypercholesterolemia, but not comparable to Simvastatin. The effective dose of ethanol extract of alfalfa as antihypercholesterolemia was 270 mg/kg rat.Hiperkolesterolemia adalah kelainan yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi kolesterol dalam darah. Alfafa (Medicago sativa) merupakan salah satu tanaman yang dipercaya dapat mengendalikan kolesterol darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antihiperkolesterolemia ekstrak etanol herba Alfafa dan dosis efektifnya.
Uji antihiperkolesterolemia ekstrak etanol herba Alfafa menggunakan tikus putih jantan galur Wistar sebanyak 30 ekor yang dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok 1 (kontrol normal) diberikan pakan standart. Kelompok 2 (kontrol negatif) diberikan CMC Na 0,5%. Kelompok 3 (kontrol positif) diberikan Simvastatin. Kelompok 4, 5 dan 6 diberikan ekstrak etanol herba Alfafa 270, 540 dan 1080 mg/kg BB. Semua perlakuan diberikan 7 hari secara oral. Induksi hiperkolesterol dengan pakan tinggi lemak yaitu campuran makanan standar tikus dengan 15% lemak babi dan 5% kuning telur bebek, serta fruktosa 1,8 g/kgBB tikus. Induksi diberikan kepada semua kelompok selama 50 hari, kecuali kontrol normal. Pengukuran kadar kolesterol total darah dilakukan pada hari ke 0, 51 dan 58. Kadar kolesterol yang diperoleh dihitung % penurunan yang selanjutnya diuji statistika dengan SPSS release 16.
Hasil uji statistika menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok kontrol negative, dengan ekstrak etanol herba Alfafa ketiga dosis. Dan terdapat perbedaan yang signifikan juga dengan kontrol positif dengan ekstrak etanol herba Alfafa ketiga dosis. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak etanol herba Alfafa dapat berefek antihiperkolesterolemia, namun belum sebanding dengan Simvastatin. Dosis ekstrak etanol herba Alfafa yang memberikan efek tertinggi sebagai antihiperkolesterolemia adalah 270 mg/kgBB tikus
Evaluasi Uji Hedonik dan Uji Iritasi Sediaan Lotion Minyak Atsiri Daun Cengkeh (Eugenia Aromatic L.)
Clove (Eugenia aromatic L.) is one of the natural subtances that can be used to natural repelan with the biggest metabolite compound eugenol. This study was to determine the quality standardization of clove leaf essential oil compounds and their components. This study aimed to evaluated the lotions hedonic test and lotions irritation test.
Essential oil was obtained by water and steam destillation then analyzed the levels of compounds clofe leaf with GCMS method. Essential oils are used in the preparation obtained lotion with a concentration of 1% (F1), 3% (F2), 5% (F3) and 7% (F4). Observations were done on the organoleptic test, i.e. color, smell, homogeneity, irritation, pH, viscosity, protection ability and hedonist test of formulas Test repelan activity of essential oil. Test data in statistical analysis by one-way ANOVA with a level of 95%.
The research shows that standardization in the clove leaf essential with hedonic test of the clofe leaf essential oil concentration of 7% (F4), with and no irritation reported.Cengkeh (Eugenia aromatic L.) adalah salah satu bahan alam yang dapat digunakan sebagai repelan karena mengandung eugenol.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi uji hedonic dan uji iritasi daun cengkeh dalam sediaan lotion
Minyak atsiri diperoleh dengan destilasi uap dan air (water and steam destillation) yang kemudian dianalisis kadar senyawa eugenol dengan metode GCMS. Minyak atsiri yang didapat digunakan dalam sediaan lotion terbaik dengan konsentrasi1% (F1), 3% (F2), 5% (F3) dan 7% (F4). Pengamatan lotion dilakukan terhadap uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, uji daya lekat, uji daya sebar, uji daya proteksi dan uji hedonik untuk mendapakan lotion dengan profil terbaik. Lotion terbaik kemudian diuji iritasi. Data hasil pengujian di analisis statistik dengan oneway ANOVA dengan taraf kepercayaan 95%.
Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil lotion daun cengkeh dengan hasil hedonik terbaik pada konsentrasi 7% (F4) serta tidak menunjukkan uji iritasi pada kuli
Analisis Perbedaan Tanggung Jawab dan Disiplin Kerja antara Karyawan Tetap dan Karyawan Kontrak pada Laboratorium RSUD Dr. Moewardi
Studi tentang perbedaan tanggung jawab dan disiplin kerja pada karyawan masih menjadi kajian penting dalam organisasi. Obyek penelitian dalam hal ini adalah karyawan tetap dan karyawan kontrak pada laboratorium Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik sampling jenuh dengan jumlah sampel 74 orang. Data dalam penelitian ini diolah dengan menyebar kuesioner kepada responden. Data dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan program SPSS 17. Data diolah dengan uji normalitas dan uji beda dengan test Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukan bahwa tanggung jawab antara karyawan tetap dan karyawan kontrak pada Laboratorium RSUD Dr. Moewardi tidak ada perbedaan yang signifikan, hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi yaitu 0,506 yang lebih besar dari 0,05. Disiplin Kerja antara karyawan tetap dan karyawan kontrak pada Laboratorium RSUD Dr. Moewardi ada perbedaan yang signifikan, hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi yaitu 0.000 yang lebih kecil dari 0,05
Penempatan Tenaga Kerja Berdasarkan Beban Kerja Studi Kasus: PT. XYZ Yogyakarta
PT. XYZ Yogyakarta merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan guci dengan variasi yang beraneka ragam. Pasar produk PT. XYZ tersebar dari pasar lokal hingga pasar luar negeri. Permintaan produk guci yang terus meningkat belum bisa dipenuhi oleh pihak perusahaan. Untuk itu perlu dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan jumlah produksi agar dapat memenuhi permintaan pasar yang cenderung meningkat. Jumlah produksi akan meningkat apabila ada dukungan dan kondisi lingkungan kerja yang baik dan adil. Salah satu usaha yang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan yaitu dengan menentukan alokasi jumlah tenaga kerja yang seharusnya pada setiap elemen kerja. Penempatan jumlah tenaga kerja disesuaikan dengan beban kerja masing-masing stasiun kerja. Penempatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran kerja dan perhitungan waktu baku setiap stasiun kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa waktu baku yang dibutuhkan untuk membuat guci, dan penempatan pekerja berdasarkan beban kerja tiap elemen untuk mencapai kondisi kerja yang mendukung, Hasil penelitian menyimpulkan bahwa untuk proses pembuatan guci dengan tinggi 80 cm, diadakan perubahan penempatan jumlah tenaga kerja dari sistem lama yaitu untuk bagian pembentukan guci dialokasikan sebanyak 3 orang, bagian pembakaran 20 orang, bagian pengecatan 6 orang dan bagian penggosokan, pemeriksaan dan sekaligus pembungkusan sebanyak 1 orang. dan waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu buah guci 58131 detik atau 16, 5 jam
OPTIMALISASI PEMBELAJARAN SISWA MELALUI ALAT PERAGA EDUKATIF
Program Iptek bagi Masyarakat( IbM) dengan judul : “Optimalisasi Pembelajaran Siswa Melalui Alat Peraga Edukatif” merupakan salah satu usulan yang lolos seleksi dan memperoleh pendanaan untuk tahun anggaran 2015. Program ini bertujuan untuk meningkatkan minat dalam belajar siswa dengan cara yang sesuai dengan tahap perkembangannya melalui Alat Peraga Edukatif (APE) sehingga pembelajarannya lebih optimal di kedua mitra. Luaran dari program ini adalah alat peraga edukatif berupa beberapa bangun ruang mika yang dapat dibuka menjadi jaring-jaring, media pembelajaran membaca, media pembelajaran berhitung serta media latihan menggunakan metode brain gym (8 tidur). Selain itu, juga ada beberapa alat pendukung optimalisasi pembelajaran siswa di kedua mitra yaitu: computer, printer dan software pembelajaran calistung, yang juga berfungsi sebagai peraga edukatif interaktif.
Berdasarkan hasil evaluasi target capaian pada akhir program yang dilakukan dengan metode penyebaran kuesioner kepada guru pengampu, pengelola dan beberapa siswa, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan beberapa alat peraga diatas memberikan dampak dalam pembelajaran siswa. Mereka menyatakan bahwa dengan adanya APE tersebut memudahkan dalam memberikan ilmu kepada siswa baik yang normal ataupun berkebutuhan khusus. Selain itu, minat belajar siswa di kedua mitra meningkat