Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
892 research outputs found
Sort by
Deteksi Molekuler Ekson 2 Gen Beta Globin pada Pasien Beta Talasemia Mayor di RSUD DR. Soeroto Ngawi menggunakan Metode Polymerase Chain Reaction- Single Strand Conformation Polimorfism
Beta thalassemia is a hereditary blood disorder that caused by genetic disorder ofglobin gene.The condition leads to red blood cell damage so regular blood transfusion isneeded.This study was aimed to determine the presence of mutations in exon 2 gene beta frombeta globin thalassemia patients using PCR-SSCP method. The DNA was isolated from 5samples and amplified using PCR. The amplified product was characterizaed usingelectrophoresis. Region 2 of beta globin was product of primer forward 4 and primer reverse 5with 350 bp of target size. The PCR products of each region then futher analyzed using SSCPmethod. There was indication of mutation in 1,2,3,and 6 samples whereas no mutation insample 5.Based on the results of research can be concluded that PCR-SSCP method can beused to determine the type and location of mutations in exon 2 genes β globin from βthalassemia.Beta talasemia adalah kelainan darah herediter akibat kelainan genetik pada genglobin.Hal ini menyebabkan kerusakan pada sel darah merah sehingga harus dilakukantransfusi darah secara teratur.Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya mutasi pada ekson 2 gen beta globin daripasien talasemia menggunakan metode PCR-SSCP.Sebanyak 5 sampel diisolasi DNA dandiamplifikasi dengan metode PCR.Selanjutnya hasil amplifikasi dikarakterisasi dengan metodeelektroforesis. Region 2 gen beta globin merupakan hasil amplifikasi dari primer forward 4 danprimer reverse 5 dengan ukuran target 350 bp. Produk PCR dari setiap region kemudiandianalisis lebih lanjut dengan metode SSCP. Hasil analisis menunjukkan terdapat indikasimutasi pada sampel 1,2,3,6 dan tidak terdapat mutasi pada sampel 5Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa metodePCR-SSCP dapat mengetahui jenis dan letak mutasi pada ekson 2 gen β globin dari pasien βtalassemia
Minimalisir Kadar Kolesterol Pada Telur Asin Olahan Dengan Pemanfaatan Media Seduhan Teh Hitam
Tingginya kadar kolesterol dalam tubuh dapat menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit seperti tekanan darah tinggi, jantung, stroke, batu empedu, dan gagal ginjal. Di dalam kuning telur mengandung kolesterol yang tinggi yaitu dengan kolesterol 550 mg setiap 100 gram telur dan termasuk dalam kategori membahayakan.
Usaha untuk meminimalisir kadar kolesterol pada kuning telur asin telah dilakukan yaitu dengan inovasi pembuatan telur asin dengan menggunakan media campuran bata merah dan pasir, diperam selama 12 hari selanjutnya direndam dalam seduhan teh hitam selama 0, 3 dan 6 hari. Telur asin hasil olahan ditentukan kadar kolesterolnya dengan metode spektrofotometri. Sebagai kontrol perlakuan ditetapkan juga kadar kolesterol pada telur itik mentah dan telur asin dipasaran.
Hasil penelitian penurunan kadar kolesterol tertinggi dicapai pada penggunaan media pengasinan dengan perendaman seduhan teh hitam 6 hari, kadar kolesterol sebesar 507,33 mg/100g. Penurunan kadar kolesterol dibandingkan telur mentah dengan kadar kolesterol 611,33 mg/100g maka diperoleh angka penurunan sebesar 17,02 %. Tingkat kesukaan konsumen paling tinggi pada pengasinan dengan perendaman seduhan teh hitam 3 hari dengan skor 3,26.
Analisis Statistik Anova satu jalan menunjukkan ada perbedaan kadar kolesterol secara nyata pada semua media pengasinan dan dapat diketahui bahwa media pengasinan dengan perendaman seduhan teh hitam 6 hari berperan paling besar dalam menurunkan kadar kolesterol pada telur asin
PELATIHAN PEMBUATAN GEL PENGHARUM RUANGAN PENGUSIR NYAMUK HERBAL SEBAGAI UPAYA PERINTISAN HOME INDUSTRI
Indonesia merupakan negara yang terletak di daerah tropis, yang menjadi tempat nyaman untuk berkembangbiaknya nyamuk. Nyamuk merupakan salah satu masalah karena dapat menimbulkan berbagai penyakit dan mengganggu kenyamanan. Salah satu penyakit yang timbul akibat nyamuk adalah demam berdarah dengue (DBD)
Tujuan dari program kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah memberikan pengetahuan tentang pengendalian DBD dan manfaat berbagai tanaman yang akan digunakan sebagai bahan aktif dalam sediaan gel pengharum ruangan sebagai pengusir nyamuk serta memberikan pelatihan bagi ibu-ibu warga RW 20, Nusukan dalam pembuatan gel pengharum ruangan anti nyamuk yang mudah dan murah, sehingga diharapkan dapat menjadi perintisan usaha industry rumah tangga. Metode yang digunakan dalam pengabdian adalah melakukan penyuluhan tentang DBD dan manfaat beberapa tanaman dan pelatihan pembuatan produk gel pengharum ruangan pengusir nyamuk.
Manfaat dari program kegiatan ini adalah menambah pengetahuan warga RW 20 tentang manfaat beberapa tanaman sebagai pengusir nyamuk sebagai sarana pengendalian penularan penyakit DBD, dan untuk meningkatkan kemampuan warga dalam membuat produk gel pengharum ruangan pengusir nyamuk yang mudah dan murah
Pengaruh Variasi Konsentrasi NaOH dan Lama Hidrolisis terhadap Produk Asam Oksalat pada Limbah Batang Pepaya (Carica papaya)
Asam oksalat merupakan bahan kimia yang secara luas digunakan dalam industri produksi tinta, sintesis selulosa pembuatan selluloid dan lain lain. selain keperluan industri asam oksalat juga dapat digunakan sebagai reaktan/reagensia pada berbagai makanan, analisis air, kemurnian zat dan lain- lain. Penelitian pembuatan asam oksalat ini dilakukan dengan menggunakan variasi konsentrasi NaOH dan variasi waktu dari limbah batang pepaya. Tahapan untuk mendapatkan asam oksalat yaitu peleburan limbah batang pepaya, pengendapan dan pengasaman. Tingkat filtrat asam oksalat yang diperoleh ditentukan dengan metode Permanganometri. Hasil tingkat asam oksalat yang diperoleh pada perbandingan limbah batang pepaya dan 20% larutan NaOH (1:1, 1:2, 1:3 dan 1:4) dan panjang waktu hidrolisis dari 45 dan 60 menit berturut turut mengambil bagian: 3.38%; 4.47%; 5,01%; 4.31% dan 5,38%; 5,92%; 6.68%; 5.78 hasil yang terbaik yaitu perbandingan 1:3 dengan waktu peleburan 60 menit yaitu 6.68%
Analisis Pengangkatan Beban Air Galon dengan Pendekatan Fisiologi dan Biomekanika
Industri di Indonesia khususnya industri kecil, banyak yang masih menggunakan manusia sebagai tenaga utama untuk melakukan pekerjaan. Sebagai contoh, Toko Sejahtera yang bergerak dalam bidang pendistribusian air galon. Pekerja di toko tersebut memiliki tugas utama yaitu mengangkat galon dari lantai gudang menuju mobil pick-up. Proses pengangkatan ini perlu dianalisis apakah mengandung resiko cidera atau tidak. Analisis dilakukan dengan pendekatan biomekanika dan fisiologi. Analisis secara biomekanika dilakukan dengan menghitung nilai Recommended Weight Limit dan Lifting Index. Analisis secara fisiologi dilakukan dengan menghitung konsumsi energi yang dikeluarkan untuk melakukan pekerjaan pengangkatan. Hasil perhitungan diperoleh hasil bahwa nilai Lifting Index masing – masing pekerja lebih besar dari 1. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan pengangkatan galon berpotensi menimbulkan cidera tulang belakang. Namun dari hasil perhitungan konsumsi energi diperoleh hasil bahwa konsumsi energi berada pada rentang 2,5 – 5 kkal/menit. Hal ini menunjukkan beban kerja pengangkatan galon masih tergolong ringan.
Kata kunci: konsumsi energi, lifting index, recommended weight limi
PERBEDAAN EMPATI DAN REGULASI EMOSI DALAM PERILAKU BULLYING ANTARA MAHASISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN YANG MENGIKUTI UKM
This study aims to empirically examine the differences in empathy and emotional regulation in bullying behavior among male and female college students following UKM. Subjects in the study in this study were male and female students who participated in UKMMenwa, Mapala, Sekam, and Racana involving 80 students. In this study using purposive sampling techniques and tools used to obtain data is the scale of empathy and the scale of emotional regulation. The result of data analysis with SPSS 15.0 for Windows program obtained the test coefficient of t- (test) on empathy and regulation of male emotion with mean value 124,28 female equal to 113,65 and known coefficient correlation value of emotional regulation and empathy in man Male and female with a coefficient of 0.060 (p> 0.05) indicating no difference in empathy and emotional regulation in bullying behavior between male and female students following UKM. The result of the analysis of difference of male and female empathy is known t men equal to 45,345 and t female equal to 46,816 with value with p value 0.000 (p <0,01) this indicate there is difference of empathy to bullying behavior significant between men and Women, women have the ability to empathize more than men. The result of the analysis of male and female emotional regulation was found t men value of 56,188 and female t value equal to 44,159 with p value 0.000 (p <0,01) this shows there is difference of emotion regulation to bullying behavior that significant between men Men and women who follow UK
RESILIENSI IBU SINGLE PARENT YANG MEMILIKI ANAK AUTIS
Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami mengenai resiliensi ibu single parent yang memiliki anak autis. Adapun penelitian ini memiliki target khusus yaitu ibu single parent yang memiliki anak autis. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Pendekatan ini melakukan abstraksi setelah rekaman fenomena-fenomena khusus nantinya dikelompokkan menjadi satu. Fokus penelitian ini adalah melihat proses terjadinya resiliensi ibu single parent yang memiliki anak autis dan faktor-faktor apa yang mendukung terjadinya hal tersebut. Hasil penelitian ini adalah kedua informan sama-sama memiliki ciri resiliensi antara lain memiliki kontrol, mengetahui cara membentengi diri dari stres, memiliki emosi positif, mampu mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalah dan mampu belajar dari kegagalan maupun kesuksesan. Secara konten, diantara kedua informan tersebut mereka sama-sama memiliki dimensi resiliensi, walaupun secara konteks berbeda berdasarkan pengalaman dan pemaknaan hidup mereka yang unik. Faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi kedua informan relatif sama yaitu: keluarga, lingkungan, sekolah dan komunitas. Namun khusus untuk informan kedua, faktor ketuhanan merupakan sebuah tambahan hal yang dapat mempengaruhi sikap resiliensinya dan justru merupakan faktor terpenting dalam hidupnya
Analisis Penggunaan Obat di RSUD Kota Yogyakarta Berdasarkan Indikator WHO
Prescribing the rational drugs is the main orientation of the health care activity that should be increase in quality. The research objective’s are to analyze of drug use of patient in RSUD Kota Hospital in the march 2010 period based on WHO’s core indicator and complementary indicator. This research is non-experimental, descriptive design, and prospective data collective. The results obtained in RSUD Kota hospital are appropriate with standards WHO percentage of encounter with an antibiotic prescribed 21.89%, and injection 0%, while inappropriate the standards is the average drug items used per encounter 2.33, percentage of drugs prescribed by generic name 29.29% and percentage of drugs prescribed from formulary 83.84%. Patient care indicators, the average dispensing time was 17.59 minutes (non-compounded) and 25.67 (compounded), where 94.29% of drugs are dispensed and no one adequately labeled. Health facility indicators, there was formulary availability, and availability of key drugs 100%. WHO complementary indicators in RSUD Kota Hospital that average drug cost per encounter 50914.60 IDR, with 28.95% cost spent on antibiotics and injections of 0%.Pemberian obat rasional merupakan inti berbagai kegiatan penyelengaraan upaya kesehatan yang harus terus ditingkatkan mutunya. Penelitian bertujuan menganalisis penggunaan obat pasien rawat jalan di RSUD Kota Yogyakarta berdasarkan indikator inti dan indikator komplementer WHO. Penelitian termasuk jenis penelitian noneksperimental, rancangan deskriptif, pengumpulan data secara prospektif. Hasil penelitian yang diperoleh di RSUD Kota Yogyakarta adalah sebagai berikut peresepan yang memenuhi standar indikator inti WHO yakni peresepan antibiotik 21,89%, sediaan injeksi 0%, sedangkan yang belum memenuhi standar rata-rata item obat sebesar 2,33, peresepan dengan nama generik 29,29%, dan peresepan sesuai formularium 83,84%. Indikator pelayananpasien, rata-rata waktu dispensing obat adalah 17,59 menit (non racikan) dan 25,67 (racikan), dimana 94,29% obat diserahkan dan tidak ada yang pelabelannya sesuai standar WHO. Indikator fasilitas kesehatan WHO telah terpenuhi dengan ketersediaan formularium, dan ketersediaan obatobat kuncinya 100%. Indikator komplementer WHO di RSUD Kota yakni rata-rata harga obat sebesar Rp 50914,60, dengan persentase harga obat antibiotik 28,95% dan injeksi 0%
Pengembangan Dan Optimasi Formula Self Mikroemulsi Drug Delivery System (SMEDDS) Kurkumin Untuk Meningkatkan Bioavaibilitas
Curcumin has been shown to have activity as an anti-tumor, anti-inflammatory, anti-viral, anti-oxidizing and anti-HIV. The use of curcumin in a long-term treatment process provides a low toxicity so it is clinically very beneficial to develop. The active ingredient of curcumin derived from curcuma longa plant extract has a very low bioavaiblity. This is due to the poor solubility of curcumin in water (11 ng / ml, pH 5.0) so that it is slightly absorbed in the gastrointestinal tract. This problem can be overcome by making the preparation of curcumin in the form of Self Microemulsion Drug Delivery System (SMEDDS).
Initial studies were screened for the solubility of curcumin with carriers of various types of oils, surfactants and cosurfactants. The screening results continued with the selection of optimum formula SMEDDS kurkumin using Simpelx Lattice Design (SLD) method. Three variables will give 14 SMEDDS curcumin formulas each of which the formula is tested for its characteristics as a critical point include:% transmittance, emulsification time and drug loading. The results of each test were analyzed with Exspert version 7 and continued validation of optimum formula with T test with 95% confidence level.
The results showed that the initial screening of curcumin was found to be the highest solubility in olive oil, Tween 80 surfactant and PEG 400 cosurfactant. The three types of materials were optimized with SLD giving optimum formula of SMEDDS curcumin composition with 0,026 olive oil composition; 0.0913 Tween 80 and 0.061 PEG 400.Kurkumin terbukti memiliki aktivitas sebagai anti-tumor, anti-inflamasi, anti-virus, anti-oksidasi dan anti HIV. Penggunaan kurkumin dalam proses pengobatan jangka panjang memberikan toksisitas yang rendah sehingga secara klinis akan sangat menguntungkan untuk dikembangkan. Kandungan aktif kurkumin yang berasal dari ekstrak tanaman curcuma longa ini mempunyai bioavaiblitas yang sangat rendah. Hal ini berkaitan karena kelarutan kurkumin yang jelek dalam air (11 ng/ml, pH 5,0) sehingga sedikit diserap di saluran pencernaan. Permasalahan ini dapat diatasi dengan membuat sediaan kurkumin dalam bentuk Self Mikroemulsi Drug Delivery System (SMEDDS)
Penelitian awal dilakukan skrining terhadap kelarutan kurkumin dengan pembawa berbagai jenis minyak, surfaktan dan kosurfaktan. Hasil skrining dilanjutkan dengan pemilihan formula optimum SMEDDS kurkumin dengan menggunakan metode Simpelx Lattice Design (SLD). Tiga variabel akan memberikan 14 formula SMEDDS kurkumin yang masing-masing formula dilakukan pengujian terhadap karakteristiknya sebagai titik kritis meliputi : % transmitan, waktu emulsifikasi dan drug loading. Hasil masing-masing pengujian dianalisis datanya dengan Design Exspert versi 7 dan dilanjutnya validasi formula optimum dengan uji T dengan taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skrining awal terhadap kurkumin didapatkan kelarutan yang terbesar pada jenis minyak zaitun, surfaktan Tween 80 dan kosurfaktan PEG 400. Ketiga jenis bahan ini dilakukan optimasi dengan SLD memberikan formula optimum komposisi SMEDDS kurkumin dengan komposisi 0,026 minyak zaitun ; 0,0913 Tween 80 dan 0,061 PEG 400
Analisis Sakarin dalam Jamu Kunyit Asam yang Dijual di Malioboro dan di Pasar Beringharjo Yogyakarta
Jamu merupakan salah satu obat tradisional karena sebagian besar jamu dibuat dengan menggunakan bahanbahan alam atau tumbuhan-tumbuhan. Ada berbagai macam jenis jamu, salah satunya adalah jamu kunyit asam. Dalam komposisi jamu kunyit asam yang beredar mengandung zat tambahan seperti pemanis buatan, seperti diketahui harga jamu kunyit asam di pasaran sangat murah dan terjangkau oleh kalangan masyarakat penikmat jamu. Hal ini menimbulkan kecurigaan, bahwa ada kemungkinan penambahan pemanis buatan pada jamu kunyit asam. Larangan obat tradisional mengandung bahan kimia sudah diatur dalam PERMENKES 007 tahun 2012 tentang registrasi obat tradisional, maka perlu dilakukan penelitian terhadap jamu kunyit asam yang dijual di Malioboro dan di pasar Beringharjo Yogyakarta. Penelitian ini bersifat deskriptif untuk mengetahui ada tidaknya sakarin dalam jamu kunyit asam yang dijual di Malioboro dan di pasar Beringharjo Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kromatografi lapis tipis (KLT). Apabila terdapat bercak noda dan nilai Rf sampel sama dengan nilai Rf baku pembanding maka dikatakan positif mengandung sakarin. Penelitian ini diperoleh nilai Rf sampel 0,5 sampai 0,71 dan terdapat 9 sampel yang memiliki nilai Rf dan fluoresensi yang sama dengan standar sakarin. Nilai Rf standar sakarin 0,63 dan fluoresensi berwarna ungu. Dari penelitian ini dapat disimpulkan terdapat 75% jamu kunyit asam yang dijual di Malioboro dan di pasar Beringharjo Yogyakarta mengandung sakarin