Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
    892 research outputs found

    Gambaran Infeksi Enterobiasis, Ascariasis, Trichuriasis, dan Infeksi Hookworm, pada Murid Sekolah Dasar 03 Plumbon Karanganyar dan Sekolah Dasar Negri Pajang I

    Get PDF
    Infeksi kecacingan termasuk Negleted Tropical Disease. Infeksi dan penyakit yang disebabkan kelompok cacing penting bagi manusia karena seringkali mempunyai dampak serius pada penderita maupun masyarakat. Anak-anak usia sekolah biasanya memiliki intensitas infeksi cacing tertinggi pada semua kelompok usia. WHO mencanangkan progam untuk membebaskan kecacingan pada tahun 2020 setidaknya 75% dari perkiraan 873 juta anak di daerah yang prevalensinya tinggi. WHO melakukan kampanye cacingan pertama di lakukan di mesir tahun 2016 dengan cara membentuk Endemic Disease Departement dan membagikan 4 juta tablet kunyah albendazole dengan tujuan supaya prevalensi parasit intestinal bisa terkurangi dan bisa mencegah komplikasi misalnya diare, anemia, gizi buruk sehingga bisa mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan konsentrasi pada Anak usia sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran infeksi Enterobiasis, Ascariasis, Trichuriasis dan infeksi hookworm pada murid Sekolah Dasar 03 Plumbon Karanganyar dan SDN Pajang I . Metode penelitian menggunakan pendekatan Crossectional . Metode pemeriksaan menggunakan metode pemeriksaan feces secara langsung. Hasil yang didapatkan pada pemeriksaan makroskopis pada sampel feces murid Sekolah Dasar 03 Plumbon Kranganyar dan SDN Pajang I tidak menunjukkan abnormal sedangkan pemeriksaan mikroskopis pada sampel feces murid Sekolah Dasar 03 Plumbon Karanganyar dan SDN Pajang I juga tdk ditemukan adanya parasit, serta persentase untuk Enterobiasis 0 %. Ascariasis 0%, Trichuriasis 0 % dan Hookworm 0%

    Penentuan Kadar Protein Pada Ampas Bir Limbah Industri Pabrik Bir

    Get PDF
    Ampas bir merupakan residu dari limbah industri yang telah diambil sarinya melalui proses pengolahan dengan bahan baku malt yang berasal dari biji barley. Ampas bir oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai susbtitusi pakan untuk ternak. Apabila diperhatikan ampas bir dalam ketersediaan dan kontinuitas pengadaannya sudah mencukupi, sehingga masyarakat bisa lebih mudah dalam mendapatkannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar protein pada ampas bir. Sampel dalam penelitian ini berupa ampas bir yang diperoleh dari distributor ampas bir di Kota Wonogiri. Penentuan kadar protein pada ampas bir yaitu menggunakan metode Gunning. Penentuan kadar protein ini melalui tiga tahap yaitu tahap dekstruksi, tahap destilasi, dan tahap titrasi. Kadar protein pada sampel ampas bir dihitung berdasarkan jumlah Nitrogen dikalikan dengan faktor konversi dari ampas bir yaitu Malt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein pada ampas bir adalah 9,45

    Pemeriksaan Ookista Toxoplasma gondii pada Kemangi (Ocimum basilicum) dan Kubis (Brassica oleracea, L.) di Pedagang Ayam dan Ikan Goreng/Panggang

    Get PDF
    Masyarakat Surakarta banyak yang gemar kuliner. Jenis kuliner yang menjamur salah satunya adalah menu ayam dan ikan goreng/panggang dilengkapi lalapan. Kebiasaan mengkonsumsi lalapan yang kurang bersih merupakan salah satu resiko terinfeksi ookista Toxoplasma gondii. Salah satu jenis lalapan yang disajikan adalah kemangi dan kubis. Tujuan penelitian ini adalah untuk memeriksa adanya kontaminasi ookista Toxoplasma gondii pada kemangi dan kubis di penjual ayam & ikan goreng/panggang di Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini termasuk penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil dari 20 pedagang ayam dan ikan goreng/panggang di Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Pemeriksaan ookista dilakukan dengan metode sedimentasi. Metode ini dipilih karena relatif mudah dan praktis. Dari hasil pemeriksaan diperoleh data bahwa dari 20 (dua puluh) sampel lalapan kemangi terdapat 1 sampel (5%) yang terkontaminasi ookista Toxoplasma gondii, sedangkan dari 20 sampel lalapan kubis tidak ada yang terkontaminasi ookista Toxoplasma gondii. Kata kunci : Toxoplasma gondii, kemangi, kubi

    Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Etanolik Daun Beluntas (Pluchaea indica Less.) dan Meniran (Phyllanthus niruri L.) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

    Get PDF
    Beluntas dan Meniran merupakan tanaman obat tradisional yang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, dan triterpenoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri ekstrak etanolik daun Beluntas dan Meniran terhadap bakteri Staphylococcus aureus.Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini maserasi dengan etanol 96%. Isolasi dan identifikasi bakteri Staphylococcus aureus dengan media VJA (Vogel Johnson Agar), pengecatan gram, uji katalase, dan uji katalase. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanolik daun Beluntas dan Meniran memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Ekstrak etanolik daun Beluntas dan Meniran pada perbandingan 1 : 0, 2 : 1, 1 : 1, 1 : 2, dan 0 : 1 dengan konsentrasi 50% terhadap bakteri Staphylococcus aureus dari rumah sakit adalah 10,67 mm, 13 mm, 17 mm, 17 mm, dan 20 mm. Ekstrak etanolik daunBeluntas dan Meniran pada perbandingan 1 : 0, 2 : 1, 1 : 1, 1 : 2, dan 0 : 1terhadap bakteri Staphylococcus aureus kultur laboratorium adalah 11 mm, 13,67 mm, 14 mm, 16,67 mm, dan 18 mm. Ekstrak etanolik daun Beluntas dan Meniran dengan perbandingan 0 : 1 merupakan ekstrak yang memiliki zona hambat paling luas terhadap bakteri Staphylococcus aureus dari rumah sakit dan kultur laboratorium. Kata kunci: Antibakteri, Ekstrak etanolik daun Beluntas dan Meniran, Staphylococcus aureu

    Kontaminasi Bakteri Coliform pada Saus Siomai dari Pedagang Area Kampus di Surakarta

    Get PDF
    Siomai merupakan salah satu makanan pokok yang menggunakan bahan pelengkap (tambahan) makanan berupa saus. Pada saat sekarang ini banyak siomai yang dijual dengan menggunakan sepeda ontel yang ditaruh di bagian belakang sepeda. Akan tetapi dalam kenyataannya kebersihan dari siomai sering juga terabaikan salah satunya karena banyaknya udara dan debu yang masuk ke makanan siomai. Penelitian ini mempunyai tujuan utuuk menguji adanya cemaran bakteri Coliform yang terdapat pada olahan saus yang dijual sebagai pelengkap makanan pada siomai dan mengidentifikasi adanya kandungan bakteri Escherichia coli yang terdapat pada olahan saus yang dijual sebagai pelengkap makanan siomai. Metode penelitian ini adalah penelitian survey lapangan dengan pengambilan sampel secara acak dan deskriptif untuk mengetahui keberadaan bakteri Coliform pada beberapa produk olahan saus yang terdapat pada makanan siomai. Pengambilan sampel penelitian dilakukan mengambil 10 sampel olahan saus dari makanan siomai yang ada di area kampus di Surakarta. Pemeriksaan bakteri Coliform dilakukan di Laboratorium Biologi UNS, Surakarta dengan uji most probable number (MPN), uji Escherichia coli dan pewarnaan gram. Dari uji Most Probable Number melalui uji praduga dan penegasan sampel uji coba menunjukkan hasil positif Coliform, dari hasil pewarnaan gram bakteri yang ditemukan termasuk ke dalam golongan bakteri gram negatif dan dari hasil uji biokimia bakteri-bakteri yang ditemukan pada sampel termasuk spesies Enterobacter dan Escherichia coli. Hasil pengujian yang didapat dari semua uji tidak memenuhi syarat yang telah ditetapkan dalam SNI 01-3546-2004 tentang batas maksimum Angka Lempeng Total (ALT) pada saus tomat adalah 2 x 102 koloni/g sedangkan menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia nomor HK. 00.06.1.52.401, batas maksimum Most Probable Number (MPN) Coliform pada saus tomat adalah 100 koloni/g

    Pengaruh Konsentrasi Aktivator Asam Sulfat pada Arang Aktif Kulit Kelapa Muda untuk Menurunkan BOD dan COD

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi aktivator optimum asam sulfat pada arang aktif kulit kelapa muda untuk mendapatkan kapasitas maksimum dalam penurunan angka COD dan BOD limbah cair tahu. Pembuatan arang aktif kulit kelapa muda dilakukan melalui pemilihan, pencucian, pengeringan, pengarangan, dan aktivasi menggunakan berbagai konsentrasi asam sulfat dengan variabel waktu perendaman. Pengujian BOD dan COD dengan metode titrasi. Konsentrasi asam sulfat yang dipergunakan 0,5 N; 1 N; 1,5 N; 2N; dan 2,5 N dengan waktu perendaman masingmasing konsentrasi 0,5 jam, 1 jam, 1,5 jam, 2 jam dan 2,5 jam. Hasil percobaan menunjukkan penurunan BOD paling besar pada penyerapan menggunakan arang aktif konsentrasi aktivator asam sulfat 2,5 N dan waktu perendaman 0,5 jam. Effisiensi penurunan BOD limbah cair tahu sebesar 76,86 % yaitu dari 912 mg/L menjadi 211 mg/L. Sedangkan penurunan COD limbah cair tahu terbaik dihasilkan saat penyerapan menggunakan arang aktif konsentrasi aktivator asam sulfat 2,5 N dengan waktu kontak 0,5 jam. Besarnya COD limbah cair tahu terendah 270 mg/L, efisiensi penurunan sebesar 85,60%. Arang yang telah diaktivasi menggunakan asam sulfat meningkatkan daya penyerapan terhadap angka COD dan angka BOD dibandingkan dengan arang tanpa aktivasi. Peningkatan daya penyerapan masing-masing sebesar 57,76% dari 27,8 % menjadi 85,56% dan sebesar 49,54 % dari 27,62 % menjadi 76,86%

    Identifikasi Telur Cacing Hookworm, Toxocara vitulorum pada Feses Peternak Sapi dan Feses Sapi di Peternakan Sapi Dusun Karangnongko, Boyolali

    Get PDF
    Sapi bermanfaat untuk menghasilkan susu. Kondisi sapi penghasil susu harus sehat dan tidak terinfeksi cacing parasit. Infeksi cacing parasit yang dapat menyerang sapi dari kelas Nematoda dan Cestoda. Kerugian bila hewan ternak terinfeksi cacing usus parasit yaitu pertumbuhan sapi muda terhambat, berat badan sapi menurun, penurunan kualitas daging, penurunan produksi susu pada sapi perah, dan beresiko jika menularkan penyakit pada manusia.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya telur cacing Hookworm, Toxocara vitulorum, pada feses sapi dan peternak sapi di Dusun Karangnongko, Boyolali. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Penelitian dilakukan di laboratorium Parasitologi Universitas Setia Budi Surakarta metode langsung yaitu menggunakan lugol 2% dan diamati secara mikroskopis. Hasil penelitian prosentase positif pada feses sapi adalah Hookworm sebesar 8%, Toxocara vitulorum 4% sedangkan pada feses peternak tidak ditemukan infeksi telur cacing Hookworm, Toxocara vitulorum. Kata kunci: Telur cacing Hookworm, Toxocara vitulorum, Sap

    Analisis Konstruksi Tangga Ditinjau dari Aspek Ergonomi

    No full text
    Tangga secara fungsional bermanfaat sebagai sarana dalam suatu bangunan bertingkat untuk menghubungkan antara lantai satu dengan yang lainnya. Pada dasarnya tangga yang ideal itu ketika dilalui pengguna tidak merasa kesulitan maupun kelelahan. Universitas Setia Budi merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di wilayah Surakarta yang memiliki 5 Fakultas diantaranya Fakultas Farmasi, Teknik, Psikologi, Ekonomi dan Ilmu Kesehatan. Universitas Setia Budi juga memiliki beberapa gedung bertingkat sebagai sarana untuk menunjang proses perkuliahan. Salah satu gedung bertingkat memiliki bangunan yang masih baru yaitu gedung G. Gedung G memiliki 3 lantai yang digunakan untuk laboratorium dan perkuliahan. Berdasarkan hasil observasi, konstruksi tangga gedung G masih kurang memadai. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis konstruksi tangga gedung G Universitas Setia Budi Surakarta ditinjau dari segi ergonomi. Penelitian dilakukan dengan menilai tingkat risiko ergonomi dengan menggunakan Rapid Entire Body Assesment (REBA). Kemudian hasil analisa dari REBA dijadikan pertimbangan dalam memberikan usulan konstruksi tangga gedung G Universitas Setia Budi Surakarta yang ergonomis. Diperoleh hasil tingkat risiko ergonomi yang dilakukan pada aktivitas menaiki maupun menuruni tangga gedung G berdasarkan metode REBA memiliki tingkat risiko rendah, ditinjau dari aspek ergonomi pada konstruksi tangga gedung G Universitas Setia Budi Surakarta belum menerapkan salah satu aspek yang ada yaitu lebar tangga dan kendala yang dijumpai terkait dengan upaya perbaikan konstruksi tangga gedung G yaitu tidak dimungkinkannya merenovasi ulang tangga gedung G karena bangunan yang bersifat permanen. Kata kunci: konstruksi tangga, Rapid Entire Body Assesment (REBA), ergonomiTangga secara fungsional bermanfaat sebagai sarana dalam suatu bangunan bertingkat untuk menghubungkan antara lantai satu dengan yang lainnya. Pada dasarnya tangga yang ideal itu ketika dilalui pengguna tidak merasa kesulitan maupun kelelahan. Universitas Setia Budi merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di wilayah Surakarta yang memiliki 5 Fakultas diantaranya Fakultas Farmasi, Teknik, Psikologi, Ekonomi dan Ilmu Kesehatan. Universitas Setia Budi juga memiliki beberapa gedung bertingkat sebagai sarana untuk menunjang proses perkuliahan. Salah satu gedung bertingkat memiliki bangunan yang masih baru yaitu gedung G. Gedung G memiliki 3 lantai yang digunakan untuk laboratorium dan perkuliahan. Berdasarkan hasil observasi, konstruksi tangga gedung G masih kurang memadai. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis konstruksi tangga gedung G Universitas Setia Budi Surakarta ditinjau dari segi ergonomi. Penelitian dilakukan dengan menilai tingkat risiko ergonomi dengan menggunakan Rapid Entire Body Assesment (REBA). Kemudian hasil analisa dari REBA dijadikan pertimbangan dalam memberikan usulan konstruksi tangga gedung G Universitas Setia Budi Surakarta yang ergonomis. Diperoleh hasil tingkat risiko ergonomi yang dilakukan pada aktivitas menaiki maupun menuruni tangga gedung G berdasarkan metode REBA memiliki tingkat risiko rendah, ditinjau dari aspek ergonomi pada konstruksi tangga gedung G Universitas Setia Budi Surakarta belum menerapkan salah satu aspek yang ada yaitu lebar tangga dan kendala yang dijumpai terkait dengan upaya perbaikan konstruksi tangga gedung G yaitu tidak dimungkinkannya merenovasi ulang tangga gedung G karena bangunan yang bersifat permanen. Kata kunci: konstruksi tangga, Rapid Entire Body Assesment (REBA), ergonom

    Studi Lama Waktu Pengeringan Dihubungkan dengan Penurunan Berat Dan Laju Pengeringan Ikan Teri (Stolephorus spp.)

    Get PDF
    Ikan teri (Stolephorus spp.) merupakan jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, baik bagi kesehatan dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Kandungan gizi ikan teri yaitu kalsium, protein, fosfor dan zat besi. Ikan teri termasuk bahan pangan yang mudah rusak dan busuk karena daging ikan teri mempunyai kadar air yang inggi sekitar 80% sehingga sangat baik untuk pertumbuhan bakteri. Salah satu cara untuk memperpanjang daya simpan ikan teri adalah dengan metode pengeringan.Banyak faktor yang mempengar uhi keberhasilan dalam proses pengeringan ikan teri, salah satunya adalah lama waktu penger ingan. Penelitian ini menganalisis prosentase penurun berat ikan teri dan laju pengeringan berdasarkan lama waktu proses pengeringan ikan teri. Lama waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 menit, 60 menit dan 90 menit. Sebelum ikan teri dikeringkan, akan ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui berat awal ikan teri, kemudian setelah dikeringkan akan ditimbang kembali untuk mengetahui berat akhir ikan teri. Selisih dari berat ikan teri akan diprosentase, dan hasilnya kemudian dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan prosentase penurunan berat ikan teri yang dikeringkan selama 30 menit sebesar 34,70%, yang dikeringkan selama 60 menit sebesar 74,70% dan yang dikeringkan selama 90 menit sebesar 82%. Sedangkan laju pengeringan ikan teri yang dikeringkan selama 30 menit sebesar 1,73 g/menit, yang dikeringkan selama 60 menit sebesar 1,87 g/menit dan yang dikeringkan selama 90 menit sebesar 1,36 g/menit. Semakin lama waktu pengeringan akan membuat kadar air ikan teri berkurang

    Gambaran Leukosit dan Histologi Hepar, Ren, dan Lien Mencit BALB/c (Mus musculus) yang Terinfeksi Virus Dengue 3 (DEN-3) dengan Imunohistokimia

    Get PDF
    Pengamatan efek infeksi virus dengue 3 (DEN-3) terhadap leukosit dan histologi dari organ dalam (hepar, ren dan lien) dilakukan untuk mendukung pengembangan vaksin dan antiviral virus DEN 3. Penelitian dilakukan pada mencit BALB/c dengan pertimbangan mencit merupakan hewan coba yang secara anatomi dan fisiologi mirip dengan manusia dan hewan ini relatif mudah ditangani dan mudah berkembang biak. Untuk serotipe virusnya dipakai serotipe DEN-3, karena serotipe ini merupakan serotipe yang dominan (50 % kasus DBD di Indonesia disebabkan oleh serotipe ini) dan banyak berhubungan dengan kasus berat. Design penelitian ini adalah eksperimental. Pengamatan yang dilakukan antara lain : keberadaan antigen dengue pada darah (leukosit) dan organ (hepar, ren dan lien) beserta perhitungan infection rate-nya, dan histopatologi organ (hepar, ren dan lien). Infeksi dilakukan secara intra vena. Keberadaan antigen dengue diamati dengan metode Imunohistokimia (IHC). Pengamatan histopatologi dilakukan dengan pewarnaan Hemotoxylin Eosin. Penelitian untuk keberadaan antigen dengue, membuktikan bahwa virus DEN-3 dapat ditemukan pada darah (leukosit) dan organ-organ mencit (hepar, ren dan lien). One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test digunakan untuk melihat data terdistribusi normal atau tidak. Hasilnya menunjukkan nilai p=0,289, ini menunjukkan data rerata infection rate terdistribusi normal (p>0,05), sehingga analisis dilanjutkan dengan uji Oneway anova untuk melihat ada tidaknya perbedaan yang signifikan diantara data. Hasil Anova menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada rerata infection rate leukosit (p=0,045; p<0,05). Perhitungan infection rate pada darah mencit yang dianalisa menggunakan Multiple Comparisons Post Hoc, diperoleh hasil perbedaan paling signifikan terlihat pada rerata infection rate hari ke 10 p.i. (pasca infeksi) dengan rerata infection rate hari ke 13 p.i. (p=0,007), ini menunjukkan rerata infection ratepaling tinggi terlihat pada hari ke 10 p.i. dan paling rendah pada hari ke 13 p.i. Pada pengamatan histopatologi hepar mencit perlakuan menunjukkan adanya keadaan patologis berupa nekrosis, degenerasi melemak pada hepatosit, infiltrasi limfosit disertai perdarahan dan banyak sel binukleat. Pada ren mencit perlakuan terdapat infiltrasi limfosit, degenerasi melemak dan perdarahan. Pada lien mencit perlakuan menunjukkan pulpa merah yang lebih luas dan eritrosit dengan jumlah lebih banyak dibanding lien mencit kontrol. Pada organ-organ mencit kontrol tidak ditemukan keadaan patologis seperti mencit perlakuan. Virus dengue 3 (DEN-3) dapat ditemukan pada darah (leukosit) dan organ-organ mencit (hepar, ren dan lien). Pada pengamatan histopatologi hepar, ren dan lien mencit perlakuan menunjukkan adanya keadaan patologis diantaranya berupa nekrosis, degenerasi melemak, infiltrasi limfosit dan perdarahan

    768

    full texts

    892

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇